☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
*B-M-U*
_soal antrian ke 102_
Nama : Dzulkifli @kiplienjoy555
Alamat : Balangan_Kalsel
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah.
Pertanyaan :
1.) apa saja syarat² untuk bisa menjadi imam shalat wajib ????
2.) ada seseorang yang sedang sakit dan di infus (berperban untuk menahan jarum infus = tidak bisa terkena air), kemudian dia berwudhu dan sampai membasuh tangan yang di infus tadi, dia ingin bertayammum, hanya saja pada waktu itu tidak ada terdapat tanah/pasir yang mengandung debu untuk bertayammum (misal tanah nya basah karena sedang hujan) dan jika pun harus mencari nya kemungkinan juga tidak bisa.
pertanyaan nya : bagaimana cara bertayammum orang tersebut, karena ketiadaan tanah/pasir yang mengandung debu, apakah bisa di ganti dengan debu yang lain, atau ada solusi yang lain ????
tolong referensi kitab nya juga ustadz.
terima kasih banyak ustadz
*-------------------------------*
*JAWABAN : ????*
✍🏻📚💪🏻
_____________________________
1️⃣
*[ @M.Fadhil_Malaysia ] :*
Untuk soalan No 1. boleh rujuk :
*📚 الفقه الإسلامي وأدلته - ج 2*
M/s 174-180
______
Sah anak kecil mumayyiz menjadi imam :
يصح الاقتداء بالصبي المميز في الفرض والنفل، ولكن البالغ أولى منه
*📚(Raudhatut Thalibin 1/353)*
_____________________________
*[ @U.M.Shalih_Lumajang ] :*
Syarat menjadi imam ada 5 :
1. Tidak diketahui atau diyakini bahwa sholatnya batal.
2. Tidak diyakini bahwa ia wajib mengulangi sholatnya.
3. Bukan makmum atau diragukan status kemakmumannya.
4. Bukan
_ummy_ atau orang yang tidak bisa membaca surah Al Fatihah dengan baik, kecuali bagi sesamanya.
5. Bukan perempuan sedangkan makmumnya laki-laki.
*📚Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah*
_____________________________
*[ @khalilurrahman ] :*
Hanya menambahkan.
Imam (Shalat) mempunyai berbagai shifat :
1️⃣. Shifat² imam yang di sunnahkan.
2️⃣. Shifat² imam yang di syarathkan.
_______
Sunnah² Menjadi imam ada 6 ( sunnah bukan syarath, hanya saja makruh, apabila meninggalkan nya ) :
1.) Faqih ( Faham ilmu agama ).
2.) Qira'ah ( banyak hafalan dan menurut imam subki : yang bagus baca'an nya ).
3.) Wara' ( mempunyai shifat wara, hati-hati di dalam mengamalkan ilmu agama ).
4.) Sinnun ( Umur lebih tua ).
5.) Nasab ( keturunan yang bagus - mulia ).
6.) Hijrah ( yang melakukan hijrah dengan nabi ) sekarang ini sudah tidak ada.
_______
Syarath² imam ada 5 ( tidak boleh tidak, wajib ada ) :
1.) dan 2.) Tidak berhadats kecil dan besar.
3.) Tidak ada najis di baju nya atau badan nya ( najis yang tidak di ma'afkan ).
4.) Tidak meninggalkan Thuma’ninah ( Ukuran Thuma’ninah yaitu seukuran membaca tasbih ).
5.) Tidak meninggalkan bacaan fatihah / imam hafal fatihah ( mungkin ada yang belum hafal fatihah, yaitu kemungkinan seperti bagi mu’allaf, yang di bolehkan dengan tasbih ).
______
Ada juga tambahan di redaksi di kitab yang lain sebagai syarath imam :
أن لايمس ذكره
Yaitu Tidak memegang kemaluan nya.
*📚 [ مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق إلى محبة الله على التحقيق - محمد بن عمر نووي الجاوي ]*
والله سبحانه وتعالى أعلم
_____________________________
*[ @C.Mayrah_Kaltim ] :*
Izin menambahkan ustadz
no 1. point ke 1 faham tentang masalah Sholat nya terutama rukun sholat.
2. qira'ah disini yang dimaksud bisa juga bacaannya bagus (dalam segi ilmu tajwidnya) harus sesuai, karena suara bagus tidak menjamin bacaan tajwidnya benar.
_____________________________
2️⃣
*[ @+62 857-1211-4641 ] :*
kalau seseorang sedang di infus itu kebanyakan didalam selang area tangan terdapat darah dan yang saya tau dan alami darah tersebut tidak bisa hilang, bahkan kalau posisi tangan itu diatas infus darah justru akan bertambah banyak....kalau toh bisa jadi pertimbangan jawaban sebelum kita mengkrucut ke arah tayamum sedangkan kondisinya demikian....afwan katsir🙏🙏
Darahnya masih didalam selang tidak keluar....dan ini apakah besar atau sedikit yang saya alami dulu waktu di RS itu tergantung posisi tangan...apabila tangan itu posisinya dibawah tempat infus, yang digantung itu, maka darahnya cuma sedikit, tapi apabila sejajar atau bahkan posisi tangan lebih tinggi darah akan bertambah banyak didalam selang tersebut...
Saat itu saya diinfus kurang lebih 4 hari 4 malam dan saat dicabut darahnya masih keluar deras dan dikasih alkohol untuk memberhentikan aliran darah tersebut, dan saat sudah kering itu masih meninggalkan bekas dan agak lama hilangnya🙏
Kalau kita samakan dengan duri saya ada sedikit keganjalan.....karena dalam infus itu yang ada dilapangan, bukan hanya jarumnya saja yang dutusuk dalam otot tangan, tapi setelah itu ada perban dan plaster yang membungkusnya...saya rasa untuk ruang untuk perban dan plester itu juga memakan tempat yg lebar dan di bawah plaster kalau tidak kita copot yang saya tau air tidak bisa menerobos kedalm pori porinya dan mengenai kulit tangan....apakah kita masih mengatakan wudhunya sah?🙏
sedangkal yang saya tau...syarat tayammum itu harus menghilangkan terlebih dahulu najis yang ada di anggota tayammum....kalau salah tolong diluruskan saja....atau mungkin darah tersebut dapat dikategorikan dalam bentuk dhorurot?🙏
Ini saya tampilkan redaksi seputar hukum darah...dalam kitab nihayatuz zain juz 1 hal 43 maktabah samilah :
ﻭﺣﺎﺻﻞ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻝﺩﻡ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻗﻠﻴﻠﺎ ﻋﺮﻓﺎ ﻋﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﺨﺘﻠﻂ ﺑﺄﺟﻨﺒﻲ ﻟﻢ ﺗﻤﺲ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻋﺮﻓﺎ ﻋﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻔﻌﻞ ﻓﺎﻋﻞ ﻭﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﺨﺘﻠﻂ ﺑﺄﺟﻨﺒﻲ ﻭﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﺠﺎﻭﺯ ﻣﺤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﻳﻐﻠﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﺴﻴﻠﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﻭﻣﺎ ﻳﻘﺎﺑﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺳﺘﻘﺮ ﻓﻴﻪ ﻋﻨﺪ ﺧﺮﻭﺟﻪ
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﺑﺸﺮﻭﻁ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﻠﻴﻠﺎ ﻭﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﻌﺼﻰ ﺑﺎﻟﺘﻀﻤﺦ ﺑﻪ ﻛﺄﻥ ﺗﻀﻤﺦ ﺑﻪ ﻟﻐﻴﺮ ﻏﺮﺽ ﻭﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﻐﻠﻆ ﻭﺃﻥ ﻟﺎ ﻳﺨﺘﻠﻂ ﺑﺄﺟﻨﺒﻲ ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻝﺩﻡ ﻳﺪﺭﻛﻪ ﺍﻟﻄﺮﻑ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﺎ ﻳﺪﺭﻛﻪ ﺍﻟﻄﺮﻑ ﺍﻟﻤﻌﺘﺪﻝ ﻋﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻣﻐﻠﻆ ﻭﻟﻮ ﺍﺧﺘﻠﻂ ﺑﺄﺟﻨﺒﻲ ﻭﺍﻟﺼﺪﻳﺪ ﻭﻫﻮ ﻣﺎﺀ ﺭﻗﻴﻖ ﻣﺨﺘﻠﻂ ﺑﺎﻝﺩﻡ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻐﻠﻆ
ﻭﺍﻟﻘﻴﺢ ﻛﺎﻝﺩﻡ ﻓﻴﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺩﻡﺍ ﻣﺴﺘﺤﻴﻠﺎ ﺇﻟﻰ ﻧﺘﻦ ﻭﻓﺴﺎﺩ
_____________________________
*[ @khalilurrahman ] :*
Kita teropong dari soal nya, kita simpulkan, dan hashil nya adalah terdapat beberapa permas’alahan :
1.) Jarum.
2.) Infus / Darah.
3.) Shalat li hurmatil waqti.
4.) Shahibul Jabirah (ini sudah ada, silahkan cek di blogger)
_______
*1.) Jarum ketika di cabut :*
Jawaban dari ustadz Shalih
Referensi :
-📚Tuhfatul Muhtaj bi syarhil Minhaj
_________
-📚 Nihayatul Muhtaj ila syarhil Minhaj
__________
-📚Hasyiah Bujairumi Alal Khathib
Yang saya fahami, dalam masalah wudlu, yang di perhatikan dari masalah infus, apabila saat jarum di cabut ada bekas lubang jarum nya, maka wudlu nya tidak sah, namun apabila saat jarum di cabut tidak ada bekas lubang, maka wudlu nya sah tanpa mencabut jarum tersebut.
Adapun kaitan nya dengan masalah sholat apabila bercampur dengan darah yang banyak maka sholat nya batal, begitu pula sebalik nya.
Kalau jawaban saya masih tafshil dari masalah yang pertama, kalau semisal saat jarum nya dicabut tidak meninggalkan bekas, dan ketika jarum itu masih menusuk tidak bercampur darah yang banyak, maka itu tidak masuk jabiroh dan wudlu serta sholat nya sah. Selain itu perincian nya sesuai keadaan.
_______
*2. Infus / darah ( Shalat nya orang berinfus) :*
Kalau darah, yang ada di luka tangan yang di infus, atau yang di dalam selang infus kadar nya sedikit (menurut adat/kebiasaan/'urf), maka shalatnya sah, meskipun tidak di bersihkan dulu sebelum shalat, kalau sebalik nya, maka tidak sah shalat nya.
*📚 حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج ٤ / ص ٥٩) :*
وفي حج : ولو غرز إبرة مثلا ببدنه أو انغرزت فغابت أو وصلت لدم قليل لم يضر أو لدم كثير أو لجوف لم تصح الصلاة لاتصالها بنجس ا هـ .قال سم : عليه ومحل عدم الصحة حيث كان طرفها بائنا ظاهرا ا هـ .أقول : وما قيد به قد يؤخذ من قوله فغابت .وقوله : لم تصح إلخ .ينبغي أن محله إذا لم يخف من نزعها ضررا يبيح التيمم ، وأن محله أيضا إذا غرزها لغرض ، أما إذا غرزها عبثا فتبطل ؛ لأنه بمنزلة التضمخ بالنجاسة عمدا ، وهو يضر
_______
*3.) Shalat li hurmatil waqti :*
Adalah shalat yang dilakukan seseorang seqedar penghormatan terhadap waqtu, aqibat tidak terpenuhi nya syarath² sah / rukun shalat, untuk menjalankan shalat, seperti suci dari hadats kecil atau besar, suci badan dan tempat shalat nya dari najis, sakit / semacam nya yang tidak mampu menjalani wudhu/tayammum, atau tidak ada sarana untuk bersuci (air/debu) dan lain².
Shalat (fardhu) yang di lakukan dalam kondisi semacam ini, adalah sah, akan tetapi : wajib di ulangi menurut Syafi'iyyah / mayoritas ulama, meskipun sudah menggugurkan tuntutan kewajiban shalat bagi nya saat itu, pengertian nya : andaikata setelah shalat ia meninggal dunia, maka dia tidak di hukumi sebagai yang meninggalkan shalat dan ma'shiat.
*📚 [ الموسوعة الفقهية - ج ١٤ - تماثل - تيمن ]*
_______
Referensi tambahan :
📚 ﻓﺘﺢ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﺑﺸﺮﺡ ﻣﻨﻬﺞ اﻟﻄﻼﺏ-اﻟﻤﺠﻠﺪ اﻷﻭﻝ-ﺑﺎﺏ ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﻼﺓ- ﺻﻔﺤﺔ ٥٨ :
-" ﻭَﻟَﻮْ ﻭَﺻَﻞَ ﻋﻈﻤﻪ " ﺑﻘﻴﺪ ﺯﺩﺗﻪ ﺑﻘﻮﻟﻲ " ﻟِﺤَﺎﺟَﺔٍ " ﺇﻟَﻰ ﻭَﺻْﻠِﻪِ " ﺑِﻨَﺠَﺲٍ " ﻣِﻦْ ﻋَﻈْﻢٍ " ﻻَ ﻳَﺼْﻠُﺢُ " ﻟِﻠْﻮَﺻْﻞِ " ﻏَﻴْﺮُﻩُ " ﻫُﻮَ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﻟِﻔَﻘْﺪِ اﻟﻄَّﺎﻫِﺮِ " ﻋُﺬِﺭَ " ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺘَﺼِﺢُّ ﺻَﻼَﺗُﻪُ ﻣﻌﻪ ﻗﺎﻝ ﻓِﻲ اﻟﺮَّﻭْﺿَﺔِ ﻛَﺄَﺻْﻠِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻠْﺰَﻣُﻪُ ﻧَﺰْﻋُﻪُ ﺇﺫَا ﻭَﺟَﺪَ اﻟﻄَّﺎﻫِﺮَ ﻗَﺎﻝَ اﻟﺴُّﺒْﻜِﻲُّ ﺗَﺒَﻌًﺎ ﻟِﻹِْﻣَﺎﻡِ ﻭَﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺇﻻَّ ﺇﺫَا ﻟَﻢْ ﻳَﺨَﻒْ ﻣِﻦْ اﻟﻨَّﺰْﻉِ ﺿَﺮَﺭًا " ﻭَﺇِﻻَّ " ﺑِﺄَﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﺘَﺞْ ﺃَﻭْ ﻭَﺟَﺪَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻏَﻴْﺮَﻩُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺁﺩَﻣِﻲٍّ " ﻭَﺟَﺐَ " ﻋَﻠَﻴْﻪِ " ﻧَﺰْﻋُﻪُ " ﺃَﻱْ اﻟﻨَّﺠَﺲُ ﻭَﺇِﻥْ اﻛْﺘَﺴَﻰ ﻟَﺤْﻤًﺎ " ﺇﻥْ ﺃَﻣِﻦَ " ﻣﻦ ﻧﺰﻋﻪ " ﺿﺮاﺭا ﻳﺒﻴﺢ اﻟﺘﻴﻢ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻤُﺖْ " ﻟِﺤَﻤْﻠِﻪِ ﻧَﺠِﺴًﺎ ﺗَﻌَﺪَّﻯ ﺑِﺤَﻤْﻠِﻪِ ﻣَﻊَ ﺗَﻤَﻜُّﻨِﻪِ ﻣِﻦْ ﺇﺯَاﻟَﺘِﻪِ ﻛَﻮَﺻْﻞِ اﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﺷَﻌْﺮَﻫَﺎ ﺑِﺸَﻌْﺮٍ ﻧَﺠَﺲٍ ﻓَﺈِﻥْ اﻣْﺘَﻨَﻊَ ﻟَﺰِﻡَ اﻟْﺤَﺎﻛِﻢَ ﻧَﺰْﻋُﻪُ ﻷَِﻧَّﻪُ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﺪْﺧُﻠُﻪُ اﻟﻨِّﻴَﺎﺑَﺔُ ﻛَﺮَﺩِّ اﻟْﻤَﻐْﺼُﻮﺏِ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻣَﻦْ اﻟﻀَّﺮَﺭَ ﺃَﻭْ ﻣَﺎﺕَ ﻗَﺒْﻞَ اﻟﻨَّﺰْﻉِ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺐْ ﻧَﺰْﻋُﻪُ ﺭِﻋَﺎﻳَﺔً ﻟِﺨَﻮْﻑِ اﻟﻀَّﺮَﺭِ ﻓِﻲ اﻷَْﻭَّﻝِ ﻭﻟﻌﺪﻡ اﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ اﻟﺜَّﺎﻧِﻲ ﻟِﺰَﻭَاﻝِ اﻟﺘَّﻜْﻠِﻴﻒ.
ِ
📚 كاشفة السجا في شرح سفينة النجا (ص: ٦٢) :
(فصل): في بيان الاحداث (نواقض الوضوء أربعة أشياء) أي أحد هذه الأشياء. (الأول: الخارج من أحد السبيلين من قبل أو دبر) هذا بيان للسبيلين أو من أي ثقب كان إذا كان أحدهما منسداً انسداداً خلقياً وكان الخارج من الثقبة مناسباً للمنسد كأن انسد القبل فخرج منها بول أو الدبر فخرج منها غائط، وكذا إذا كان غير مناسب لواحد منهما كالدم، وأما إن كان مناسباً للمنفتح فقط فلا نقض، وأما إن كان أحدهما منسداً انسداداً عارضاً فلا بد أن تكون الثقبة قريبة من المعدة، فإن كان في رجله أو نحوها لم ينقض الخارج منها
📚 المجموع شرح المهذب (٢/ ٨) :
المعدة بفتح الميم وكسر العين وبكسر الميم واسكان العين ومراد الشافعي والاصحاب بما تحت المعدة ما تحت السرة وبما فوق المعدة ما فوق السرة ولو انفتح في نفس السرة أو في محاذاتها فله حكم ما فوقها لانه في معناه ذكره إمام الحرمين وغيره
📚 بحر المذهب للروياني ج١ ص ١٤١ :
فرع آخر
لو انسد المخرج المعتاد وانفتح للبول أو النجو موضع آخر. قال الشافعي في حرملة: إن كان دون المعتدة انتقض الوضوء بالخارج منه، وإن كان فوقها لم ينتقض. وقال في موضع: ينتقض الوضوء وأطلق. قال أصحابنا: الحكم فيه أنه إن كان دون المعدة ينتقض الوضوء قولًا واحدًا؛ لأن الله تعالى قال: {أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ} [المائدة: ٦] ولم يفصل، ولأن الله تعالى أجرى العادة أنه لا بد لكل أحد من موضع يخرج منه البول والغائط، فإذا انسد الأصل وانفتح موضع آخر [١٠٤/ أ] صار الثاني هو المعتاد، فانتقص الوضوء بالخارج منه، وإن كان فوق المعدة فيه قولان. أحدهما: ينتقض الوضوء لما ذكرناه. والثاني: لا ينتقض نص عليه في حرملة.
📚 حاشية الشربيني. ٢٠٧/١ :
وعبارة المجموع وأما النادر فقسمان: قسم يدوم غالبا، وقسم لا يدوم فالأول كالمستحاضة ومن به جرح سائل أو رعاف دائم أو استرخت مقعدته فدام خروج الحدث ومن أشبههم فكلهم يصلون من الحدث والنجس ولا يعيدون للمشقة والضرورة، وأما الذي لا يدوم غالبا فنوعان: نوع يأتي معه ببدل للخلل، ونوع لا يأتي فمن الثاني من لم يجد ماء ولا ترابا والمريض والزمن ونحوهما ممن لا يخاف من استعمال الماء لكن لا يجد من يوضئه ومن لا يقدر على التحول إلى القبلة والأعمى وغيره ممن لا يقدر على معرفة القبلة ولا يجد من يعرفه إياها ومن على بدنه وجرحه نجاسة لا يعفى عنها ولا يقدر على إزالتها والمربوط على خشبة ومن شد وثاقه والغريق ومن حول عن القبلة أو أكره على الصلاة إلى غيرها أو على ترك القيام فكل هؤلاء يجب عليهم الصلاة على حسب الحال والإعادة لندور هذه الأعذار
📚 البيان ج٢ ص٩٣ :
[فرع تبديل العظم والسن بنجس]....
وإن خاف تلف النفس من قلعه، أو تلف عضو. . فهل يلزمه قلعه؟ فيه وجهان:
أحدهما: يلزمه قلعه، وإن أدى إلى التلف، كما يقتل الممتنع من الصلاة.
والثاني - وهو المذهب - أنه لا يلزمه قلعه؛ لأن حكم النجاسة يسقط مع خوف التلف.
وكل موضع قلنا: يلزمه القلع، فصلى قبل القلع. . لم تصح صلاته؛ لأنه صلى بنجس نادر غير متصل، فهو كما لو حمل نجاسة في كمه.
[فائدة]: يجب على المريض أن يؤدي الصلوات الخمس مع كمال شروطها وأركانها واجتناب مبطلاتها حسب قدرته وإمكانه، وله الجلوس ثم الاضطجاع ثم الاستلقاء والإيماء إذا وجد ما تبيحه على ما قرر في المذهب، فإن كثر ضرره واشتد مرضه وخشي ترك الصلاة رأساً فلا بأس بتقليد أبي حنيفة ومالك، وإن فقدت بعض الشروط عندنا. وحاصل ما ذكره الشيخ محمد بن خاتم في رسالته في صلاة المريض أن مذهب أبي حنيفة أن المريض إذا عجز عن الإيماء برأسه جاز له ترك الصلاة، فإن شفي بعد مضي يوم فلا قضاء عليه، وإذا عجز عن الشروط بنفسه وقدر عليها بغيره فظاهر المذهب وهو قول الصاحبين لزوم ذلك، إلا إن لحقته مشقة بفعل الغير، أو كانت النجاسة تخرج منه دائماً، وقال أبو حنيفة: لا يفترض عليه مطلقاً، لأن المكلف عنده لا يعد قادراً بقدرة غيره، وعليه لو تيمم العاجز عن الوضوء بنفسه، أو صلى بنجاسة أو إلى غير القبلة مع وجود من يستعين به ولم يأمره صحت، وأما مالك فمقتضى مذهبه وجوب الإيماء بالطرف أو بإجراء الأركان على القلب، والمعتمد من مذهبه أن طهارة الخبث من الثوب والبدن والمكان سنة، فيعيد استحباباً من صلى عالماً قادراً على إزالتها، ومقابلة الوجوب مع العلم والقدرة، وإلا فمستحب ما دام الوقت فقط، وأما طهارة الحدث فإن عجز عن استعمال الماء لخوف حدوث مرض أو زيادته أو تأخير برء جاز التيمم ولا قضاء عليه، وكذا لو عدم من يناوله الماء ولو بأجرة، وإن عجز عن الماء والصعيد لعدمهما أو عدم القدرة على استعمالهما بنفسه وغيره سقطت عنه الصلاة ولا قضاء اهـ. واعلم أن الله مطلع على من ترخص لضرورة، ومن هو متهاون بأمر ربه، حتى قيل: ينبغي للإنسان أن لا يأتي الرخصة حتى يغلب على ظنه أن الله تعالى يحب منه أن يأتيها لما يعلم ما لديه من العجز، والله يعلم المعذور من المغرور، اهـ من خاتمة الرسالة العلوية للشريف عبد الله بن حسين بن طاهر علوي.
*📚 [ بغية المسترشدين فى تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلمآء المتأخرين - عبد الرحمن بن محمد بن حسين المشهور/باعلوي - ص٩٩ ]*
_____________________________
Oleh karena nya, di sini lah jatuh hukum untuk wajib mengulang shalat nya, oleh sebab tidak sempurna cara bersuci nya.
Seandainya ada debu juga untuk menyempurnakan wudhu nya / bersuci nya (wudhu yang di sempurnakan dengan tayammum), maka tetap wajib nanti di qadha shalat nya, sebab perban nya itu terletak di anggota tayammum.
Bahwa :
1.) Untuk hashil nya ada masuk sedikit kepada shalat li hurmatil waqti.
Karena juga di antara sebab di kerjakan nya shalat li hurmatil waqti adalah sakit, tidak sempurna cara bersuci nya.
2.) Kalau untuk permasalahan nya memang masuk kepada shahibul jabirah, yang mana di situ ada perban di anggota tayammum dan tidak bisa nya terkena air, tayammum pun tak bisa (debu tidak ada).
Walhashil : wudhu semampu nya = shalat di kerjakan = setelah sembuh wajib di qadha di ulang shalat nya, seandainya ia meninggal setelah shalat, maka ia bukan termasuk orang yang lalai / meninggalkan shalat dan atau ma'shiat.
والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب