☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
_soal antrian ke 12_
Sa’il : @Ahmad Ade Mahfudzin
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Mohon pencerahan ipun Poro 'Alim
Dalam kondisi begini banyak hal yang harus diselesaikan, oleh para agamawan, karena memang hal2 ini yang dibutuhkan ketegasan hukum, untuk dikonsumsi masyarakat, yaitu :
1. Apakah benar orang yang terkena virus corona dan meninggal itu MATI SYAHID ?
2. Benarkah orang yang berada di rumah dalam kondisi begini, mendapatkan pahala seperti orang mati syahid, walaupun dia tidak meninggal ?
3. Benarkah orang yang meninggal karena corona itu masih menular ?
4. Lebih afdholan mana orang tarawih berjama'ah dengan sendirian (tarawih dirumah) dalam kondisi seperti ini?
5. Bagaimna hukumnya membatalkan puasa romadhon, karena tujuan meningkatkan imun?
6. Apakah berdosa bersu'udzon kepada yang lain, dengan cara mencuci tangan, ketika menerima barang dari orang lain, karena khawatir dia membawa corona.?
Ini sepertinya yang harus diselesaikan oleh para agamawan, dalam kondisi corona, otomatis dengan dalil dan ta'bir.
*-----------------------------*
*JAWABAN : ????*
👳🏻♀️ @AhmadFaqih-Malang :
1 & 2 benar mendapat pahala syahid.
3. Pada hakikatnya tidak Ada penyakit menular, hanya saja jika terjadi itu karena Qudroh & Irodah Allah.
4. Berjama'ah dirumah.
5. Tidak boleh.
6. Antara su'udz-zhon & Waspada antisipasi beda tipis, jika mencuci tangan karena su’udz-zhon jelas tidak baik, sedangkan cuci tangan dalam Rangka Waspada antisipasi diri tanpa berburuk sangka, itu dianjurkan
Ibarot untuk no 1 & 2
*من جلس في بيته في وقت وقوع الطاعون فله أجر الشهيد وإن لم يمت..*
*Barangsiapa yang tinggal di rumahnya ketika terjadi wabah, maka dia mendapatkan pahala syahid, walaupun tidak meninggal dunia.*
___
عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، *فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا* يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ ".
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya dia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wabah (tha'un), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku :
"Bahwasannya wabah (tha'un) itu adalah adzab yang Allah kirim, kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha'un) *dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah)* dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya, kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid".
📚إسناده صحيح على شرط البخاري • أخرجه البخاري (٣٤٧٤)، والنسائي في «السنن الكبرى» (٧٥٢٧)، وأحمد (٢٦١٣٩) واللفظ له.
Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3474), An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra (7527), Ahmad (26139) dan lafadz ini adalah lafadz riwayat Ahmad.
📗🖌قال ابن حجر رحمه الله : *"اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت ".*
📚[فتح الباري (194/10)]📚
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: konsekuensi manthuq (makna eksplisit) hadits ini adalah, orang yang memiliki sifat yang disebut pada hadits tersebut, akan mendapatkan pahala syahid, walaupun tidak meninggal dunia. (Fathul Bari: 10:194)
Ibarot no. 3
Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi :
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة
”Tidak ada ‘Adwa (penyakit menular), tidak Thiyaroh (merasa sial), tidak ada Haammah (burung hantu)". HR. Muslim
Ibarot no. 4
Dalam kondisi seperti ini, wabil Khusus yang berada di zona merah, maka mengikuti ijtihad ulama, agar tidak mengadakan perkumpulan, guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, termasuk perkumpulan di Masjid itu sudah tepat.
Ibarotnya bisa mengikuti ke Fatwa MUI & fatwa Ulama Al Azhar perihal peniadaan Jum'at di Masjid...
Kesimpulan :
Sholat Jum'at yang wajib saja diperbolehkan ditinggalkan ,dalam kondisi seperti ini, apalagi sholat tarawih yang sunnah, maka alangkah baiknya sholat tarawih dirumah dengan berjama'ah. Ini untuk zona merah, sedangkan untuk zona yang Aman tetap Jama'ah di Masjid Lebih utama.
*-------------------------------*
👳🏻♀️ @Handoyo_Tangerang :
kutipan dari beberapa BM
```Dari beberapa data yang Kami terima, Bahwa
Mengenahi Fatwa MUI, sebenar nya tidak Ada yang berbeda dengan Fatwa Yang lainya, seperti yang di terbitkan oleh PBNU Serta PWNU jatim, Kesimpulan dari kesemua nya adalah Sama.
👉 Yakni Yang Tidak boleh mengikuti Sholat Berjamaah dan jumat adalah orang yang Benar2 Positiv mempunyai / terkena penyakit menular seperti corona dan lain².
namun bukan berarti, Dia tidak wajib melakukan sholat, tetapi di ganti dengan sholat zhuhur di rumahnya.
👉 sama hal nya seperti yang di himbau oleh MUI untuk mengganti Sholat jumat, Dengan sholat dhuhur dirumah nya, yaitu untuk Daerah /Titik yang di mana Memang Masyarakat nya Rata2 positiv terdampak / terkena virus corona .
👉 Apabila daerah tersebut tidak terkena Virus sama sekali dan masyarakatnya masih sehat. maka Masih tetap wajib melakukan sholat Jum'at dan fardu kifayah untuk sholat Berjama'ah ...```
Rilisan. Per tanggal.
-----------
Dikutip Dari
Fatwa
- *MUI* . Jakarta 16 Maret 2020
- *PBNU. Jakarta* 19 Maret 2020
- *PWNU JATIM*. Surabaya 18 MARET 2020.
-----------
Berikut di antara sebagian kutipan nya.
--------
📚 I’aanah at-Tholibiin II/52 :
-----------
Dan serta sedikit Kami menambahkan Referensi, semoga Dapat Menambah wawasan dan pengetahuan Berikut di bawah ini.
*Refrensi :*
-----------
BERLINDUNG KE MASJID
✅ Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda :
Sesungguhnya apabila Allah ta'ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi, maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.
✅ Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda :
Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.
✅ Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).
✅ Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
Allah عز وجل berfirman : "Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan adzab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan adzab itu dari mereka.
✅ Riwayat al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman [2946].
Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :
Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.
✅ Riwayat al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: "Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)".
✅ Al-Imam al-Sya'bi, ulama salaf dari generasi tabi'in, رحمه الله تعالى berkata:
Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.
✅ Al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).
✅ *Beberapa riwayat di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, umat Islam dianjurkan semakin rajin ke masjid. Bukan meninggalkan masjid. Kecuali bagi orang yang terkena penyakit menular. Maka tidak boleh ke masjid.*
✅✅✅✅✅
*BAHTSUL MASAIL*
📚 *Fatwa Luar negri
Mouritania */NOUACKHOTT*
Oleh : Syeikh Ahmad al-Kury dari Mouritania
(dengan terjemahan bebas)
_Bolehkan kaum muslimin meninggalkan sholat Jum'at karena antisipasi virus Corona?_
أولا.
1. Kewajiban sholat berjamaah dan sholat Jum'at, tidak gugur dalam kondisi perang militer yang sangat mencekam.
Bagaimana mungkin kewajiban itu bisa gugur, hanya karena khehawatiran yang belum pasti.
2. Virus ini datang karena kemaksiatan hambanya.
Maka solusinya adalah taubat, sholat, istighfar....bukan sebaliknya malah meninggalkan sholat Jum'at dan sholat Berjama'ah.
3. Kita beriman kepada Qodho dan Qodar.
Oleh karena itu, keimanan itu tidak bisa dijadikan alasan, untuk meninggalkan perintah dan kewajiban sholat Jum'at dan sholat Berjama'ah.
👉 sama hal nya seperti yang di himbau oleh MUI untuk mengganti Sholat jumat, Dengan sholat dhuhur dirumah nya, yaitu untuk Daerah /Titik yang di mana Memang Masyarakat nya Rata2 positiv terdampak / terkena virus corona .
👉 Apabila daerah tersebut tidak terkena Virus sama sekali dan masyarakatnya masih sehat. maka Masih tetap wajib melakukan sholat Jum'at dan fardu kifayah untuk sholat Berjama'ah ...```
Rilisan. Per tanggal.
-----------
Dikutip Dari
Fatwa
- *MUI* . Jakarta 16 Maret 2020
- *PBNU. Jakarta* 19 Maret 2020
- *PWNU JATIM*. Surabaya 18 MARET 2020.
-----------
Berikut di antara sebagian kutipan nya.
--------
📚 *ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻱ ١/٢٢٠*
ﻓﻼ ﺗﺠﺐ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﻛﺎﻓﺮ ﺃﺻﻠﻲ ﻭ ﺻﺒﻲ ﻭ ﻣﺠﻨﻮﻥ ﻭ ﺭﻗﻴﻖ ﻭ ﺃﻧﺜﻲ *ﻭ ﻣﺮﻳﺾ* ﻭ ﻧﺤﻮﻩ.
ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻣﺮﻳﺾ ﻭ ﻧﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻌﺬﻭﺭ ﺑﻤﺮﺧﺺ ﻓﻲ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻣﻤﺎ ﻳﺘﺼﻮﺭ ﻫﻨﺎ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺘﺼﻮﺭ ﻫﻨﺎ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﺩﺓ ﻟﻴﻼ ﻭ ﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺘﺼﻮﺭ ﻫﻨﺎ ﻓﻜﺎﻟﺤﺮ - ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ - ﻭﺍﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻮﻡ ﻣﻦ ﻣﺎﻝ ﺃﻭ ﻋﺮﺽ ﺃﻭ ﺑﺪﻥ ﻭﻟﻮ ﻟﻐﻴﺮﻩ.
-------📚 I’aanah at-Tholibiin II/52 :
*فصل في أعذار الجمعة والجماعة أعذار الجمعة والجماعة* المطر إن بل ثوبه ولم يجد كنا والمرض الذي يشق كمشقته وتمريض من لا متعهد له وإشراف القريب على الموت أو يأنس به ومثله الزوجة والصهر والمملوك والصديق والأستاذ والمعتق والعتيق ومن الأعذار الخوف على نفسه أو عرضه أو ماله وملازمة غريمه وهو معسر ورجاء عفو عقوبة عليه ومدافعة الحدث مع سعة الوقت وفقد لبس لائق وغلبة النوم وشدة الريح بالليل وشدة الجوع والعطش والبرد والوحل والحر ظهرا وسفر الرفقة وأكل منتن نيء إن لم يمكنه إزالته وتقطير سقوف الأسواق والزلزلة
---------📚 *ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ - ﺝ ٢ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٥٩ :*
ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺧﻮﻑ ﻇﺎﻟﻢ ﺑﺎﻟﺮﻓﻊ، ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻣﻄﺮ ﺃﻳﻀﺎ، ﺃﻱ ﻭﻋﺬﺭ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺧﻮﻑ ﻇﺎﻟﻢ، ﺃﻱ ﺧﻮﻑ ﻣﻨﻪ. ﻓﺎﻹﺿﺎﻓﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﻣﻦ، ﻭﺫﻛﺮ ﻇﺎﻟﻢ ﻣﺜﺎﻝ، ﻻ ﻗﻴﺪ، ﺇﺫ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺧﺒﺰﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻨﻮﺭ، ﻭﻃﺒﻴﺨﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ، ﻭﻻ ﻣﺘﻌﻬﺪ ﻳﺨﻠﻔﻪ ﻋﺬﺭ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺰﺭﻛﺸﻲ: ﻫﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ، ﻭﺇﻻ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﻌﺬﺭ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻮﻡ. ﺧﺮﺝ ﺑﻪ ﺍﻟﺤﺮﺑﻲ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺗﺪﻱ، ﻭﺍﻟﺰﺍﻧﻲ ﺍﻟﻤﺤﺼﻦ، ﻭﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ، ﻓﺎﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻟﻴﺲ ﻋﺬﺭﺍ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻣﻦ ﻋﺮﺽ. ﺑﻴﺎﻥ ﻟﻠﻤﻌﺼﻮﻡ، ﻭﻫﻮ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﻌﻴﻦ، ﻣﺤﻞ ﺍﻟﻤﺪﺡ ﻭﺍﻟﺬﻡ، *ﻭﻳﺼﻮﺭ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻇﺎﻟﻢ، ﺑﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺬﻓﻪ ﻟﻮ ﺧﺮﺝ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ.*
-----------
Dan serta sedikit Kami menambahkan Referensi, semoga Dapat Menambah wawasan dan pengetahuan Berikut di bawah ini.
*Refrensi :*
-----------
BERLINDUNG KE MASJID
✅ Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.
Sesungguhnya apabila Allah ta'ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi, maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.
✅ Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda :
إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ
Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.
✅ Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).
✅ Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: " إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ "
Allah عز وجل berfirman : "Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan adzab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan adzab itu dari mereka.
✅ Riwayat al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman [2946].
Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :
"إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ"
Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.
✅ Riwayat al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: "Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)".
✅ Al-Imam al-Sya'bi, ulama salaf dari generasi tabi'in, رحمه الله تعالى berkata:
"كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ "
Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.
✅ Al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).
✅ *Beberapa riwayat di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, umat Islam dianjurkan semakin rajin ke masjid. Bukan meninggalkan masjid. Kecuali bagi orang yang terkena penyakit menular. Maka tidak boleh ke masjid.*
✅✅✅✅✅
*BAHTSUL MASAIL*
📚 *Fatwa Luar negri
Mouritania */NOUACKHOTT*
كتب الشيخ: أحمد الكوري:
الموريتانى
(dengan terjemahan bebas)
هل يجوز للمسلمين الأصحاء ترك الجمعة والجماعة خوفا من المرض (كورونا) ؟!
_Bolehkan kaum muslimin meninggalkan sholat Jum'at karena antisipasi virus Corona?_
أولا.
في الخوف من العدو المحقق عند القتال في سبيل الله لم تسقط الجماعة فكيف تسقط بسبب الخوف المتوهم من المرض ؟!
《وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة فلتقم طائفة منهم معك...》الآية.
1. Kewajiban sholat berjamaah dan sholat Jum'at, tidak gugur dalam kondisi perang militer yang sangat mencekam.
Bagaimana mungkin kewajiban itu bisa gugur, hanya karena khehawatiran yang belum pasti.
ثانيا .
هذه الأوبئة والأمراض سببها الحقيقي هو الذنوب والمعاصي. قال تعالى: 《وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم》.
وقال:《ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون》.
ألم يبين تعالى أن العلاج إنما هو في الرجوع إلى الله بالتوبة والاستغفار والصلاة والتلاوة والدعاء ... وليس في ترك بعض ما أوجب علينا من جمعة وجماعة ؟!!
2. Virus ini datang karena kemaksiatan hambanya.
Maka solusinya adalah taubat, sholat, istighfar....bukan sebaliknya malah meninggalkan sholat Jum'at dan sholat Berjama'ah.
ثالثا.
قول الله تعالى: 《ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرأها》. وقال: 《قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا》.
وقال:《قل لو كنتم في بيوتكم لبرز الذي كتب عليهم القتل إلى مضاجعهم》.
وقال صلى الله عليه وسلم((واعلم أن الأمة لواجمعت على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك)) رواه أحمد والترمذي وقال حسن صحيح .
فإيماننا بالقضاء والقدر وتوكلنا على الله جل وعلا ألا يمنعنا من ترك ما أوجب علينا من صلاة الجمعة والجماعة خوفا من المرض وغيره ؟!!!
3. Kita beriman kepada Qodho dan Qodar.
Oleh karena itu, keimanan itu tidak bisa dijadikan alasan, untuk meninggalkan perintah dan kewajiban sholat Jum'at dan sholat Berjama'ah.
رابعا.
ألم يتحدث صلى الله عليه وسلم عن كيفية التعامل مع الطاعون وأنه لا يجوز دخول الأرض التي فيها الطاعون ولا الخروج من الأرض التي فيها .. فهل ذكر فيه ترك صلاة الجماعة؟!!
4. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk meninggalkan sholat Jum'at dan sholat jamaah, akibat wabah virus yang melanda sebuah negeri.
خامسا.
وقع الطاعون في عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه وتشاور في أمره مع المهاجرين ثم الأنصار ثم مسلمة الفتح ..
فهل عطلوا بسببه جمعة أو جماعة ؟!!
5. Umar bin Khattab tidak pernah mengambil kebijakan, untuk meniadakan sholat Jum'at dan sholat jama'ah, saat wabah virus melanda damaskus di masa kekhilafahannya.
سادسا.
يقول الله سبحانه وتعالى (واستعينوا بالصبر والصلاة) فهل الإستعانة هنا بإقامة الصلاة في المسجد كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يؤديها أم بترك الجمع والجماعات ؟!!
6. Dalam menghadapi sebuah musibah, Allah Subhanahu wa ta'ala, memberi petunjuk untuk bersabar dan perbanyak sholat...., bukan sebaliknya... meninggalkan sholat jama'ah.
سابعا.
يقول صلى الله عليه وسلم 《من صلى الصبح في جماعة فهو في ذمة الله ..》 ألا يكفينا أننا في ذمة الله ؟! 《أليس الله بكاف عبده》؟!!
7. Orang yang sholat Subuh berjamaah, akan mendapat perlindungan Allah Subhanahu wa ta'ala....(hadits)
Apakah kita tidak lagi percaya dengan jaminan Rasulullah ﷺ ?
ثامنا.
إذا كان صلى الله عليه وسلم لم يأذن للأعمى في التخلف عن الجماعة مع قوله بأنه لا قائد له وأن المدينة كثيرة الهوام والسباع ... كيف يؤذن للصحيح في التخلف عنها لمجرد خوف المرض ؟!!
8. Rasulullah tidak mengizinkan bagi orang buta untuk meninggalkan sholat berjamaah...padahal resiko bahaya sangat tinggi.
Bagaimana mungkin sholat berjamaah bisa ditinggalkan dengan resiko yang masih belum pasti.
تاسعا.
لقد كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر بادر إلى الصلاة .. فهل إذا حزبنا فيروس الكورونا نترك صلاة الجمعة والجماعة ؟!!
9. Teladan Nabi dalam menghadapi musibah, adalah justru dengan memperbanyak melaksanakan sholat..
عاشرا.
لقد كان في كل مدينة إسلامية جامع واحد يصلي فيه الجميع .. وقد كان يصيب المسلمين الوباء والطاعون من حين لآخر ..
فهل أفتى أحد من علماء المسلمين عبر التاريخ بغلق المساجد بسبب وباء أو طاعون ؟!
( بويا.أ.إ )
10. Dahulu di kota Madinah hanya ada satu masjid yaitu masjid Nabawi. Wabah penyakit pun sering muncul. Namun tidak pernah muncul fatwa, untuk meninggalkan sholat Jum'at dan sholat Berjama'ah.
*---------------------------*
*Takror Senin 31 Maret 2020*
Seiring dengan meningkatnya wabah virus corona di Indonesia terutama di daerah Ibukota Wapres KH. Makruf Amin, memberi himbauan kepada MUI, agar mengeluarkan fatwa bahwa Dokter yang menangani pasien positif Corona, boleh melaksanakan sholat dengan tanpa bersuci, baik wudlu atau tayammum, mengingat para tenaga medis memakai APD (alat pelindung diri) selama berjam jam. Pertanyaan?
a. Bagaimanakah hukum Sholat dengan tanpa bersuci dengan pertimbangan diatas ?
b. Apa solusinya jika tidak boleh ?
Jawab :
1. Sholat Harus Tetap dilaksanakan Sesuai Waktunya, meskipun dalam Keadaan Tidak Suci Dan Semampunya, untuk Menghormati Waktu Sholat (Lihurmatil Wakti). Sholat Tersebut Hukumnya Sah. Dan Dalam Masalah Apakah masih Harus mengqlodo'inya ada 2 Pendapat :
a. Tetap harus mengulang/ mengqlodo’i sholat tersebut.
b. Tidak perlu diulang atau diqodho’. Ini sesuai dengan kitab karangan Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab juz II, halaman 303 sampai 304. Dan ini dianggap lebih kuat dalilnya. Hal ini disampaikan oleh Muhyiddin Syarf an-Nawawi dalam kitabnya Syarhu Shahihil Muslim bin al-Hajjaj Juz III halaman 103. Juga Senada dengan Fatwa MUI nomer 17 Tahun 2020 Point 8.
📚 *بدر الدين ابن قاضي شُهْبَة، بداية المحتاج في شرح المنهاج، ١٨٤/١]*
(ومن لم يجد ماءً ولا ترابًا .. لزمه في الجديد أن يصليَ الفرضَ) لحرمة الوقت؛ كالعاجز عن السترة، وإزالة النجاسة.(ويعيدَ) إذا قدر على ما يُسقط الفرضَ؛ من ماء أو تراب؛ لأنه عذرٌ نادرٌ لا يدوم، ولا عبرة بوجود التراب بموضعٍ لا يَسقط القضاءُ به، ومقابل الجديد أقوالٌ: أحدها: تجب الصلاة بلا إعادة، والثاني: لا يجب فعلها في الوقت، وإنما يستحب، وتجب الإعادةُ، والثالث: يستحب الفعل بلا إعادة.
📚 *فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب المعروف بحاشية الجمل*
: فَيُصَلِّي عَلَى حَالِهِ وَيُعِيدُ وُجُوبًا) ظَاهِرُهُ وَلَوْ كَانَ الْوَقْتُ مُتَّسِعًا وَقِيَاسُ مَا تَقَدَّمَ فِي فَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ وَنَحْوِهِ أَنَّهُ إنْ رَجَا زَوَالَ الْعُذْرِ لَا يُصَلِّي إلَّا إذَا ضَاقَ الْوَقْتُ، وَإِنْ لَمْ يَرْجُ زَوَالَهُ صَلَّى فِي أَوَّلِهِ ثُمَّ إنْ زَالَ بَعْدُ عَلَى خِلَافِ ظَنِّهِ وَجَبَتْ الْإِعَادَةُ فِي الْوَقْتِ، وَإِنْ اسْتَمَرَّ الْعُذْرُ حَتَّى فَاتَ الْوَقْتُ كَانَتْ فَائِتَةً بِعُذْرٍ فَيُنْدَبُ قَضَاؤُهَا فَوْرًا وَيَجُوزُ التَّأْخِيرُ بِشَرْطِ أَنْ يَفْعَلَهَا قَبْلَ مَوْتِهِ كَسَائِرِ الْفَوَائِتِ اهـ ع ش عَلَى م ر
📚 *الموسوعة 14/273*
حكم فاقد الطهورين : 41 - فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء
📚 *[النووي، المجموع شرح المهذب، ٣٣٨/٢]*
وَنَقَلَ امام الحرمين الغزالي أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ كُلُّ صَلَاةٍ تَفْتَقِرُ إلَى الْقَضَاءِ لَا يَجِبُ فِعْلُهَا فِي الْوَقْتِ وَأَنَّ الْمُزَنِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ كُلُّ صَلَاةٍ وَجَبَتْ فِي الْوَقْتِ وَإِنْ كَانَتْ مَعَ خَلَلٍ لَمْ يَجِبْ قَضَاؤُهَا قَالَا وَهُمَا قَوْلَانِ مَنْقُولَانِ عَنْ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الْمُزَنِيّ هُوَ الْمُخْتَارُ لِأَنَّهُ أَدَّى وَظِيفَةَ الْوَقْتِ وَإِنَّمَا يَجِبُ الْقَضَاءُ بِأَمْرٍ جديد ولم يثبت فيه شئ بَلْ ثَبَتَ خِلَافُهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
📚 *شرح النووي على مسلم - (ج 1 / ص 371)*
أَمَّا الْمَعْذُور كَمَنْ لَمْ يَجِد مَاء وَلَا تُرَابًا فَفِيهِ أَرْبَعَة أَقْوَال لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى وَهِيَ مَذَاهِب لِلْعُلَمَاءِ قَالَ بِكُلِّ وَاحِد مِنْهَا قَائِلُونَ أَصَحّهَا عِنْد أَصْحَابنَا : يَجِب عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّي عَلَى حَاله ، وَيَجِب أَنْ يُعِيد إِذَا تَمَكَّنَ مِنْ الطَّهَارَة ، وَالثَّانِي : يَحْرُم عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّي وَيَجِب الْقَضَاء ، وَالثَّالِث يُسْتَحَبّ أَنْ يُصَلِّي وَيَجِب الْقَضَاء ، وَالرَّابِع : يَجِب أَنْ يُصَلِّي وَلَا يَجِب الْقَضَاء ، وَهَذَا الْقَوْل اِخْتِيَار الْمُزَنِيِّ وَهُوَ أَقْوَى الْأَقْوَال دَلِيلًا ، فَأَمَّا وُجُوب الصَّلَاة فَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اِسْتَطَعْتُمْ ، وَأَمَّا الْإِعَادَة فَإِنَّمَا تَجِب بِأَمْرِ مُجَدَّد وَالْأَصْل عَدَمه . وَكَذَا يَقُول الْمُزَنِيُّ : كُلّ صَلَاة أُمِرَ بِفِعْلِهَا فِي الْوَقْت عَلَى نَوْع مِنْ الْخَلَل لَا يَجِب قَضَاؤُهَا
. وَاَللَّه أَعْلَم .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar