Minggu, 06 September 2020

PERMAS’ALAHAN DI MARKET PLACE (MP)

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 151
👳🏻‍♂️ Nama : Agus Wedi
Alamat : Pamekasan_Madura

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Market Place (MP) dalam jual beli online
Dewasa ini bertebaran jual beli online, dengan perantara pihak ketiga (market place), baik domistik maupun internasional, seperti Bukalapak dan Shopee untuk market place domistik, atau Ebay dan Aliexpress untuk market place internasional. Bila berjalan baik, maka transaksi dianggap selesai, saat barang diterima pembeli, tanpa ada komplain.

Uangpun diteruskan market place kepada penjual/pemilik barang. Namun bila transaksi tidak berjalan baik, semisal barang cacat atau tidak sesuai deskripsi, maka pembeli berhak mengajukan komplain. Biasanya market place mempersilahkan pembeli dan penjual berdiskusi di bawah pantauan market place.

Terkadang dicapai kesepakatan, bahwa pembeli mengembalikan barang dan penjual mengembalikan uang penuh, yang mana uang pembayaran itu, disepakati ditahan pihak market place, sebelum transaksi betul-betul selesai, tanpa komplain dari pembeli.

Terkadang disepakati pembeli tidak mengembalikan barang, namun sebagian uang harus dikembalikan kepada pembeli.
Terkadang tidak ditemukan kata sepakat, sehingga market place turun tangan bertindak sesuai kebijakan, memerintahkan pembeli mengembalikan barang dan mengembalikan sepenuhnya uang pembayaran, kepada pembeli.

Ada beberapa kasus di mana market place bertindak ekstrim, yakni mengembalikan uang pembayaran penuh kepada pembeli, tanpa mengharuskan pembeli mengembalikan barang kepada penjual. Jelas sekali dalam kasus ini penjual keberatan dan merasa dirugikan, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Biasanya tindakan ekstrim itu diambil setelah pihak penjual bertele-tele dan terkesan mengulur waktu.

Sebagai catatan, terkadang penjual tidak mencantumkan alamat pengirim dengan jelas. Hal ini menandakan bahwa penjual hanya melayani pembelian online, dan tidak melayani pembelian offline.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Bolehkah market place menahan uang pembayaran sebagai antisipasi bila terjadi dispute (perselisihan) antara penjual dan pembeli ⁉️

🍏 JAWABAN :

1. Market place menahan uang pembayaran sebagai antisipasi apabila terjadi perselisihan adalah : BOLEH, karena penahanan tersebut di lakukan untuk kemashlahatan, baik untuk penjual atau pembeli, sama seperti adanya syarat Khiyar dan semacamnya.
Dan kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan.

Dan kedudukan market place adalah sebagai wakil dari pembeli untuk membayarkan tsaman -(karena pembayaran masuk rekening nya)- boleh tidak membayarkan sebelum barang diterima oleh pembeli, atas permintaan pembeli.

الشرط الثاني: ما لا يقتضيه العقد، ولكن فيه مصلحة، كالأجل في الثمن، وخيار الثلاث، والرهن، والضمان، والشهادة. وما أشبه ذلك.. فهذا شرطٌ لا يفسد البيع، ويثبت المشروط؛ لأن في ذلك مصلحة للعقد.
📗[البيان في فقه الإمام الشافعي، ج ٥ ص ١١٩، يحيى بن سالم بن أسعد/ابن أبي الخير العمراني‎]

“Syarat kedua : sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh aqad, tetapi memiliki kepentingan, seperti batas waktu harga, tiga opsi, hipotek (rahn), jaminan, dan sertifikat. Dan sejenisnya, ini adalah syarat yang tidak membatalkan penjualan, dan syarat tersebut terbukti, Karena ada kepentingan di dalam aqad”.

وَصَرَّحَ الشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّ الْمُوَكِّل لَوْ نَجَّزَ الْوَكَالَةَ وَشَرَطَ لِلتَّصَرُّفِ شَرْطًا جَازَ، كَأَنْ يَقُول: وَكَّلْتُكَ بِبَيْعِ دَارِي وَبِعْهَا بَعْدَ شَهْرٍ، فَإِنَّ الْوَكَالَةَ تَصِحُّ.
قَال الْغَزَالِيُّ: لَوْ قَال الْمُوَكِّل: وَكَّلْتُكَ الآْنَ، وَلَكِنْ لاَ تُبَاشِرِ التَّصَرُّفَ إِلاَّ بَعْدَ شَهْرٍ، أَوْ بَعْدَ قُدُومِ فُلاَنٍ، قَطَعَ الْعِرَاقِيُّونَ بِالْجَوَازِ، وَقَالُوا: لَيْسَ هَذَا تَعْلِيقًا، إِنَّمَا هُوَ تَأْخِيرٌ فَيَجِبُ عَلَى الْوَكِيل الاِمْتِثَال. 
📗[مجموعة من المؤلفين، الموسوعة الفقهية الكويتية، ١٥/٤٥]

“Imam Syafi'i menjelaskan tentang Muwakkil, jika perwakilan tersebut melakukan sesuatu, dan syarat untuk bisa memakai sesuatu, maka itu adalah boleh, seolah-olah mengatakan : aku mewakilkan mu dengan penjualan rumah ku, tetapi jangan mengalihkan penggunaan, kecuali setelah sebulan, maka perwakilan tersebut sah”.

“Imam Al-Ghazali berkata : Jika klien (Muwakkil) berkata : sekarang aku mewakilkanmu, tetapi jangan melanjutkan untuk bertindak hanya setelah sebulan, atau setelah kedatangan ini dan itu, para ulama Iraq telah sepaqat dengan membolehkan, dan mereka berkata : tiada lah ucapan ini itu mengaitkan, hanya saja suatu penundaan, maka si yang mewakili harus mematuhi”.

(وللبائع حبس مبيعه حتى يقبض ثمنه) الحال أصالة، وكذا للمشتري حبس ثمنه حتى يقبض المبيع الحال كذلك، وإنما آثر البائع بالذكر؛ لأنه قدم تصحيح إجباره فذكر شرطه (إن خاف فوته) بهرب، أو تمليك ماله لغيره، أو نحوهما (بلا خلاف) لما في التسليم حينئذ من الضرر الظاهر
📗[تحفة المحتاج، ج ٤ ص ٤٢٣]

“(Penjual berhaq untuk menahan penjualan nya sampai dia menerima harga nya) pada asal keadaan, dan pembeli harus menahan harga nya, sampai dia memiliki barang tersebut, seperti demikian (sama), tetapi penjual lebih berbekas penyebutan nya. Karena dia memberikan koreksi atas keterpaksaan nya, maka dia menyebutkan persyaratan nya (jika dia takut akan ketinggalan) dengan melarikan diri, atau mengambil uang nya kepada orang lain, atau sejenis nya (tanpa perselisihan) karena bahaya yang tampak dalam penyerahan saat itu”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Bolehkah market place melakukan tindakan ekstrim, seperti contoh di atas ⁉️

🍏 JAWABAN :

2. TIDAK BOLEH market place melakukan tindakan ekstrim, seperti contoh dalam deskripsi.
Karena pihak market place sebagai pihak ketiga, tidak memiliki otoritas apapun dalam transaksi jual beli.

Secara hukum : maka pembeli ketika mendapati barang terdapat cacat, maka harus mengembalikan barang kepada penjual.
Tetapi pihak pembeli boleh menahan barang, sebelum menerima tsaman.

إذا وجد المشتري بالمبيع عيبًا كان موجودًا به في يد البائع، فإن كان المبيعُ باقيًّا على جهته.. فله أن يرده. هذا مذهبنا، وبه قال عامة أهل العلم.
📗[البيان في مذهب الامام الشافعي، ج ٥ ص ٢٨٥]

“Ketika seorang pembeli mendapati cacat pada barang jualan, yang sudah ada semenjak berada ditangan penjual, maka jika barang tersebut masih ada pada nya, pembeli boleh bagi ia untuk mengembalikan barang tersebut. Ini menurut madzhab kami dan ini juga pendapat ahlul ilmi”.

وَقَوْلُهُ وَالْحَجْرُ عَلَى الْبَائِعِ بَعْدَ فَسْخِ الْمُشْتَرِي إلَخْ عِبَارَةُ الإسنوي إذَا فَسَخَ الْمُشْتَرِي بِعَيْبٍ كَانَ لَهُ حَبْسُ الْمَبِيعِ إلَى قَبْضِ الثَّمَنِ وَيُحْجَرُ عَلَى الْبَائِعِ فِي بَيْعِهِ، وَالْحَالَةُ هَذِهِ وَقَضِيَّتُهَا أَنَّهُ لَا يُحْجَرُ عَلَى الْبَائِعِ إلَّا إنْ حُبِسَ الْمُشْتَرِي اهـ.
📗[حاشية الجمل، ج ٣ ص ٣٣٥]

“Perkataan pengarang : dan menahan oleh penjual setelah pembeli membatalkan. Dalam ibarat Asnawi apabila pembeli membatalkan perdagangan, karena kedapatan aib pada barang jualan, maka penjual boleh menahan barang nya, sampai diterima pembayaran, dan penjual tidak menjual barang tersebut, pada keadaan ini di kehendaki bahwa tidak di tahankan atas si penjual, kecuali jika menahan oleh si pembeli”.


الحديث الثاني والثلاثون
«عن أبي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخدري رضي الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله وعليه وآله وسلم قال: لا ضرر ولا ضرار» .
حديث حسن، رواه ابن ماجة والدارقطني وغيرهما مسنداً.
ورواه مالك في الموطإ مرسلاً عن عمرو بن يحيى عن أبيه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم، فأسقط أبا سعيد، وله طرق يقوي بعضها بعضاً.
📗[النووي، الأربعون النووية، صفحة ٩٨]

Arti nya : “Dari Abu Sa'id, Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda : "Janganlah engkau membahayakan dan saling merugikan”.
(H.R. Ibnu Majah, Daraquthni dan lain-lain nya, Hadits hasan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa sebagai Hadits mursal dari 'Amr bin Yahya dari bapaknya dari Nabi ﷺ  tanpa menyebut Abu Sa’id. Hadits ini mempunyai beberapa jalan yang saling menguatkan).
[Ibnu Majah no. 2341, Daruquthni no. 4/228, Imam Malik (Muwaththa 2/746)].

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Bagaimana status hukum uang yang dikembalikan, dan status hukum barang yang secara otomatis dianggap menjadi milik pembeli ⁉️

🍏 JAWABAN :

3. Status hukum uang yang di kembalikan oleh MP adalah milik sendiri (tidak Ghashab), dan barang yang secara otomatis di anggap menjadi milik pembeli oleh MP, statusnya adalah : merupakan barang hasil GHASHAB.

Dan Barang tersebut tetap menjadi milik penjual yang wajib di kembalikan.
Dan ketika tidak di kembalikan adalah : HARAM.

والقياس أن تلك العقود تفسخ وتسترد الثمن وترد الأعواض فإن عجز عنه لكثرته فهي أموال حرام حصلت في يده فللمغصوب منه قدر رأس ماله والفضل حرام يجب إخراجه لتتصدق به ولا يحل للغاصب ولا للمغصوب منه بل حكمه حكم كل حرام يقع في يده
📗[أبو حامد الغزالي، إحياء علوم الدين، ١٣٠/٢]

“Dan di qiyaskan bahwa aqad itu menjadi batal, dan mesti di kembalikan pembayaran nya, dan kembalikan penggantian, maka jika lemah ia dalam mengembalikan, di sebabkan banyak nya barang, maka seluruh harta tersebut adalah haram, yang berada di genggaman seseorang (penjual), maka boleh bagi si pemilik harta untuk merampas ukuran uang miliknya, dan panambahan uang itu haram, yang mewajibkan mengeluarkan penambahan, karena terbenar dengan nya haram, bagi pencuri dan harta yang di curi itu tidak di halalkan, bahkan hukum nya akan suatu hukum, seluruh nya adalah keharaman yang terjadi pada apa yang di kuasai seseorang tersebut”.


الغصب هو لغة : أخذ الشيء ظلمًا. وشرعًا : استيلاءٌ على حق الغير ولو منفعة؛ كإقامة من قعد بمسجد. والأصل في تحريمه قوله تعالى : {وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} سورة البقرة : الآية ١٨٨. وخبر: "إنَّ مَاءَكُمْ، وَأموَالَكُمْ، وَأَعرَاضَكُمْ، عَلَيْكُمْ حَرَامٌ". وخبر: "مَنْ ظَلم قِيدَ شبرٍ من أرض طُوِّقه من سبع أرضين". رواهما الشيخان
📗[فتاوى النووي، صفحة ١٤٣]

فصل [في بيان أحكام الغصب]
الغصب: استيلاء على حق غير ولو منفعة كإقامة من قعد بمسجد أو سوق بلا حق كجلوسه على فراش غيره وإن لم ينقله وإزعاجه عن داره وإن لم يدخلها وكركوب دابة غيره واستخدام عبده.
📗[زين الدين المعبري، فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين، صفحة ٣٨٩]

~ Pengertian Ghashab :
> >“Secara Bahasa : mengambil sesuatu dengan cara yang zhalim”.
> > “Secara isthilah Syara' : Perampasan haq milik orang lain, sekalipun untuk kemanfa'atan, seperti menduduki tempat duduk orang lain di dalam mesjid atau pasar, yang bukan haq nya, seperti menduduki amparan orang lain, walaupun ia tidak memindahkan nya, dan mengganggu nya dari rumahnya, dan walaupun ia tidak memasukinya, dan seperti menunggangi seekor binatang selain dia, dan menggunakan pelayan nya”.

~ Hukum Ghashab :

والغصب محرَّم، ودليل تحريمه القرآن والسنة والإجماع

“Ghashab adalah di larang (diharamkan), dan sebagai bukti pelarangan nya adalah Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma' Ulama”.

Dasar al-Qur'an :

فمن القرآن قوله تعالى : ﴿ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ ﴾

“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian, dengan jalan yang bathil”.
(Q.S. Al-Baqarah : 188).

Dasar Hadits :

ومن السنة قوله صلى الله عليه وسلم : ((لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفسه)) الدارقطني.، وقوله: ((إن دماءكم وأموالكم حرامٌ عليكم كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا)) متفق عليه.

“Tidak halal mengambil harta seorang muslim, kecuali dengan kerelaan dirinya”.
(H.R. Daruquthniy)

“Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu terpelihara antara sesama kamu, sebagaimana terpeliharanya hari ini, bulan ini dan negerimu ini”.
(Muttafaqun 'Alaihi)

فمتى غلب على ظنه ان الملك يسمح له بأخذ شيئ معين من ماله جاز له اخذه ثم ان بان خلاف ظنه لزمه ضمانه
📗[الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمى، ج ٤ ص ١١٦]

“Ketika seseorang mempunyai praduga ( Sangkaan ) yang kuat, bahwa pemilik nya memberikan kemurahan kepadanya, dengan mengambil sesuatu yang ditentukan dari hartanya, maka ia boleh mengambil. Namun jika kemudian praduga nya bertentangan dengan kenyataan ( Realita ) maka ia wajib mengganti nya”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

4.) Bolehkah melakukan transaksi di market place yang memberlakukan kebijakan seperti itu ⁉️

🍏 JAWABAN :

4. Jualan dan bertransaksi di MP yang menerapkan kebijakan seperti itu, hukumnya BOLEH dan TIDAK BERDOSA. Sebab yang menjadi tujuan utama adalah jualan dan transaksi yang benar.

Sedangkan kebijakan yang dilakukan MP adalah termasuk hal yang shifatnya eksternal.

(وَبَيْعُ) نَحْوِ (الرُّطَبِ وَالْعِنَبِ) وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ (لِعَاصِرِ الْخَمْرِ) ----- إلى أن قال ------ وَمِثْلُ ذَلِكَ كُلُّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي إلَى مَعْصِيَةٍ، كَبَيْعِ أَمْرَدَ مِمَّنْ عُرِفَ بِالْفُجُورِ وَأَمَةٍ مِمَّنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَخَشَبٍ لِمَنْ يَتَّخِذُهُ آلَةَ لَهْوٍ وَثَوْبٍ حَرِيرٍ لِلُبْسِ رَجُلٍ بِلَا نَحْوِ ضَرُورَةٍ وَسِلَاحٍ مِنْ نَحْوِ بَاغٍ وَقَاطِعِ طَرِيقٍ، وَمِثْلُ ذَلِكَ إطْعَامُ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ كَافِرًا مُكَلَّفًا فِي نَهَارِ رَمَضَانَ، وَكَذَا بَيْعُهُ طَعَامًا عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ نَهَارًا كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْ ذَلِكَ تَسَبُّبٌ فِي الْمَعْصِيَةِ وَإِعَانَةٌ عَلَيْهَا عَلَى تَكْلِيفِ الْكُفَّارِ بِفُرُوعِ الشَّرِيعَةِ
📗[نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج المؤلف: شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي (المتوفى: 1004هـ) ج ٣ ص ٤٧١]

“Dan menjual) tentang (kurma basah dan anggur), kurma dan kismis (untuk perasa khamr ) ----- sampai dikatakan ------ mitsal demikian itu, adalah setiap tindakan yang mengarah pada ketidak tha'atan (ma'shiat), seperti penjualan amrad (banci) yang tahu kerusakan, dan budak yang telah menyanyikan lagu terlarang, dan khuntsa (manusia dengan kelamin ganda), bagi mereka yang mengambil alat permainan, dan baju sutra untuk dipakai pria, yang tidak ada kepentingan, dan senjata misalkan ada musuh dan perompakan, dan seperti  memberi makan muslim akan orang kafir, pada siang hari di bulan Ramadhan, serta menjual ilmu pangan, atau mengira dia makan di siang hari itu, seperti yang ditetapkan oleh Walid Radhiyallahu Anhu -; Karena semua itu sebab membawa kepada kema'shiatan, dan dengan menolong kema'shiatan atas orang-orang kafir dengan cabang-cabang Syari'ah”.


فلا يجوز الإعانة عليهما ونحو ذلك من كل تصرف يفضي إلى معصية يقينا أو ظنا ومع ذلك يصح البيع.
📗[زين الدين المعبري، فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين، صفحة ٣٢٦]

“Dan tidak boleh menolong keduanya, dan seumpama demikian dari setiap pemakaian yang tertuju kepada kema'shiatan, baik secara meyaqini atau cuma sangka'an, dan beserta demikian itu maka penjualan (tetap) di sahkan”.


أركان عقد البيع :
علمنا أن البيع عقد، وكل عقد لا بدّ فيه من أركان حتى يوجد، ولا بدّ لهذه الأركان من شروط حتى يصحّ العقد، وبالتالي تترتب عليه آثاره، وهي ما قرره شرع الله تعالى له من أحكام، ولنتكلم عن ذلك كله بعون الله تعالى فنقول : أركان عقد البيع ثلاثة :
الركن الأول: العاقدان : ....
اﻟﺮﻛﻦ اﻟﺜﺎﻧﻲ: اﻟﺼﻴﻐﺔ : ....
اﻟﺮﻛﻦ اﻟﺜﺎﻟﺚ: اﻟﻤﻌﻘﻮﺩ ﻋﻠﻴﻪ : ....
📗[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١١/٦]

“Rukun Aqad jual beli :
Kita mengetahui bahwa jual beli merupakan salah satu bentuk aqad, dan setiap aqad harus memenuhi rukun, setiap rukun harus memenuhi syarat, sehingga aqad tersebut menjadi sah, sehingga dapat menimbulkan konsekwensi hasil aqad tersebut, yaitu sesuatu yang telah di tetapkan hukum-hukum syari'ah ALLAH.

Adapun rukun aqad jual beli ada 3 :
1.) Penjual dan pembeli.
2.) Shighat aqad jual beli.
3.) Barang atau produk yang di perjual belikan”.


MUHARRIR :
@⁨Kiai M.Huda_Jember⁩

MUJAWWIB :
@⁨U.Saifuddin_Cimahi⁩
@⁨+62 878-7583-4415⁩
@⁨Kiai M.Huda_Jember⁩
@⁨نرجو منك⁩
@⁨Ibnu Agy⁩

TERJEMAH IBARAH :
@⁨Ari_Aceh⁩
@⁨C.Izzati_JakSel⁩
@⁨C.Anisah'Sukabumi⁩


والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar