Selasa, 13 Oktober 2020

TAHAPAN CARA UNTUK BERTAUBAT DARI RIBA

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 171
👳🏻‍♂️ Nama : Ali al-Maliki
Alamat : Sukabumi Jawa Barat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Marak nya mu'amalat di desa, memakai jasa bank dengan meminjam uang dan harus di bayar dengan bunga, contoh minjam uang 100 Juta dan bunga nya 10%, Dan itu termasuk mu'amalah riba tepat nya :

ربا قرض 
Sedangkan kita mitsal nya sebagai tokoh agama, Selalu di tuntut untuk amar ma'ruf nahi munkar, Tapi tidak cukup menjelaskan harom nya riba, bahwasanya riba adalah dosa besar dan lain². Yang di jelaskan dalam Al-Qur'an maupun hadits, Dan harus bertaubat dengan syarat² nya saja, Yaitu :
-الإقلاع 
-الندم 
-العزم الا يعود

Tapi Bagaimana kah tahapan masyarakat, untuk berhenti dari riba, seperti bank dan lain².
Mereka sudah terlanjur minjam uang, dan tidak bisa di batalkan di pertengahan begitu saja, kecuali di lunasi semuanya, Sedangkan di dalam salah satu syarat taubat adalah :
Mencabut (الاقلاع)

🌴 PERTANYAAN :

1.) Bagaimana tahapan cara untuk bertaubat dari riba قرض ini ⁉️

Apakah dia harus melunasi sambil berjalan Atau tidak ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tahapan cara untuk bertaubat dari riba, adalah harus memenuhi tiga hal yaitu :
(1) Menyesal
(2) Berhenti dari dosa yang sedang di lakukan, dan
(3) Bertekad untuk tidak mengulangi nya.
Ketika tidak dapat berhenti seketika, dari dosa riba yang sedang di lakukan, karena tidak dapat melakukan nya sebagaimana dalam deskripsi, maka tetap sah dan di anggap bertaubat, dengan catatan dia punya niat yang kuat lepas dari riba, ketika hutang nya sudah lunas.

💧 R E F E R E N S I :

[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٤ ص ١٢٠]📗
ذَكَرَ أَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ وَالْمُفَسِّرِينَ أَنَّ لِلتَّوْبَةِ أَرْبَعَةَ شُرُوطٍ: الإِْقْلاَعَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ حَالاً، وَالنَّدَمَ عَلَى فِعْلِهَا فِي الْمَاضِي، وَالْعَزْمَ عَزْمًا جَازِمًا أَنْ لاَ يَعُودَ إِلَى مِثْلِهَا أَبَدًا. وَإِنْ كَانَتِ الْمَعْصِيَةُ تَتَعَلَّقُ بِحَقِّ آدَمِيٍّ، فَيُشْتَرَطُ فِيهَا رَدُّ الْمَظَالِمِ إِلَى أَهْلِهَا أَوْ تَحْصِيل الْبَرَاءَةِ مِنْهُمْ ----إلى ان قال---- وَعَلَى جَمِيعِ الاِعْتِبَارَاتِ لاَ بُدَّ مِنَ التَّنْبِيهِ عَلَى أَنَّ الإِْقْلاَعَ عَنِ الذَّنْبِ لاَ يَتِمُّ إِلاَّ بِرَدِّ الْحُقُوقِ إِلَى أَهْلِهَا، أَوْ بِاسْتِحْلاَلِهِمْ مِنْهَا فِي حَالَةِ الْقُدْرَةِ، وَهَذَا كَمَا يَلْزَمُ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ يَلْزَمُ كَذَلِكَ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، كَدَفْعِ الزَّكَوَاتِ، وَالْكَفَّارَاتِ إِلَى مُسْتَحِقِّيهَا

[Al-mausu'ah al-fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 14, hal 120]
“Kebanyakan fuqoha dan ahli tafsir menyebutkan bahwa taubat memiliki 4 syarat : berhenti dari ma'shiat saat itu juga, menyesal atas perbuatan ma'shiat nya di masa lalu, bertekad dengan tekad yang sungguh-sungguh untuk tidak kembali melakukan seperti itu lagi selamanya. Dan apabila ma'shiat berhubungan dengan haq adami/manusia, maka disyaratkan padanya untuk mengembalikan benda yang di zhalimi kepada pemiliknya atau mendapatkan pengampunan/pembebasan dari mereka -- sampai dengan perkataan -- dan tidak boleh tidak atas semua perumpamaan-perumpamaan itu, agar menjadi peringatan bahwa menghilangkan dosa tidak sempurna, kecuali dengan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya, atau minta dihalalkan oleh mereka atas hak-hak tersebut bila memungkinkan. Dan ini sebagaimana yang seharusnya dalam hak-hak hamba, harus begitu juga pada hak-hak Allah ta'ala, seperti membayar zakat dan kaffarat kepada mustahiqnya”.


وَرَدُّ الْحُقُوقِ يَكُونُ حَسَبَ إِمْكَانِهِ، فَإِنْ كَانَ الْمَسْرُوقُ أَوِ الْمَغْصُوبُ مَوْجُودًا رَدَّهُ بِعَيْنِهِ، وَإِلاَّ يَرُدُّ الْمِثْل إِنْ كَانَا مِثْلِيَّيْنِ وَالْقِيمَةَ إِنْ كَانَا قِيَمِيَّيْنِ، وَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ نَوَى رَدَّهُ مَتَى قَدَرَ عَلَيْهِ، وَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى الْفُقَرَاءِ بِنِيَّةِ الضَّمَانِ لَهُ إِنْ وَجَدَهُ. فَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ فِيهَا حَقٌّ، فَإِنْ كَانَ حَقًّا لآِدَمِيٍّ كَالْقِصَاصِ اشْتَرَطَ فِي التَّوْبَةِ التَّمْكِينَ مِنْ نَفْسِهِ وَبَذْلَهَا لِلْمُسْتَحِقِّ، وَإِنْ كَانَ حَقًّا لِلَّهِ تَعَالَى كَحَدِّ الزِّنَى وَشُرْبِ الْخَمْرِ فَتَوْبَتُهُ بِالنَّدَمِ وَالْعَزْمِ عَلَى عَدَمِ الْعَوْدِ، وَسَيَأْتِي تَفْصِيلُهُ فِي آثَارِ التَّوْبَةِ

“Dan mengembalikan hak-hak itu adanya sesuai dengan kemungkinannya. Jika barang curian atau barang hasil ghashabnya masih ada bendanya, maka harus dikembalikan obyek bendanya, dan jika tidak dikembalikan  yang seperti benda itu apabila keduanya serupa. Dan sama nilainya jika nilainya ada dua. Dan jika tidak mampu untuk itu, maka harus berniat mengembalikan ketika ia mampu melakukannya. Dan mensedekahkannya kepada para faqir dengan niat sebagai jaminan baginya bila ia menemukannya. Dan bila ada wajib baginya, maka didalamnya terdapat hak. Jika itu adalah hak bagi anak adam seperti qishash, maka disyaratkan untuk bertaubat yang memungkinkan bagi dirinya, dan memberikannya kepada yang berhak. Jika itu adalah hak Allah ta'ala seperti had zina dan minum khomr, maka taubatnya dengan menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi. Dan akan datang perinciannya pada fasal dampak-dampak dari taubat”.


[إسعاد الرفيق، ج ٢ ص ١٤٣]📗
الضرب الثاني التوبة مما يتعلق به حق آدميّ سواء كان مظلمة في نحو مال (أو تبعة لآدميّ) من غير ذلك فيشترط في صحتها منه مع ما مرّ إسقاط ذلك الحقّ فإن كان مالا (قضاه) أي ردّه إن بقي وإلاّ فبدله لمالكه أو نائبه أو لوارثه بعد موته. فإن لم يكن له وارث أو انقطع خبره دفعه للإمام ليجعله في بيت المال أو إلى الحاكم المأذون له في التصرّف في مال المصالح. فإن تعذّر قال العبادي والغزالي تصدّق به عنه بنية الغرم، وألحق الرّافعي بالصدقة سائر الوجوه المصالح، فإن لم يوجد قاض بشرطه صرفه الأمين بنفسه في مال المصالح. قال في الزواجر ولو أعسر من عليه الحقّ نوى الغرم اذا قدر، وقال القاضي ويستغفر الله أيضا فإن مات قبل القدرة فالمرجو من فضل الله تعالى المغفرة، إلخ

[Is'adur rafiq, juz 2, hal 143]
“Bagian yang kedua adalah bertaubat dari apa-apa yang berhubungan dengannya hak anak adam. Baik berbuat zhalim pada seumpama harta ( atau tanggung jawab kepada anak adam) yang lainnya, maka disyaratkan untuk keabsahannya darinya, untuk mengiringkan bersamanya apa yang menyebabkan hak tersebut hilang, maka jika itu adalah harta (ia harus menuntaskannya) maksudnya adalah mengembalikannya, jika masih tersisa dan jika tidak, maka ia harus menggantinya kepada pemiliknya atau wakilnya atau ahli warisnya setelah ia meninggal. Apabila ia tidak memilki ahli waris atau tidak ada kabar beritanya, maka ia membayarkan kepada imam, untuk menaruhnya di baitul mal atau kepada hakim yang dipanggil untuk mengelola harta tersebut untuk kemashlahatan. Apabila ia tidak sanggup, berkata imam ubbadi dan imam ghazaly, agar ia bersedekah dengan harta itu darinya, dengan niat sebagai denda. Dan hak, menurut imam arrafi'i , dijadikan shadaqah adalah seluruh bagian mashlahat, apabila tidak ditemukan seorang qhadi, dengan syaratnya yang dirinya bisa dipercaya untuk mengelolanya sebagai harta untuk kemashlahatan. Berkata imam arrafi'i dalam kitab azzawajir, apabila menyulitkan bagi orang yang dibebani hak itu, maka ia berniat sebagai denda jika dia mampu. Berkata al-qadhi husain, bahwa ia harus meminta ampun kepada Allah juga, jika ia mati sebelum mampu melaksanakannya, maka diharapkan pengampunan dari belas kasih Allah. Dan seterusnya hingga akhir”.


[فتح المعين بشرح قرة العين، ص ٦٥٣]📗
فإذا تعذر رد الظلامة على المالك أو وارثه سلمها لقاض ثقة فإن تعذر صرفها فيما شاء من المصالح عند انقطاع خبره بنية الغرم له إذا وجده فإن أعسر عزم على الأداء إذا أيسر فإن مات قبله انقطع الطلب عنه في الآخرة إن لم يعص بالتزامه فالمرجو من فضل الله الواسع تعويض المستحق

[Fathul mu'in bisyarhi qurratil ayn, hal. 653]
“Apabila tidak mampu mengembalikan harta yang didapat dengan zhalim kepada pemilik atau ahli warisnya, maka ia mengembalikan kepada qadhi yang terpercaya. Jika tidak mampu mengelolanya, menjadi sesuatu kemashlahatan yang dikehendaki, karena terputusnya berita pemilik dengan niat berhutang padanya jika menemukannya. Jika sulit, maka ia bertekad untuk membayarkan ketika mudah. Jika ia mati sebelumnya, maka putuslah tuntutan daripadanya di akhirat, selama tidak mendurhakai pelaksanaannya. Maka diharapkan dari kemurahan Allah yang luas, untuk menggantikan kepada orang yang berhak”.


[صفوة الزبد ابن رسلان، خاتمة فى علم التصوف]📗

#ﻭﺇﻥ ﺗﻌﻠﻘﺖ ﺑﺤﻖ ﺁﺩﻣﻰ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺗﺒﺮﺋﺔ ﻟﻠﺬﻣﻢ

“1054. Dan jika kema'shiatan itu berkaitan dengan haq sesama manusia, maka haruslah ia membebaskan dirinya dari tanggungannya”.

#ﻭﻭاﺟﺐ ﺇﻋﻼﻣﻪ ﺇﻥ ﺟﻬﻼ ... ﻓﺎﻥ ﻳﻐﺐ ﻓﺎﺑﻌﺚ ﺇﻟﻴﻪ ﻋﺠﻼ

“1055. Dan wajib baginya untuk memberitahukan orang yang mempunyai haq tersebut jika ia lupa. Dan jika ia tidak ada di tempat, maka kirimkan lah kepadanya”.

#ﻓﺈﻥ ﻳﻤﺖ ﻓﻬﻲ ﻟﻮاﺭﺙ ﻳﺮﻯ ... ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﺄﻋﻄﻬﺎ ﻟﻠﻔﻘﺮا

“1056. Jika pemilik haq telah mati, maka haq tersebut berpindah kepada ahli warisnya yang diketahui. Dan jika tidak ada, maka berikan haq tersebut kepada para faqir”.

#ﻣﻊ ﻧﻴﺔ اﻟﻐﺮﻡ ﻟﻪ ﺇﺫا ﺣﻀﺮ ... ﻭﻣﻌﺴﺮ ﻳﻨﻮﻯ اﻷﺩا ﺇﺫا ﻗﺪﺭ

“1057. Bersama dengan niat mengganti haq tersebut jika ia datang (menuntut), sedangkan ia seorang yang tidak mampu, maka ia harus niat untuk melunasinya jika ia mampu”.

#ﻓﺈﻥ ﻳﻤﺖ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻬﺎ ﺗﺮﺟﻰ ﻟﻪ ... ﻣﻐﻔﺮﺓ اﻟﻠﻪ ﺑﺄﻥ ﺗﻨﺎﻟﻪ

“1058. Namun jika ia mati sebelum melunasi, maka diharapkan baginya mendapatkan ampunan Allah bisa menjamahnya”.

#ﻭﺇﻥ ﺗﺼﺢ ﺗﻮﺑﺔ ﻭاﻧﺘﻘﻀﺖ ... ﺑﺎﻟﻌﻮﺩ ﻻ ﻳﻀﺮ ﺻﺤﺔ ﻣﻀﺖ

“1059. Dan jika sebuah taubat sudah sah, lalu batal dengan kembalinya orang itu melakukan kema'shiatan lagi, maka hal itu tidak berpengaruh pada sah nya taubat yang terdahulu”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Apakah kalau melunasi sambil berjalan tersebut belum terpenuhi syarat taubat nya atau إقلاع nya, dan apa dia terus-menerus berada di dalam dosa, sedangkan dia tidak bisa berhenti, kecuali dia harus melunasinya ⁉️

أفيدونا الجواب والعفو منكم.

🍏 JAWABAN :

Melunasi sambil berjalan dengan cara menyicil, merupakan bentuk dari إقلاع (melepaskan diri dari dosa), atas uang yang telah di pakai, karena tidak ada cara lain untuk lepas dari hutang, kecuali dengan membayar. Dengan demikian, إقلاع yang menjadi rukun taubat sudah terpenuhi.

💧 R E F E R E N S I :

[الغرر البهية، ج ٢ ص ٣٩٠]📗
(وَبِقَبُولٍ) أَيْ: إنَّمَا يَنْعَقِدُ الْبَيْعُ بِإِيجَابٍ وَقَبُولٍ، وَلَوْ هَزْلًا، فَلَا يَكْفِي الْمُنَابَذَةُ، وَالْمُلَامَسَةُ وَنَحْوُهُمَا كَمَا سَيَأْتِي، وَلَا الْمُعَاطَاةُ، وَلَوْ فِي الْمُحَقَّرَاتِ كَرِطْلِ خُبْزٍ *فَيُرَدُّ كُلُّ مَا أُخِذَ بِهَا إنْ بَقِيَ وَبَدَلُهُ إنْ تَلِفَ كَالْمَقْبُوضِ بِعَقْدٍ فَاسِدٍ؛ إذْ الْفِعْلُ لَا يَدُلُّ بِوَضْعِهِ*

[Al-ghururu al-bahiyyah, juz 2, hal 390]
“(dan Di terima) ya'ni : sesungguhnya terjadi aqad jual beli dengan ijab dan qabul, walaupun bercanda, maka tidak cukup ditinggalkan saja, menghubungi atas semisal keduanya sebagaimana yang akan datang. Dan tidak juga  bonus. Dan jika dalam mengurangi literan/kadar roti, maka ia harus mengembalikan semua yang diambilnya, jika tersisa atau menggantinya, jika sudah tidak ada, seperti yang didapat dari aqad yang fasid, maka pekerjaannya tidak menunjukkan kejadiannya”.


(قَوْلُهُ: وَبَدَلَهُ إنْ تَلِفَ) ظَاهِرُهُ وُجُوبُ رَدِّ الْبَدَلِ، وَإِنْ لَمْ يَطْلُبْهُ الْمَالِكُ وَيُوَجَّهُ بِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ التَّوْبَةِ الْوَاجِبَةِ لِلْخُرُوجِ مِنْ مَعْصِيَةِ هَذَا الْعَقْدِ الْفَاسِدِ *نَعَمْ إنْ عَلِمَ، أَوْ ظَنَّ رِضَاهُ بِتَأْخِيرِ رَدِّ الْبَدَلِ فَيُتَّجَهُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ الرَّدُّ إلَّا بَعْدَ الْمُطَالَبَةِ وَيُتَّجَهُ أَنْ لَا تَتَوَقَّفَ التَّوْبَةُ عَلَيْهِ حِينَئِذٍ فَلْيُتَأَمَّلْ،* وَكَذَا لَوْ كَانَ الْأَصْلُ بَاقِيًا وَعَلِمَ، أَوْ ظَنَّ رِضَاهُ بِبَقَائِهِ فَالْمُتَّجَهُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ الرَّدُّ إلَّا بَعْدَ الطَّلَبِ وَأَنْ لَا تَتَوَقَّفَ التَّوْبَةُ عَلَيْهِ حِينَئِذٍ وَيَنْبَغِي حَيْثُ عَلِمَ، أَوْ ظَنَّ الرِّضَا بِبَقَائِهِ، أَوْ بِبَقَاءِ بَدَلِهِ تَحْتَ يَدِهِ أَنْ لَا يَكُونَ عَاصِيًا بِبَقَائِهِ تَحْتَ يَدِهِ فَلَوْ شَكَّ فِي رِضَاهُ بِبَقَائِهِ تَحْتَ يَدِهِ فَهَلْ تَجِبُ الْمُبَادَرَةُ إلَى الرَّدِّ وَإِنْ لَمْ يَطْلُبْ، أَوْ لَا تَجِبُ إلَّا بَعْدَ الطَّلَبِ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ رِضَاهُ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ التَّسْلِيمُ؟ فِيهِ نَظَرٌ

“(Perkataan nya : dan menggantinya jika tidak ada) zhahirnya adalah kewajiban mengembalikan pengganti. Dan jika tidak meminta kepadanya pemiliknya, ia menganggap bahwasanya itu adalah bagian dari pertaubatan yang wajib untuk keluar dari ma'shiat dalam aqad yang fasid. Ya, jika ia tahu atau menganggap keridha’an nya, dengan mengakhirkan pengembalian pengganti, maka ia beranggapan bahwasanya ia tidak wajib mengembalikan, kecuali bila diminta dan beranggapan taubatnya tidak terhenti atasnya seketika itu, maka ia harus memperhatikan hal tersebut. Dan begitu juga jika yang asalnya masih tersisa dan ia mengetahui, atau menganggap ridha dengan sisa tersebut, maka dianggap bahwa ia tidak wajib mengembalikan, kecuali setelah diminta dan tidak terhenti taubatnya atasnya seketika itu dan diharuskan karena mengetahui, atau menganggap ridha untuk sisanya, atau sisa penggantinya dibawah tangannya, agar tidak berma'shiat, karena sisanya yang ada dibawah tangannya, maka jika ragu pada keridha’an nya dengan yang tersisa di bawah tangannya, apakah wajib untuk bersegera mengembalikan, meskipun tidak diminta atau tidak wajib kecuali ada permintaan; karena yang asal adalah sisa yang diridhai, yang menunjukkan atas penerimaan/kerelaan ? Didalamnya terdapat beberapa pendapat”.


[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٧ ص ٥٥٤١]📗
فالتوبة ذات أركان ثلاثة : الإقلاع، والندم، والعزم، فإن فقدت أحد هذه الأركان الثلاثة لم تصح التوبة. *إلا أن من عجز عن العزم والإقلاع* كتوبة الأعمى عن النظر إلى المحرم، وتوبة المجبوب عن الزنا، *فتوبته مجرد الندم،* لأن (الميسور لا يسقط بالمعسور): أي لا يسقط المقدور عليه بالمعجوز عنه، كما لا يسقط ما قدر عليه من أركان الصلاة مثلاً بما عجز عنه، عملاً بقوله ﷺ : «إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم» أي إذا أمرتكم بمأمور تأتوا من ذلك المأمور ما استطعتموه أو ما قدرتم عليه

[Al-fiqhu al-islamy wa adillatuhu, juz 7, hal 5541]
“Maka taubat itu memiliki 3 rukun : berhenti, menyesal dan bertekad. Jika hilang salah satu rukun yang 3 ini, maka tidak sah taubat tersebut. Kecuali tidak mampu untuk bertekad dan berhenti, seperti taubatnya orang buta dari melihat kepada yang diharamkan, dan taubatnya Al-Majbub (pria yang dibabat kemaluannya sampai habis ke pangkal) dari zina. Maka taubatnya hanya sesal. Karena (hal yang mudah tidak hilang oleh hal yang sulit), maksudnya tidak hilang sesuatu yang dianggap ditetapkan atasnya, karna tidak mampu melakukannya. Sebagaimana tidak hilang apa yang ditetapkan atasnya dari rukun-rukun shalat, misalnya karena tidak mampu melakukannya, karena beramal terhadap sabda nabi ﷺ 《jika aku perintahkan kalian dengan suatu perintah, maka laksanakanlah semampu kalian⟩⟩, maksudnya jika kuperintahkan dengan suatu yang diperintahkan, maka kalian melakukan hal yang diperintahkan tersebut, dengan semampu kalian atau dengan apa yang kalian mampu atasnya”.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : @⁨Kiai M.Huda_Jember⁩  @⁨U.Saifuddin_Cimahi⁩  @⁨U.Tajussubki_Aceh⁩ @⁨+62 817-7544-3118⁩ @⁨U.M.Ridhwan_Cisa’at⁩  @⁨U.Hafiluddin_Pasuruan⁩ / Para member grup


TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang


والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar