Kamis, 04 Juni 2020

ALLAH TIDAK BERTEMPAT


☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
*B-M-U*

_soal antrian ke 73_
Nama : putrie Humaira @085348612343
Alamat :

Pertanyaan : Assalamualaikum ustadz/ustadzah mau nanya.

Kalau menurut dalam alqur'an dan hadits sebenarnya Allah Subhanahu wa ta'ala itu bersinggasana di mana
Apakah di Arsy atau di mana ????
Minta tolong penjelasan nya menurut Alqur'an dan Al Hadits 🙏🙏
*-------------------------------*
*JAWABAN : ????*
✍🏻📚💪🏻

_____________________________


*[ @⁨G.Wakid_Yusuf-Sumenep⁩ ] :*
وعليكم السلام

Telah maklum dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bahwa Allah bukanlah jisim atau eksistensi fisikal yang mempunyai volume. Tak dapat dihitung jumlah ulama yang memustahilkan makna fisikal (jismiyah) dari Allah, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang dengan tegas berkata :

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syari'ah dan peristilahan bahasa, sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jisim) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua.

Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jisim sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syari'at, maka batal menyifati Allah demikian".
*📚 (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).*

Lalu bagaimana dengan suatu ungkapan yang terbilang lumrah di telinga penduduk Indonesia, bahwa Allah bersemayam di atas Arasy ?
Bolehkah mengatakan Allah bersemayam meskipun bersemayam adalah sebuah tindakan fisikal yang hanya bisa dilakukan oleh jisim (materi) ?

Apabila kita membaca Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama dari surat Thaha ayat 5 berikut :

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Maka akan kita dapati terjemahannya adalah: “Tuhan yang Maha pemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy”.
Terjemahan ini diberi catatan sebagai berikut : “Bersemayam di atas ‘Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya”.
*📚 (Lihat: Al Qur’an dan Terjemahnya terbitan Kementerian Agama)*

Bila kita terima begitu saja terjemahan tersebut berarti jawabannya sudah jelas : Ya, Allah bersemayam. Tetapi masalahnya tak sesederhana ini. Kita tak boleh membahas masalah aqidah hanya berdasarkan pada terjemahan saja, sebab bisa jadi terjemahannya tidak tepat. Dan, tentu saja cara seseorang menerjemah tergantung pada Madzhab yang ia anut, sehingga terjemahan satu orang bisa berbeda dengan lainnya, apalagi ini terkait dengan ayat Al-Qur’an yang memang kaya makna.

Ayat tersebut menggunakan redaksi istawa yang diterjemahkan sebagai “bersemayam”. Bila kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam berarti : duduk, berkediaman, tinggal atau bila konteksnya adalah bersemayam dalam hati, maka maknanya adalah terpatri dalam hati.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam peristilahan bahasa Indonesia, kalimat “bersemayam di atas ‘Arasy” artinya adalah duduk, berdiam atau tinggal di atas Arasy. Kesemua makna ini tanpa diragukan adalah makna jismiyah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari Allah sebab tak layak bagi kesucian-Nya.

Makna duduk sendiri secara tegas dikecam sangat keras oleh Imam Syafi’i, bahkan hingga level dianggap kafir.

Imam Syafi’i sebagaimana diriwayatkan oleh Qadli Husain, menjelaskan bahwa di antara yang dianggap kafir adalah sebagai berikut :

ومن كفرناه من أهل القبلة: كالقائلين بخلق القرآن، وبأنه لا يعلم المعدومات قبل وجودها، ومن لا يؤمن بالقدر، وكذا من يعتقد أن الله جالس على العرش؛ كما حكاه القاضي الحسين هنا عن نص الشافعي.

“Orang yang kami kafirkan dari kalangan orang yang shalat adalah : mereka yang berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwa Allah tak mengetahui sesuatu sebelum terjadinya, juga orang yang tak percaya takdir, demikian juga orang yang mengatakan bahwa Allah duduk di atas Arasy. Seperti diriwayatkan oleh Qadli Husain dari penjelasan literal Imam Syafi’i.”
*📚 (Ibnu ar-Rif’ah, Kifâyat al-Nabîh fî Syarh at-Tanbîh, juz IV, halaman 23).*

Tentang vonis kafir terhadap aliran sesat di atas sebenarnya bukanlah hal yang disepakati di kalangan ulama, namun setidaknya semua sepakat bahwa pendapat seperti di atas adalah sesat. Bagaimana tidak sesat, mengatakan Allah duduk di Arasy sama saja dengan mengatakan bahwa Allah punya pantat yang menempel di atas Arasy; mengatakan Allah tinggal atau berdiam di Arasy sama saja dengan mengatakan bahwa Allah punya volume dan ukuran fisik sehingga pasti Allah juga makhluk. Kesemuanya sama sekali mustahil bagi Allah dan Maha Suci Allah dari semua itu. 

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa mengatakan Allah bersemayam di atas Arasy adalah ungkapan yang tidak tepat. Tim penerjemah dari Kementerian Agama tampaknya sadar akan celah ini, sehingga mereka memberi catatan “Bersemayam di atas ‘Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya” seolah mau menjelaskan bahwa bersemayam yang mereka maksud bukanlah bersemayam dalam arti duduk, tinggal atau berdiam yang kesemuanya tidak layak bagi kebesaran dan kesucian Allah, tetapi makna lain yang layak bagi-Nya.

Namun bagaimanapun harus diakui bahwa diksi yang dipilih oleh tim penerjemah Kementerian Agama tersebut kurang tepat, sebab kata bersemayam tak punya arti lain dalam kamus bahasa Indonesia selain makna jismiyah tersebut.
Diksi yang kurang tepat ini rawan menimbulkan salah paham bagi orang awam. Padahal, dalam bahasa Arab kata istawa tak selalu bermakna jismiyah, namun bisa diartikan bermacam-macam sesuai konteksnya. 

Hal ini berbeda kasusnya dengan kata “yad” yang oleh Kementerian Agama diterjemah sebagai “tangan”. Meskipun kata “tangan” juga berkonotasi jismiyah, namun dalam KBBI kata ini tak hanya bermakna tangan sebagai organ tubuh tetapi bisa juga bermakna non-jismiyah seperti makna kekuasaan, perintah dan sebagainya sehingga penerjemahan kata “yad” menjadi “tangan” lebih bisa dimaklumi. Yang justru paling aman adalah tidak menerjemah kata-kata berupa sifat khabariyah ini, tetapi membiarkannya apa adanya lalu diberi catatan berbagai kemungkinan makna yang layak bagi Allah.

Wallahu a’lam.

_____________________________


*[ @⁨MuHaddin⁩ ] :*

الله موجود بلا مكان ولا جهة ولا يجري عليه الزمان.

Allah ada tanpa tempat, tanpa arah dan tanpa dilalui oleh masa.

Allah berfirman :
ليس كمثله شيء.

Ulama menjelaskan kalau ayat ini adalah dalil yang sangat jelas, bahwa Allah berbeda dari sekalian makhluk.
Maka tidak boleh dikatakan Allah bersemayam di 'Arsy. Sebab 'Arsy adalah tempat, sedangkan Allah tidak butuh pada tempat.
Yang butuh pada tempat hanya makhluk. Sedangkan Allah tidak sama dengan makhluk.

Adapun ayat² Mutasyabbihat, maka ada beberapa cara memahami nya.
Di antaranya dengan cara di takwil.

قال الإمام علي: إن الله خلق العرش إظهارا بقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته.
(الفرق بين الفراق)

Imam Ali mengatakan: Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy untuk menampakkan kekuasaan Nya, bukan menjadikan 'Arsy itu tempat bagi Dzat Nya.
*📚 (Al Farqu Bainal Firaq)*

Wallahu A'lam...

_____________________________


*[ @⁨نفوس المطمئنة🌸⁩ ] :*
Syeikh Muhammad bin Mahfüdh Termas [ W. 1338 H], Pacitan, Indonesia --rahimahuLlah--,
*📚 dalam kitab nya Mawhabah Dzïl Fadlol juz II, hal. 502*
menyatakan bahwa makna lahiriah ayat

الرحمن على العرش استوى

ini [yakni ALLAH bersemayam, duduk, menetap di atas arasy] sama sekali tidak dikehendaki oleh para ulama salaf dan kholaf yang kompeten.

Ulama salaf --tepatnya sebagian besar dari mereka-- memasrahkan makna terperinci ayat ini pada Nya [tafwïdl]; tanpa menentukan salah satu makna dari beberapa makna yang menunjukkan sifat sempurna yang layak bagi Nya.

Sedangkan ulama kholaf, yakni mereka yang hidup setelah tahun 300 H. menta'wïl [menafsiri; menjelaskan] makna nya. Bahwa yang dimaksud dengan istiwä' adalah menguasai dan memiliki.
...............

Notes :

Sehingga makna yang tepat dari ayat yang termasuk mutasyabihät ini --yang tidak akan bertentangan dengan ayat muhkamät--, adalah
" ALLAH yang bersifat Rohmän menguasai dan memiliki arasy." Bukan duduk, bersemayam, atau menetap di atas arasy!!
Karena, bagaimana pun duduk dimaknai --atau dengan bahasa yang menurut mereka lebih halus yakni bersemayam-- tetap akan menjadi sifat makhluk. Yang tidak layak dan tidak menunjukkan kesempurnaan bagi Sang Khöliq !!!!

Arasy adalah makhluk terbesar yang diciptakan Nya. Ibarat cincin yang di lempar di padang pasir. Cincin adalah perumpamaan bumi dan langit dengan ke tujuh lapis nya dan padang pasir sebagai perumpamaan arasy. Sehingga setelah diciptakan arasy, malaikat semakin haybah, bertambah pengagungan mereka pada Nya. Pantas jika ^Aliy bin Abï Thölib --rodliyaLlöhu ^anhu-- berkata :

إن الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته

" Sesungguhnya ALlöh menciptakan arasy agar tampak lah hikmah betapa agung kekuasaan Nya. Dia tidak menjadikan nya sebagai tempat bagi Nya."

الشيخ محمد بن محفوظ الترمسي الاندونيسي [ ت ١٣٣٨ ھ ]
قال في تفسير قوله تعالى
الرحمن على العرش استوى

فالظاهر من ذلك ليس مرادا اتفاقا ثم السلف يفوضون على التفصيل الى الله والخلف يؤولونه الى أن المراد من الاستواء الاستيلاء والملك على حد قول الشاعر

قد استوى بشر على العراق # من غير سيف ودم مهراق

*📚 موهبة ذي الفضل على شرح ابن حجر بافضل ٢ / ٥٠٢*

والله اعلم بالصواب

_____________________________


*[ @⁨U.Rama'Maulana'Bogor⁩ ] :*
*Al Imâm Abu Sulaiman Al Khaththabi* berkata :

"لا تثبت الله صفة إلا بالكتاب أو خبر مقطوع له بصحته يستند إلى أصل في الكتاب أو في السنة المقطوع على صحتها، وما بخلاف ذلك فالواجب التوقف عن إطلاق ذلك ويتأول على ما يليق بمعاني الأصول المتفق عليها من أقوال أهل العلم من نفي التشبيه"

_”Sifat bagi Allah tidak boleh ditetapkan kecuali dengan Al Qur’an atau hadits yang telah dipastikan ke-shahih-annya, yang hadits ini didasarkan kepada kebenaran Al Qur’an atau kepada hadits lain yang juga dipastikan kebenarannya. Adapun hadits yang menyalahi hal-hal ini maka kewajiban dalam hal ini adalah tawaqquf; artinya tidak menjadikannya sebagai dalil dalam penetapan sifat Allah di atas. Lalu kemudian hadits tersebut ditakwil dengan makna yang sesuai dengan kaedah-kaedah yang telah disepakati oleh para ulama dalam menafikan keserupaan (tasybîh) bagi Allah”_
*📚 [ _Al Asmâ’ Wa Ash Shifât_ , h. 335-336]*

__________________________________


*[ @⁨U.Handoyo_Tangerang⁩ ] :*
Dalam kitab 📚kasyifatussaja Syeikh Nawawi al bantany menerangkan :


bahwa Allah itu tidak membutuhkan tempat, karena itu pertanyaan ayna itu tidak berlaku untuk Allah.

Tidaklah layak kita mengatakan Allah bersinggasana atau berada dimana, karena ketika Allah ditanyakan sepeti itu maka Allah butuh tempat.

bila itu yang terjadi, maka Allah memiliki kekurangan, yaitu membutuhkan sesuatu, sedangkan Allah bersifat Penuh Kesempurnaan, Berbeda dengan Makhluq.

والله تعالى أعلم بالصواب


Tidak ada komentar:

Posting Komentar