Rabu, 30 September 2020

MENJUAL HUTANG DENGAN HUTANG

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 166
👳🏻‍♂️ Nama : Abdul Hamid
Alamat : Tasikmalaya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Di dalam kitab is'adurrofiq, karya Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim Ba'alawiy, J 1- H 135, di sebutkan :

١) بيع الدين بالدين ....

٢) بيع الكالئ بالكالئ ....

🌴 PERTANYAAN :

1.) Apa maksud nya kedua redaksi tersebut ⁉️

🍏 JAWABAN :

Yang dimaksud dengan dua redaksi tersebut, adalah sama dalam pengertian nya, bahwa  بيع الدين بالدين  itu disebut juga  بيع الكالئ بالكالئ  atau sebaliknya. Yaitu menjual hutang dengan hutang, baik kepada orang yang punya hutang, atau kepada orang lain.

[الميزان الكبرى، ج ٢ ص ٧٢]📗
وَكَذَلِكَ اتَّفَقُوْا عَلَى تَحْرِيْمِ النَّجْشِ وَعَلَى تَحْرِيْمِ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ وَهُوَ بَيْعُ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ هَذَا مَا وَجَدْتُهُ مِنْ مَسَائِلِ اْلاِتِّفَاقِ

[Almizan alkubro, juz 2, hal 72]
“Dan begitu juga mereka bersepakat atas haramnya menambah harga / an-najsyu, dan atas haramnya jual beli hutang / alkali', dengan hutang/alkali', yaitu jual beli hutang dengan hutang, ini adalah yang tidak aku temukan dalam masalah kesepakatan”.


[حاشيتا قليوبي وعميرة، ج ٢ ص ٢٦٧]📗
وَفَسَّرَ إلَخْ) هَذَا التَّفْسِيرُ ذَكَرَهُ الْفُقَهَاءُ أَخْذًا مِنْ الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى وَاَلَّذِي فِي الصِّحَاحِ، وَغَيْرِهِ أَنَّ الْكَالِئَ بِالْكَالِئِ هُوَ النَّسِيئَةُ بِالنَّسِيئَةِ، أَيْ الْمُؤَجَّلِ بِالْمُؤَجَّلِ


[Hasyiyata qolyuby wa umayrah, juz 2, hal 267]
“Dan menafsirkan .... sampai denga akhir) tafsir disebut oleh para ahli fiqih, diambil dari riwayat yang lain, dan yang ada di hadits-hadits shohih dan lainnya, bahwa sesungguhnya alkali' dengan alkali', adalah mengundur-ngundurkan sesuatu, dengan mengundurkan sesuatu, diundurkan yaitu menangguh sesuatu dengan menangguhkan sesuatu”.


[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٩ ص ١٧٦]📗
الْكَالِئُ مَأْخُوذٌ مِنْ: كَلأََ الدَّيْنَ يَكْلأَُ، مَهْمُوزٌ بِفَتْحَتَيْنِ، كُلُوءًا: إِذَا تَأَخَّرَ، فَهُوَ كَالِئٌ بِالْهَمْزِ، وَيَجُوزُ تَخْفِيفُهُ، فَيَصِيرُ مِثْل الْقَاضِي. وَكَانَ الأَْصْمَعِيُّ لاَ يَهْمِزُهُ. قَال: هُوَ مِثْل الْقَاضِي، وَلاَ يَجُوزُ هَمْزُهُ. وَبَيْعُ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ هُوَ: بَيْعُ النَّسِيئَةِ بِالنَّسِيئَةِ

[al-Mausu'ah al-fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 9, hal 176]
“Al-kali' diambil dari kata  كلأ الدين يكلأ، fi'il mahmuz dengan dua fathah, كلوءا : apabila diakhirkan فهو كالئ dengan hamzah, dan boleh di ringankan, maka menjadi seperti kata القاضى، dan tidak boleh memakai hamzah. Adapun jual beli alkali'  dengan alkali' adalah jual beli sesuatu yang diundur (pembayarannya), dengan sesuatu yang diundur (pembayarannya)”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Dan berikan contoh masing-masing nya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Contohnya dari masing-masing redaksi, adalah banyak macam nya diantara nya :

1- "Saya beli dari kamu satu mud gandum, dengan harga satu dinar, dengan serah terima dilakukan setelah satu bulan".
2- "Seseorang berkata kepada orang lain : Saya jual kepadamu 20 mud gandum milik ku, yang dipinjam oleh fulan, dengan harga sekian, dan kamu bisa membayar nya kepada ku setelah satu bulan".
3- "Memesan barang, dengan tidak memberikan ra’sul mal, kepada orang yang menerima pesanan".

[البيان في مذهب الامام الشافعي، ج ٥ ص ١٧١]📗
ولا يجوز بيع نسيئة بنسيئة، بأن يقول: بعني ثوبًا في ذمتك من صفته كذا وكذا، إلى غرة شهر كذا بدينار في ذمتي مؤجل إلى يوم كذا؛ لما روى ابن عمر: «أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نهى عن بيع الكالئ بالكالئ» . قال أبو عبيد: هو بيع النسيئة بالنسيئة

[Albayan fi madzhabi al-imam Asy-Syafi'i, juz 5, hal 171]
“Dan tidak dibolehkan jual beli sesuatu yang diundur (pembayarannya), dengan sesuatu yang diundur (pembayarannya), seperti dikatakan ; perjual belikan untuk ku baju, yang ada dalam kuasa mu, yang cirinya seperti begini dan begini, pada malam terbitnya hilal bulan demikian, dengan duang dinar yang ada dalam kuasa mu, diundurkan pembayarannya, sampai hari demikian ; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu umar 《bahwa nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang jual beli alkali' dengan alkali'》 berkata abu ubaydah : yaitu jual beli sesuatu yang diundur (pembayarannya), dengan sesuatu yang diundur (pembayarannya)”.


[فتح الوهاب، ج ١ ص ٢٠٨]📗
وَخَرَجَ بِغَيْرِ دَيْنٍ فِيمَا ذُكِرَ الدَّيْنُ أَيْ الثَّابِتُ قَبْلُ كَأَنْ اسْتَبْدَلَ عَنْ دينه دينا آخرا أَوْ كَانَ لَهُمَا دَيْنَانِ عَلَى ثَالِثٍ فَبَاعَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ دَيْنَهُ بِدَيْنِهِ فَلَا يَصِحُّ سَوَاءٌ اتَّحَدَ الْجِنْسُ أَمْ لَا لِلنَّهْيِ عَنْ بَيْعِ الكالىء بالكالىء رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَفُسِّرَ بِبَيْعِ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ كَمَا وَرَدَ التَّصْرِيحُ بِهِ فِي رِوَايَةِ الْبَيْهَقِيّ

[Fathul Wahhab, juz 1, hal 208]
“Dan keluar bersama selain hutang pada hal-hal yang disebut hutang, yaitu yang tetap sebelum tergantinya dari hutangnya sebuah hutang lain, atau ada pada keduanya, dua hutang pada orang ketiga, maka menjual salah satu dari keduanya, kepada yang lain nya, hutangnya dengan hutang yang lainnya, maka tidak sah, baik sama jenisnya atau tidak, dikarenakan larangan jual beli alkali' dengan alkali', yang diriwayatkan imam Al-Hakim, dan berkata bahwa hadits tersebut berdasarkan syarat muslim. Dan ditafsirkan dengan jual beli hutang dengan hutang, sebagaimana yang terdapat penjelasannya pada riwayat imam bayhaqi”.


[البيان في مذهب الامام الشافعي، ج ٥ ص ٤٣٣]📗
ولأن من شرط أحد العوضين في السلم: أن يكون في الذمة، فلو جاز تأخير الآخر عن المجلس.. لصار في معنى بيع الدين بالدين؛ لأن رأس المال قد يكون موصوفًا في الذمة، فإذا جوزنا تأخيره عن المجلس.. كان في معنى بيع الكالئ بالكالئ، فلم يجز

[Albayan fi madzhabi al-imam Asy-Syafi'i, juz 5, hal 433]
“Karena yang termasuk syarat salah satu dari dua iwadh, dalam aqad salam, adalah harus dalam kekuasaannya, walaupun dibolehkan mengakhirkan yang lain dari majlis,.... maka akan menjadi masuk ke dalam ma'na jual beli hutang dengan hutang. Karena ra'sul mal terkadang dicirikan dengan berada dalam kekuasaan. Maka apabila kami perbolehkan mengakhirkan nya dari majelis,.... ia akan termasuk dalam ma'na jual beli alkali' dengan alkali', maka tidak boleh”.


[حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ٣ ص ٢٤]📗
ويصح بيع الدين بغير دين لغير من هو عليه كأن باع بكر لعمرو مائة له على زيد بمائة كبيعه ممن هو عليه كما رجحه في الروضة وإن رجح في المنهاج البطلان .أما بيع الدين بالدين فلا يصح سواء اتحد الجنس أم لا للنهي عن بيع الكالئ بالكالئ ، وفسر ببيع الدين بالدين

[Hasyiyah al bujairimi ala alkhothib, juz 3, hal 24]
“Dan sah jual beli hutang dengan selain orang yang berhutang atasnya, seperti bakar menjual kepada 'amr 100 baginya, dan melimpahkan kepada zaid membayar dengan 100, seperti jual belinya dari orang yang ia mempunyai piutang padanya, sebagaimana yang dirajihkan dalam kitab arraudhah , sedangkan yang dirajihkan dalam kitab al-minhaj adalah batal. Adapun jual beli hutang dengan hutang adalah tidak sah, baik ada persamaan dalam jenis atau tidak, karena larangan jual beli alkali' dengan alkali' dan ditafsirkan dengan jual beli hutang dengan hutang”.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang


والله أعلم بالصواب

Selasa, 29 September 2020

ILMU FARA’IDH

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
B-M-U

soal antrian ke 165
👳🏻‍♂️ Nama : Habib Ahmad Al-Haddar
Alamat : Bogor

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Sepasang suami istri, sang suami wafat.
Sebelum wafat, beliau membangun sebuah rumah 200m, di atas tanah milik mertua laki² nya seluas 500m.

Kemudian, dia mengatakan bahwa dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi, dan rumah tersebut di hibahkan kepada istrinya, Kemudian wafat lah ia.

Berselang beberapa tahun, sang istri wafat dan meninggalkan ayah dan ibu nya, Kira-kira 20 tahun kemudian ayah dari istri nya, (sang pemilik tanah) wafat meninggalkan istri, 2 anak laki-laki dan 3 anak perempuan.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Mengingat yang di hibahkan sang suami adalah bangunan saja, sebab tanah mertua nya belum sempat di beli, sedangkan saat itu harga tanah masih sangat murah (5000/m), di asumsikan harganya saat itu cuma 2,5 juta, sedangkan membangun habis biaya 20 juta (perbandingan 1 : 8).
Sedangkan asumsi sekarang, harga tanah saat ini 800 ribu/m (400 juta), taksiran harga bangunan juga 400 juta (1 : 1).
Apabila lahan berikut tanah di jual, apakah besaran hibah kepada almarhumah istri, mengacu harga tempo dulu, saat suaminya berikrar, ataukah harga sekarang ⁉️

🍏 JAWABAN :

Secara hukum : seharusnya harta waris harus segera di bagikan setelah pewaris meninggal dunia.
Sehingga transaksi harga bangunan yang akan diwaris, adalah harga saat warisan tersebut dibagi, kepada Ahli waris.
Kalo harta warisan tersebut belum dibagikan, kepada ahli waris, sampai waktu yang lama, maka transaksi harga warisan, adalah pada saat warisan tersebut dibagi.

[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١١ ص ٢١٥]📗
وذهب الجمهور إلى أن وقت انتقال تركة المريض مرض الموت إلى ورثته ، يكون عقب الموت بلا تراخ.

[Al_mausu'ah alfiqhiyyah alkuwaytiyah, juz 11, hal 215]
“Dan jumhur 'Ulama berpendapat, bahwa sesungguhnya waktu berpindahnya peninggalan orang yang sakit, adalah ketika terpuaskan nya orang yang mati kepada pewarisnya, yang terjadi ketika mati tanpa ada yang tertinggal”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Berapa bagian masing-masingnya dari ahli waris yang ada ⁉️

🍏 JAWABAN :

Bagian ketika seorang istri meninggal dan meninggalkan Ayah, Ibu dan 5 orang saudara mayyit adalah : Ayah mendapatkan Ashobah (5/6), Ibu mendapat 1/6 dan 5 saudara mayyit, atau anak dari Ayah adalah mahjub dengan adanya Ayah.
Sedangkan ketika yang mati adalah Ayah, meninggalkan istri dan 5 orang anak adalah : Istri mendapat 1/8 dari tirkah, karena dia memiliki anak, dan 5 Anak adalah mendapat Ashobah, dengan ketentuan bagian anak perempuan separuh dari bagian anak laki-laki.

[البيان في مذهب الامام الشافعي، ج ٩ ص ٣٨]📗

وأما (الزوجة) : فلها الربع من زوجها إذا لم يكن له ولد ولا ولد ابن وإن سفل, ولها منه الثمن إذا كان له ولد أو ولد ابن وإن سفل، ذكرا كان الولد أو أنثى، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ} [النساء: ١٢].

[Albayan fi madzhabi al-imam assyafii, juz 9, hal. 38] :

“Dan adapun (istri) maka baginya seperempat dari suaminya, apabila tidak mempunyai anak, cucu, dan seterusnya. Apabila ada anak, cucu dan seterus nya, maka baginya seperdelapan, baik laki-laki atau perempuan, berdasarkan firman Allah ta'ala :

{وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ}
{Dan bagi mereka seperempat dari apa-apa yang kalian tinggalkan, apabila mereka tidak memiliki anak, maka apabila mereka memiliki anak, maka bagi mereka seperdelapan, dari apa apa yang kalian tinggalkan} [annisa :12]”.

Di kitab dan juz yang sama, halaman berbeda :

ص ٣٩ : الحالة الثالثة : أن يكون مع الأم ثلاثة إخوة أو ثلاث أخوات أو منهما.. فلها السدس، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلأُمِّهِ السُّدُسُ} [النساء: ١١]، وقَوْله تَعَالَى: {لَهُ إِخْوَةٌ} [النساء: ١١] لفظ جمع، وأقل الجمع ثلاثة.

• “Hal 39 : kondisi ke tiga : apabila ada 3 saudara laki laki atau 3 saudara perempuan, atau saudara laki laki dan perempuan yang bersama dengan ibu, maka bagi ibu seperenam, berdasarkan firman Allah ta'ala :

{فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلأُمِّهِ السُّدُسُ}
{Maka apabila ia memiliki saudara-saudara ,maka bagi ibunya seperenam} [annisa : 11], dan firman Allah ta'ala :
{لَهُ إِخْوَةٌ}
(Memiliki saudara-saudara) [annisa : 11] adalah lafazh jama' dan sekurang_kurangnya jama' adalah tiga”.


ص ٥٦ : والثاني : يأخذ بعض المال بالتعصيب، وهو: إذا كان معه من له فرض غير الابنة، مثل: أن كان معه أم، أو أم أم، أو زوج، أو زوجة.. فإنه يأخذ ما بقي عن فرض هؤلاء بالتعصيب، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ} [النساء: ١١]، فأضاف المال إلى الأبوين، ثم قطع للأم منه الثلث ولم يذكر حكم الباقي، فدل على أن جميعه للأب.

• “Hal 56 : dan yang ke dua : mengambil sebagian harta dengan mengashobahkan yaitu : apabila ada bersamanya orang yang memiliki bagian selain anak perempuan, seperti apabila ada bersamanya ibu, atau nenek dari ibu, atau suami, atau istri, maka sesungguhnya dia mengambil yang tersisa dari bagian mereka, denga cara ashobah, berdasarkan firman Allah ta'ala :

{فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ}
{Maka apabila tidak ada baginya anak, dan mewarisinya kedua orang tuanya, maka bagi ibunya sepertiga} [annisa : 11], maka harta diserahkan pada kedua orang tua. Kemudian dipotong darinya sepertiga, bagi ibu dan tidak disebutkan hukum sisanya, maka itu menunjukkan bahwa keseluruhan sisanya untuk ayah”.


ص ٦١ : ولا ترث الإخوة والأخوات للأب والأم مع أحد ثلاثة: مع الأب أو مع الابن أو ابن الابن؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ} [النساء: ١٧٦]

• “Hal 61 : dan saudara laki laki , saudara perempuan seayah dan seibu, tidak mewarisi bersama salah satu dari tiga ini : bersama ayah atau bersama anak laki laki atau cucu laki laki dari anak laki laki, berdasarkan firman Allah ta'ala :

{يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ}
{Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah : "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : jika seorang meninggal dunia} [annisa : 176]”.


[متن الرحبية، ص ٣٨]📗
#{ باب التعصبب }#
وحق أن نشرع في التعصيب *** بكل قول موجز مصيب
فكل من أحرز كل المال ***  من القرابات أو الموالي
أو كان ما يفضل بعد الفرض له *** فهو أخو العصوبة المفضلة
كالأب والجد و جد الجد *** والابن عند قربه والبعد

[Matnur rahbiyah, hal 38]
“#{ bab ashobah }# , dan merupakan hak yang disyari'atkan dalam mengambil ashobah *** dengan seluruh perkataan yang jelas yang didapat.
Maka setiap yang mendapatkan harta *** dari kerabat-kerabat atau yang mewakili.
Atau orang yang tidak diutamakan setelah furudh baginya *** maka ialah saudara ashobah yang diutamakan.
Seperti ayah, kakek, kakeknya kakek *** dan anak yang dekat dan jauh”.


[الفقه المنهجي، ج ٥ ص ٩٩]📗
والعصبة بالنفس، هم كل ذي نسب ليس بينه وبين الميت أنثى، ومر ذكرهم، وعددهم نثراً، وشعراً بقول صاحب الرحبية.
- جهات العصبة بالنفس: 
وللعصبة بالنفس أربع جهات:
أجهة البنوّة: وهم فروع المورِّث، كالابن وابن الابن، وإن نزل، إلخ

[Alfiqh al manhajy, juz 5, hal 99]
“Dan ashobah binnafsi, mereka adalah setiap yang memiliki nasab, dan tidak ada perempuan di antaranya dan mayyit, dan telah lalu penyebutannya dan jumlahnya telah dibuat prosa dan sya'ir, pada perkataan pengarang arrahbiyah :
Sisi ashobah bin-nafsi :
Dan ashobah binnafsi memiliki 4 sisi :
Sisi banuwwah (keturunan anak) yaitu cabang-cabang ahli waris seperti anak laki-laki, anak laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah. Dan seterusnya”.


✍️ NB ~ PERINCIAN :

Dalam masalah yang meninggal pertama (mayyit anak perempuan sekaligus istri suami nya, yang menghibah rumah), di kasih alasan kenapa ibu dapat 1/6, yang harus nya 1/3 ? Alasan nya itu karena ada :

تعدد الاخوة والأخوات للميت
Ada nya saudara-saudara si mayyit, Meskipun mereka termahjub oleh اصل الذكر
Yaitu ayah, Tetap mereka dapat memahjub hajb nuqshon kepada ibu.
Kemudian di dalam masalah yang meninggal ayah, Disini ibu berpindah status, yang tadinya ام jadi زوجة dan saudara-saudara di masalah pertama menjadi اولاد الميت

Kemudian masing-masing mendapatkan :
~ Istri 1/8, Harus nya bagian dia itu 1/4, cuma kenapa dapat 1/8 ? alasannya :

١/٨ الثمن لوجود الفرع الوارث من الميت ... وهي اثنين ابن وثلاث بنات ...
Karena suami (mayyit) mempunyai keturunan yaitu 2 laki-laki dan 3 perempuan.

~ Anak-anak (2 laki-laki dan 3 perempuan) dapat Ashobah, yang tadinya bagian anak perempuan 2/3, berubah menjadi ashobah, alasan nya karena : Adanya anak laki-laki
 عصبة بالغير
Sebagaimana di dalam Al-Qur'an :

للذكر مثل حظ الانثيين ... الآية ...
Bagian laki-laki itu 2 kali lipat di banding perempuan.

Dan ayah dapat Ashobah, Memang bagian dia segitu, Sisanya (saudara-saudara mayyit) mahjub oleh ayah.
📚[Takmilah Zubdatul Hadits, lil-Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh, Halaman 16-20]

و إن لم يكن للميت فرع وارث أصلا، ورث الأب بالتعصيب فقط.[تكملة، ص ٢٠

٠٠٠٠٠٠٠  ا٨ا ٠٠٠٠٠٠٠٠٠ {٥}
٠٠٠٠٠٠٠  ا٦ا ٠٠٠٠٠٠٠٠٠ {٨} ٤٨
١/٦ ام  | ١ | جة ١/٨ | ١ | ١٣
ع أب   | ه | ت        |    |
م أخ ق | - | ابن ع   | ٢ | ١٠
م أخ ق | - | ابن ع   | ٢ | ١٠
م قة    | - | بنت ع  |  ١ | ٥
م قة    | - | بنت ع  |  ١ | ٥
م قة    | - | بنت ع  |  ١ | ٥


✍️ NB ~ PENGHITUNGAN :

Ibu dapat 1/6, dan Bapak 'ashobah 5/6
Kalau harta 20 juta
Bapak : 16.666.666,7
Ibu       : 3.333.333,3

Kalau harga sekarang hitungan nya 400 juta
Bapak : 333.333.333,34
Ibu       : 66.666.666,67

• Hitungan Total
Berarti harta ayah
Bangunan : 333.333.333,34
Dan tanah : 400.000.000
Total          : 733.333.333,34

 Kalau di waris > ahli waris
Istri                            = 91.666.666,62
Anak laki-laki 1        = 183.333.333,25
Anak laki-laki 2        = 183.333.333,25
Anak perempuan 1 = 91.666.666,62
Anak perempuan 2 = 91.666.666,62
Anak perempuan 3 = 91.666.666,62

• Kalau dirinci rumah saja
Warisan                     : 333.333.333,34
Istri                            = 41.666.666,62
Anak laki-laki 1        = 83.333.333,25
Anak laki-laki 2        = 83.333.333,25
Anak perempuan 1 = 41.666.666,62
Anak perempuan 2 = 41.666.666,62
Anak perempuan 3 = 41.666.666,62

• Dari rumah 400.000.000
Istri                            = 50.000.0000
Anak laki-laki 1        = 100.000.000
Anak laki-laki 2        = 100.000.000
Anak perempuan 1 = 50.000.000
Anak perempuan 2 = 50.000.000
Anak perempuan 3 = 50.000.000


MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda

MUJAWWIB :  @⁨Kiai M.Huda_Jember⁩ @⁨U.M.Ridhwan_Cisa’at⁩ @⁨U.Saifuddin_Cimahi⁩ @⁨C.Izzati_JakSel⁩ @⁨U.Saifuddin_Jember-Rubath⁩ @⁨نرجو منك⁩@⁨Muslim-Sukabumi⁩ @⁨U.M.Shalih_Lumajang⁩ / para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang


والله أعلم بالصواب

Minggu, 27 September 2020

HUKUM IJAB QABUL MELALUI MEDSOS

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 164
👳🏻‍♂️ Nama : Ari Azhari
Alamat : Aceh

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Dalam suatu perdagangan ada beberapa syarat yang harus di penuhi yaitu :

~ Ada ijab Qabul.
~ Tidak boleh ada pemisah antara ijab qabul, dalam artian tidak disenangi oleh waktu yang lama.
~ Ada nya barang yang dijual.
~ Barangnya layak untuk dijual, Dan lain sebagai nya.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Bagaimana kah hukum nya jika ijab qabul yang dilakukan secara tidak langsung, dalam artian Melainkan melalui Medsos ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum ijab qabul yang dilakukan secara tidak langsung, bertatap muka melainkan melalui medsos, adalah Sah, apabila syarat- syaratnya terpenuhi, yaitu seperti adanya lafazh yang menunjukkan ridha, berlangsung tanpa jeda lama antara ijab dan qabul.

[الفقه على المذاهب الأربعة، ج ٢ ص ١٤١]📗
الصيغة في البيع هي كل ما يدل على رضاء الجانبين البائع والمشتري وهي أمران (٢•) :
الأول: القول وما يقوم مقامه من رسول أو كتاب؛ فإذا كتب لغائب يقول له: قد بعتك داري بكذا أو أرسل له رسولاً فقبل البيع في المجلس فإنه يصح، ولا يغتفر له الفصل إلا بما يغتفر في القول حال حضور المبيع.
(٢•) الشافعية - قالوا: لا ينعقد البيع إلا بالصيغة الكلامية أو ما يقوم مقامها من الكتاب والرسول، وإشارة الأخرس المعلومة

[Alfiqh alal madzahibil arba'ah, juz 2, hal 141]
“Shighat dalam jual beli, adalah semua yang menunjukkan atas keridhoan dua pihak, penjual dan pembeli, yaitu ada 2 macam (•٢) :
1.) Perkataan dan sesuatu yang setara dengan nya yang berupa perwakilan atau tulisan. Bila ditulis untuk orang yang tidak ada, maka ia berkata bagi nya : sungguh telah ku jual padamu rumahku, dengan harga sekian, atau ia mengutus perwakilan, lalu ia menerima jual beli di sebuah majlis, maka itu sah. Dan tidak menjadi batal dengan adanya keterpisahan, kecuali dengan hal-hal yang membatalkan kondisi adanya barang di jual dalam perkataan.
(•٢) Menurut madzhab Syafi'i, mereka berpendapat bahwa tidak terjadi aqad jual beli, kecuali dengan shighat kalamiyah (dalam ucapan), atau dengan sesuatu yang menempati posisi shighat bai' berupa tulisan atau perwakilan, dan isyarat oramg bisu yang sudah diketahui”.


[شرح الياقوت النفيس، ج ٢ ص ٢٢]📗
وَالْعِبْرَةُ فِي الْعُقُودِ لِمَعَانِيهَا لَا لِصُوَرِ الْأَلْفَاظِ ----إلى أن قال---- وَعَنِ الْبَيْعِ وَ الشِّرَاءِ بِوَاسِطَةِ التِّلِيفُونِ وَالتَّلَكْسِ وَالْبَرْقِيَاتِ كُلُّ هذِهِ الْوَسَائِلِ وَأَمْثَالِهَا مُعْتَمَدَةُ الْيَوْمِ وَعَلَيْهَا الْعَمَلُ

“Yang dipertimbangkan dalam aqad-aqad, adalah substansinya, bukan bentuk lafazhnya, dan jual beli via telepon, teleks, telegram dan sejenisnya, telah menjadi alternatif yang utama dan dipraktekkan di zaman sekarang”.


[مغني المحتاج، ج ٢ ص ٣٣٠]📗
فَرْعٌ: يَصِحُّ الْبَيْعُ وَنَحْوُهُ مِنْ الْمُعَامَلَاتِ بِالْعَجَمِيَّةِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْعَرَبِيَّةِ قَطْعًا، وَفِي النِّكَاحِ خِلَافُ التَّعَبُّدِ، وَالْأَصَحُّ فِيهِ الصِّحَّةُ (وَيُشْتَرَطُ أَنْ لَا يَطُولَ الْفَصْلُ) بَيْنَ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ وَلَوْ بِكِتَابَةٍ أَوْ إشَارَةِ أَخْرَسَ

[Mughnil muhtaj, juz 2, hal 330]
“Sebuah cabang : sah jual beli atau hal-hal sejenis dalam mu'amalat dengan orang ajam yang berkemampuan bahasa arab secara pasti. Dan dalam nikah ada perbedaan ibadah. Dan menurut pendapat yang Ashoh hal tersebut sah. (dan disyaratkan agar tidak memperpanjang pemisahan) antara ijab dan qabul, meskipun dengan tulisan atau isyarat orang bisu”.


[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٤ ص ١٠٨-١٠٩]📗
ليس المراد من اتحاد المجلس المطلوب في كل عقد كما بينا كون المتعاقدين في مكان واحد، لأنه قد يكون مكان أحدهما غير مكان الآخر، إذا وجد بينهما واسطة اتصال، كالتعاقد بالهاتف أو اللاسلكي أو بالمراسلة (الكتابة) وإنما المراد باتحاد المجلس: اتحاد الزمن أو الوقت الذي يكون المتعاقدان مشتغلين فيه بالتعاقد، فمجلس العقد: هو الحال التي يكون فيها المتعاقدان مقبلين على التفاوض في العقد، وعن هذا قال الفقهاء «إن المجلس يجمع المتفرقات» وعلى هذا يكون مجلس العقد في المكالمة الهاتفية أو اللاسلكية: هو زمن الاتصال ما دام الكلام في شأن العقد، فإن انتقل المتحدثان إلى حديث آخر انتهى المجلس.


[Al fiqh al islamy wa adillatuhu, juz 4, hal 108-109]
“Bukanlah dimaksud dari menyatunya majlis, yang diminta dalam setiap aqad, seperti yang telah kami jelaskan adalah adanya dua orang yang beraqad dalam satu tempat, karena terkadang tempat salah satunya berbeda, dengan tempat yang lain. Jika ditemukan diantara keduanya alat perantara untuk berkomunikasi, seperti beraqad dengan telpon, radio atau surat menyurat (tulisan), dan yang dimaksud dengan menyatunya majlis : satunya zaman atau waktu, dimana dua orang yang beraqad, sibuk di saat itu dengan beraqad.
Adapun majlis aqad : ialah kondisi yang didalamnya ada dua orang yang beraqad ber-hadap-hadapan, untuk menyerahkan sesuatu dalam aqad. Para fuqoha berpendapat mengenai hal ini, 《sesungguhnya majlis itu mengumpulkan perbedaan perbedaan}}, oleh karena itu majlis aqad ada dalam percakapan telpon atau radio : yaitu ketika berhubungan yang ada selama pembicaraan mengenai kondisi aqad. Dan apabila orang-orang yang bercakap-cakap, berpindah topik dalam pembicaraan, maka berakhirlah majlis itu”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Kalau ijab dan qabul melalui surat, dikira sah, Kenapa bisa sah, Karena tanpa mengetahui siapa pembeli dan penjual nya itu bisa berakibat fatal, apabila terjadi kecacatan pada barang jualan, maka kecil kemungkinan nya untuk mengembalikan barang nya ke pemilik asal nya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Keabsahan ijab dan qabul melalui surat, adalah dengan tidak mengabaikan syarat-syarat lain dalam jual beli, yang dapat menghilangkan kemungkinan-kemungkinan, yang dapat menghilangkan hak-hak penjual dan pembeli, termasuk khiyar aib dan lain-lain.

[مشورات إجتماعية للبوطى، ص ٨٢]📗
هل يصح العقد التجاري على الإنترنت؟ وهل يصح ما يفعله الشباب اليوم من التعرف على السيدات على الإنترنت بقصد الزواج أو بقصد التسلية؟ وهل يصح الزواج والخطبة على الإنترنت؟
أما التعرف على السيدات و التسلية معهن على الإنترنيت، فلا يجهل مسلم عاقل أنه غير جائز . كذلك الزواج، لا ينعقد النكاح بمحاورات عبر الإنترنيت. وأما العقود التجارية فلا حرج في أن تتم بهذه الواسطة تحقيقا للسهولة، بشرط أن تنضبط الأمور وتسد الاحتمالات

[Masyurat ijtimaiyyah lilbuthy, hal 82]
“Apakah sah aqad dagang melalui internet ?, Dan apakah sah apa yang dilakukan anak muda sekarang, berkenalan dengan perempuan-perempuan melalui internet, dengan maksud menikahi atau dengan maksud bersenang-senang ?, Dan apakah sah menikah dan melamar melalui internet ?
Adapun berkenalan dengan perempuan-perempuan dan bersenang-senang dengan mereka melalui internet, maka tidaklah bodoh orang muslim yang beraqal, bahwa hal tersebut tidak boleh. Begitu juga menikah, tidak terjadi aqad nikah dengan perbincangan melalui internet, adapun aqad dagang, maka tidaklah bermasalah, untuk menyempurnakannya melalui perantaraan internet, untuk memudahkan, dengan syarat hal-hal tersebut sudah pasti dan menghalangi penyimpangan-penyimpangan”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Kalau misalkan boleh ijab dan qabul berselang waktu, Berapa lamakah jangka waktu yang dibolehkan untuk terpisah antara lafal ijab dan Qabul ⁉️

🍏 JAWABAN :

Lama jangka waktu yang dibolehkan untuk terpisah, antara ijab dan qobul, adalah waktu yang sebentar atau waktu yang tidak lama. Waktu yang dianggap tidak lama, adalah waktu dimana dengan jangka waktu tersebut, orang tidak dianggap berpaling dari qobul.

[كفاية الاخيار، ج ١ ص ٢٣٣]📗
وكما يشْتَرط الْإِيجَاب وَالْقَبُول يشْتَرط أَن لَا يطول الْفَصْل بَينهمَا إِمَّا بِأَن لَا تنفصل النِّيَّة أَو يفصل بِزَمَان قصير فَإِن طَال ضرّ لِأَن الطول يخرج الثَّانِي عَن أَن يكون جَوَابا والطويل مَا أشعر بإعراضه عَن الْقبُول كَذَا ذكره النَّوَوِيّ فِي زِيَادَة الرَّوْضَة فِي كتاب النِّكَاح

[Kifayatul akhyar, juz 1, hal 233]
“Dan sebagaimana disyaratkan ijab dan qabul, disyaratkan juga agar tidak memanjangkan pemisah di antara keduanya. Baik tidak terpisah niat atau terpisah dengan waktu yang pendek. apabila panjang pemisahnya, maka akan membahayakan, karena panjangnya waktu bisa mengeluarkan yang ke dua (qabul) dari menjadi jawaban. Dan panjangnya waktu tidak memberitahukan tentang penolakannya dari qabul, demikian yang disebutkan imam an-nawawi dalam ziyadatur raudhah pada bab nikah”.


✍️ NB :

Di dalam setiap aplikasi media beda-beda, Dhobit :

بحيث يشعر الإعراض عن القبول
Sekiranya pembeli itu dianggap berpaling dari qabul.

Contoh :
~ Qabul dalam aplikasi semisal shopee, tokopedia, Lazada, yang jauh dari tipu menipu, bahkan klo ada aib bisa رد المبيع di kembalikan barangnya, dan identitas penjual jelas, itu klo sekiranya kita membeli barang, Di taruh di keranjang, Seperti makanan, Tas, baju bahkan kitab dan lain-lain, Mereka memberikan jangka waktu, Misal 2 jam, Jadi mereka memberikan kode untuk kita bayar langsung, lewat perantara indomart, Alfamart, Atau langsung dibayar lewat M-banking, BCA, MANDIRI, BRI dan lain-lain.

Apabila dalam jangka waktu yang di tentukan oleh aplikasi, semisal shopee tersebut kita bayar, Lewat media m-banking atau alfamart/indomart, Maka barang fix langsung di kemas dan di kirim ke pembeli dengan data seperti nomor telefon dan alamat nya.
Sebalik nya, Klo dalam jangka waktu yang di tentukan itu kita biarkan, Artinya tidak membayar apa yang telah kita beli, Maka pembelian dianggap batal.
Begitu pula aplikasi seperti kita mau ijaroh hotel, Bayar tiket kereta, Lewat internet.
Cuma jatuh nya kebanyakan aplikasi itu, termasuk jual beli Aqad salam سلم Atau pesan memesan.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda

MUJAWWIB : @⁨Ibnu Agy⁩ @⁨U.M.Ridhwan_Cisa’at⁩ @⁨U.Saifuddin_Jember-Rubath⁩ / para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

والله أعلم بالصواب

Sabtu, 26 September 2020

MAKE-UP = JANGAN JADIKAN ALASAN UNTUK TAK SHALAT

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 163
🧕🏻 Nama : Fulanah
Alamat : Bogor

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Pengantin kan biasa nya kalau di rias wajah nya itu full make up.

Kadang suka ada yang meninggalkan shalat, karena klo make up nya dihapus kan sayang, kata nya.

🌴 PERTANYAAN :

Kalau dia meninggalkan shalat seperti dalam keadaan seperti itu (dengan alasan tersebut), bagaimana ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukumnya tidak boleh meninggalkan sholat.
Dengan alasan sebagaimana dalam deskripsi.
Dalam keadaan perang saja, masih tetap di wajibkan sholat syiddatil khauf.
Tetapi ada sebagian ulama' seperti Imam Al-Qoffal membolehkan menjama' sholat, jika dalam kondisi hajat, dengan catatan tidak di jadikan kebiasaan.

[كفاية الأخيار، ص ١٤١]📗
بل ذهب جماعة من العلماء الى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذها عادة وبه قال أبو إسحق المروزي ونقله عن القفال

“Bahkan sekelompok ulama membolehkan jama' bagi hadhirin untuk sebuah hajat. Dengan catatan, ini tidak bisa menjadi sebuah kebiasaan. Abu Ishaq Al-marwazi memegang pendapat ini. Ia mengutipnya dari Syekh Qaffal”.


[بغية المسترشدين، ص ٢٩]📗
صرح الكبشي في الجوهرة بأن أيام الزفاف السبع أو الثلاث عذر عن الجمعة والجماعة ، وفي التحفة أنها عذر في المغرب والعشاء فقط

[Bughyatul mustarsyidin, hal 29]
“Imam alkabsyi menerangkan dalam kitab al jawharoh, bahwa hari-hari pernikahan yang tujuh atau tiga, adalah udzur pada sholat jum'at atau jama'ah, dan pada kitab attuhfah, bahwasanya ia adalah udzur pada sholat maghrib dan isya saja”.


[المجموع شرح المهذب، ج ٤ ص ٣٨٤]📗
(فَرْعٌ)
فِي مَذَاهِبِهِمْ فِي الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ بِلَا خَوْفٍ ولا سفر وَلَا مَرَضٍ: مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَالْجُمْهُورِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ وَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ طَائِفَةٍ جَوَازَهُ بِلَا سَبَبٍ قَالَ وجوزه بن سِيرِينَ لِحَاجَةٍ أَوْ مَا لَمْ يَتَّخِذْهُ عَادَةً

“Dalam madzhab ulama, shalat jama' di rumah tanpa sebab takut (sampai membahayakan nyawa), berpergian dan sakit, menurut mayoritas ulama adalah tidak diperbolehkan. Dan di hikayatkan Ibnu Mundzir dari sekelompok ulama, memperbolehkan hal tersebut dengan tanpa sebab. Selain itu juga. Ibnu Sirin memperbolehkan jama' dengan adanya kebutuhan (hajat) selama tidak di jadikan adat (kebiasaan).”


[شرح النووي على مسلم، ج ٥ ص ٢١٩]📗
وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ إِلَى جَوَازِ الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لا يتخذه عادة وهو قول بن سِيرِينَ وَأَشْهَبَ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنِ الْقَفَّالِ وَالشَّاشِيُّ الْكَبِيرُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أصحاب الحديث واختاره بن المنذر

“Sejumlah imam berpendapat, tentang di perbolehkan nya menjama' shalat di rumah, karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikan nya sebagai kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirin, Ashhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal, dan As-Syasyi al-Kabir dari kalangan Asy-Syafi'i, dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilih oleh Ibnu Mundzir”.


[ترشيح المستفيدين، ص ١٣٤]📗
ومن الشافعية وغيرهم من ذهب الى جواز الجمع تقديما مطلقا لغير سفر ولا مرض ولا غيرهما من الأعذار. قال النماري رحمه الله ----إلى أن قال---- يعني أن القائلين بهذا ابن سيرين وربيعة الرأي والقفال الصغير وأشهب من المالكية وابن المنذر والقفال الكبير وأحمد بن حنبل. وعن جماعة جوازه مالم يتخذه عادة وهم غير محصورين، هذا في جمع التقديم 
واما جمع التأخير فقال به جمع غفير.

“Sebagian ulama madzhab Syafi‘i dan madzhab lain, secara muthlaq membolehkan jama' taqdim bagi Hadhirin, tidak sakit, atau alasan lain. Syekh Namari menyebutkan ulama yang sejalan dengan pendapat di atas, antara lain Ibnu Sirin, Rabi‘ah, Qaffal Shagir, Ashhab Maliki, Ibnul Munzir Syafi‘i, Qaffal Kabir, dan Ahmad bin Hanbal. Sementara sejumlah ulama membolehkan jama' dengan catatan tidak untuk kebiasaan. Jumlah mereka ini tidak terhitung. Hukum fiqih di atas berlaku untuk jama' taqdim. Sedangkan untuk jama' ta’khir, ulama dengan jumlah besar membolehkan nya.”


MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda

MUJAWWIB : @⁨C.Anisah'Sukabumi⁩ @⁨U.Rama'Maulana'Bogor⁩ @⁨Ibnu Agy⁩ = para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo


والله أعلم بالصواب

Jumat, 25 September 2020

AYYAMUL BIDH & SUUD & HUKUM NYA

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 162
👳🏻‍♂️ Nama : ihsan
Alamat : Tegal

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

🌴 PERTANYAAN :

1.) Mohon penjelasan ASAL USUL nya tentang puasa sunnah di HARI PUTIH (13,14,15 di setiap bulan hijriyyah), dan juga keterangan ASAL USUL nya yang di sebut puasa di HARI HITAM (gelap nya rembulan = akhir bulan hijriyyah = 28, 29, 30) ⁉️

🍏 JAWABAN :

A.) Asal usul nya tentang puasa sunnah di hari putih dan hari hitam adalah dari hadits Nabi :

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بصيام ثلاثة أيام من كل شهر

Imam Nawawi menjelaskan hadits ini, bahwa sunnah berpuasa tiga hari, setiap bulan, tanpa adanya penentuan waktunya, Secara Zhahir siapa melakukan puasa tiga hari berturut-turut, maka akan mendapatkan fadhilah nya.
Dari hadits di atas, kemudian muncul lah hadits² yang mentakhsish nya, seperti ayyamul bidh dan lain².

B.) Asal usul ayyamul bidh (puasa pada hari-hari putih) adalah : karena pada malam-malam tersebut, bulan berada dalam keadaan terang benderang (purnama = 13,14,15 Hijriyyah).
Sedangkan ayyamus sud, karena pada malam² tersebut (27, 28, 29 Hijriyyah/28, 29 seterusnya/akhir bulan nya) langit dalam keada'an gelap, karena tidak ada bulan yang tampak.

~ Sedangkan Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab ‘Umdatul Qari`Syarhu Shahihil Bukhari, dijelaskan bahwa sebab di namai ayyamul bidh, terkait dengan qisah Nabi Adam Alaihissalam, ketika diturunkan ke muka bumi.
Riwayat Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Adam Alaihissalam diturunkan ke muka bumi, seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari, sehingga menjadi hitam/gosong. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari (tanggal 13, 14, 15). Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badan nya menjadi putih. Puasa hari kedua, sepertiga nya lagi menjadi putih. Puasa hari ketiga, sepertiga sisa nya menjadi putih.

~ Pendapat lain menyatakan, bahwa di namai ayyamul bidh, karena malam-malam tersebut terang benderang di sinari rembulan, dan rembulan selalu menyinari bumi sejak matahari terbenam, sampai terbit kembali. Karena nya, pada hari-hari itu malam dan siang, seluruh nya menjadi putih (terang).

[المجموع شرح المهذب، ج ٦ ص ٣٨٥]📗
* {ويستحب صيام ايام البيض وهي ثلاثة من كل شهر لما روى أبو هريرة قَالَ " أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بصيام ثلاثة أيام من كل شهر}
{الشَّرْحُ} حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَثَبَتَتْ أَحَادِيثُ فِي الصَّحِيحِ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ لِوَقْتِهَا وَظَاهِرُهَا أَنَّهُ مَتَى صَامَهَا حَصَلَتْ الْفَضِيلَةُ وَثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ مُعَاذَةَ
الْعَدَوِيَّةِ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ " أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ قَالَتْ قُلْتُ مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ قَالَتْ مَا كَانَ يُبَالِي مِنْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ " وَجَاءَ فِي غَيْرِ مُسْلِمٍ تَخْصِيصُ أَيَّامِ الْبِيضِ فِي أَحَادِيثُ (مِنْهَا) حَدِيثُ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثًا فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ " رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ قَالَ التِّرْمِذِيُّ .... إلى ان قال .....(وَأَمَّا) سَبَبُ تَسْمِيَةِ هَذِهِ اللَّيَالِي بِيضًا فَقَالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ وَالْجُمْهُورُ لِأَنَّهَا تَبْيَضُّ بِطُلُوعِ الْقَمَرِ مِنْ أَوَّلِهَا إلَى آخِرِهَا وَقِيلَ غَيْرُ ذَلِكَ

[Al-majmu' syarhu al muhadzzab, juz 6, hal 385]
“(Dan disunnahkan berpuasa pada ayyamul bidh, yaitu 3 hari dari setiap bulan, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata " kekasihku صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berwashiat kepadaku, untuk berpuasa selama 3 hari pada setiap bulan.

{Syarah/penjelasan} hadits abu hurairah diriwayatkan oleh imam albukhary dan imam muslim. Dan telah tetap beberapa hadits shahih, tentang berpuasa selama 3 hari pada setiap bulan tanpa ditentukan waktunya. Dan yang tampak darinya, adalah bahwa ketika seseorang berpuasa selama 3 hari, maka ia mendapatkan keutamaan. Dan telah termaktub dalam shahih muslim, dari mu'adzah al'adawiyah, bahwasanya ia bertanya kepada aisyah "apakah rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  berpuasa tiap bulan nya selama 3 hari, beliau menjawab iya, ia berkata, maka aku bertanya pada hari apa dalam satu bulan, beliau menjawab bahwa beliau صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  tidaklah perduli dari hari hari dalam satu bulan ketika ia berpuasa", dan telah datang dalam selain shahih muslim pengkhususan ayyamul bidh dalam beberapa hadits. (Diantaranya) hadits abu dzar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, ia berkata, Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, jika engkau berpuasa 3 hari, pada setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14 dan 15" diriwayatkan atturmudzi dan  annasai, berkata imam atturmudzi --- sampai dengan ia berkata ----  (dan adapun) sebab penamaan malam-malam ini dengan putih, maka berkata ibnu qutaybah dan jumhur, karena malam-malam tersebut terlihat memutih, yang di sebabkan terbitnya bulan, dari awwal hingga akhirnya, dan dikatakan selain itu juga”.


[الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ج ٢ ص ١٠٠]📗وسميت الأيام البيض، لأن ليالي تلك الأيام من كل شهر تكون مستنيرة بضياء القمر.
عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: " إذا صمت من الشهر ثلاثاً، فصم ثلاث عشرة، وأربع عشرة، وخمس عشرة " رواه الترمذي (٧٦١) وقال: حديث حسن.
وروى أبو داود (٢٤٤٩) عن قتادة بن ملحان رضي الله عنه قال: (كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يأمرنا أن نصوم البيض: ثلاث عشرة، وأربع عشرة، وخمس عشرة) وقال: "هن كهيئة الدهر ".

[Al-lfiqh almanhajy ala madzhabi al-imam Asy-Syafi'i, juz 2, hal 100]
“Dan dikatakan ayyyamul bidh, karena malam-malam pada hari-hari tersebut dari setiap bulan nya, bersinar terang karena putihnya rembulan,. Dari abu dzar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berkata, bersabda صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "apabila kau berpuasa 3 hari dari suatu bulan, maka berpuasalah pada hari ke 13, 14 dan 15" diriwayatkan imam atturmudzi (761) dan ia berkata bahwa hadits ini hasan. Dan diriwayatkan oleh abu daud (2449) dari qotadah bin malhan رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berkata : (Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah memerintahkan kami untuk berpuasa al-bidh ; (13, 14 dan 15) dan ia berkata " hari-hari tersebut bagaikan berpuasa terus menerus".


[حاشية البجيرمى، ج ٢ ص ٨٩]📗
وَسُمِّيَتْ اللَّيَالِي بِذَلِكَ لِأَنَّهَا تَسْوَدُّ بِالظُّلْمَةِ مِنْ عَدَمِ الْقَمَرِ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ إلَى آخِرِهِ فَحِكْمَةُ صَوْمِهَا طَلَبُ كَشْفِ تِلْكَ الظُّلْمَةِ الْمُسْتَمِرَّةِ وَتَزْوِيدُ الشَّهْرِ الَّذِي عَزَمَ عَلَى الرَّحِيلِ بَعْدَ كَوْنِهِ كَانَ ضَيْفًا وَقِيلَ طَلَبًا لِكَشْفِ سَوَادِ الْقَلْبِ وَلَعَلَّ الشَّارِحَ تَرَكَ بَيَانَ وَجْهِ تَسْمِيَةِ اللَّيَالِيِ بِالسُّودِ كَمَا ذَكَرَهُ أَوَّلًا لِلِاخْتِصَارِ فَافْهَمْ.

[Hasyiah albujayrimi, juz 2, hal 89]
“Dan dinamakan malam-malam itu dengan penamaan tersebut, sebab malam-malam tersebut menjadi hitam, karena kegelapan dari tiadanya bulan, dari mulai permulaan malam sampai akhir malam. Adapun hikmah dari puasanya adalah meminta disingkapnya kegelapan, yang menutupi tersebut, dan persiapan bagi bulan yang direncanakan para pelancong, setelah keberadaan nya yang kondisinya sudah sempit. Dan dikatakan meminta disingkapkan dari hitamnya hati dan sebaiknya pensyarah meninggalkan dalam hal menerangkan sisi penamaan, malam malam tersebut dengan hitam, sebagaimana yang telah disebutkan pada awwal untuk mempersingkat. Maka pahamilah”.


[عمدة القاري، ج ١٧ ص ٨٠]📗
ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ‎
وَقِيلَ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ لَيَالِي أَيَّامِ الْبِيضِ مُقْمِرةٌ وَلَمْ يَزَلِ الْقَمَرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى طُلَوعِهَا فِي الدُّنْيَا فَتَصِيُر اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ كُلُّهَا بِيضًا‎

“Sebab dinamai ‘ayyamul bidh’ adalah riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, di namai ayyamul bidh, karena ketika Nabi Adam Alaihissalam diturunkan ke muka bumi, matahari membakarnya, sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah Subhanahu wa ta'ala kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badan nya yang lain menjadi putih”.

“Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh, karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan, dan rembulan selalu menampakkan wajahnya, mulai matahari tenggelam, sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang, pada saat itu menjadi putih (terang)”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Apa hukum nya dan apa hikmah mengerjakan kedua puasa tersebut di kalangan kita ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum mengerjakan puasa ayyamul bidh dan suud adalah Sunnah. Dan apabila di kerjakan mendapatkan pahala.

ما يثاب على فعله ، ولا يعاقب على تركه

Banyak Hikmah yang di sebutkan oleh para ulama, berpuasa pada ayyamul bidh di antaranya :  Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah, yang telah memberi penerangan (bulan) kepada kita, yaitu kita isi dengan beribadah, salah satu nya adalah ibadah puasa, dan melakukan nya seperti berpuasa satu bulan penuh dan lain lain.

Sedangkan hikmah puasa ayyamus sud, di antaranya adalah : Menambah bulan untuk beribadah, mengharap terbukanya hati untuk mengingat Allah, mudah-mudahan Allah ta'ala memutihkan / membukakan hati nya kita, dan sebagainya.

[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٧ ص ٣٢٠]📗
يُسْتَحَبُّ صَوْمُ الأَْيَّامِ الْبِيضِ مِنْ كُل شَهْرٍ؛ لِكَثْرَةِ الأَْحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ، وَمِنْهَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال: مَنْ صَامَ مِنْ كُل شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

[Al-mausuah alfiqhiyah alkuwaytiyah, juz 7, hal 320]
“Di sunnahkan untuk berpuasa pada hari-hari bidh, pada tiap bulannya. Karena begitu banyak hadits yang tercantum dalam hal tersebut. Dan diantaranya hadits yang diriwayatkan dari nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwasanya ia bersabda, barang siapa yang berpuasa pada tiap bulan 3 hari, maka sudah memadani puasa terus menerus”.


[بشرى الكريم، ٥٨٤]📗
وهي أيام الليالي البيض ----إلى أن قال---- وحكمة كونها ثلاثة: أنَّ الحسنة بعشر أمثالها، فصومها كصوم الشهر كله، ولذا حصل ذلك أيضاً بصوم ثلاثة من أيّ أيام الشهر، وكان صومها في أيام البيض سنة ثانية.
وخصت هذه؛ لتعميم لياليها بالنور المناسب للشكر بالعبادة عليه، ولتعسر تعميم اليوم بعبادة غير الصوم ----إلى أن قال---- وإذا فاتته البيض وأراد صوم السود .. ينويهما؛ ليحوز فضلهما.
وسميت سوداً؛ لسواد لياليها.
وحكمة صومها: تزويد الشهر بالعبادة، وطلباً لكشف سواد القلب؛ فإنّ الشيء بالشيء يذكر.

[Busyral karim, 584]
“Dan ia adalah malam-malam bidh --- sampai perkataan --- dan hikmah keberadaan nya ada tiga : sesungguh nya kebaikan itu diganjar dengan 10 kebaikan sepertinya, maka puasanya seperti puasa sebulan penuh, dan karena itu menghasilkan pahala tersebut, juga dengan berpuasa tiga hari, dari hari apapun pada bulan tersebut. Dan berpuasa pada hari-hari bidh, adalah kesunnahan yang ke dua. Dan ini dikhususkan, karena malam-malam nya yang diselimuti dengan cahaya yang cocok untuk bersyukur dengan beribadah atasnya. Dan karena akan mempersulit pada hari tersebut untuk beribadah selain puasa --- sampai perkataan --- dan jika telah terlewati hari hari bidh, dan ia hendak berpuasa hari-hari sud, maka ia bisa meniatkan keduanya, agar mendapatkan keutamaan keduanya. Dan dinamakan sud/hitam, karena hitam/gelapnya malam-malamnya. Dan hikmah puasanya : mempersiapkan bulan tersebut untuk ibadah, meminta untuk disingkapkan hitamnya hati, dan hal-hal lain yang disebutkan”.

“Dan hikmah nya puasa hari putih itu tiga hari, itu adalah karena satu kebaikan itu, di kali lipatkan dengan sepuluh kali nya, Maka puasa ayyamul bidh itu, sama saja dia berpuasa satu bulan penuh (3x10 =30), Maka dari itu, sama hal nya apabila seseorang berpuasa tiga hari di dalam satu bulan, Dia mendapatkan pahala yang sama, Kemudian hikmah puasa ayyamus suud, adalah memperbanyak ibadah dalam satu bulan itu, dan berharap agar di bersihkan dari hitam nya hati”.


[حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ٢ ص ٣٥٠]📗
أَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ ثَلَاثَةٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَأَنْ تَكُونَ أَيَّامَ الْبِيضِ فَإِنْ صَامَهَا أَتَى بِالسَّنَتَيْنِ فَمَا فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ مِنْ أَنَّ هَذِهِ الثَّلَاثَةَ هِيَ الْمَأْمُورُ بِصِيَامِهَا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ فِيهِ نَظَرٌ وَإِنْ تَبِعَهُ الْإِسْنَوِيُّ ----إلى أن قال----  (قَوْلُهُ: لِأَنَّهَا تَبْيَضُّ بِطُلُوعِ الْقَمَرِ. . . إلَخْ) أَيْ فَحِكْمَةُ صَوْمِهَا شُكْرُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى هَذَا النُّورِ الْعَظِيمِ، وَقِيلَ: سُمِّيَتْ بِذَلِكَ؛ لِأَنَّ آدَمَ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - لَمَّا أُهْبِطَ مِنْ الْجَنَّةِ إلَى الْأَرْضِ اسْوَدَّ جَسَدُهُ مِنْ حَرِّ الشَّمْسِ فَجَاءَهُ جِبْرِيلُ وَأَمَرَهُ بِصَوْمِهَا فَابْيَضَّ فِي الْيَوْمِ الْأَوَّلِ ثُلُثُ بَدَنِهِ وَفِي الثَّانِي ثُلُثَاهُ وَفِي الثَّالِثِ جَمِيعُهُ اهـ. بِرْمَاوِيٌّ
(قَوْلُهُ: أَيَّامُ السُّودِ) سُمِّيَتْ بِذَلِكَ؛ لِأَنَّهَا تَسْوَدُّ بِالظُّلْمَةِ مِنْ
عَدَمِ الْقَمَرِ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ إلَى آخِرِهِ فَحِكْمَةُ صَوْمِهَا طَلَبُ كَشْفِ تِلْكَ الظُّلْمَةِ الْمُسْتَمِرَّةِ وَتَزْوِيدُ الشَّهْرِ الَّذِي عَزَمَ عَلَى الرَّحِيلِ بَعْدَ كَوْنِهِ كَانَ ضَيْفًا وَقِيلَ لِطَلَبِ كَشْفِ سَوَادِ الْقَلْبِ اهـ.

[Hasyiatul jamal ala syarhil manhaj, juz 2, hal 350]
“Bahwasanya disunnahkan puasa 3 hari dari setiap bulan dan termasuk hari-hari bidh adanya. Jika berpuasa bidh maka ia mendatangkan dua kesunnahan. Dan sesungguhnya pada tiga hari ini, tidak diperintahkan untuk berpuasa pada tiap bulannya, pada shahih muslim. Dalam hal ini ada yang berpendapat demikian. Imam al-asnawy mengikuti pandangan ini  ---sampai perkataan --- (perkataan nya : karena malam-malam tersebut memutih disebabkan terbitnya rembulan .... sampai akhir kalimat), maksudnya adalah hikmah puasa tersebut adalah bersyukur kepada Allah Ta'ala atas cahaya yang agung ini. Ďan dikatakan juga bahwa dinamakan begitu karena Nabi Adam عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ tatkala sampai di bumi dari surga, menghitam badannya karena panasnya matahari, maka jibril datang dan memerintahkannya untuk berpuasa. Memutihlah pada hari pertama sepertiga badannya, dan di hari ke dua 2/3 badannya dan pada hari ke tiga seluruh badan nya, selesai, Barmawy (perkataan nya : hari-hari sud) dinamakan demikian, karena menghitamnya, dikarenakan kegelapan yang disebabkan tiadanya rembulan, dari awwal malam sampai akhir malam. Adapun hikmah puasanya adalah meminta disingkapkan kegelapan yang menutupi tersebut, dan mempersiapkan untuk bulan yang telah direncanakan pelancong setelah keberadaannya sudah sempit. Dan dikatakan, untuk menyingkap kegelapan hati. Selesai”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Apakah Rasulillah ﷺ pernah melaksanakan puasa sunnah di hari putih dan di hari hitam tersebut ⁉️
Mohon rujukan nya

🍏 JAWABAN :

Rasulullah ﷺ  pernah melaksanakan puasa tersebut.

R E F E R E N S I : 📗Al-Majmu' Syarh al-Muhadzzab, Juz 6, Halaman 385, dan lain nya (seperti beberapa ibarah yang tercantum di Jawaban nomor satu).


MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda

MUJAWWIB : Para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

والله أعلم بالصواب

Kamis, 24 September 2020

MERTUA BERZAKAT KE MENANTU

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 161
👳🏻‍♂️ Nama : Aditiya
Alamat : Palangkaraya_Kalteng

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

🌴 PERTANYAAN :

Si Mertua berzakat padi kepada menantu nya, apa kah di perbolehkan ⁉️

🍏 JAWABAN :

Di tafshil / di perinci :
A.) Boleh, Apabila di berikan kepada menantu laki laki dan  termasuk golongan yang boleh menerima zakat.

B.) Tidak boleh, apabila yang di beri zakat adalah menantu perempuan, yang sudah di cukupi / di nafaqahi oleh suami nya.

[الفقه الاسلامي وأدلته، ج ٣ ص ١٩٧٠]📗
ويجوز دفع الزكاة لزوجة أبيه وابنه وزوج ابنته (الصهر)

[Alfiqh al-islamy wa adillatuhu, juz 3, hal 1970]
“Dan diperbolehkan untuk membayar zakat bagi istri ayah nya, anak nya, suami anak perempuan nya (hubungan pernikahan)”.


[الفقه الاسلامي وأدلته، ج ٣ ص ١٩٦٨]📗
ولا يجوز دفعها عند الشافعية لشخص لا تلزم المزكي نفسه نفقته، وإنما تلزم غيره؛ لأنه غير محتاج، كمكتسب كل يوم قدر كفايته.

[Alfiqh al-islamy wa adillatuh, juz 3, hal 1968]
“Dan tidak diperbolehkan membayar nya, menurut mazhab Syafi'i, bagi seseorang yang tidak wajib bagi seorang muzakki memberi nafaqah atas dirinya, dan bahkan diwajibkan pada selainnya, karena ia tidak membutuhkan, seperti orang yang bekerja setiap hari, dan memperoleh sekedarnya untuk mencukupinya”.


[المجموع شرح المهذب، ج ٦ ص ٢٣٠]📗
قَالَ أَصْحَابُنَا لَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَدْفَعَ إلَى وَلَدِهِ وَلَا وَالِدِهِ الَّذِي يَلْزَمُهُ نفقته من سهم الفقراء والمساكين لعلتين (احداهما) أَنَّهُ غَنِيٌّ بِنَفَقَتِهِ (وَالثَّانِيَةُ) أَنَّهُ بِالدَّفْعِ إلَيْهِ يَجْلِبُ إلَى نَفْسِهِ نَفْعًا وَهُوَ مَنْعُ وُجُوبِ النَّفَقَةِ عَلَيْهِ، ---- إلى ان قال ---- (وَأَمَّا) إذَا كَانَ الْوَلَدُ أَوْ الوالد فقيرا أو مسكينا وقلنا فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ لَا تَجِبُ نَفَقَتُهُ فَيَجُوزُ لِوَالِدِهِ وَوَلَدِهِ دَفْعُ الزَّكَاةِ إلَيْهِ مِنْ سَهْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ كَالْأَجْنَبِيِّ

[Almajmu' Syarh almuhadzzab, juz 6, hal 230]
“Berkata para shahabat kami : tidak boleh bagi seseorang untuk membayar, kepada anaknya, orang tuanya yang wajib ia nafaqahi, dari bagian haq orang faqir dan miskin, karna dua alasan, (pertama) karena ia kaya/mampu untuk menafaqahinya, (ke dua) karena ia, dengan membayar kepadanya, mengambil manfaat kepada dirinya dan ia menghalangi kewajiban nafaqah atasnya ---- sampai ia berkata ----(dan adapun), jika anak atau orang tua, adalah orang faqir atau miskin, dan kami berpendapat pada sebagian keadaan, tidak wajib menafaqahinya, maka boleh bagi orang tua atau anaknya, membayar zakat kepadanya, dengan mengambil dari bagian orang² faqir atau miskin, tanpa ada perbedaan pendapat, karena ketika itu ia seperti orang asing / ajnaby”.


[بغية المسترشدين، ص ١٠٦]📗
(مسئلة : ب ك) يجوز دفع زكاته بولده المكلف بشرط أن لاتلزمه نفقته ولاتمامهاعلى الراجح، ---- إلى أن قال ---- ويجوز تخصيص نحوقريب بل يسن إذ لا تجب التسوية بين آحاد الصنف بخلافها بين الأصناف. 
يجوز دفع زكاته لولده المكلف بشرطه إذ لا تلزمه نفقته ولإتمامها على الراجح، وإن كان فقيراً ذا عيلة، وكان ينفق عليه تبرعاً، بخلاف من لا يستقل بنفسه كصبي وعاجز عن الكسب بمرض أو زمانة أو عمى لوجوب نفقته على الوالد.

[Bughyatul mustrasyidin, hal 106]
“Boleh untuk membayar zakatnya, kepada anaknya yang mukallaf, dengan syarat bahwa ia tidak wajib menafaqahinya, dan untuk menyempurnakan nya menurut pendapat yang rojih ---- sampai ia berkata ----- dan boleh dikhususkan seperti kerabat, bahkan disunnahkan apabila tidak diwajibkan menyamakan salah satu golongan, dengan perbedaannya di antara golongan² penerima. Boleh membayar zakat kepada anak nya yang mukallaf dengan syaratnya, bila tidak wajib baginya untuk menafaqahinya, dan untuk menyempurnakan nya, menurut pendapat yang rojih, dan jika ia adalah orang faqir yang memiliki tanggungan. Dan menafaqahinya adalah sebagai sumbangan. Dan berbeda dengan orang yang tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya, seperti bayi dan orang yang tidak mampu berusaha, karena sakit atau cacat, atau buta, karena kewajiban menafaqahinya bagi orang tua”.


[الفقه الاسلامي وادلته، ج ٣ ص ١٩٦٣]📗
والفقير: هو من لا مال له أصلاً ولا كسب حلال، وله مال أو كسب حلال لا يكفيه بأن كان أقل من نصف الكفاية، ولم يكن له منفق يعطيه ما يكفيه كالزوج بالنسبة للزوجة

[Alfiqh al-islamy wa adillatuhu, juz 3, hal 1963]
“Dan orang faqir adalah orang yang tidak punya harta sama sekali, tidak memiliki usaha yang halal, dan ia punya harta atau usaha yang halal, tapi tidak mencukupinya dengan sedikitnya setengah dari kecukupannya, dan dia tidak memiliki orang yang menafaqahinya, yang memberikannya sesuatu yang mencukupinya, seperti suami sehubungan kepada istri”.


[روضة الطالبين وعمدة المفتين، ج ٢ ص ٣١٠]📗
وَأَمَّا الْمُنْفَقُ عَلَيْهِ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَهُ مِنْ سَهْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ، لِغِنَاهُ بِنَفَقَتِهِ، وَلِأَنَّهُ يَدْفَعُ عَنْ نَفْسِهِ النَّفَقَةَ، وَلَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ مِنْ سَهْمِ الْعَامِلِ، وَالْغَارِمِ، وَالْغَازِي، وَالْمُكَاتَبِ، إِذَا كَانَ بِتِلْكَ الصِّفَةِ، وَكَذَا مِنْ سَهْمِ الْمُؤَلَّفَةِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فَقِيرًا، فَلَا يُعْطِيهِ، لِأَنَّهُ يُسْقِطُ النَّفَقَةَ عَنْ نَفْسِهِ.

[Raudhatut thalibin wa umdatul muftin, juz 2 hal 310]
“Dan adapun orang yang menafaqahinya, maka tidak boleh untuk memberinya bagian dari orang² faqir dan miskin, karena kemampuan nya untuk menafqahi, dan karena ia membayarkan nafaqah atas dirinya. Dan baginya untuk memberikan padanya dari bagian amil, gharim/orang yang berhutang, orang yang berperang dan hamba sahaya. Jika ia termasuk dalam ciri-ciri golongan tersebut, dan begitu juga dari bagian mu’allaf, kecuali jika ia orang yang faqir, maka jangan diberikan padanya, karena hal tersebut menghilangkan kewajiban nafaqah dari diri nya”.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda

MUJAWWIB : Para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

والله أعلم بالصواب

Rabu, 23 September 2020

IBARAH DAN HUKUM SHALAT MEMAKAI BARANG GHASAB

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
B-M-U

_soal antrian ke 160
👳🏻‍♂️ Nama : Zaid Al-Qa’imani
Alamat : Tasikmalaya_Jawa Barat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Di kitab Fathul Mu'in halaman 133, di sebutkan begini redaksi nya :

وتصح بلا ثوب كما في ثوب مغصوب وكذا إن شك في رضا مالكه لا إن ظنه بقرينة.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Lafazh yang ada di ibarah di atas ini, yang benar "bila tsaubin" atau "bila tsawabin" ⁉️

🍏 JAWABAN :

Yang benar adalah bila tsawabin.
Di dalam beberapa cetakan, seperti Dar ibn Hazm, juga di kitab Tarsyihul Mustafidin cetakan Haramain, sama² tertulis Dengan bila tsawabin :

بل تصح بلا ثواب


Juga di cetakan Mahkota Surabaya, tertulis dengan :

وتصح بلا ثواب

Dan mungkin juga nanti kita temukan di cetakan kitab yang lain nya, selain daripada yang di sebutkan di atas.

Kemudian ;
~ Yang di maksud bila tsaubin yaitu : tidak berpakaian, dengan kata lain adalah menjadi tidak benar, jika redaksi nya menggunakan bila tsaubin, yaitu shalat sah tanpa baju / tanpa menutup aurat, ini murad nya adalah menjadi keliru.

~ Yang di maksud bila tsawabin yaitu : tidak berpahala, arti nya shalat nya sah (sekalipun tempat atau baju yang di pakai nya adalah dari hashil mengghasab), tapi tidak ada pahala, ini murad nya menyambung, karena redaksi sebelum nya membicarakan tentang ghasab (curian).

Jadi, kemungkinan besar dan barangkali nya di cetakan yang tertulis dengan redaksi "bila tsaubin" adalah tersalah cetak (ada kesalahan penerbit nya di dalam mencetak, baik menyengaja maupun tidak), dan di sini di tegaskan, bahwa itu bukan lah murni kesalahan dari mu’allif kitab.

Juga kita ma'lumi bersama dan wajar, memang manusia tempat kesalahan atau kelupa'an.

تفسير ابن كثير ط العلمية، ج ١ ص ٥٧٣]📗
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ» وقد روي من طريق أُخَرَ وَأَعَلَّهُ أَحْمَدُ وَأَبُو حَاتِمٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْهُذَلِيُّ، عَنْ شَهْرٍ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ «إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَنْ ثَلَاثٍ: عَنِ الْخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ، وَالِاسْتِكْرَاهِ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلْحَسَنِ، فَقَالَ: أَجَلْ، أَمَا تَقْرَأُ بِذَلِكَ قُرْآنًا رَبَّنا لَا تُؤاخِذْنا إِنْ نَسِينا أَوْ أَخْطَأْنا.

[Tafsir Ibnu Katsir, cetakan ilmiyyah, juz 1 hal 573]
“Bersabda Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 《 sesungguhnya Allah menanggalkan/meletakkan dari ummat ku kesalahan dan kelalaian serta apa-apa yang dibencinya padanya⟩». Sungguh telah diriwayatkan dari jalan yang lain, dan  meninggikan nya imam Ahmad dan abu Hatim. Wallahu a'lam. Dan berkata ibnu abi hatim, telah bercerita kepada kami muslim bin ibrahim, telah menceritakan kepada kami abu bakar al-hudzally dari syahr, dari abu darda' dari Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beliau bersabda :《sesungguhnya Allah mengampuni bagi ummat ku 3 perkara, yaitu khoto'/kesalahan dan kelalaian, serta terpaksa》, berkata abu bakar, maka aku menyebut itu untuk kebaikan. Maka berkata : oleh karena itu, apabila kau membaca itu kami akan membaca "robbana la tuakhidzna in nasina aw akhto'na / wahai Tuhan kami janganlah kau menghukum kami apabila kami lupa atau salah".


[فيض القدير، ج ٦ ص ٣٦٢]📗
- (وضع) ببنائه للمفعول والواضع الله كما صرح به في الرواية المارة (عن أمتي) أمة الإجابة (الخطأ) بفتحتين مهموز ضد الصواب (والنسيان) وهو ترك الشيء على ذهول وغفلة (وما استكرهوا عليه) من قول أو فعل قالوا وهذا حديث عظيم الشأن يحسن أنه يعد ربع الإسلام
(هق عن ابن عمر) بن الخطاب

[Faydhul qadir, juz 6, hal 362]
“(Lafadz wudhi'a/diletakkan/ditanggalkan) dengan bina maf'ul, dan yang meletakkan nya Allah, sebagaimana diterangkan pada riwayat yang telah lalu (lafadz al-khothou/kesalahan) dengan dua fathah dan mahmuz adalah lawan benar (dan lupa/lalai) yaitu meninggalkan sesuatu, di karenakan terlewatkan atau lalai (dan apa-apa yang dibenci atas nya) dari perkataan atau perbuatan, dan mereka berkata bahwa ini adalah hadits yang agung kedudukan nya, dan dianggap bahwa ini dihitung sebagai seperempat Islam (dibawa dari ibn umar) ibnu al khotthob)”.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Dan minta rincikan hukum nya tentang semua itu (Tentang hukum shalat memakai barang curian / hashil haram / hukum beribadah dengan di sertai memakai atau memakan harta yang haram ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum shalat menggunakan barang hasil curian atau barang haram, menurut Jumhur Ulama' adalah sah. Karena keharaman tersebut, tidak ada hubungan nya dengan sholat, melainkan merupakan امر خارج  / perkara di luar sholat.

[المجموع شرح المهذب،  ج ٣ ص ١٦٣]📗
(ولا يجوز أن يصلي في أرض مغصوبة لأن اللبث فيها يحرم في غير الصلاة فلأن يحرم في الصلاة أولى فإن صلى فيها صحت صلاته لأن المنع لا يختص بالصلاة فلا يمنع صحتها
 (الشرح)
 الصلاة في الأرض المغصوبة حرام بالإجماع وصحيحة عندنا وعند الجمهور من الفقهاء وأصحاب الأصول وقال أحمد بن حنبل والجبائي وغيره من المعتزلة باطلة واستدل عليهم الأصوليون بإجماع من قبلهم قال الغزالي في المستصفى هذه المسألة قطعية ليست اجتهادية والمصيب فيها واحد لأن من صحح الصلاة أخذه من الإجماع وهو قطعي_ ومن أبطلها أخذه من التضاد الذي بين القربة والمعصية ويدعي كون ذلك محالا بالعقل فالمسألة قطعية ومن صححها يقول هو عاص من وجه متقرب
من وجه ولا استحالة في ذلك إنما الاستحالة في أن يكون متقربا من الوجه الذي هو عاص به وقال القاضى أبو بكر بن الباقلانى يسقط الفرض عند هذه الصلاة لا بها بدليل الإجماع على سقوط الفرض إذا صلى واختلف أصحابنا هل في هذه الصلاة ثواب أم لا ففي الفتاوى التي نقلها القاضي أبو منصور أحمد بن محمد بن محمد بن عبد الواحد عن عمه ابى نص بن الصباغ صاحب الشامل رحمه الله قال المحفوظ من كلام أصحابنا بالعراق أن الصلاة في الدار المغصوبة صحيحة يسقط بها الفرض ولا ثواب فيها قال القاضي أبو منصور ورأيت أصحابنا بخراسان اختلفوا منهم من قال لا تصح صلاته قال وذكر شيخنا يعني ابن الصباغ في كتابه الكامل إنا إذا قلنا بصحة الصلاة ينبغي أن يحصل الثواب فيكون مثابا على فعله عاصيا بمقامه قال القاضي وهذا هو القياس إذا صححناها

[Almajmu' syarhu al-muhadzzab, juz 3, hal 163]
“(Dan tidak boleh untuk sholat pada tempat hashil ghoshob, karena memakainya diharamkan pada selain sholat, oleh karena itu diharamkan pada sholat lebih utama. Jika ia sholat di tempat hasil ghoshob, maka sahlah sholatnya, karena larangan tersebut, tidak dikhususkan untuk sholat, oleh karena itu, tidak menghalangi keabsahan sholatnya.

(Syarah/penjelasan) sholat pada tempat hasil ghoshob, hukumnya haram menurut ijma, dan sah menurut kami dan menurut jumhur fuqoha dan ahli ushul. Berkata imam ahmad bin hanbal dan imam aljuba'i dan lain nya, dari aliran mu'tazilah, bahwa hukumnya adalah batal. Para ahli ushul berargumentasi atas mereka dengan ijma' sebelumnya. berkata imam alghozaly dalam kitab almustashfa, bahwa masalah ini, adalah masalah qoth'i bukan ijtihadi. Dan yang benar hanya satu, Karena yang mensahkan sholat mengambil dasarnya dari ijma, dan itu adalah qoth'i, dan orang yang menganggap nya batal, mengambilnya dari pertentangan antara mendekatkan diri kepada Allah, dan ma'shiat, dan hal tersebut dianggap mustahil bagi aqal, karena masalah tersebut qoth'i. Dan orang yang mensahkan nya berkata, itu adalah melakukan kema'shiatan dari sisi orang yang mendekatkan diri kepada Allah, dari satu sisi. Dan tiada kemustahilan dalam hal tersebut, karena kemustahilan adalah pada orang yang mendekatkan diri kepada Allah dari sisi seorang yang berma'shiat dengan nya.

Berkata qodhi abu bakar bin al-baqilany : hilang kewajiban pada sisi sholat ini, bukan karenanya dengan dalil ijma atas hilangnya kewajiban jika ia sholat. Dan berselisih pendapat para shahabat kami, dalam apakah sholat nya mendapatkan pahala atau tidak. Maka dalam kitab al-fatawa yang di nuqil oleh al-qodhi abu manshur, ahmad bin muhammad bin muhammad bin abdul wahid dari pamannya abu nash bin asshibagh, pengarang kitab assyamil, semoga Allah merahmatinya, ia berkata bahwa : yang terjaga dari kalam para shahabat kami di iraq, bahwasanya sholat di rumah hasil ghoshob tetap sah hukumnya, dan menghilangkan kewajiban dengan nya, tapi tiada pahala dalam sholat tersebut. Berkata alqodhi abu Manshur, dan aku melihat bahwa para shahabat kami di khurosan berbeda pendapat. Ada yang berpendapat, dengan mengatakan bahwa tidak sah sholatnya, ia berkata : dan telah menyebut guru kami, yaitu ibn asshibagh dalam kitabnya al-kaamil, sesungguhnya kita bila mengatakan bahwa sholat tersebut sah, maka seharusnya menghasilkan pahala, dan diberi pahala atas melakukan nya, secara ma'shiat di tempatnya, berkata al-qodhi dan inilah qiyas bila kita mensahkan nya”.


[تلقيح الأفهام العلية، ج ١ ص ٣٧]📗
النهي إن عاد إلى الذات أو شرط الصحة دل على الفساد وإن عاد إلى أمر خارج فلا أن يكون النهي عائدًا إلى أمر خارج عن الذات والشرط فإنه لا يدل على فساد المنهي عنه وإنما يدل على نقصان الأجر لكن الفعل صحيح

[Talqihul afham Al-Aliyyah, juz 1, hal 37]

“Larangan jika dikembalikan pada perkaranya, atau syarat keabsahan nya menunjukan atas kerusakan, dan jika dikembalikan pada perkara diluarnya, maka tidak menjadi larangan itu, dikembalikan kepada perkara di luar perkara tersebut atau syaratnya, karena ia tidak menunjukkan atas rusaknya larangan, tapi menunjukkan atas kekurangan ganjaran, bahkan mengerjakannya adalah sah hukum nya”.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda

MUJAWWIB : Ustadz ; ishadi, ibnu Agy, Narju Minka dan lain nya

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo

والله أعلم بالصواب

Selasa, 22 September 2020

MELAMPIASKAN KEBENCIAN --> MOTONG RAMBUT

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 159
🧕🏻 Nama : inayah
Alamat : Bangka Belitung

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Seseorang (laki² maupun perempuan, terkhusus nya adalah perempuan) apabila ia membenci sesuatu, lalu ia melampiaskan nya dengan cara memotong rambut nya (kalau perempuan dia memotong rambut nya jadi pendek = sama seperti laki²).

🌴 PERTANYAAN :

Bagaimana hukum nya, apa kah sama hal nya dengan menyakiti diri nya sendiri ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum melampiaskan kebencian, dengan memotong rambut, adalah tidak termasuk menyakiti diri, karena hal tersebut tidak termasuk perkara yang membuat mudhorot kepada diri sendiri. Sedangkan mencukur rambut sampai tasyabbuh hukumnya adalah haram, demikian haram apabila tidak sampai tasyabbuh, tetapi jika tidak mendapat idzin suami, bagi orang perempuan yang memiliki suami.

[حاشيتا قليوبي وعميرة، ج ٤ ص ٢٢٧]📗 
«لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ» أَيْ لَا يَضُرُّ أَحَدٌ نَفْسَهُ، وَلَا يَضُرُّ غَيْرَهُ أَوْ لَا يَضُرُّ أَحَدٌ غَيْرَهُ وَلَا يَتَضَارَّ اثْنَانِ مَثَلًا

[Hasyiah qalyuby wa umayrah, Juz 4, hal 227]
“《Tidak berbahaya dan mencelakakan》 artinya tidak membahayakan dirinya sendiri, dan tidak membahayakan orang lain atau seseorang tidak membahayakan orang lain, dan misalnya dua orang tidak saling membahayakan atau mencelakai”.


[تحفة المحتاج في شرح المنهاج، ج ٤ ص ١٢٠]📗
(وَتُقَصِّرُ الْمَرْأَةُ) وَلَوْ صَغِيرَةً وَاسْتِثْنَاءُ الْإِسْنَوِيِّ لَهَا غَلَّطَهُ فِيهِ الْأَذْرَعِيُّ إذْ لَا يُشْرَعُ الْحَلْقُ لِأُنْثَى مُطْلَقًا إلَّا يَوْمَ سَابِعِ وِلَادَتِهَا لِلتَّصَدُّقِ بِوَزْنِهِ وَإِلَّا لِتَدَاوٍ، أَوْ اسْتِخْفَاءٍ مِنْ فَاسِقٍ يُرِيدُ سُوءًا بِهَا وَمِثْلُهَا الْخُنْثَى وَيُكْرَهُ لَهُمَا الْحَلْقُ بَلْ بَحَثَ الْأَذْرَعِيُّ الْجَزْمَ بِحُرْمَتِهِ عَلَى زَوْجَةٍ، أَوْ أَمَةٍ بِغَيْرِ إذْنِ زَوْجٍ، أَوْ سَيِّدٍ وَيُنْدَبُ لَهَا أَنْ تَعُمَّ الرَّأْسَ بِالتَّقْصِيرِ وَأَنْ يَكُونَ بِقَدْرِ أُنْمُلَةٍ قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ إلَّا الذَّوَائِبَ؛ لِأَنَّ قَطْعَ بَعْضِهَا يَشِينُهَا

[Tuhfatul muhtaj fi syarhil minhaj, juz 4, hal 120]
“(Dan wanita yang memendekkan rambut) meskipun masih kecil, dan mengecualikan imam al-Asnawy bagi anak kecil, dan membantah dengan keras imam al'Adzro'iy dalam hal tersebut, bahwa tidak di syari'atkan mencukur habis rambut bagi perempuan secara muthlaq, kecuali pada hari ketujuh kelahiran nya, untuk bershadaqah dengan timbangan nya, dan kecuali untuk mengobati atau untuk bersembunyi dari orang fasiq, yang hendak berbuat buruk kepada nya. Dan begitu juga khuntsa/banci hermaprodite. Dan di makruhkan bagi keduanya mencukur habis rambut, bahkan imam al'Adzro'iy membahas tentang keharaman nya, karena penghormatan nya kepada istri atau seorang budak perempuan tanpa idzin suami atau tuan nya. Dan disunnahkan bagi perempuan, untuk meratakan kepala dengan memendekkan rambut dan qadarnya (Ukuran nya) seujung jari, sebagaimana yang di katakan imam al-Mawardy, kecuali orang-orang yang tidak mampu, karena memotong sebagian nya menjatuhkan kehormatan nya”.


[بشرى الكريم، ج ١ ص ٦٤٠]📗
(والتقصير) هو الأخذ من الشعر بنحو قص، وسن تعميم الشعر كله به (للمرأة) والخنثى ولو صغيرة أفضل؛ لخبر أبي داوود: “ليس على النساء حلق، وإنما عليهن التقصير”.ويكره الحلق وأخذه بنحو نورة، بل يحرم إن لم يأذن فيه حليل وسيد، أو قصدت التشبه بالرجال.ولا يشرع إلا لسابع ولادتها ولتداو واستخفاء من فاسق، وندب تعميم رأسها بالتقصير، وأن يكون بقدر أنملة.

[Busyrol karim, juz 1, hal 640]
“(Dan memendekkan) yaitu mengambil sebagian rambut dengan seumpama gunting, dan disunnahkan meratakan seluruh rambut dengan nya (bagi perempuan) dan banci berkelamin ganda, meskipun ketika kecil lebih utama.
Berdasarkan khabar dari Abu Daud "tidaklah atas wanita dicukur habis rambutnya, dan sesungguhnya bagi mereka memendekkan rambut", dan dimakruhkan mencukur habis rambut dan mengambil nya dengan semisal api kecil, bahkan diharamkan ketika tidak memberi idzin dalam hal tersebut, orang yang memerdekakan nya, tuannya, atau bermaksud menyerupai laki-laki, dan tidak disyari'atkan kecuali pada hari ketujuh kelahiran nya, untuk mengobati, atau bersembunyi dari orang fasiq, dan disunnahkan meratakan kepala nya dengan memendekan, dan qadarnya (ukurannya) adalah seujung jari”.


MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

Minggu, 20 September 2020

IDDAH WANITA YANG TIDAK PERNAH HAIDH

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 158
👳🏻‍♂️ Nama : Muhammad Utsman
Alamat : Sampang_Madura

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Jika ada seorang wanita tidak pernah haidh, kemudian di cerai suaminya, dan ia tetap tidak pernah haidh, sampai kira-kira lebih 5 tahunan, kemudian ada orang yang melamar.

🌴 PERTANYAAN :

Apakah iddah nya harus menunggu sampai usia 63 tahun (سن اليأسيه / berhenti haidh) atau bagaimana ⁉️

🍏 JAWABAN :

Wanita yang tidak pernah haidh sama sekali, maka iddah nya adalah 3 BULAN, setelah itu boleh menikah lagi, tidak perlu menunggu sampai umur 63 tahun.

[روضة الطالبين وعمدة المفتين، ج ٨ ص ٣٧٠]📗
الصِّنْفُ الثَّالِثُ: مَنْ لَمْ تَرَ دَمًا لِيَأْسٍ، وَصِغَرٍ، أَوْ بَلَغَتْ سِنَّ الْحَيْضِ أَوْ جَاوَزَتْهُ وَلَمْ تَحِضْ، فَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ بِنَصِّ الْقُرْآنِ

“Macam mu'taddah yang ke 3, adalah orang yang tidak terlihat ada nya haidh, sebab sudah habis masa haidh nya (menopause) dan anak-anak, atau telah sampai umur haidh, atau melebihi umur haidh, tapi tidak mengeluarkan darah haidh, maka iddah nya adalah 3 bulan, berdasarkan nash al qur'an”.


Nash Al-Qur'an nya, surat ath-Thalaq ayat 4 :

وَالَّآئِي  يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَآئِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ  فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَالَّآئِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haidh lagi (menopause) di antara perempuan-perempuan mu, jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddah nya), maka iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haidh”.


كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، ص ٤٢٥]📗
النَّوْع الثَّالِث من لم تَرَ دَمًا إِمَّا لصِغَر أَو اياس أَو بلغت سنّ الْحيض وَلم تَحض فَعدَّة هَؤُلَاءِ بِالْأَشْهرِ قَالَ الله تَعَالَى {وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ} يَعْنِي كَذَلِك قَالَ أبي بن كَعْب رَضِي الله عَنهُ أول مَا نزل من الْعدَد {وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ} فارتاب نَاس فِي عدَّة الصغار والآيسات فَأنْزل الله تَعَالَى {وَاللَّائِي يَئِسْنَ} الْآيَة

[Kifayatul akhyar fi hilli ghoyatil ikhtishor, hal 425]
🔘“Jenis yang ke tiga adalah orang yang tidak melihat ada darah, baik ketika kecil atau menopause, dan orang yang mencapai usia haidh dan tidak haidh, maka hitungan iddah mereka dengan beberapa bulan, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

وَٱلَّٰٓـِٔى يَئِسْنَ مِنَ ٱلْمَحِيضِ مِن نِّسَآئِكُمْ إِنِ ٱرْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَٰثَةُ أَشْهُرٍ وَٱلَّٰٓـِٔى لَمْ يَحِضْنَ
(Dan perempuan-perempuan yang tidak haidh lagi (menopause) di antara perempuan-perempuan mu, jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddah nya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan ; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haidh), begitu juga yang dimaksud dengan yang dikatakan Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu Anhu, ketika awwal turun nya ayat tentang hitungan iddah dulu
وَٱلْمُطَلَّقَٰتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَٰثَةَ قُرُوٓءٍ
(Wanita-wanita yang di thalaq, hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’) dan orang-orang menjadi ragu dalam iddah anak kecil dan orang menopause,  kemudian Allah ta'ala menurunkan
{وَاللَّائِي يَئِسْنَ} الْآيَة“.


🔘“Golongan ketiga yaitu orang yang tidak melihat ada darah, baik karena kecil atau menopause, atau mencapai usia haidh, namun tidak haidh, maka iddah mereka adalah dengan beberapa bulan.

Berfirman Allah Subhanahu wa ta'ala, "Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haidh, di antara perempuan-perempuan kalian, jika kalian ragu-ragu (tentang masa iddah mereka) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haidh". Yaitu tiga bulan pula.

Berkata Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu Anhu, "Ayat pertama tentang jumlah masa iddah itu adalah وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ (dan wanita yang diceraikan mereka menunggu/menahan diri selama tiga quru') dan orang-orang pun penasaran terhadap iddah anak kecil, dan perempuan tua yang sudah menopause. Kemudian Allah menurunkan وَاللَّائِي يَئِسْنَ hingga akhir ayat tadi”.


[فتح القريب المجيب، ص ٢٥٤]📗

(وإن كانت) تلك المعتدة (صغيرة) أو كبيرة لم تحض أصلا ولم تبلغ سِنَّ اليأس أو كانت متحيرة (أو آيسة فعدتها ثلاثة أشهر) هلالية إن انطبق طلاقها على أول الشهر. فإن طلقت في أثناء شهر فبعده هلالان، ويكمل المنكسر ثلاثين يوما من الشهر الرابع؛ فإن حاضت المعتدة في الأشهر وجب عليها العدة بالأقراء، أو بعد انقضاء الأشهر لم تجب الأقراء.

[Fatul qorib al-mujib, hal. 254]
🔘“(Dan jika) orang yang sedang beriddah (muda) atau tua, tidak haidh sama sekali, dan tidak mencapai usia menopause, atau kondisi nya membingungkan (atau wanita yang menopause, maka iddah nya tiga bulan), dengan cara meilhat hilal, jika perceraian nya terjadi di awwal bulan. Jika dia bercerai pertengahan bulan, maka setelah itu dua hilal, dan disempurnakan kekurangan nya, dengan menyelesaikan tiga puluh hari di bulan ke empat. Jika orang yang beriddah haidh selama berbulan-bulan, maka ia wajib iddahnya dengan beberapa kali masa suci, atau setelah selesainya bulan-bulan tersebut, maka ia tidak lagi diwajibkan suci beberapa kali”.


🔘“Dan jika orang yang beriddah itu masih kecil atau sudah besar, tapi tidak berhaidh sama sekali, padahal dia belum menopause atau mutahayyirah (tidak ingat kebiasaan haidh nya) atau perempuan menopause, maka iddah mereka semua adalah 3 bulan langit (Hijriyah), jika perceraian nya terjadi di awwal bulan.

Jika dia bercerai pada pertengahan bulan, maka iddahnya 2 bulan (setelahnya) dan disempurnakan bulan (sebelumnya) yang pecah tadi, menjadi 30 hari pada bulan ke empat (2 bulan + 30 hari).

Jika tiba-tiba berhaidh, ketika beriddah dengan bulan, maka wajib terhadap nya beralih kepada quru'. Atau tiba-tiba berhaidh pas setelah selesai iddah dengan bulan, maka tidak perlu lagi beralih kepada quru”.


MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : Ustadz Shalih Lumajang

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang, Ustadz TajusSubki Aceh