Sabtu, 30 Mei 2020

SALISUL BAUL


☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
*B-M-U*

_soal antrian ke 64_
Nama : mauna ihsan_@⁨Mauna Ihsan⁩
Alamat : aceh besar, montasik.

Pertanyaan :
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuhu para ustadz....

Jika seorang penderita salisul bauly ketika selesai sholat fardhu, ia melihat ada najis kering di baju nya, yang ia yakini adanya najis tersebut sebelum sholat, maka :

1.) Apakah si musholli yang salisul bauly tersebut harus mengulang wudhu nya dan mengganti pembalut yang baharu ???? ......

2.) Bagaimana seorang salisul bauly, apakah boleh dia berjarak antara bersuci dan sholat nya.
Contoh nya seperti sholat Jum'at .. bersuci ketika adzan... terus mendengarkan khutbah, hingga sholat ia tak ganti pembalut ... apakah boleh demikian ????

Terima kasih atas ilmunya para asatidz,
Assalamu'alaikum.
*-------------------------------*
*JAWABAN : ????*
✍🏻📚💪🏻


*[ @khalilurrahman ] :*
*Mohon di koreksikan* para ustadz mujawwib, untuk jawaban di soal nomor (1.) :

Kalau melihat dari ibarat ini, maka tidak wajib lagi mengulang wudhu dan mengganti pembalut yang baru.

Sebab shalat yang batal (karena membawa najis yang ia yaqini) tadi tidak di hitung (tidak termasuk) sudah menunaikan satu kefardhuan (karena shalat nya batal).

Cukup shalat nya saja yang di ulang dengan segera.

_Karena bagi orang yang da’imul hadats / beser / salisul baul / ambien / istihadhah, itu wudhu nya satu kali pakai untuk satu kefardhuan._


*📚 [I'anatuth Thalibin Jilid 1]*

____________________________


*[ @⁨U.M.Hendra_Aceh⁩ ] :*
(2.) Yang harus kita fahami, yang bahwa orang yang salisul bauly, ketika telah berwudhu maka dia harus segera melakukan shalat..

Yang tentunya sebelum berwudhu dibasuhnya  farjinya lebih dulu dari najis, kemudian disumpal dengan seumpama kapas, kecuali jika hal tersebut menyakitinya atau sedang berpuasa. Dan hendaknya mengikat atau membalut kemaluan dengan kain perca jika sekiranya tidak cukup untuk disumpal saja, karena banyaknya darah, kemudian segeralah berwudhu dan sesudah itu bersegeralah shalat.
Lakukan hal ini untuk setiap satu shalat fardhu walaupun perban atau pembalut masih tetap berada di tempatnya.

وحاصل ما يجب عليه - سواء كان مستحاضة أو سلسا - أن يغسل فرجه أولا عما فيه من النجاسة، ثم يحشوه بنحو قطنة - إلا إذا تأذى به أو كان صائما - وأن يعصبه بعد الحشو بخرقة إن لم يكفه الحشو لكثرة الدم، ثم يتوضأ أو يتيمم، ويبادر بعده إلى الصلاة، ويفعل هكذا لكل فرض وإن لم تزل العصابة عن محلها

*📚 [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، 47/1]*
___

وعلى نحو سلس مبادرة بالصلاة،

*📚 [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، 47/1]*

Kecuali menundanya ada kemashlahatan, maka itu dibolehkan seperti menanti jama'ah atau shalat Jum'at, walaupun hingga melewati awwal waktu atau berjalan kemesjid maka itu tidak jadi mas’alah :

وعلى نحو سلس مبادرة بالصلاة، فلو أخر لمصلحتها كانتظار جماعة أو جمعة وإن أخرت عن أول الوقت وكذهاب إلى مسجد لم يضره.

*📚 [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، 47/1 - 48]*
____

Yang tentunya wudhu ini dilakukan ketika waktu shalat telah masuk,  maka tidak sah dia wudhu, ketika waktu shalat belum masuk :

(و) خامسها: (دخول وقت لدائم حدث) كسلس ومستحاضة.

ويشترط له أيضا ظن دخوله، فلا يتوضأ - كالمتيمم - لفرض أو نفل مؤقت قبل وقت فعله، ولصلاة جنازة قبل الغسل، وتحية قبل دخول المسجد، وللرواتب المتأخرة قبل فعل الفرض

*📚 [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، 46/1 - 47]*

والله تعالى أعلم بالصواب


Tidak ada komentar:

Posting Komentar