Rabu, 12 Agustus 2020

PEMBAGIAN HARTA WARISAN (FARA’IDH)

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
*B-M-U*

_soal antrian ke 138_
👳🏻‍♂️ Nama : Abdun Khair @⁨+62 852-4878-4939⁩
Alamat : Nagara_Kalimantan Selatan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

*✍🏻 DESKRIPSI :*

Di sebuah kota anak bos rokok atau agen rokok, mempunyai dua orang anak, anak yang pertama perempuan dan anak yang kedua laki².
Jarak antara dua bersaudara ini jauh (anggap lah 10 tahun), kemudian sang Ayah dari dua anak ini wafat, dan yang meneruskan usaha nya sang ayah adalah anak yang pertama (perempuan).
Kemudian si adik nya yang laki² tadi sudah besar, dia pun ikut kerja di toko itu.

Si kaka nya tadi dia merasa bahwa dia lah yang memiliki haq atas toko itu, karena ia mengembangkan usaha milik Al-Marhum ayah nya, sedangkan yang adik nya itu membikin toko sendiri, akan tetapi jauh daripada bagi rata, apa lagi dua banding satu.

*🌴 PERTANYAAN :*

Bagaimana ini hukum faraidh nya ⁉️

Bukan kah dalam islam, waris antara anak laki² dengan anak perempuan itu dua banding satu ⁉️
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

*🍏 JAWABAN :*

_🔘 Hukum Fara’idh nya tetap di berlakukan, dan telah benar ada nya antara laki² dan perempuan adalah : satu banding dua / dua banding satu (laki² lebih banyak dapat bagian harta warisan daripada perempuan)._


👳🏻‍♂️  *[ @⁨syaifuddinahmad675⁩ ] :*

يوصيكم الله في اولادكم للذكر مثل حظ الأنثيين { النسآء : ١١ }

_“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian harta pusaka) untuk anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki, sama dengan bahagian dua orang anak perempuan (satu banding dua)”_
(Surah An-Nisaa - ayat 11).


🔘 Jadi Kesimpulan di dalam ayat ini, bahwa laki-laki lebih banyak dapat bagian harta warisan daripada perempuan.

1 laki-laki = 2 perempuan

Satu banding dua.

Meskipun mitsal nya laki-laki tersebut, lebih muda daripada si perempuan tersebut (umur tidak jadi acuan di dalam hal waris).


_Hitungannya dibagi tiga :_

1 bagian, buat anak perempuan.
2 bagian, buat anak laki-laki.

kalau dirupiahkan umpama 60 rupiah.

20 : untuk anak perempuan.
40 : untuk anak laki-laki.

 📗[Halaman 28].


🔘 Jadi untuk penyelesaian masalah, lihat dulu di Deskripsi nya :

1 ) - harta peninggalan nya tersebut adalah toko, apa kah toko itu di kira²kan dulu sebagai uang (umpama harga toko tersebut 90 juta), karena 1 banding 2, berarti untuk bagian laki² nya (2 per 3 = 60 juta), dan untuk perempuan nya (1 per 3 = 30 juta), bagaimana ?

2 ) - selama si kaka nya kerja di toko tersebut, di kembangkan oleh dia, apa nanti di potong (dengan di kira²kan) antara hashil jerih payah dia, dengan asal / dasar harga toko yang umpama 90 juta tadi ?

_Si kakak ngambil dulu upah dari hasil pengembangan, hitungan harian, apa bulanan, tinggal jumlah upah si kakak, berapa tahun yang mengembangkan toko tersebut._

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

👳🏻‍♂️  *[ @⁨U.Handoyo_Tangerang⁩ ] :*

Untuk anak laki-laki jelas bagiannya 2, perempuan 1.

Bila taksiran harga toko 90 juta, maka anak laki-laki 60 juta, anak perempuan 30 juta.

Untuk Masalah pengembangan harta warisan, sang kakak memiliki haq terhadap 1/3 (sepertiga) dari hasil pengembangan toko tersebut (laba).

Sedangkan untuk ujrah (upah) pengembangan, seharusnya si kakak masih memiliki haq juga.

Di bawah ini keterangan, Tentang kebolehan mengambil ujrah, dari harta anak yatim yang di Tasharrufkan - di kembangkan, ini adalah sebagai qiyasan, daripada permasalahan haq upah atas pengembangan usaha, buat si kaka nya tersebut

الثَّالِثَةُ- تَوَاتَرَتِ الْآثَارُ فِي دَفْعِ مَالِ الْيَتِيمِ مُضَارَبَةً وَالتِّجَارَةَ فِيهِ، وَفِي جَوَازِ خَلْطِ مَالِهِ بِمَالِهِ، دلالة على جواز التصرف في مال بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ إِذَا وَافَقَ الصَّلَاحَ، وَجَوَازِ دَفْعِهِ مُضَارَبَةً، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ عَلَى مَا نَذْكُرُهُ مُبَيَّنًا. وَاخْتُلِفَ فِي عَمَلِهِ هُوَ قِرَاضًا، فَمَنَعَهُ أَشْهَبُ، وَقَاسَهُ عَلَى مَنْعِهِ مِنْ أَنْ يَبِيعَ لَهُمْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ يَشْتَرِيَ لَهَا. وَقَالَ غَيْرُهُ: إِذَا أَخَذَهُ عَلَى جُزْءٍ مِنَ الرِّبْحِ بِنِسْبَةِ قِرَاضِ مِثْلِهِ فِيهِ أُمْضِيَ، كَشِرَائِهِ شَيْئًا لِلْيَتِيمِ بِتَعَقُّبٍ (1) فَيَكُونُ أَحْسَنَ لِلْيَتِيمِ. قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ: وَلَهُ أَنْ يَبِيعَ لَهُ بِالدَّيْنِ إِنْ رَأَى ذَلِكَ نَظَرًا. قَالَ ابْنُ كِنَانَةَ: وَلَهُ أَنْ يُنْفِقَ فِي عُرْسِ الْيَتِيمِ مَا يَصْلُحُ مِنْ صَنِيعٍ وَطِيبٍ، وَمَصْلَحَتُهُ بِقَدْرِ حَالِهِ وَحَالِ مَنْ يُزَوَّجُ إِلَيْهِ، وَبِقَدْرِ كَثْرَةِ مَالِهِ. قَالَ: وَكَذَلِكَ فِي خِتَانِهِ، فَإِنْ خَشِيَ أَنْ يُتَّهَمَ رَفَعَ ذَلِكَ إِلَى السُّلْطَانِ فَيَأْمُرُهُ بِالْقَصْدِ، وَكُلُّ مَا فَعَلَهُ عَلَى وَجْهِ النَّظَرِ فَهُوَ جَائِزٌ، وَمَا فَعَلَهُ عَلَى وَجْهِ الْمُحَابَاةِ وَسُوءِ النَّظَرِ فَلَا يَجُوزُ. وَدَلَّ الظَّاهِرُ عَلَى أَنَّ وَلِيَّ الْيَتِيمِ يُعَلِّمُهُ أَمْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَيَسْتَأْجِرُ لَهُ وَيُؤَاجِرُهُ مِمَّنْ يُعَلِّمُهُ الصِّنَاعَاتِ. وَإِذَا وهب لليتيم شي فَلِلْوَصِيِّ أَنْ يَقْبِضَهُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِصْلَاحِ. وَسَيَأْتِي لِهَذَا مَزِيدُ بَيَانٍ فِي" النِّسَاءِ (2) " إِنْ شاء الله تعالى
📗[القرطبي، شمس الدين، تفسير القرطبي، ج٣ / ص٦٣]

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

👳🏻‍♂️  *[ @⁨U.M.Hendra_Aceh⁩ ] :*

Dalam Al-Qur'an Allah mengatakan :

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأنْثَيَيْنِ

Allah memerintahkan kepada kalian untuk berlaku adil terhadap mereka. Karena dahulu orang² Jahiliah, menjadikan semua harta pusaka, hanya untuk ahli waris laki² saja.

Sedangkan ahli waris perempuan tidak mendapatkan sesuatu pun darinya. Maka Allah memerintahkan agar berlaku adil di antara sesama mereka (para ahli waris), dalam pembagian pokok harta pusaka. Tetapi bagian kedua jenis dibedakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, Allah  menjadikan bagian anak lelaki sama dengan bagian dua anak perempuan.. Dikarenakan itu karena seorang lelaki dituntut kewajiban memberi nafaqah, dan beban biaya lain nya. Jerih payah dalam berniaga, dan berusaha serta menanggung semua hal yang berat.
Maka sangatlah sesuai bila ia diberi dua kali lipat, dari apa yang diterima oleh perempuan. 

فَقَوْلُهُ تَعَالَى: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ أَيْ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ فِيهِمْ، فَإِنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَجْعَلُونَ جَمِيعَ الْمِيرَاثِ لِلذُّكُورِ دُونَ الْإِنَاثِ، فَأَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِالتَّسْوِيَةِ بَيْنَهُمْ فِي أَصْلِ الْمِيرَاثِ، وَفَاوَتَ بَيْنَ الصِّنْفَيْنِ، فَجَعَلَ لِلذَّكَرِ مِثْلَ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ، وَذَلِكَ لِاحْتِيَاجِ الرَّجُلِ إِلَى مُؤْنَةِ النَّفَقَةِ وَالْكُلْفَةِ وَمُعَانَاةِ التجارة والتكسب وتحمل المشاق، فَنَاسَبَ أَنْ يُعْطَى ضِعْفَيْ مَا تَأْخُذُهُ الْأُنْثَى،
📗[ابن كثير، تفسير ابن كثير ط العلمية، 197/2]



Seorang ulama yang cerdik menyimpulkan dari ayat :

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ
 
_“Allah mensyari'atkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anak-anak mu. Yaitu bahagian seorang anak lelaki, sama dengan bahagian dua orang anak perempuan”._

Bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala, lebih kasih sayang kepada makhluq nya, daripada seorang ibu kepada anaknya, karena Allah telah mewasiatkan kepada kedua orang tua terhadap anak-anak mereka, maka diketahuilah bahwa Allah lebih sayang kepada mereka, daripada orang-orang tua mereka sendiri.

Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis Shahih. bahwa ada seorang wanita dari kalangan para tawanan, dipisahkan dengan bayi nya. Lalu si ibu mencari-cari bayinya kesana kemari.

Ketika ia menjumpai bayinya, maka ia langsung mengambilnya dan menempelkannya pada dadanya, lalu menyusukannya. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, kepada para shahabatnya :

أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ؟ قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ فو الله لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

_“Bagaimanakah menurut kalian, tegakah wanita ini mencampakkan bayinya ke dalam api, sedangkan dia mampu melakukannya. Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah." Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Maka demi Allah, sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba² nya, daripada wanita ini kepada anak nya”._

وَقَدِ اسْتَنْبَطَ بَعْضُ الْأَذْكِيَاءِ مِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ أنه تعالى أرحم بخلقه من الوالدة بولدها، حَيْثُ أَوْصَى الْوَالِدَيْنِ بِأَوْلَادِهِمْ، فَعُلِمَ أَنَّهُ أَرْحَمُ بِهِمْ مِنْهُمْ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وقد رأى امرأة من السبي فرق بينها وبين ولدها، فجعلت تدور على ولدها، فلما وجدته من السبي أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِصَدْرِهَا وَأَرْضَعَتْهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ «أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ» ؟ قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ «فو الله لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا» 
📗[ابن كثير، تفسير ابن كثير ط العلمية، 197/2]


{يُوصِيكُمْ} يَأْمُركُمْ {اللَّه فِي} شَأْن {أَوْلَادكُمْ} بِمَا يَذْكُر {لِلذَّكَرِ} مِنْهُمْ {مِثْل حَظّ} نَصِيب {الْأُنْثَيَيْنِ} إذَا اجْتَمَعَتَا مَعَهُ فَلَهُ نِصْف الْمَال وَلَهُمَا النِّصْف فَإِنْ كَانَ مَعَهُ وَاحِدَة فَلَهَا الثُّلُث وَلَهُ الثُّلُثَانِ وَإِنْ انْفَرَدَ حَازَ الْمَال {فَإِنْ كُنَّ} أَيْ الْأَوْلَاد {نِسَاء} فَقَطْ {فَوْق اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ} الْمَيِّت وَكَذَا الِاثْنَتَانِ لِأَنَّهُ لِلْأُخْتَيْنِ بِقَوْلِهِ {فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ} فَهُمَا أَوْلَى وَلِأَنَّ الْبِنْت تَسْتَحِقّ الثُّلُث مَعَ الذَّكَر فَمَعَ الْأُنْثَى أَوْلَى {وَفَوْق} قِيلَ صِلَة وَقِيلَ لِدَفْعِ تَوَهُّم زِيَادَة النَّصِيب بِزِيَادَةِ الْعَدَد لِمَا فُهِمَ اسْتِحْقَاق الْبِنْتَيْنِ الثُّلُثَيْنِ مِنْ جَعْل الثُّلُث لِلْوَاحِدَةِ مَعَ الذَّكَر {وَإِنْ كَانَتْ} الْمَوْلُودَة {وَاحِدَة} وَفِي قِرَاءَة بِالرَّفْعِ فَكَانَ تَامَّة {فَلَهَا النِّصْف وَلِأَبَوَيْهِ} أَيْ الْمَيِّت وَيُبْدَل مِنْهُمَا {لِكُلِّ وَاحِد مِنْهُمَا السُّدُس مِمَّا تَرَكَ إنْ كَانَ لَهُ وَلَد} ذَكَر أَوْ أُنْثَى وَنُكْتَة الْبَدَل إفَادَة أَنَّهُمَا لَا يَشْتَرِكَانِ فِيهِ وَأُلْحِق بِالْوَلَدِ وَلَد الِابْن وَبِالْأَبِ الْجَدّ {فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَد وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ} فَقَطْ أَوْ مَعَ زَوْج {فَلِأُمِّهِ} بِضَمِّ الْهَمْزَة وَكَسْرهَا فِرَارًا مِنْ الِانْتِقَال مِنْ ضَمَّة إلَى كَسْرَة لِثَقَلِهِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ {الثُّلُث} أَيْ ثُلُث الْمَال أَوْ مَا يَبْقَى بَعْد الزَّوْج وَالْبَاقِي لِلْأَبِ {فَإِنْ كَانَ لَهُ إخْوَة} أَيْ اثْنَانِ فَصَاعِدًا ذُكُورًا أَوْ إنَاثًا {فَلِأُمِّهِ السُّدُس} وَالْبَاقِي لِلْأَبِ وَلَا شَيْء لِلْإِخْوَةِ وَإِرْث مَنْ ذُكِرَ مَا ذُكِرَ {مِنْ بَعْد} تَنْفِيذ {وَصِيَّة يُوصِي} بِالْبِنَاءِ لِلْفَاعِلِ وَالْمَفْعُول {بِهَا أَوْ} قَضَاء {دَيْن} عَلَيْهِ وَتَقْدِيم الْوَصِيَّة عَلَى الدَّيْن وَإِنْ كَانَتْ مُؤَخَّرَة عَنْهُ فِي الْوَفَاء لِلِاهْتِمَامِ بِهَا {آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ} مُبْتَدَأ خَبَره {لَا تَدْرُونَ أَيّهمْ أَقْرَب لَكُمْ نَفْعًا} فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة فَظَانّ أَنَّ ابْنه أَنْفَع لَهُ فَيُعْطِيه الْمِيرَاث فَيَكُون الْأَب أَنْفَع وَبِالْعَكْسِ وَإِنَّمَا الْعَالِم بِذَلِك هُوَ اللَّه فَفَرَضَ لَكُمْ الْمِيرَاث {فَرِيضَة مِنْ اللَّه إنَّ اللَّه كَانَ عَلِيمًا} بِخَلْقِهِ {حَكِيمًا} فِيمَا دَبَّرَهُ لَهُمْ أَيْ لَمْ يَزَلْ مُتَّصِفًا بِذَلِكَ
📗[المحلي، جلال الدين، تفسير الجلالين، صفحة 100]


والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar