Sabtu, 20 Juni 2020

KOTORAN CICAK

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
*B-M-U*

_soal antrian ke 96_
Nama : Aulia Avan Rahman @⁨selamat sore⁩
Alamat : Sidoarjo Jawa timur.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah.

Saya mau tanya, soal kotoran cicak yang banyak bertebaran di musholla rumah saya. karena memang musholla di rumah saya letaknya di belakang rumah, akhirnya banyak cicak yang bermunculan.
mengingat kami sebagai jama'ah kadang risih dan bahkan lelah untuk membersihkan itu setiap hari.🙏

Pertanyaan : bagaimana *hukum* dan *solusinya* ya ?
*-------------------------------*
*JAWABAN : ????*
✍🏻📚💪🏻
_____________________________


*[ @⁨U.Rubath'Saifuddin-Jember⁩ ] :*
*📚 [ منظومة إبن العماد ] :*

________
*_[ untuk solusi ] :_*

Cicaknya bunuh. .   Sunnah membunuh cicak. ..

_____________________________


*[ @khalilurrahman ] :*
```Barangsiapa yang membunuh وزع / وزعة (cicak) dengan SATU KALI pukulan, maka bagi nya (si yang membunuh) akan diberikan oleh Allah atau di catat kebaikan seperti ini² / seperti itu² (wa fi riwayah Muslim : 100 kebaikan).
Dan dengan DUA KALI pukulan, di bawah dari yang satu pukulan (ganjaran kebaikan nya).
Dan dengan tiga kali pukulan, di bawah / kurang dari yang dua pukulan.```

*📚 [ بذل المجهود فى حل أبى داود - ج ٢٠ ]*

___________
Kenapa membunuh cicak itu di anjurkan / di sunnahkan ?

Di antara nya adalah :
- cicak adalah hewan yang ikut meniup api kepada Nabi ibrahim عليه السلام , ketika beliau di bakar oleh raja namrud.

- cicak adalah hewan yang menjijikkan, bisa *menjadi sebab* merugikan : memudharatkan : mendatangkan penyakit dan lain².

جاء الأمر بقتل الوزغ وبيان علته وهو كونه فويسقا، كما أمر بقتل الفواسق من الحية والعقرب والكلب العقور.

*📚 روى البخاري (1831)*
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، - زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - : " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِلْوَزَغِ:  فُوَيْسِقٌ  وَلَمْ أَسْمَعْهُ أَمَرَ بِقَتْلِهِ ".

*📚 وروى مسلم (2238)*
سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ ، وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا "

فعلة قتله : الأذى والضرر.

*📚 قال الدميري في "حياة الحيوان الكبرى" (2/ 546) :*
" وأما تسمية الوزغ فويسقا، فنظيره الفواسق الخمس التي تقتل في الحل والحرم، وأصل الفسق الخروج، وهذه المذكورات خرجت عن خُلُق معظم الحشرات ونحوها، بزيادة الضرر والأذى" انتهى.

*📚 وروى البخاري (3359)*
عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، " أَمَرَ بِقَتْلِ الوَزَغِ، وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ " .

قال الملا علي القاري رحمه الله في شرح هذا الحديث :

" أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ : بِوَاوٍ مَفْتُوحَةٍ وَزَايٍ كَذَلِكَ وَبِمُعْجَمَةٍ وَاحِدُهَا وَزَغَةٌ .

وَهِيَ دُوَيْبَةٌ مُؤْذِيَةٌ وِسَامُّ أَبْرَصَ كَبِيرُهَا. ذَكَرَهُ ابْنُ الْمَلَكِ، وَفِي النِّهَايَةِ: الْوَزَغُ جَمْعُ وَزَغَةٍ بِالتَّحْرِيكِ وَهِيَ الَّتِي يُقَالُ لَهَا سَامُّ أَبْرَصَ .

(وَقَالَ) : أَيِ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - (كَانَ) : أَيِ الْوَزَغُ (يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ) . أَيْ عَلَى نَارٍ تَحْتَهُ.

قَالَ الْقَاضِي: بَيَانٌ لِخُبْثِ هَذَا النَّوْعِ وَفَسَادِهِ، وَأَنَّهُ بَلَغَ فِي ذَلِكَ مَبْلَغًا اسْتَعْمَلَهُ الشَّيْطَانُ، فَحَمَلَهُ عَلَى أَنْ نَفَخَ فِي النَّارِ الَّتِي أُلْقِيَ فِيهَا خَلِيلُ اللَّهِ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - وَسَعَى فِي اشْتِعَالِهَا، وَهُوَ فِي الْجُمْلَةِ مِنْ ذَوَاتِ السُّمُومِ الْمُؤْذِيَةِ.

قَالَ ابْنُ الْمَلَكِ: وَمِنْ شَغَفِهَا إِفْسَادُ الطَّعَامِ خُصُوصًا الْمِلْحَ، فَإِنَّهَا إِذَا لَمْ تَجِدْ طَرِيقًا إِلَى إِفْسَادِهِ ارْتَقَتِ السَّقْفَ وَأَلْقَتْ خَرَأَهَا فِي مَوْضِعٍ يُحَاذِيهِ. وَفِي الْحَدِيثِ بَيَانُ أَنَّ جِبِلَّتَهَا عَلَى الْإِسَاءَةِ."
*📚 انتهى من "مرقاة المفاتيح" (7/2671) .*

وقوله:  كان ينفخ النار على إبراهيم  فيه إخبار عما يدل على فسقه وخبثه، وليس حصرا  لعلة قتله.

قال الشرواني – الشافعي – رحمه الله :

" أَيْ؛ لِأَنَّ أَصْلَهَا الَّذِي تَوَلَّدَتْ هِيَ مِنْهُ كَانَ يَنْفُخُ إلَخْ فَثَبَتَتْ الْخِسَّةُ لِهَذَا الْجِنْسِ إكْرَامًا لِإِبْرَاهِيمَ."
*📚 انتهى، من "حاشية تحفة المحتاج" (9/383) .*

وقد ذكروا من ضرره أنه " يمج فِي الْإِنَاء ، فينال الْإِنْسَان من ذَلِك مَكْرُوه عَظِيم"
*📚 كما في "عمدة القاري" (15/ 250).*

وهو سام ينفث السم، وينقل أمراضا خطرة لمن يعيش معهم.

قال النووي رحمه الله في بيان علة قتله: " واتفقوا على أن الوزغ من الحشرات المؤذيات، وجمعه أوزاغ ووزغان .

وأمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتله وحث عليه ورغب فيه لكونه من المؤذيات"
*📚 انتهى من "شرح مسلم" (14/ 236)*

والحاصل :

أن الوزغ لا يقتل بذنب جده! وإنما يقتل لكونه ضارا مؤذيا، والموجود في البيوت والمزارع سواء.

والله أعلم بالصواب

_____________________________


*[ @⁨C.Shofi_Cianjur⁩ ] :*
Kotoran cicak hukum nya najis.

Tapi kalau عموم البلوی / merata nya cobaan sehingga susah untuk menjaga nya, dan kotoran nya kering dan tidak sengaja berjalan diatasnya, hukum nya jadi ma'fu (najis yang di ma'afkan) disamakan dengan kotoran burung.

Kadar meratanya itu sekira² sudah sulit menjaganya dan berusaha menyucikan nya.. Saking banyak nya, sehingga ketika sudah dihilangkan juga gak lama ada lagi, ada lagi kotoran nya.

ویعفی عما جف من ذرق سائر الطيور فی المكان اذا عمت البلوی به

*📚 إعانة الطالبين 1 /106*

واللــــــــــــه أعلــم بالصـــــــــــــواب 
Mohon bimbingan nya bila ada salah 🙏🏻🙏🏻

_____________________________


*[ @⁨Al-Jambi⁩ ] :*
بسم الله الرحمن الرحيم

Perlu nya kepada suasana yang tenang dan tempat yang bersih agar kekhusyu'an yang diupayakan tidak terganggu, dengan berbagai keramaian dan kekotoran yang melingkupi tempat dilakukannya shalat. Masih sering kita lihat masjid-masjid atau mushalla-mushalla, yang masih dipenuhi dengan debu dan berbagai kotoran, bahkan dari berbagai kotoran itu, tak jarang kita melihat najis seperti kotoran burung dan cicak yang bertebaran di sekitar shaf-shaf. Terkadang najis-najis ini malah mengenai orang yang sedang melakukan shalat yang awwalnya shalat dalam keadaan suci.
Melihat hal demikian, langkah apakah yang mestinya dilakukan oleh orang yang sedang shalat tersebut ? Apakah shalatnya langsung dihukumi batal sebab terkena najis, atau shalatnya masih bisa dilanjutkan ?

Dalam hal ini, orang yang terkena najis di pertengahan shalatnya diharuskan untuk membuang najis tersebut seketika itu juga, dari bagian tubuh atau pakaian yang terkena najis, dan ia tetap harus melanjutkan shalatnya, sebab najis ini tergolong najis yang ma’fu (ditoleransi/dimaafkan).

Ketentuan seperti ini ketika najis yang mengenainya adalah najis yang kering. Berbeda halnya ketika najis yang mengenainya adalah najis yang basah. Maka dalam hal ini, ia hanya bisa melanjutkan shalatnya dengan cara melepas pakaiannya seketika itu juga, ketika memang dengan melepas pakaian auratnya tetap tertutup. Jika tidak, maka shalatnya menjadi batal.
Begitu juga ketika najis yang basah ini mengenai kulitnya, maka tidak ada jalan lain kecuali membatalkan shalatnya, sebab najis yang basah ini bukan merupakan najis yang ma’fu.

Penjelasan tersebut sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam kitab Minhaj ath-Thullab :

قال: (لا) إن عرض (بلا تقصير) من المصلي كأن كشفت الريح عورته أو وقع على ثوبه نجس رطب أو يابس ( ودفعه حالا ) بأن ستر العورة ، وألقى الثوب في الرطب ، ونفضه في اليابس فلا تبطل صلاته ، ويغتفر هذا العارض اليسير

“Tidak batal jika baru datang pada orang yang shalat sesuatu yang membatalkan tanpa adanya tindak kecerobohan dari orang yang shalat. Seperti auratnya terbuka sebab terkena angin atau jatuh perkara najis mengenai pakaiannya, dan ia mencegahnya seketika itu juga dengan cara menutup auratnya, melepas pakaiannya pada najis yang basah dan membuang najis yang kering, maka shalatnya tidak batal. Dan hal yang bersifat baru datang yang sebentar ini ma’fu.”
*📚 (Syekh Zakariya al-Anshari, Manhaj at-Thullab, juz 2, hal. 481)*
_______
Berbeda halnya ketika wujudnya kotoran burung atau cicak ini begitu banyak dan berada di tempat shalat saja, tidak sampai mengenai bagian tubuh dan pakaian orang yang shalat, seperti yang sering kita lihat di berbagai mushalla-mushalla pedesaan. Maka kotoran burung atau cicak ini dapat dihukumi ma’fu dengan tiga syarat :
_Pertama, seseorang tidak menyengaja berdiri di tempat yang terdapat kotoran burung atau cicak tersebut.
_Kedua, kotoran tersebut tidak basah.
_Ketiga, sulit untuk menghindari kotoran ini. Seperti yang terdapat dalam kitab I’anah at-Thalibin :

قال: (قوله ومكان يصلى فيه) أي وطهارة مكان يصلى فيه ويستثنى منه ما لو كثر ذرق الطيور فيه فإنه يعفى عنه في الفرش والأرض بشروط ثلاثة أن لا يتعمد الوقوف عليه وأن لا تكون رطوبة وأن يشق الاحتراز عنه

“Dan disyaratkan sucinya tempat yang dibuat shalat. Dikecualikan dari hal ini permasalahan, ketika banyak kotoran burung di tempat tersebut. Maka kotoran ini dihukumi najis yang ma’fu ketika berada di tanah atau permadani (Jawa : lemek) dengan tiga syarat. Tidak menyengaja berdiam diri di tempat yang terdapat kotoran tersebut, kotoran tidak dalam keadaan basah dan sulit untuk dihindari.”
*📚 (Sayyid Abu Bakar Syatho’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 80)*

والله اعلم بالصواب

*📚 اعانة الطالبين جزء ١ ص ٨٠ - ٨١*


Mohon maaf jika kurang pas 😊
_______

ويعفى) أي في الصّلاة فقط، أو فيها وغيرها ما مرّ على عامر. قوله: (عن قليل دم البراغيث) ومثله فضلات ما لا نفس له سائلة. قال شيخ شيخنا عميرة ومثله بول الخفّاش، كما في شرح شيخنا ورجّح العلّامة ابن قاسم العفو عن كثيره أيضا. قال وذرقه كبوله، وقال تبعا لابن حجر، وكذا سائر الطّيور، ويعفى عن ذرقها وبولها، ولو في غير الصّلاة على نحو بدن أو ثوب قليلا أو كثيرا رطبا أو جافّا ليلا أو نهارا لمشقّة الاحتراز عنها فراجعه مع ما ذكروه في ذرق الطّيور في المساجد

“Imam Ibnu Qasim berpendapat bahwa : kotoran kelelawar sama halnya seperti kencingnya, pendapat beliau ini mengikuti Imam Ibnu Hajar, dan hal ini sama dengan jenis burung yang lainya.

Kotoran dan air kencingnya hukumnya dima’fu meskipun itu terjadi dalam selain shalat seperti terkena pada badan atau baju, baik najisnya sedikit atau banyak, basah ataupun kering, dan malam atau siang dikarenakan sulit untuk menjaganya, dan apa yang telah tertuturkan tadi itu hukumnya sama (dima’fu) dengan kotoran burung yang berada di dalam masjid.”

Dalam kasus ini, kotoran cicak di-ilhaqkan (disamakan) dengan kotoran burung dan semacamnya seperti kelelawar, yakni diampuni. Sehingga kotoran itu tidak perlu disucikan, cukup dibersihkan atau dihilangkan saja kotorannya baik kotoranynya  basah maupun kering.

*📚 Hasyiyah Qolyubi juz 1 halaman 209*

والله اعلم بالصواب 😊
📖📖📚📚


Tidak ada komentar:

Posting Komentar