Selasa, 27 Oktober 2020

HUKUM SANTRI MENGHADHIRI WALIMAH DAN MENGUNDANG NYA

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
B-M-U

soal antrian ke 176
🧕🏻 Nama : Khuliyyatul Ashfiya
Alamat : Pasuruan Jawa timur

✍🏻 DESKRIPSI :

Kang joko adalah santri tertua dipondok fathul ulum. setelah lama berada dipondok, tibalah saatnya kang joko pulang dan menikah dengan salah satu bidadari pondok putri, hari dan tanggal pun ditentukan.
Kang joko tak lupa mengundang seluruh teman nya yang masih muqim dipondok, tetapi teman-teman nya bingung, karena bertabrakan dengan kegiatan ngaji sehari-hari dipondok.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Bagaimana hukum mendatangi walimatul ursi-nya kang joko ⁉️

🍏 JAWABAN :

√ Pendapat pertama : Menurut Jumhur Uama', bahwa mendatangi undangan Walimah Al-'Ursi / acara pernikahan adalah Wajib.
√ Sedangkan pendapat kedua : adalah Sunnah.
√ Bagi seorang santri yang keberada’an nya terikat dengan pesantren atau peraturan pesantren, yang tidak dapat keluar tanpa idzin pengasuh, maka seorang santri boleh mengikuti pendapat sunnah menghadhiri walimah, di ketika tidak mendapat idzin untuk keluar dari pesantren.
√ Namun selayaknya seorang Pengasuh pondok, memberi idzin kepada santri yang mendapat undangan, apabila undangan tersebut tidak berbarengan dengan kewajiban santri, atau dalam waktu yang tidak ada kegiatan, mengingat menurut Jumhur ulama' menghadhiri walimah adalah Wajib.

💧 R E F E R E N S I :

[الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ج ٤ ص ٩٧]📗
حكم إجابة الدعوة إلى وليمة العرس: وإجابة دعوة وليمة العرس فرض عين على مَن دعي إليها. ودليل ذلك ما رواه البخاري (النكاح، باب: حق إجابة الوليمة والدعوة، رقم: ٧٨٧٨) ومسلم (النكاح، باب: الأمر بإجابة الداعي إلى دعوة، رقم: ١٤٢٩) عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: " إذا دُعي أحدكم إلى الوليمة فليأتها ". وفي رواية عند مسلم (النكاح، باب: الأمر بإجابة الداعي إلى دعوة، رقم: ١٤٣٢) عن أبي هريرة - رضي الله عنه - (ومَن لم يجب الدعوة فقد عصى الله ورسوله)

“Hukum menghadhiri Walimatul 'Urs adalah fardlu 'ain bagi orang yang di undang, Adapun dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah ﷺ bersabda ; "Apabila kalian diundang untuk Walimah, maka datangilah !".
Dan pada riwayat imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dan barang siapa yang tidak menghadhiri undangan walimah (tanpa udzur), maka sungguh ia telah berma'shiat kepada Allah dan Rasulullah”.


[منهاج الطالبين، ص ٢٢٣]📗
والإجابة إليها فرض عين وقيل: كفاية وقيل: سنة

“Menghadhiri Walimah nikah adalah fardhu ain, pendapat lain : fardhu kifayah, dan pendapat lain nya : Sunnah”.


[المجموع شرح المهذب، ج ٢٠ ص ١٣٠]📗
وفى وليمة العرس وجهان :
(أحدهما) : أنها فرض على الاعيان
(والثانى) : أنها فرض على الكفاية، ولا يخص في الاجابة قوما دون قوم لان في تخصيص بعضهم ميلا وتركا للعدل، فإن كثرت عليه وقطعته عن الحكم ترك الحضور في حق الجميع لان الاجابة إلى الوليمة اما أن تكون سنة أو فرضا على الكفاية أو فرضا على الاعيان الا أنه لا يستضر بتركها جميع المسلمين والقضاء فرض عليه ويستضر بتركه جميع المسلمين فوجب تقديم القضاء

[Al-majmu' syarhul muhadzzab, juz 2, hal 130]
“Dan dalam hal walimatul arus, ada dua pendapat : (yang pertama) : bahwasanya ia itu fardhu ain, (yang kedua) bahwasanya fardhu kifayah, dan tidak dikhususkan untuk menjawabnya (hadhir) dalam satu qaum, tanpa qaum yang lain, karena dalam takhsis (pengkhususan) pada sebagian dari mereka, ada kemungkinan datang dan meninggalkan yang berimbang. Apabila banyak undangan walimah atasnya, memutuskannya dari hakim, dan ia meninggalkan untuk hadhir dalam haq keseluruhan, karena menghadhiri walimah berhukum Sunnah atau fardhu kifayah atau fardhu ain, kecuali jika dia tidak membahàyakan seluruh muslimin dalam meninggalkannya, dan mengqadhanya adalah fardhu atasnya, dan jika membahayakan seluruh muslimin dengan meninggalkannya, maka wajib mendahulukan qadhanya”.


[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٢٠ ص ٣٣٧]📗
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ إِجَابَةَ الدَّعْوَةِ فِي الأَْصْل وَاجِبَةٌ إِنْ كَانَتْ إِلَى وَلِيمَةِ عُرْسٍ (وَلِيمَةٌ) وَأَمَّا مَا عَدَاهَا فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي الإِْجَابَةِ إِلَيْهَا.

[Al-mausuah al-fiqhiyah al-kuwaytiyah, juz 20, hal 337]
“Jumhur fuqaha berpendapat, bahwa menghadiri undangan, hukum asalnya wajib, jika ke walimah arus (resepsi), adapun selainnya para ulama berbeda pendapat dalam memghadirinya”.


[شرح النووي على مسلم، ج ٩ ص ٢٣٤]📗
فِيهِ الْأَمْرُ بِحُضُورِهَا وَلَا خِلَافَ فِي أَنَّهُ مَأْمُورٌ بِهِ وَلَكِنْ هَلْ هُوَ أَمْرُ إِيجَابٍ أَوْ نَدْبٍ فِيهِ خِلَافٌ الْأَصَحُّ فِي مَذْهَبِنَا أَنَّهُ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى كُلِّ مَنْ دُعِيَ لَكِنْ يَسْقُطُ بِأَعْذَارٍ سَنَذْكُرُهَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى وَالثَّانِي أَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَالثَّالِثُ مَنْدُوبٌ هَذَا مَذْهَبُنَا فِي وَلِيمَةِ الْعُرْسِ وَأَمَّا غَيْرُهَا فَفِيهَا وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا أَحَدُهُمَا أَنَّهَا كَوَلِيمَةِ الْعُرْسِ وَالثَّانِي أَنَّ الْإِجَابَةَ إِلَيْهَا نَدْبٌ، وَإِنْ كَانَتْ فِي الْعُرْسِ وَاجِبَةً وَنَقَلَ الْقَاضِي اتِّفَاقَ الْعُلَمَاءِ عَلَى وُجُوبِ الْإِجَابَةِ فِي وَلِيمَةِ الْعُرْسِ

[Syarhu an-nawawy ala muslim, juz 9, hal 234]
“Di dalamnya perintah untuk menghadirinya dan tiada perbedaan, bahwa sesungguhnya hal tersebut diperintahkan. Apakah ia perkara Wajib atau Sunnah, didalamnya ada perbedaan pendapat, yang ashah pada Madzhab kami (Syafi'i) bahwa sesungguhnya ia fardhu ain atas orang yang diundang, tapi hukum itu jatuh dengan beberapa udzur yang akan kami sebutkan insya Allah ta'ala. Dan yang kedua, bahwasanya ia itu fardhu kifayah, dan yang ketiga, sunnah, ini adalah pendapat madzhab kami dalam walimatul ursi. Dan adapun untuk yang selainnya, maka ada dua pendapat pada sahabat-sahabat kami, salah satunya bahwasanya ia seperti walimatul ursi, dan yang ke dua bahwa menghadirinya berhukum sunnah. Dan jika dalam walimatul ursi hukum nya wajib. Dinuqil oleh alqadhy husein bahwa sepakat para ulama atas wajibnya menghadhiri undangan walimatul ursi”.


[تنوير القلوب، ص ٦٩]📗
وكذلك تجب الطاعة لأئمة المسلمين فى غير معصية الله تعالى، لقوله تعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ  {النسآء : ٥٩}، قال بعضهم المراد بهم العلمآء العاملون بعلمهم الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر. وقال بعضهم المراد بهم امراء الحق العاملون بأمر الله وأمر السنة ولايطاعون فى معصية الله. لقوله ﷺ : ”لاطاعة لمخلوق فى معصية الخالق" رواه الإمام أحمد والحاكم

“Dan demikian wajib engkau patuh terhadap para pemimpin di kalangan orang-orang islam, pada selain ma'shiat Kepada Allah Ta'ala, karena firman nya : ‘Wahai orang-orang yang beriman, tha'atlah kalian kepada ALLAH dan Rasulillah ﷺ dan para Ulil amri (Pemimpin kalian).
Sebagian Ulama' ada yang berpendapat, yang dimaksud Ulil amri adalah para Ulama' yang mengamalkan ilmunya, dengan ilmu mereka itu yang memerintahkan kepada kebaikan, dan mencegah kemunkaran. Ulama' yang lain berpendapat : mereka adalah para Umaro' sejati yang mengamalkan ilmu dengan perkara yang diperintahkan oleh ALLAH Subhanahu wa ta'ala dan Rasulillah ﷺ. Dan mereka tidak wajib di Tha'ati dalam hal kema'shiatan, karena Rasulullah ﷺ bersabda ; "Tidak ada ketha'atan pada Makhluq dalam berma'shiat kepada ALLAH maha pencipta". Riwayat imam Ahmad dan Hakim”.


[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٦ ص ١٨٩]📗
وَأُولُو الأَْمْرِ: الرُّؤَسَاءُ وَالْعُلَمَاءُ. وَقَدْ وَرَدَ فِي أُولِي الأَْمْرِ قَوْله تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُول وَأُولِي الأَْمْرِ مِنْكُمْ} وَأَصَحُّ الأَْقْوَال الْوَارِدَةِ فِي الْمُرَادِ بِأُولِي الأَْمْرِ قَوْلاَنِ: (الأَْوَّل) أَهْل الْقُرْآنِ وَالْعِلْمِ وَهُوَ اخْتِيَارُ مَالِكٍ، وَنَحْوُهُ قَوْل ابْنِ عَبَّاسٍ، وَالضَّحَّاكِ، وَمُجَاهِدٍ، وَعَطَاءٍ قَالُوا: هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْعُلَمَاءُ فِي الدِّينِ. ذَلِكَ لأَِنَّ أَصْل الأَْمْرِ مِنْهُمْ وَالْحُكْمُ إِلَيْهِمْ. ---إلى أن قال--- وَقَدْ حَمَلَهُ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ عَلَى مَا يَعُمُّ الْجَمِيعَ، لِتَنَاوُل الاِسْمِ لَهُمْ، لأَِنَّ لِلأُْمَرَاءِ تَدْبِيرَ الْجَيْشِ وَالْقِتَال، وَلِلْعُلَمَاءِ حِفْظَ الشَّرِيعَةِ وَبَيَانَ مَا يَجُوزُ مِمَّا لاَ يَجُوزُ

[Al-mausuah al-fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 6, hal 189]
“Dan ulul amri : pemimpin dan ulama, dan telah tercantum kata ulul amri pada firman Allah ta'ala : {wahai orang orang yang beriman, tha'atlah kalian pada Allah, dan tha'at kalian pada rasul dan ulul amri dari antara kalian}, dan pendapat yang tercantum yang lebih Shahih, mengenai yang dimaksud dengan ulul amri ada 2 pendapat : (yang pertama) ahli quran dan ilmu, ini adalah pendapat pilihan imam Malik dan seumpamanya menurut perkataan ibnu abbas, dan addhahhak, mujahid dan atha', mereka berpendapat : bahwa mereka adalah fuqaha dan ulama dalam agama. Hal tersebut karena asalnya perintah dari mereka dan berhukum kepada mereka --- sampai dengan perkataan --- dan telah membawanya kebanyakan ulama atas apa-apa yang melingkupi keseluruhan, untuk mendapatkan nama itu bagi mereka, karena umara mengurus pasukan dan perang, dan ulama menjaga syari'at dan menerangjan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh”.


[الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي، ص ٥٦]📗
فحينئذٍ يتَعَيَّن عَلَيْهِ الاستمساك بهديه وَالدُّخُول تَحت جَمِيع أوامره ونواهيه ورسومه حَتَّى يصير كالميِّت بَين يَدي الْغَاسِل، يقلبه كَيفَ شَاءَ

“Maka demikian, Seharus nya murid itu berpegangan kepada petunjuk guru nya, tunduk patuh atas segala perintah, segala larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayyit di hadapan orang yang memandikan, ia berhaq di bolak-balik sesuka hati”.


[تعليم المتعلم، ص ٢٥]📗
رَأَيْتُ أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ  *  وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ
لَقَدْ حَقَّ اَنْ يُهْدَى إِلَيْهِ كَرَامَةً  *  لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمِ
اِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيْبَ كِلاَهُمَا  *  لاَ يُنْصِحَانِ اِذَاهُمَا لَمْ يُكْرَمَا
فَاصْبِرْ لِدَائِكَ اِنْ جَفُوْتَ طَبِيْبَهَا  *  وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ اِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمَا

Aku yaqin dengan seyaqin-yaqinnya terhadap haq guru * dan mengwajibkan setiap ummat muslim agar menjaganya (haq guru).
Sungguh guru itu berhaq diberi hadiah, sebagai tanda penghormatan * atas pengajaran satu huruf (ilmu), dengan seribu dirham (uang perak).
Sesungguhnya guru dan dokter itu * tidak akan memberikan nashihat jika keduanya tidak dihormati.
Maka shabarlah merasakan sakitmu, jika engkau mengabaikan pemberi obat * dan terimalah kebodohanmu jika kamu mengabaikan guru.


[تربية البنين، ص ٢٩]📗
واعلم أن أكبر شاهد على حرص المعلم على تقدم تلاميذه فى العلوم، وتمام منفعتهم هو أن يعاقبهم إذا خالفوا الواجب أو اهملوا فى دروسهم وألا يتركهم يسيرون حسب أهوآئهم، فأنصح إليك بالعودة إلى المدرسة وإطاعة أوامر استاذك وقدمه على والدك لأنه مربي روحك وعقلك

[Tarbiyah al banin, hal 29]
“Dan ketahuilah bahwa syahid yang terbesar, bagi kesetiaan pengajar atas kemajuan murid-muridnya dalam berbagai ilmu, sempurnanya manfa'at mereka, yaitu menghukum mereka jika meninggalkan yang wajib, dan apabila mereka meremehkan segala pelajaran, dan agar tidak meninggalkan mereka berjalan menurut hawa nafsu mereka. Maka aku nashihati kepada kamu untuk kembali ke  pondok/sekolahan, dan mentha'ati perintah-perintah gurumu, serta mendahulukannya di atas orang tuamu, karena murobby/guru adalah ruhmu dan aqalmu”.

كما قاله الشاعر :
أُقَدِّمُ أُسْتَاذِيْ عَلَى نَفْسِ وَالِدِيْ * وَإِنْ نَالَنِيْ مِنْ وَالِدِيْ اَلْفَضْلُ وَالشَّرَفْ
فَذَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ * وَهَذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمُ كَالصَّدَفْ

Sebagaimana seorang penyair berkata :
Aku lebih mengutamakan guruku, dibandingkan orang tuaku * meski aku meraih keutamaan dan kemuliaan dari orang tuaku.
Karena guru adalah pendidik (pemelihara) jiwaku, dan jiwa itu (ibarat) permata * Sedangkan orang tua adalah pendidik (pemelihara) ragaku, dan raga itu ibarat kulit kerang.


✍️ KETERANGAN TAMBAHAN :

[حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ٢ ص ٢٣٨]📗
وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ إذَا أَمَرَ بِوَاجِبٍ تَأَكَّدَ وُجُوبُهُ، وَإِنْ أَمَرَ بِمَنْدُوبٍ وَجَبَ، وَإِنْ أَمَرَ بِمُبَاحٍ فَإِنْ كَانَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ كَتَرْكِ شُرْبِ الدُّخَانِ وَجَبَ، بِخِلَافِ مَا إذَا أَمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ أَوْ مُبَاحٍ لَا مَصْلَحَةَ فِيهِ عَامَّةً م د

“Dan Kesimpulan nya ; Ketika seorang pemimpin memerintahkan suatu kewajiban (menurut syara’), maka kewajiban itu semakin kuat. Jika ia memerintahkan sesuatu yang sunnah, maka hal itu menjadi wajib. Dan, jika ia memerintahkan sesuatu yang mubah, selama mendatangkan kemashlahatan umum, seperti larangan merokok, maka menjadi wajib menjauhi merokok. Lain halnya apabila pemimpin memerintahkan suatu keharaman, atau hal-hal yang bershifat makruh, atau suatu perkara yang mubah, akan tetapi tidak memuat unsur mashlahah umum di dalamnya, (maka ini tidak wajib mengikuti perintah tersebut) •Al-Mudabagiy•”.


[بغية المسترشدين، ص ١٨٠]📗
والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه، فالواجب يتأكد، والمندوب يجب، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة، كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي، فخالفوه وشربوا فهم العصاة، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اهـ.

“Kesimpulannya, bahwasanya wajib secara zhahir dan bathin, mentha'ati peraturan Pemerintah yang tidak mengandung keharaman atau kemakruhan. Maka mentha'ati hal yang wajib itu hukumnya sangat wajib, mentha'ati hal yang sunnah itu menjadi wajib, begitu juga mentha'ati hal yang mubah itu juga wajib, jika hal yang mubah itu membawa mashlahat/kebaikan secara umum, seperti perintah meninggalkan rokok, jika kita mengikuti pendapat yang menyatakan rokok itu makruh, karena merokok dipandang kurang baik, jika dilakukan oleh orang yang memiliki kedudukan. Lalu Pemerintah mengintruksikan pada bawahannya, untuk menerbitkan peraturan tidak boleh merokok ditempat umum, semisal pasar maupun cafe (warung kopi), namun mereka melanggarnya dengan merokok ditempat umum, dalam hal ini mereka tergolong orang yang melakukan ma'shiat. Dalam kondisi ini hukum merokok menjadi haram, disebabkan karena adanya kewajiban melaksanakan aturan Pemerintah. Jika Pemerintah membuat peraturan, lalu mencabutnya kembali, meskipun belum sampai tahap menerapkan/merealisasikan peraturan tersebut, maka kewajiban melaksanakan peraturan belum gugur”.


[التشريع الجنائي، ج ١ ص ١٨١]📗
تعتبر القوانين والقرارات واللوائح مملكة التشريع الإسلام لأن الشريعة تعطي لأولي الأمر حق التشريع فيما يمس مصلحة الأفراد ومصلحة الجماعة بالنفع، فللسلطة التشريعية في أي بلد الإسلامي إن تعاقب على أي فعل مباح إذا اقتضت المصلحة العامة ذلك ---إلى أن قال--- القوانين والقرارات واللوائح التي تصدها السلطة التشريعية تكون نافذة واجبة الطاعة شرعا بشرط أن لا يكون فيها يخالف نصوص الشريعة الصريحة أو يخرج على مبادئها العامة وروح التشريع فيها وإلا فهي باطلة بطلانا مطلقا. اهـ.

“Undang-undang keputusan dan program Pemerintah, dianggap sebagai program penyempurna Syari’at Islam, karena Syari’at memberikan hak kepada Pemerintah, untuk membuat undang-undang yang menyentuh kemaslahatan, dan memberikan manfa'at kepada individu dan kelompok. Kekuasaan perundang-undang dalam Negeri Islam manapun diperbolehkan, untuk memberikan sanksi hukum terhadap perbuatan mubah (yang dilakukan Masyarakat), ketika kemaslahatan umum menuntut demikian ---sampai pada perkata'an--- undang-undang keputusan dan program yang dikeluarkan kekuasaan perundangan, merupakan hal berlaku dan wajib ditha'ati secara Syar’i, dengan syarat tidak bertentangan dengan nash-nash yang jelas, prinsip-prinsip umum dan subtansi Syari’at. Apabila bertentangan dengan hal-hal yang disebutkan terakhir, maka undang-undang keputusan dan program Pemerintah tersebut batal”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Dan hukum mengundang teman-temannya bagaimana ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum Si Joko mengundang teman-teman pondok nya, meskipun tahu dengan menghadhiri acara Walimah al-ursi akan meninggalkan program sehari-hari di pondok adalah Boleh.
Karena dalam walimah diperbolehkan mengundang siapa saja, baik qerabat ataupun teman, tanpa ada persayaratan.

💧 R E F E R E N S I :

[كفاية النبيه في شرح التنبيه، ج ١٣ ص٣٢٢]📗
تنبيه: حيث قلنا بوجوب الإجابة، أو استحبابها فذاك عند وجود شرائط٠
منها: أن يعم صاحب الدعوة الدعوة بأن يدعو جميع عشيرته، أو إخوانه أو أهل حرفته: أغنياءهم وفقراءهم دون ما إذا خصص الأغنياء بالإحضار

“Perhatian : Sekiranya jika kita mengatakan mendatangi Walimah adalah wajib, atau mengadakan walimah adalah sunnah. Maka hal itu harus memenuhi beberapa syarat diantaranya : tuan rumah mengundang secara umum, untuk seluruh keluarganya, atau saudaranya atau teman seprofesinya, baik yang kaya maupun yang miskin, tidak membatasi tamu undangannya hanya khusus orang kaya saja yang hadhir”.


MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : Para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang


والله أعلم بالصواب


Senin, 26 Oktober 2020

HUKUM MENGURUSKAN PIPI

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 175
🧕🏻 Nama : Khuliyyatul Ashfiya
Alamat : Pasuruan Jawa timur

✍🏻 DESKRIPSI :

Di zaman modern yang serba canggih sekarang, tidak dipungkiri semua kemajuan terjadi di beberapa hal dan sektor, sebut saja sektor farmasi dan lain-lain.
Dan bisa dibilang alat-alat kecantikan pun bertambah maju, kita ambil contoh alat untuk menguruskan pipi / membuat pipi tirus.

🌴 PERTANYAAN :

Bagaimana hukumnya mentiruskan pipi ⁉️

🍏 JAWABAN :

Boleh mentiruskan pipi, selama tidak mengurangi dan menambahkan sesuatu dari ciptaan Allah.

💧 R E F E R E N S I :

[فتح الباري، ج ١٠ ص ٣٧٧]📗
قَالَ الطَّبَرِيُّ لَا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ تَغْيِيرُ شَيْءٍ مِنْ خِلْقَتِهَا الَّتِي خَلَقَهَا اللَّهُ عَلَيْهَا بِزِيَادَةٍ أَوْ نَقْصٍ الْتِمَاسَ الْحُسْنِ لَا لِلزَّوْجِ وَلَا لِغَيْرِهِ كَمَنْ تَكُونُ مَقْرُونَةَ الْحَاجِبَيْنِ فَتُزِيلُ مَا بَيْنَهُمَا تُوهِمُ الْبُلْجَ وَعَكْسُهُ وَمَنْ تَكُونُ لَهَا سِنٌّ زَائِدَةٌ فَتَقْلَعُهَا أَوْ طَوِيلَةٌ فَتَقْطَعُ مِنْهَا أَوْ لِحْيَةٌ أَوْ شَارِبٌ أَوْ عَنْفَقَةٌ فَتُزِيلُهَا بِالنَّتْفِ وَمَنْ يَكُونُ شَعْرُهَا قَصِيرًا أَوْ حَقِيرًا فَتُطَوِّلُهُ أَوْ تُغْزِرُهُ بِشَعْرِ غَيْرِهَا فَكُلُّ ذَلِكَ دَاخِلٌ فِي النَّهْيِ وَهُوَ مِنْ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى

[Fathul bary, juz 1, hal 377]
“Berkata imam thabary, tidak boleh bagi perempuan merubah sesuatu dari perawakannya, yang diciptakan Allah atasnya, dengan menambahkan atau mengurangi sentuhan yang baik, tidak untuk suami dan tidak juga untuk selainnya, seperti orang yang alisnya tersambung, maka ia menghilangkan apa yang ada di antara keduanya, dengan merontokkan yang tampak atau sebaliknya. Dan perempuan yang memiliki gigi tambahan, kemudian ia mencabutnya, atau gigi yang panjang dan ia memotongnya, atau janggut atau kumis atau bulu dibawah dagu, kemudian ia menghilangkannya, dengan cara mencabut. Atau orang yang rambutnya pendek atau kasar kemudian ia memanjangkannya atau melebatkannya, dengan rambut lainnya, maka semua itu termasuk ke dalam yang dilarang, yaitu merubah ciptaan Allah ta'ala”.


[تفسير البيضاوي، ج ٢ ص ١١٧]📗
(ولآمرنهم فليغيرن خلق الله) عن وجهه وصورته أو صفته ويندرج فيه ما قيل من فقد عين الحامي وحصاء العبيد والوشم والوشر واللواط والسحق ونحو ذلك وعبادة الشمس والقمر وتغيير فطرة الله تعالى التى هي الإسلام

[Tafsir al-baydhawy, juz 2, hal 117]
“(dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya) dari wajahnya, bentuknya, sifatnya dan merubah secara bertahap padanya, apa yang disebut kehilangan mata pelindung, dan kejantanan hamba, tato, meratakan gigi, homoseksual, melicinkan, atau sejenisnya dan menyembah matahari, bulan, merubah fitrah dari Allah yaitu islam”.


[فتاوي وردود شرعية معاصرة]📗
للحبيب محمد بن أحمد بن عمر الشاطري، ص ١٧٦
فالخلاصة أن عمليات التجميل يجب ألا يكون فيها شيء من الغش والخداع كحالة الخاطب أوالخاطبة أحدهما مع الآخر مثلا وأن لا تكون مما نص الشارع على أنه من تغيير خلق الله مما ذكرته آنفا

 [Fatawa wa rudud syar'iyyah mu'ashirah]
Lil habib muhammad bin ahmad bin umar as-syathiry, hal 176
“Adapun kesimpulannya adalah sesungguhnya pekerjaan-pekerjaan untuk mempercantik, wajib untuk tidak ada di dalamnya sesuatu yang termasuk daripada kecurangan dan tipuan seperti keadaan pembicara laki-laki atau perempuan, salah satu dari mereka dengan yang lain misalnya. Dan agar tidak ada sesuatu yang di-nash-kan oleh syari'at, bahwa ia termasuk daripada mengubah ciptaan Allah, sebagaimana disebutkan tadi”.




MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : Para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

والله أعلم بالصواب




Minggu, 25 Oktober 2020

MENJUAL DAN MEMBUAT PERLOMBAAN BURUNG

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 174
🧕🏻 Nama : Khuliyyatul Ashfiya
Alamat : Pasuruan Jawa timur

✍🏻 DESKRIPSI :

Disekitar kita banyak orang yang menjadikan burung sebagai hewan peliharaan. suara keras kicaunya yang unik, indah dan menarik. Harga nya pun bermacam-macam, tergantung jenis dan kualitas kicaunya.
Bersama'an dengan itu, lomba kicau burung pun sering diadakan dimana-mana.
Si Jani pun tidak mau ketinggalan dengan burung kesayangan nya, dia selalu aktif mengikuti kontes burung didaerahnya. Meskipun kadang menang kadang kalah.

Namun pada suatu hari burungnya lepas, beberapa hari kemudian, burungnya ditemukan oleh tetangganya, yaitu Andi. setelah si Jani tau, bahwa burungnya ada bersama Andi, dia pun langsung menemui Andi, untuk meminta burung tersebut, namun Andi tidak mau menyerahkan burung itu, karena dia tau, bahwa burung tersebut adalah burung yang mahal, Andi bersedia menyerahkan burung tersebut, dengan syarat : si Jani mau memberi atau menebus dengan seharga burung tersebut.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Bagaimana tindakan si Andi dalam pandangan fiqih ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tindakan si Andi sebagaimana deskripsi adalah tidak di benarkan / tidak boleh, Dan dia wajib mengembalikan kepada pemilik nya.
Dan si Jani sebagai pemilik adalah sunnah memberikan hadiah sewajar nya kepada si Andi, sebagai bentuk penghormatan karena telah menemukan dan mengembalikan nya.

✍️ NB :

Meminta tebusan atas pengembalian barang temuan, adalah termasuk kategori mengambil harta orang lain secara ilegal (أخذ أموال الناس بالباطل), dan uang yang di dapat juga HARAM, berbeda hal nya jika si pemilik barang yang muthlaq memberi, maka itu HALAL di terima.

💧 R E F E R E N S I :

[فتح القريب المجيب، ص ٢١٠]📗
(و) الثاني (حيوان يمتنع بنفسه) من صغار السباع، كبعير وفرس؛ (فإن وجده) الملتقط (في الصحراء تركه) وحرم التقاطه للتملك. فلو أخذه للتملك ضمنه، *(وإن وجده) الملتقط (في الحضر؛ فهو مخير بين الأشياء الثلاثة فيه). والمراد الثلاثة السابقة فيما لا يمتنع*

[Fathul qarib almujib, hal 210]
“(dan) yang ke dua (hewan yang terlarang dengan dirinya sendiri) dari binatang liar yang kecil seperti unta dan kuda (jika seseorang mendapatkannya) menemukannya (di padang pasir lalu ia meninggalkannya) dan haram yang menemukannya untuk memiliki, meskipun yang mengambilnya untuk memilikinya menjaminnya (dan jika mendapatkannya) menemukannya (di padang rumput, yaitu diperbolehkan memilih diantara perkara yang tiga di dalamnya) dan maksudnya adalah tiga yang telah lalu yang termasuk hewan-hewan yang tidak terlarang”.


[فتح المعين، ص ٤٤٣]📗
لو التقط شيئا لا يخشى فساده كنقد ونحاس بعمارة أو مفازة عرفه سنة في الأسواق وأبواب المساجد فإن ظهر مالكه وإلا تملكه بلفظ تملكت وإن شاء باعه وحفظ ثمنه

“Apabila seseorang menemukan sesuatu / barang yang tidak rentan rusak, seperti emas atau perak dan tembaga, di keramaian atau di hutan, maka ia wajib mengumumkan nya selama satu tahun, di pasar-pasar dan pintu-pintu masjid. Bila kemudian jelas pemilik nya, maka wajib di kembalikan. Bila tidak, maka ia dapat memiliki nya dengan lafazh : Saya memiliki. Bisa juga dengan menjual nya dan menyimpan uang hasil penjualan benda tersebut.”


[اسني المطالب، ج ١ ص ٥٥٩]📗
(وَمَنْ وَجَدَ أَثَرَ الْيَدِ) عِبَارَةُ الرَّوْضَةِ أَثَرَ الْمِلْكِ (عَلَى صَيْدٍ كَالْوَسْمِ وَالْخِضَابِ وَقَصِّ الْجَنَاحِ لَمْ يَمْلِكْهُ) بَلْ هُوَ ضَالَّةٌ أَوْ لُقَطَةٌ؛ لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ مَمْلُوكًا فَأَفْلَتَ

[Asna al mathalib, juz 1, hal 559]
“(dan barang siapa yang menemukan bekas tangan) ibarat dalam arraudhah bekas kepemilikan (atas binatang buruan seperti cap, cat, patahan sayap, maka ia tidak boleh memilikinya) bahkan jika hewan itu tersesat atau merupakan temuan, karena ia menunjukkan bahwasanya ia telah dimiliki maka ia harus melepaskan”.


[موسوعة الفقه الإسلامي، ج ٣ ص ٥٤٦]📗
من بذل منفعة من غير جُعْل، كمن رد لقطة، أو ضالة أو نحوهما لم يستحق عوضاً، *ويستحب إكرامه بما يعطى مثله*

[Mausu'ah al-fiqh al-islamy, juz 3, hal 546)
“barang siapa yang mempergunakan manfaat tanpa membuat, seperti orang yang mengembalikan barang temuan, tersesat, atau sejenisnya, maka ia tidak berhak atas timbal balik, dan disunnatkan memuliakannya dengan memberi sesuatu yang sepertinya (hadiah standar)”.


[الأشباه والنظائر للسيوطي،ص ١٥٠]📗
[الْقَاعِدَةُ السَّابِعَة وَالْعِشْرُونَ: مَا حُرِّمَ أَخْذُهُ حُرِّمَ إعْطَاؤُهُ]ُ " كَالرِّبَا وَمَهْرِ الْبَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ وَالرِّشْوَةِ، وَأُجْرَةِ النَّائِحَةِ وَالزَّامِرِ. وَيُسْتَثْنَى صُوَرٌ: مِنْهَا: الرِّشْوَةُ لِلْحَاكِمِ، لِيَصِلَ إلَى حَقِّهِ، وَفَكُّ الْأَسِيرِ وَإِعْطَاءُ شَيْءٍ لِمَنْ يَخَافُ هَجْوُهُ، وَلَوْ خَافَ الْوَصِيُّ أَنْ يَسْتَوْلِيَ غَاصِبٌ عَلَى الْمَالِ فَلَهُ أَنْ يُؤَدِّيَ شَيْئًا لِيُخَلِّصَهُ وَلِلْقَاضِي بَذْلُ الْمَالِ عَلَى التَّوْلِيَةِ، وَيُحَرَّمُ عَلَى السُّلْطَانِ أَخْذُهُ.

[Al-asybah wa an-nazhair lissuyuthy, hal 150]
“[Qa'idah ke dua puluh tujuh : Sesuatu yang haram diambil, haram untuk diberikan]" seperti zina dan upah zina, upah dukun, uang suap, upah dari meratap dan meniup suling. Dan dikecualikan dalam beberapa gambaran, diantaranya : uang suap untuk hakim agar sampai pada haknya, dan membebaskan tahanan, dan memberikan sesuatu bagi orang yang ditakuti omongannya. Dan jika orang-orang yang memberi washiat takut untuk mewalikan orang yang marah, atas harta tersebut, maka ia boleh menunaikan sesuatu agar terbebas dan hakim berhak menggunakan harta itu atas dasar perwalian, dan haram bagi penguasa untuk mengambilnya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Bolehkah menjual burung dengan menggunakan standar keindahan, kicau ataupun warna ⁉️

🍏 JAWABAN :

Boleh menjual burung dengan menggunakan standar keindahan suara kicauan nya, atau warna nya. Karena di anggap bermanfa'at.

💧 R E F E R E N S I :

[المجموع شرح المهذب، ج ٩ ص ٢٤٠]📗
(قِسْمٌ) يُنْتَفَعُ بِهِ فَيَجُوزُ بَيْعُهُ كَالْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالْخَيْلِ وَالْبِغَالِ وَالْحَمِيرِ وَالظِّبَاءِ والغزلان والصقور والبراة وَالْفُهُودِ وَالْحَمَامِ وَالْعَصَافِيرِ وَالْعُقَابِ وَمَا يُنْتَفَعُ بِلَوْنِهِ كالطاوس أو صوته كالزرزوز وَالْبَبَّغَاءِ وَالْعَنْدَلِيبِ وَكَذَلِكَ الْقِرْدُ وَالْفِيلُ وَالْهِرَّةُ وَدُودُ الْقَزِّ وَالنَّحْلِ فَكُلُّ هَذَا وَشَبَهُهُ يَصِحُّ بَيْعُهُ بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّهُ مُنْتَفَعٌ بِهِ وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ مِنْ صِحَّةِ بَيْعِ النَّحْلِ هُوَ إذَا شَاهَدَهُ الْمُتَعَاقِدَانِ فَإِنْ لَمْ يُشَاهِدَا جَمِيعَهُ فَفِيهِ تَفْصِيلٌ وَخِلَافٌ وَسَنُوَضِّحُهُ فِي الْبَابِ الَّذِي بَعْدَ هَذَا إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى حَيْثُ ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ

[Al-majmu' syarhu al-muhadzdzab, juz 9, hal 240]
“(sebuah bagian) ia mengambil manfa'at dengannya, maka ia boleh menjualnya seperti unta, sapi, kambing, kuda, peranakan kuda dan keledai, menjangan, rusa, macan kumbang, merpati, burung pipit, rajawali dan apa apa yang dimanfaatkan, karena warnanya seperti merak, atau suaranya seperti jalak, beo dan bulbul, dan begitu juga monyet, gajah, kucing, ulat sutra dan lebah, maka semua ini dan yang serupa dengannya, SAH untuk dijual tanpa ada perbedaan pendapat, dikarenakan bisa dimanfaatkan. Dan ini yang kami telah sebutkan tentang jual beli lebah, yaitu jika kedua orang yang beraqad menyaksikannya. Jika mereka berdua tidak menyaksikan seluruhnya, maka di dalamnya ada tafshil dan perbedaan pendapat. Dan akan kami jelaskan pada bab yang akan ada setelah ini, insyaa Allah ta'ala, sebagaimana disebutkan pengarang”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Bolehkah membuat perlombaan burung, seperti yang sedang marak saat ini ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tidak Boleh, membuat perlombaan burung seperti sedang marak saat ini, karena di dalam nya terdapat iwad atau hadiah yang di berikan kepada pemenang, yang di peroleh dari peserta dan dari sponsor, sehingga seperti perjudian. Kecuali apabila tidak ada hadiah atau hadiah di peroleh dari sponsor, maka Boleh.

💧 R E F E R E N S I :

[حاشية الباجوري، ج ٢ ص ٣٠٧]📗
فلا يجوز المسابقة علي غيرها كبقر وطير وكلاب ونحوها بعوض فتحرم مع العوض وتجوز بغير عوض

“Maka tidak diperkenankan mengadu hewan pada selain nya seperti sapi, burung, anjing dan sejenis nya, bila dengan uang aduan maka haram, bila tanpa uang aduan maka boleh.”


[حاشية الشرقاوى، ج ٢ ص ٤٢٥]📗
(فان أخرج كل منهما مالا) على أنه إن سبق الآخر فهو له (لم يجز) لأن كلا منهما متردد بين أن يغنم، و أن يغرم، و هو صورة القمار المحرم

[Hasyiyah as-syarqawy, juz 2, hal 10]
“(dan jika ia mengeluarkan harta dari tiap-tiap keduanya), sebab karena ia jika memenangkan yang lain, maka itu miliknya (tidak boleh) dikarenakan kedua-duanya bertentangan antara memenangkan, mendenda, dan itu adalah gambaran dari judi/taruhan yang diharamkan”.


[حاشية الباجوري، ج ٢ ص ٣١٠]📗
وان اخـرجاه اى العوض المتسـابقان معا لم يجز… وهو اى القمار المحرم كل لعب تردد بين غنم وغرم

[Hasyiyah albajury, juz 2, hal 310]
“dan jika keduanya mengeluarkan imbalan apapun kedua peserta lomba itu secara bersamaan, maka tidak boleh .... yaitu maksudnya taruhan yang diharamkan adalah setiap permainan yang bertentangan antara memenangkan dan didenda”.


[إسعاد الرفيق، ج ٢ ص ١٠٢]📗
(كل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها ان يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما، وهو المراد من الميسـر فى الآية. ووجه حـرمته ان كل واحد متردد بين ان يغلب صاحبه فيغنم او يغلبه صاحبه فيغرم. فان عدلا عن ذلك الى الحكم السبق والرمي بان ينفرد اللاعبين باخراج العـوض ليأخذ منه ان كان مغلوبا وعكسه ان كان غالبا فالاصح حرمته ايضا

[Is'ad ar-rafiq, jiz 2, hal 102]
“(semua yang ada di dalamnya adalah taruhan) dan bentuknya yang disepakati atasnya, adalah ada yang dikeluarkan berupa imbalan dari kedua pihak, bersamaan dengan saling mencukupi keduanya. Dan ia itu adalah yang dimaksud dari judi dalam ayat. Sisi keharamannya adalah setiap orang bertentangan antara mengalahkan temannya, sehingga ia menang atau dikalahkan oleh temannya sehingga ia didenda. Dan jika keduanya menyamakan dalam hal tersebut, kepada hukum perlombaan dan melempar dengan mengambil imbalan, hanya dari salah satu pemain dan mengambilnya, bila ia kalah atau sebaliknya jika ia menang, maka menurut qaul yang ashah diharamkan juga”.


[أسنى المطالب، ج ٤ ص ٣٤٤]📗
(فَرْعٌ اتِّخَاذُ الْحَمَامِ) لِلْبَيْضِ أَوْ الْفَرْخِ أَوْ الْأُنْسِ أَوْ حَمْلِ الْكُتُبِ (مُبَاحٌ وَيُكْرَهُ اللَّعِبُ بِهِ) بِالتَّطْيِيرِ وَالْمُسَابَقَةِ وَلَا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ

“Cabang : Memelihara merpati untuk di ambil telur nya atau anaknya atau untuk kesenangan saja, atau sebagai kurir pembawa surat hukumnya mubah, dan dimakruhkan bermain-main dengannya dengan menerbang-nerbangkannya atau dengan diadu, dan tidak tertolak karenanya persaksian.”


[حاشية الباجوري، ج ٢ ص ١٠]📗
ويجـوز شرط العوض من غير المتسابقين من الامام او الاجنبي كأن يقول الامام من سبق منكما فله علي كذ من مالي ، او فله فى بيت المال كذا، او يكون ما يخرجـه من بيت المال من سـهم المصالح ، وكأن يقول الأجنبي : من سبق منكما فله علي كذا، لانه بذل مال فى طاعة وليس لملتزم العوض ولو كان غير المسابقين زيادة فى العوض ولا نقص عنه

[Hasyiyah al-bayjury, juz 2 hal 10]
“dan diperbolehkan syarat imbalan dari selain peserta, baik dari imam atau ajnaby, seperti jika imam mengatakan  barang siapa yang menang diantara kalian berdua, maka aku akan memberi sekian dari hartaku padanya. Atau maka untuknya sekian di baitul mal, atau sesuatu yang dikeluarkan dari baitul mal yang termasuk bagian untuk mashlahat. Dan seperti seorang ajnaby mengatakan : barang siapa yang menang diantara kalian berdua, maka baginya atasku sekian, karena ia menggunakan harta dalam ketha'atan, dan bukannya untuk mengharuskan imbalan. Dan walaupun bukan peserta lomba sebagai tambahan dalam imbalan dan bukan mengurangi darinya”.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : @⁨Kiai M.Huda_Jember⁩ @⁨Ibnu Agy⁩

@⁨U.Saifuddin_Cimahi⁩ @⁨C.Rabi'ah'Aceh⁩
@⁨نرجو منك⁩
@⁨Calon B-M-U⁩ / Para member grup  


TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

والله أعلم بالصواب

Kamis, 22 Oktober 2020

THALAQ - STATUS ANAK & PERNIKAHAN DAN LAIN NYA

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 173
🧕 Nama : Maya
Alamat : Lombok Nusa Tenggara Barat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Nama Ana : Maya (Penanya) sudah menikah dengan seorang Ikhwan (beda pulau), tapi si Ikhwan ini lagi di mutasi kerja di daerah tempat ana.
Sebelum menikahi ana, ikhwan ini ternyata masih punya istri dan jumlah anak ada 2, tapi mengaku duda anak 1 sama ana, dan sudah cerai agama saja, tapi secara hukum negara belum dan akan segera di urus.
Jadi waktu itu ana belum mau nikah dan bilang kalo belum thalaq 3, ana gak mau nikah, buat jaga² kan ustadz/ah, biar gak bisa balik lagi sama istri pertama kalo sudah thalaq 3.
Setelah itu jarak beberapa Minggu, si Ikhwan ini datang ke rumah, pada akhirnya ana minta bukti, kalo memang sudah cerai, dan membuktikan dengan ucap thalaq lewat telpon di depan wali ana.
Setelah itu si Ikhwan ini membuktikan nya dengan thalaq 3 langsung, tapi ke wanita lain bukan istrinya, tapi di situ si Ikhwan ini mengakui dan membenarkan, kalo yang di telpon itu istrinya, di depan wali ana dan ana juga.

Lafazh thalaq nya :
"si Ikhwan ini bertanya soal perselingkuhan istri pertama, dan bilang mau cerai, tapi si wanita bilang gak mau, bagaimana dengan anak-anak, dan pada akhirnya si Ikhwan ini bilang ya wess thalaq 3 aja".
Dan waktu menelpon si ikhwan ini di tanya sama wali ana, "apakah yang di telpon istrinya ?"
Ikhwannya menjawab "iya".
Dan kembali di tanya lagi sama wali ana "berarti sudah bercerai ya thalaq 3"
si ikhwannya menjawab "iya"
Seperti itu Lafazh thalaq nya di Depan ana dan wali ana.

Setelah 2 bulan ucapan thalaq tersebut, ana menikah (Nikah Sirri) dengan Ikhwan ini dan ortu ana juga Alhamdulillah sangat percaya dengan Ikhwan ini, karena ucapan thalaq tadi, yang menurut wali ana di rumah, thalaq nya Jatuh.
Setelah menikah Alhamdulillah pernikahan ana sangat bahagia sampai hampir setahun.

Akhir Desember tahun lalu, Ikhwan ini di mutasi lagi ke tempat kerja yang dulu, dan di situ si ikhwannya jujur sama ana, kalo yang di ceraikan dulu bukanlah istrinya, melainkan orang lain, dan jumlah anaknya ada 2 bukan 1.
Di situ ana sudah berontak ingin cerai, tapi si Ikhwan tetep gak mau menceraikan ana, karena si Ikhwan ini dia merasakan kebaikan punya istri seperti ana.

Setelah beberapa bulan ikhwannya jujur sama ana, ana sempat berantem dan si Ikhwannya bilang lagi, kalo istri pertama hamil lagi anak ke 3, di sana ana semakin hancur, dan ingin segera bercerai, sampai ana buat akun sosial media palsu, dan berteman dengan orang-orang yang ana kira kenal dengan istri pertama, dan Alhamdulillah cara itu berhasil, dan ana chat dengan istri pertama, dan menceritakan semuanya, dan di situ istri pertama minta untuk melepaskan si Ikhwan ini, kemudian ana jawab, dari awwal ana tau ana sudah mau cerai, tapi ikhwannya yang gak mau menceraikan ana, sampai pada akhirnya istri pertama memilih mundur, karena mungkin menyadari suaminya yang sangat berbeda cara dalam memperlakukan kami Berdua.

Dan sekarang anaknya akan lahir insyaallah mungkin dalam waktu dekat, akta cerai dengan istri pertama akan di urus, Jadi kalo menurut ana pernikahannya sudah salah dari awwal, niatnya salah, sehingga bisa jadi banyak yang jadi korban, dan ikhwannya gak bisa tegas.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Apakah thalaq nya jatuh dengan istri Pertama ⁉️

🍏 JAWABAN :

Thalaq seorang laki-laki sebagaimana deskripsi, kepada istri pertama nya, dengan beberapa pengakuan dan ucapan adalah di perinci ;
a.} Pengakuan duda seorang suami menurut qoul al-ashah adalah termasuk kinayah thalaq, apabila berniat thalaq maka terjadi thalaq. Sedangkan menurut pendapat lain adalah tidak termasuk thalaq, karena di anggap sebuah kedusta’an belaka.
b.} Pengakuan bercerai dengan istri nya kepada orang lain, adalah apabila bermaksud mengkhabarkan, namun hal itu adalah kebohongan, maka di anggap iqrar (pengakuan) thalaq, dan thalaq nya terjadi secara dhohir, tetapi secara bathin adalah istri nya, Tapi kalo bermaksud insyaa’u al-thalaq (menghendaki thalaq), maka terjadi thalaq.
c.} Menthalaq kepada orang lain, adalah tidak terjadi thalaq kepada istri nya.

💧 R E F E R E N S I :

[المهذب فى فقه الامام الشافعي، ج ٢ ص ٨٢]📗
وَإِنْ قَالَ لَهُ رَجُلٌ أَلَكَ زَوْجَةٌ؟ فَقَالَ “لاَ” فَإِنْ لَمْ يَنْوِ بِهِ الطَّلاَقَ لَمْ تُطَلَّقْ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِصَرِيْحٍ وَإِنْ نَوَى بِهِ الطَّلاَقَ وَقَعَ  لِأَنَّهُ يَحْتَمِلُ الطَّلاَقَ

“Seandai nya seseorang bertanya kepada orang yang sudah beristri, apa kah kamu sudah punya istri ? Lantas ia menjawab “tidak”. Jika ia tidak berniat menceraikan istri nya, maka istri nya tidak menjadi orang yang di ceraikan atau (terthalaq), karena ucapan nya tidak jelas mengacu pada perceraian. Namun jika ia berniat menceraikan, maka jatuh lah perceraian, karena ucapan nya mengandung kemungkinan perceraian.”


[مغني المحتاج، ج ٤ ص ٥٢٧]📗
وَلَوْ قِيلَ لَهُ اسْتِخْبَارًا أَطَلَّقْتهَا) أَيْ زَوْجَتَك (فَقَالَ نَعَمْ) أَوْ نَحْوَهَا مِمَّا يُرَادِفُهَا كَأَجَلْ وَجَيْرٍ (فَإِقْرَارٌ) صَرِيحٌ (بِهِ) أَيْ الطَّلَاقِ؛ لِأَنَّ التَّقْدِيرَ نَعَمْ طَلَّقْتُهَا، فَإِنْ كَانَ كَاذِبًا فَهِيَ زَوْجَتُهُ بَاطِنًا

[Mughny al-Muhtaj, juz 4, hal 527]
“(meskipun dikatakan kepadanya untuk meminta informasi apakah kau telah menthalaq nya) maksudnya adalah istri mu (maka ia berkata -Ya-) atau sesuatu yang mirip sejenisnya seperti ya atau mengabsahkannya (maka itu adalah pernyataan pengakuan) sharih/jelas (dengannya) maksudnya thalaq, karena taqdirnya adalah ya, aku thalaq dia. Jika ia berbohong, maka ia adalah istrinya secara bathin”.


[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٩ ص ٦٨٨٣]📗
طلاق غير الزوج: لا يصح طلاق غير الزوج، لحديث «لا طلاق قبل النكاح، ولا عتق قبل ملك»

[Al-fiqh al-islamy wa adillatuh, juz 9, hal 6883]
“Thalaq tanpa nikah : tidak sah thalaq tanpa nikah, berdasakan hadits《tidak ada thalaq sebelum nikah, tidak pembebasan sebelum memiliki》”.


[إعانة الطالبين، ج ٤ ص ١٤]📗
ولو قال لآخر: أطلقت زوجتك ملتمسا الانشاء؟ فقال: نعم أو إي وقع وكان صريحا، فإذا قال: طلقت فقط كان كناية لان نعم متعينة للجواب، وطلقت مستقلة، فاحتملت الجواب والابتداء

[I'anatuth thalibin, juz 4, hal 14]
“Jika ia berkata kepada orang lain : berdasarkan khabar berita apakah kau thalaq istrimu ? Kemudian ia menjawab iya atau he’eh, maka jatuhlah thalaq, dan thalaq nya itu sharih. Jika ia menjawab aku "thalaq" saja maka menjadi thalaq kinayah, karena iya adalah muta'ayyin/tertentu untuk jawaban, dan aku thalaq mustaqillah/lebih ringan, bisa berarti jawaban, bisa sekedar permulaan kata”.


[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٩ ص ٦٨٨٨]📗
ما يشترطه في الركن الثالث ـ محل الطلاق أو من يقع عليه الطلاق:
المرأة هي التي يقع عليها الطلاق، إذا كانت في حال زواج صحيح قائم فعلاً، ولو قبل الدخول، أو في أثناء العدة من طلاق رجعي؛ لأن الطلاق الرجعي لا تزول به رابطة الزوجية إلا بعد انتهاء العدة

[al-fiqhu al-islamy wa adillatuhu, juz 9, hal 6888]
“yang disyaratkan pada rukun ke tiga, tempat thalaq atau orang yang dijatuhkan thalaq : perempuan yang dijatuhkan thalaq atasnya, jika kondisinya dalam pernikahan yang sah yang dilakukannya, meskipun belum disetubuhi, atau dalam keadaaan iddah karena thalaq raj'iy. Karena thalaq raj'iy tidak menghilangkan hubungan pernikahan, kecuali setelah berakhirnya iddah”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Bagaimana status anak ke 3 tersebut ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tetap bernasab kepada suami nya (si ikhwan nya), selama istri pertama tersebut status thalaq nya tidak jatuh/tidak terjadi, atau anak tersebut hasil dari hubungan perkawinan yang masih sah.

💧 R E F E R E N S I :

[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٧  ص ٦٨١]📗
أسباب ثبوت النسب من الأب:
سبب ثبوت نسب الولد من أمه: هو الولادة، شرعية كانت أم غير شرعية، كما قدمنا، وأما أسباب ثبوت النسب من الأب فهي:
١ - الزواج الصحيح
٢ - الزواج الفاسد
٣ - الوطء بشبهة

[al-fiqhu al-islamy wa adillatuhu, juz 7, hal 681]
“sebab-sebab tetapnya nasab dari ayah :
1. Pernikahan yang sah.
2. Pernikahan yang rusak.
3. Wathi' bi syubhah”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Apakah pernikahan ana sah ⁉️

🍏 JAWABAN :

Sah, jika syarat dan rukun nya terpenuhi.

💧 R E F E R E N S I :

[فتح الوهاب، ج ٢ ص ٤١]📗
فَصْلٌ: فِي أَرْكَانِ النِّكَاحِ وَغَيْرِهَا.
"أَرْكَانُهُ " خَمْسَةٌ" زَوْجٌ وَزَوْجَةٌ وَوَلِيٌّ وَشَاهِدَانِ وَصِيغَةٌ ---إلى أن قال--- " و " شرط " في الزوج حل واختيار وتعيين وعلم بحل المرأة له

“Fashal tentang rukun-rukun nikah dan lain nya. Rukun-rukun nikah ada lima, yaitu : mempelai pria, mempelai wanita, wali, dua saksi, dan shighat (ijab Qabul).
Dan di Syaratkan pada calon suami, ialah halal menikahi calon istri (maksud nya beragama Islam dan bukan mahram), tidak terpaksa, di pertentukan, dan tahu akan halal nya calon istri bagi nya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

4.) Jika ana mau cerai apa yang harus ana lakukan ⁉️

🍏 JAWABAN :

Bisa menempuh cara ;

~ Mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, dengan proses yang telah di atur oleh undang-undang, di antara nya dengan lebih dulu melakukan itsbatun nikah (penetapan sah nikah dan di akui negara), Hal ini di lakukan ketika gugat cerai di lakukan, karena syiqaq (perselisihan yang menjadikan kedua nya tidak dapat di pertemukan (di selesaikan), (dan kedua belah pihak tidak dapat mengatasi nya).

~ Jika tidak memungkinkan, maka bisa melakukan fasakh (pembatalan nikah), yaitu apabila suami tidak dapat memberi nafaqah kepada istri selama 3 hari ke depan, dengan penetapan hakim atau muhakkam (dengan syarat-syarat nya) berdasarkan iqrar (pengakuan) suami.

💧 R E F E R E N S I :

[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٩ ص ٧٠٤١]📗
والتفريق القضائي قد يكون طلاقاً: وهو التفريق بسبب عدم الإنفاق أو الإيلاء أو للعلل أو للشقاق بين الزوجين أو للغيبة أو للحبس أو للتعسف، وقد يكون فسخاً للعقد من أصله كما هو حال التفريق في العقد الفاسد، كالتفريق بسبب الردة وإسلام أحد الزوجين.

[al-fiqhu al-islamy wa adillatuhu, juz 9, hal 704]
“dan tafriq qadha’iy terkadang menjadi thalaq. Yaitu perpisahan yang disebabkan tidak adanya nafaqah atau perwalian atau karena sakit/cacat atau pertengkaran antara suami istri atau karena hilang/tidak ada, penjara atau karena kekejaman, dan terkadang karena ada fasakh/yang membatalkan aqad dari asalnya, sebagaimana kondisi perceraian pada aqad yang fasid, seperti perceraian yang disebabkan kemurtadan atau keislaman salah satu dari suami istri”.


[تحفة المحتاج، ج ٨ ص ٣٤١]📗
(وَلَا فَسْخَ) بِإِعْسَارِ مَهْرٍ، أَوْ نَحْوِ نَفَقَةٍ (حَتَّى) تُرْفَعَ لِلْقَاضِي، أَوْ الْمُحَكَّمِ وَ (يُثْبِتَ) بِإِقْرَارِهِ، أَوْ بِبَيِّنَةٍ (عِنْدَ قَاضٍ) ، أَوْ مُحَكَّمٍ (إعْسَارَهُ فَيَفْسَخَهُ) بِنَفْسِهِ، أَوْ نَائِبِهِ (أَوْ يَأْذَنَ لَهَا فِيهِ) ؛ لِأَنَّهُ مُجْتَهِدٌ فِيهِ ---إلى أن قال--- فَإِنْ فُقِدَ قَاضٍ وَمُحَكَّمٌ بِمَحَلِّهَا، أَوْ عَجَزَتْ عَنْ الرَّفْعِ إلَيْهِ كَأَنْ قَالَ: لَا أَفْسَخُ حَتَّى تُعْطِيَنِي مَالًا كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ اسْتَقَلَّتْ بِالْفَسْخِ لِلضَّرُورَةِ، وَيَنْفُذُ ظَاهِرًا وَكَذَا بَاطِنًا كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ خِلَافًا لِمَنْ قَيَّدَ بِالْأَوَّلِ؛ لِأَنَّ الْفَسْخَ مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلٍ صَحِيحٍ، وَهُوَ مُسْتَلْزِمٌ لِلنُّفُوذِ بَاطِنًا.

[Tuhfatul muhtaj, juz 8, hal 341]
“(Dan tidak fasakh/batal) karena menghentikan mahar atau sejenis nafaqah (sehingga) ia mengangkat kepada qadhi atau orang yang dianggap hakim/menengahi dan  (menetapkan) dengan pernyataannya, atau buktinya (pada qadhi) atau penengah (berbagai kesulitan kemudian ia membatalkannya) oleh dirinya atau wakilnya, (atau ia memberi idzin baginya/si perempuan dalam hal tersebut), karena berijtihad dalam hal tersebut --- sampai dengan perkataan ---  maka jika tidak menemukan qadhi atau penengah/dianggap hakim di tempatnya, atau tidak mampu mengangkat kepadanya dan sang suami berkata : aku tidak batalkan sampai engkau memberiku harta, sebagaimana ia itu tampak,, maka berubah menjadi batal karena dharurat, dan berlaku secara zhahir dan begitu juga bathin, sebagaimana ia zhahir berbeda dengan orang yang menentukan pada awwal, karena fasakh terbentuk dari asal yang sah, dan melazimkan pada berlakunya secara bathin”.


(قَوْلُهُ: أَوْ الْمُحَكَّمِ) أَيْ: بِشَرْطِهِ نِهَايَةٌ أَيْ: بِأَنْ يَكُونَ مُجْتَهِدًا وَلَوْ مَعَ وُجُودِ قَاضٍ، أَوْ مُقَلِّدًا وَلَيْسَ فِي الْبَلَدِ قَاضِي ضَرُورَةً ع ش ---إلى أن قال--- (قَوْلُهُ: مَالًا) ظَاهِرُهُ وَإِنْ قَلَّ وَقِيَاسُ مَا مَرَّ فِي النِّكَاحِ مِنْ أَنَّ شَرْطَ جَوَازِ الْعُدُولِ عَنْ الْقَاضِي لِلْمُحَكَّمِ غَيْرِ الْمُجْتَهِدِ حَيْثُ طَلَبَ الْقَاضِي مَالًا أَنْ يَكُونَ لَهُ، وَقَعَ جَرَيَانُ مِثْلِهِ هُنَا اهـ ع ش

“(Perkataannya : atau seorang penengah/yang dianggap hakim) maksudnya : dengan syaratnya pada kitab nihayah, yaitu harus seorang mujtahid, meskipun bersamaan dengan adanya qadhi, atau seorang muqollid dan tidak ada qadhi dalam kampung tersebut, bila dharurat menurut Syeikh ali asy-Syibrammalisy --- sampai perkataan --- (perkataannya : harta) zhahirnya meskipun kurang dan secara qiyas, untuk apa-apa yang telah lalu dalam pernikahan, karena syarat bolehnya berbagai secara adil dari qadhi kepada muhakkim, yang bukan mujtahid, jika qadhi menuntut harta menjadi miliknya, maka jatuhlah dua kebiasaan sepertinya di sini, selesai. Imam ali asy-Syibrammalisy”.


[إعانة الطالبين، ج ٤ ص ١٠٥]📗
(قوله: عند قاض) متعلق بثبوت (قوله: أو محكم) قال في النهاية: بشرطه اه‍. وكتب ع ش: قوله بشرطه، أي بأن يكون مجتهدا ولو مع وجود قاض أو مقلدا وليس في البلد قاضي ضرورة اه‍. ---إلى أن قال--- (قوله: كأن قال الخ) تمثيل للعجز عن الرفع ويمثل أيضا بما إذا فقد الشهود أو غابوا. وقوله لا أفسخ حتى تعطيني مالا قال ع ش: ظاهره وإن قل وقياس ما مر في النكاح من أن شرط جواز العدول عن القاضي للمحكم غير المجتهد حيث طلب القاضي مالا أن يكون له وقع جريان مثله هنا اه‍

[Ianatut thalibin, juz 4z hal 105]
“(Perkataan nya : pada qadhi) berkaitan dengan ketetapan (perkataannya : atau muhakkim) berkata dalam kitab annihayah, dengan syaratnya, sampai dengan selesai. Dan menulis imam ali asy-Syibrammalisy : perkataanya dengan syaratnya, ya'ni harus menjadi mujtahid meskipun dengan adanya qadhi atau muqallid yang tidak ada di kampung itu qadhi dalam keadaan dharurat , selesai. ---sampai perkataan--- (perkataannya : telah berkata sampai dengan akhirnya) perumpamaan bagi orang yang tidak sanggup untuk mengangkat dan diumpamakan juga dengan sesuatu jika kehilangan saksi atau lenyap. Perkataannya aku tidak batalkan sampai kau memberiku harta, berkata imam ali asy-Syibrammalisy : itu secara zhahirnya meskipun kurang, dan qiyas terhadap apa-apa yang telah lalu dalam pernikahan, karena syarat berbagai bolehnya untuk adil dari qadhi kepada muhakkim yang bukan mujtahid, bila qadhi meminta harta yang ada padanya, maka jatuhlan kedua kebiasaan itu semisalnya.di sini. Selesai”.


[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ٩ ص ٧٠٦٠]📗
التفريق للشقاق أو للضرر وسوء العشرة:
المقصود بالشقاق والضرر: الشقاق هو النزاع الشديد بسبب الطعن في الكرامة. والضرر: هو إيذاء الزوج لزوجته بالقول أو بالفعل، كالشتم المقذع والتقبيح المخل بالكرامة، والضرب المبرِّح، والحمل على فعل ما حرم الله، والإعراض والهجر من غير سبب يبيحه، ونحوه.
رأي الفقهاء في التفريق للشقاق:
لم يجز الحنفية والشافعية والحنابلة التفريق للشقاق أو للضرر مهما كان شديداً؛ لأن دفع الضرر عن الزوجة يمكن بغير الطلاق، عن طريق رفع الأمر إلى القاضي، والحكم على الرجل بالتأديب حتى يرجع عن الإضرار بها.
وأجاز المالكية التفريق للشقاق أو للضرر، منعاً للنزاع، وحتى لا تصبح الحياة الزوجية جحيماً وبلاء، ولقوله عليه الصلاة والسلام: «لا ضرر ولا ضرار». *وبناء عليه ترفع المرأة أمرها للقاضي، فإن أثبتت الضرر أو صحة دعواها، طلقها منه*، وإن عجزت عن إثبات الضرر رفضت دعواها، فإن كررت الادعاء بعث القاضي حكمين: حكماً من أهلها وحكماً من أهل الزوج، لفعل الأصلح من جمع وصلح أو تفريق بعوض أو دونه، لقوله تعالى: {وإن خفتم شقاق بينهما، فابعثوا حكماً من أهله وحكماً من أهلها} [النساء:٣٥]

[al-fiqhu al-islamy wa adillatuhu, juz 9, hal 8060]
“perceraian karena kekejaman atau karena mencelakai atau buruknya perlakuan : yang dimaksud dengan kekejaman atau mencelakai : kekejaman adalah menyiksa secara kejam disebabkan merusak kehormatan. Dan mencelakai adalah suami menyakiti istri dengan perkataan atau perbuatan, seperti makian yang keji, menjelekkan yang bertentangan dengan kehormatan, pukulan yang menyakiti, melakukan hal yang diharamkan Allah, meninggalkan dan pisah kamar tanpa sebab yang membolehkannya, atau sejenisnya.
Pendapat para ahli fiqih tentang perceraian karena kekejaman :
Madzhab Hanafi, Syafi'i dan Hanbali tidak membolehkan perceraian karena kekejaman atau dharar, meskipun dalam keadaan keterlaluan. Karena menolak dharar dari pernikahan dimungkinkan dengan selain thalaq, dengan cara mengangkatnya kepada qadhi, dan hukum atas laki-laki dengan ta’dib, sehingga tidak mencelakai lagi terhadap perempuan.
Madzhab Maliki memperbolehkan perceraian karena kekejaman atau mencelakai, karena larangan untuk menyiksa, sehingga kehidupan pernikahan tidak menjadi neraka dan siksa. Berdasarkan sabda nabi عليه الصلاة والسلام 《tidak ada celaka dan tidak ada mencelakai》 berdasarkan laporan perempuan, tentang perkara itu kepada qadhi, jika ia menetapkan dharar atau sah tuntutan nya, maka laki-laki itu menthalaq nya dikarenakan hal tersebut. Dan jika ia tidak mampu menetapkan dharar tersebut, maka tuntutannya ditolak.  Jika berulang-ulang tuntutan itu, maka qadhi mengutus 2 penengah : seorang penengah dari keluarganya dan seorang penengah dari keluarga suami, untuk melakukan yang terbaik untuk semua nya. Maka mendamaikan atau menceraikan dengan bisa kembali atau tidak, berdasarkan firman Allah ta'ala : {Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.} (Annisa : 35)”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

5.) Apakah berdosa jika ana ingin bercerai dengan Ikhwan seperti di atas, Sekalipun mungkin ikhwan nya sudah bertaubat ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum nya makruh meminta cerai kepada suami, kecuali apabila perkawinan nya di lanjutkan, kemudian di khawatirkan terjadi perselisihan, yang menyebabkan tidak harmonis nya keluarga, tidak dapat melaksanakan kewajiban, tidak tha'at kepada suami, maka sunnah meminta cerai, tetapi dengan prosedur (Tahap-tahap menyelesaikan masalah) khulu'.

💧 R E F E R E N S I :

[الفقه على المذاهب الأربعة، ج ٤ ص ٣٩٠]📗
فهرس ~ الشافعية - قالوا: الأصل في الخلع الكراهة، فيكره للرجل أن يخالع زوجته لغير حاجة، كما يكره للمرأة أن تبذل مالها للرجل ليخالعها بدون ضرورة، ولكن يستثنى من الكراهة صورتان: الصورة الأولى: أن يحدث بينهما شقاق يخشى منه أن يفرط كل من الزوجين في الحقوق التي فرضها الله عليه للآخر، كما إذا خرجت الزوجة عن طاعة الزوج، وأساءت معاشرته، أو أساء هو معاشرتها بالشتم أو الضرب بلا سبب، ولم يزجرهما الحاكم ولم يتمكن أهلهما من الصلح بينهما فإنه في هذه الحالة يستحب الخلع

[al-fiqhu ala al-madzahib al-arba'ah, juz 4, hal 390]
“fihris ~ assyafi'iyyah - mereka berpendapat : asal dalam khulu' adalah makruh. Maka dimakruhkan bagi laki-laki untuk meng-khulu' istrinya tanpa ada keperluan, sebagaimana dimakruhkan bagi perempuan untuk menggunakan hartanya bagi laki-laki untuk meng-khulu'nya tanpa ada kedharuratan. Tapi dikecualikan dari kemakruhan dalam 2 kondisi. Kondisi yang pertama : terjadi kekejaman di antara keduanya yang ditakutkan karenanya, akan menghilangkan dari kedua suami istri hak-hak yang diwajibkan Allah atasnya kepada yang lain. Sebagaimana keluarnya istri dari ketha'atan kepada suami, dan berbuat buruk terhadap perlakuan kepadanya. Atau sang suami berbuat buruk dalam perlakuan kepadanya, dengan mencaci atau memukul tanpa sebab. Dan hakim tidak melarang keduanya dan tidak memungkinkan untuk keluarga keduanya mendamaikan keduanya, karena itu dalam kondisi ini disunnahkan khulu”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

6.) Bagaimana pandangan islam tentang sikap lelaki yang seperti itu (berdusta) terhadap perempuan ⁉️

🍏 JAWABAN :

Berdosa seseorang yang berdusta yang mengakibatkan kemudhorotan kepada orang lain (laki-laki ke perempuan maupun sebalik nya). Berdusta di bolehkan bahkan wajib, apabila mengandung manfa'at atau mashlahah (kebaikan) untuk diri nya dan orang lain.

[إحياء علوم الدين، ج ٣ ص ١٣٧]📗
اعْلَمْ أن الكذب ليس حراماً لعينه بل لِمَا فِيهِ مِنَ الضَّرَرِ عَلَى الْمُخَاطَبِ أَوْ على غيره فإن أقل درجاته أن يعتقد المخبر الشيء على خلاف ما هو عليه فيكون جاهلاً وقد يتعلق به ضرر غيره ورب جهل فيه منفعة ومصلحة فالكذب محصل لذلك الجهل فيكون مأذوناً فيه وربما كان واجباً

[Ihya ulumiddin, juz 3, hal 137]
“ketahuilah bahwa bohong itu bukanlah haram, karena ain nya, tapi karena apa yang ada didalamnya mencelakai lawan bicara atau orang selainnya. Maka sesungguhnya derajatnya paling sedikitnya, orang yang diberi khabar berkeyakinan tentang sesuatu, secara berlawanan atas apa apa yang ia tidak ketahui manfaat dan mashlahat didalamnya.  Kebohongan menghasilkan kebodohan itu, maka terkadang orang tersakiti, karenanya walaupun kebohongan itu wajib”.


قال ميمون بن مهران الكذب في بعض المواطن خير من الصدق أرأيت لو أن رجلاً سعى خلف إنسان بالسيف ليقتله فدخل داراً فانتهى إليك فقال أرأيت فلاناً ما كنت قائلاً ألست تقول لم أره وما تصدق به وهذا الكذب واجب

“Berkata maymun bin mahran, kebohongan sebagian tempat lebih baik daripada kejujuran. Apakah kau pernah melihat jikalau seorang laki-laki berjalan di belakang seorang manusia, dengan pedang untuk membunuhnya, maka ia masuk ke dalam sebuah rumah, maka ia selesai padamu. Maka berkata apakah kau melihat seseorang yang tidak pernah kau katakan, bukankah engkau akan berkata aku tidak melihatnya, serta engkau tidak jujur kepadanya. Dan ini adalah kebohongan yang wajib”.


فنقول الكلام وسيلة إلى المقاصد فكل مقصود محمود يمكن التوصل إليه بالصدق والكذب جميعاً فالكذب فيه حرام وإن أمكن التوصل إليه بالكذب دون الصدق فالكذب فيه مباح إن كان تحصيل ذلك القصد مباحاً وواجب إن كان المقصود واجباً كما أن عصمة دم المسلم واجبة فمهما كان في الصدق سفك دم أمرىء مسلم قَدِ اخْتَفَى مِنْ ظَالِمٍ فَالْكَذِبُ فِيهِ وَاجِبٌ ومهما كَانَ لَا يَتِمُّ مَقْصُودُ الْحَرْبِ أَوْ إِصْلَاحُ ذات البين أن استمالة قلب المجني عليه إلا بكذب فالكذب مباح إلا أنه ينبغي أن يحترز منه ما أمكن لأنه إذا فتح باب الكذب على نفسه فيخشى أن يتداعى إلى ما يستغنى عنه وإلى ما لا يقتصر على حد الضرورة فيكون الكذب حراماً في الأصل إلا لضرورة

“Maka kami berpendapat bahwa kalam adalah perantara kepada tujuan-tujuan. Setiap tujuan yang terpuji mungkin sampai kepadanya dengan jujur atau berbohong secara bersamaan. Maka bohong dalam hal tersebut adalah haram. Dan jika mungkin untuk mencapainya dengan berbohong, tanpa melakukan kejujuran, maka kebohongan dalam hal itu mubah, jika mencapai maksud tersebut mubah dan wajib jika maksudnya adalah wajib. Seperti melindungi darah seorang muslim yang bersembunyi dari orang zhalim, maka berbohong dalam hal tersebut wajib, bahkan sekalipun itu tidak menyempurnakan tujuan perang. Atau mendamaikan saudara. Sesungguhnya robeknya hati seorang tawanan kecuali dengan kebohongan. Maka kebohongan itu mubah, kecuali karena ia harus menjaga darinya sebisa mungkin. Karena jika ia membuka pintu kebohongan atas dirinya, ia akan takut dituntut kepada hal-hal yang tidak perlu untuk itu, dan kepada hal-hal yang tidak dibatasi oleh batasan dharurat, maka kebohongan tersebut haram pada asalnya kecuali karena dharurat”.


والذي يدل على الاستثناء ما روي عن أم كلثوم قالت ما سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يرخص في شيء من الكذب إلا في ثلاث الرجل يقول القول يريد به الإصلاح والرجل يقول القول في الحرب والرجل يحدث امرأته والمرأة تحدث زوجها

“Dan yang menunjukkan atas pengecualian itu, adalah hadits yang diriwayatkan ummi kultsum, ia berkata : aku tidak pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menggampangkan untuk berbohong dalam suatu hal, kecuali dalam 3 perkara, laki-laki yang mengatakan sesuatu karena menginginkan dengan perkataan tersebut kebaikan, laki-laki mengatakan suatu perkataan dalam perang, dan laki-laki bercerita kepada istrinya dan perempuan itu bercerita kepada suaminya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

7.) Bolehkah perempuan meminta suaminya/calon suaminya agar menceraikan istri sebelumnya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tidak boleh istri tua menyuruh/meminta istri muda nya (atau sebalik nya) di cerai oleh suami, dengan tujuan dapat memiliki sepenuh nya. Kecuali ada sebab yang membolehkan, seperti istri muda punya anak yang nafaqah nya di bebankan kepada suami, atau hanya semata-mata memberi nasehat atau karena mudhorot yang timbul, baik bagi suami atau istri.

💧 R E F E R E N S I :

[شرح النووي علي مسلم، ج ٩ ص ١٩٣]📗
نَهْيُ الْمَرْأَةِ الْأَجْنَبِيَّةِ أَنْ تَسْأَلَ الزَّوْجَ طَلَاقَ زَوْجَتِهِ وَأَنْ يَنْكِحَهَا وَيَصِيرَ لَهَا مِنْ نَفَقَتِهِ وَمَعْرُوفِهِ وَمُعَاشَرَتِهِ وَنَحْوِهَا مَا كَانَ لَلْمُطَلَّقَةِ فعبر عن ذلك باكتفاء ما في الصحفة مَجَازًا قَالَ الْكِسَائِيُّ وَأَكْفَأْتُ الْإِنَاءَ كَبَبْتُهُ وَكَفَأْتُهُ وَأَكْفَأْتُهُ أَمَلْتُهُ وَالْمُرَادُ بِأُخْتِهَا غَيْرِهَا سَوَاءٌ كَانَتْ أُخْتَهَا مِنَ النَّسَبِ أَوْ أُخْتَهَا فِي الْإِسْلَامِ أَوْ كَافِرَةً

[Syarhu an-nawawy ala muslim, juz 9, hal 193]
“Seorang perempuan ajnabiyah dilarang untuk meminta seorang suami agar menalak istrinya, agar menikahinya dan agar memberikan nafaqah, kebaikan dan mu'asyarah kepadanya, serta sejenisnya apa yang ada bagi orang yang di thalaq. Maka di ibaratkan dari hal tersebut untuk mencukupkan dengan apa yang ada dalam pinggan sebagai majaz. Imam al-kisa’i berkata : aku mencukupkan tempayan sebagai rumahnya, mencukupi dan memenuhinya sebagai perumpamaan. Adapun yang dimaksud demgan saudaranya selainnya, sama saja antara saudaranya dari nasab atau saudaranya dalam islam atau seorang kafir”.


[طرح التثريب في شرح التقريب، ج ٦ ص ٩٤]📗
وَحَمَلَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ الْأُخْتَ هُنَا عَلَى الضَّرَّةِ فَقَالَ فِيهِ مِنْ الْفِقْهِ أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ تَسْأَلَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا أَنْ يُطَلِّقَ ضَرَّتَهَا لِتَنْفَرِدَ بِهِ. انْتَهَى.

[Tharhu attatsrib fi syarhi attaqrib, juz 6, hal 94]
“dan ibnu abdil bar condong mengenai saudara perempuan di sini sebagai dharrah/istri yang lain, maka ia berkata dalam hal ini dari segi fiqih, bahwasanya ia tidak harus bagi seorang perempuan meminta suaminya untuk menthalaq istrinya yang lain, agar dia menjadi satu satunya istri. Selesai”.


[فتح الباري، ج ٩ ص ٢١٩-٢٢٠]📗
قَوْلُهُ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تَسْأَلُ طَلَاقَ أُخْتِهَا لِتَسْتَفْرِغَ صَحْفَتَهَا فَإِنَّمَا لَهَا مَا قُدِّرَ لَهَا هَكَذَا أَوْرَدَهُ الْبُخَارِيُّ بِهَذَا اللَّفْظِ وَقَدْ أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْمُسْتَخْرَجِ مِنْ طَرِيقٍ بن الْجُنَيْدِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُوسَى شَيْخِ الْبُخَارِيِّ فِيهِ بِلَفْظِ لَا يَصْلُحُ لِامْرَأَةٍ أَنْ تشْتَرط طَلَاق أُخْتهَا لتكفيء إِنَاءَهَا ---إلى أن قال--- *قَوْلُهُ لَا يَحِلُّ ظَاهِرٌ فِي تَحْرِيمِ ذَلِكَ* وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ سَبَبٌ يَجُوزُ ذَلِكَ كَرِيبَةٍ فِي الْمَرْأَةِ لَا يَنْبَغِي مَعَهَا أَنْ تَسْتَمِرَّ فِي عِصْمَةِ الزَّوْجِ وَيَكُونُ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ الْمَحْضَةِ أَوْ لِضَرَرٍ يَحْصُلُ لَهَا مِنَ الزَّوْجِ أَوْ لِلزَّوْجِ مِنْهَا أَوْ يَكُونُ سُؤَالُهَا ذَلِكَ بِعِوَضٍ وَلِلزَّوْجِ رَغْبَةٌ فِي ذَلِكَ فَيَكُونُ كَالْخُلْعِ مَعَ الْأَجْنَبِيِّ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الْمُخْتَلِفَةِ

[Fathul bary, juz 9, hal 219-220]
“perkataannya tidak halal bagi seorang perempuan meminta thalaq bagi saudara perempuannya, agar menjadi lapang pinggannya, karena sesungguhnya baginya apa-apa yang ditaqdirkan untuknya. Demikian yang dicantumkan imam albukhary dengan lafazh ini. Dan telah mengeluarkannya abu nua'im dalam almustakhraj dari jalur  ibn aljunaid dari ubaidillah bin musa, syeikh albukhary didalamnya denga lafazh tidak baik bagi seorang perempuan mensyaratkan thalaq bagi saudara perempuannya, untuk mencukupi bejananya --- sampai dengan perkataan --- perkataannya tidak halal adalah jelas untuk mengharamkan hal tersebut. Dan ia mengandung arti pula tidak ada sebab disitu, maka hal tersebut diperbolehkan, seperti keraguan pada perempuan yang tidak harus bersamanya, atau berusaha menjaga suami terus menerus. Dan itu merupakan nashihat yang mahdhah atau karena membahayakan yang didapat baginya dari suami atau bagi suami darinya, atau  memintanya akan hal tersebut untuk kembali, dan sang suami memiliki keinginan dalam hal tersebut, maka hukumnya menjadi seperti khulu' pada ajnaby, dan demikian juga dikarenakan maksud-maksud yang berbeda-beda”.




MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : @⁨Kiai M.Huda_Jember⁩ @⁨Ibnu Agy⁩

@⁨نرجو منك⁩
@⁨Pemuda KAAFFAH 122⁩ @⁨Omar Faruq Muhtarom RTBK⁩ @⁨JZ 13 ARL⁩ @⁨U.Hafiluddin_Pasuruan⁩ @⁨🌷⁩ @⁨C.Alfiah⁩ @⁨U.Tajussubki_Aceh⁩ @⁨U.Saifuddin_Cimahi⁩ @⁨Hasan Al-madihij⁩ / para member grup 


TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang

والله أعلم بالصواب

Senin, 19 Oktober 2020

NIFAS & HAIDH DALAM ISTIHADHAH ~ MUTAHAYYIRAH

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 172
🧕🏻 Nama : Nur izzati An-Nisaa
Alamat : Jakarta Selatan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Perempuan awwalnya dia :
- Nifas 40 hari merah
- Suci sekitar seminggu.
- Keluar lagi merah sekitar seminggu, lalu terus menerus keluar, hingga hari ke 60 dengan darah lebih lemah, Dan setelah hari ke 60 sampai 3 bulan kedepan nya, lemah-kuat tidak beraturan dan tidak diketahui.
- Dengan kata lain, ringkas nya : seorang perempuan (mutahayyiroh muthlaqah) berbulan-bulan, lalu melihat diri nya suci 3 hari, lalu keluar lagi warnanya coklat.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Berapakah darah yang di hukumi nifas, masuk dalam kategori apa dan apa alasannya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Wanita dalam deskripsi di hukumi

مبتدأة مميزة في النفاس.
Bila darah yang 7 hari kekuatan darah nya sama dengan 40 hari, maka ketentuan nifas nya sebagaimana berikut ;
▪️54 hari (jika pakai Qoul Sahab).
Rincian nya ; 40+7+7
Suci yang ada di antara dua darah juga di hukumi nifas.
▪️47 hari (jika pakai Qoul laqthi).
Rincian nya ; 40+7
Darah merah adalah nifas
Lalu suci 7 hari yang ada di antara 2 darah hukum nya suci, ya'ni istihadhoh yang wajib untuk dia mengqhodho sholat dan puasa jika ada.

Keterangan : Di katakan disana darah yang di hukumi nifasnya adalah 54 hari____54 hari ini adalah total dari 40 hari pertama keluar darah merah, lalu ditambah dengan 7 hari waktu putusnya darah, yang dihukumi sebagai nifas juga, lalu ditambah lagi 7 hari keluarnya darah merah. Ringkasnya 54= 40+7+7.

💧 R E F E R E N S I :

[كفاية النبيه في شرح التنبيه، ج ٢ ص ٢١٥]📗
قال: وإذا عبر الدم الأكثر- أي: جاوز الستين- فهو كالحيض في الرد إلى التمييز، أي: إذا كانت [المرأة مميزة] بأن ترى الدم القوي والضعيف ولم يزد القوي على أكثره فترد إليه؛ كما ذكرناه في الحيض، وهذا إذا كان الدم القوي هو الأول.
فلو كان الضعيف الأول، والقوي بعده- فيظهر أن يقال: إن كانت مدة الضعيف أقل من أقل الطهر، يتخرج على الوجهين في أنه هل يشترط في التمييز أن يقع القوي أولاً أم لا؟
وإن كان الضعيف أكثر من أقل الطهر فهو كما لو لم تر الدم عقيب الولادة، ورأته بعد خمسة عشر يوماً منها، وقبل مضي ستين يوماً، وقد سلف.

[Kifayatu annabih fi syarhi attanbih, Juz 2, hlm. 215]
“Dan berkata : Jika darah melewati yang paling banyak - artinya, melebihi enam puluh hari - maka itu seperti haidh dalam hal menjawab bagaimana membedakannya. Yaitu, jika [wanita yang mumayyizah] dengan melihat darah yang kuat dan lemah. Serta yang kuat tidak melebihi yang terbanyaknya, maka dikembalikan kepadanya. Seperti yang telah kami sebutkan dalam haidh, dan ini jika darah kuat adalah yang pertama.
Jika yang lemah adalah yang pertama, dan yang kuat setelah itu serta tampak jelas maka dikatakan : Jika periode yang lemah kurang dari sekurang-kurangnya suci, maka akan keluar dengan dengan dua pendapat apakah itu disyaratkan dalam tamyiz bahwa yang kuat harus terjadi lebih dulu atau tidak ?
Jika yang lemah lebih banyak dari sekurang-kurangnya suci, seakan-akan tidak terlihat darah ketika melahirkan, dan melihatnya setelah lima belas hari darinya, serta sebelum berlalunya enam puluh hari, dan telah terdahulu”.

وحكم التلفيق في النفاس كالتلفيق في الحيض، والستون [فيه] كالخمسة عشر يوماً في الحيض، والشروط: الشروط، فإذا ولدت ورأت ساعة دماً ثم [نقاء ساعة] أو يوماً أو أياماً دون خمسة عشر يوماً، ثم رأت دماً ثم نقاء، وهكذا- فالدم نفاس، وفي النقاء الذي بينه قولان، قال أبو الطيب: ولا يختلف المذهب فيه. نعم، لو رأت الدم أولا، ثم النقاء خمسة عشر يوماً، ثم رأت يوماً وليلة دماً، وهكذا إلى تمام الستين- فالدم الأول نفاس، وفي الدم الثاني وما بعده وجهان:
أحدهما: أنه دم حيض، وهو ما صححه القاضي الحسين.
والثاني: أنه نفاس. فعلى هذا في الطهر الذي بين الدماء القولان في التلفيق

Dan hukum talfiq saat nifas seperti talfiq saat haidh, dan enam puluh itu [di dalamnya] seperti lima belas hari pada haidh, dan syarat-syaratnya : adalah beberapa syarat yang jika dia melahirkan dan melihat darah selama 1 jam lalu [sejam suci] atau sehari atau beberapa hari tapi kurang dari lima belas hari, kemudian dia melihat darah kemudian suci. Dan demikian ini maka dihukumkan darah Nifas, dan mengenai suci yang ada diantara 2 darah tersebut ada dua pendapat, Abu al-Thayyib berpendapat : Tidak ada perbedaan pendapat dalam madzhab Syafi'i mengenai hal tersebut. Ya, dan jika dia melihat darah terlebih dahulu, lalu suci selama lima belas hari, kemudian dia melihat darah selama sehari dan malam, dan seterusnya sampai enam puluh penuh - maka darah pertama adalah nifas, dan darah kedua dan setelah itu adalah dua pendapat : Yang pertama : bahwasanya itu adalah darah haidh, dan ini yang dishahihkan oleh al Qodhy Al-Husein. Kedua: Ini adalah nifas. Berdasarkan ini, di dalam suci yang ada di antara darah-darah yang tampak itu, dimasukkan dalam talfiq”.


[روضة الطالبين، ج ١ ص ١٧٨]📗
وَأَمَّا الْمُمَيِّزَةُ فَتَرُدُّ إِلَى التَّمْيِيزِ بِشَرْطِهِ. كَالْحَائِضِ، وَشَرْطُ تَمْيِيزِ النُّفَسَاءِ، أَنْ لَا يَزِيدَ الْقَوِيُّ عَلَى سِتِّينَ يَوْمًا. وَلَا ضَبْطَ فِي أَقَلِّهِ، وَلَا أَقَلِّ الضَّعِيفِ.

[Raudhatut Thalibin, Juz 1, hal. 178]
“Adapun yang bisa dibedakan dikembalikan kepada kejelasannya dengan syaratnya. Seperti orang yang sedang haidh, syarat untuk membedakan atas orang yang nifas adalah jangan sampai darah yang kuat melebihi enam puluh hari. Dan tidak ada keraguan dalam paling sedikitnya dan tidak juga sekurang-kurangnya darah yang lemah”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Kapan dia harus mandi sucinya, Qodho sholatnya, Kapan dia ihtiyath dan menghukumi darahnya menjadi haidh ⁉️

🍏 JAWABAN :

- Mandi suci dari Nifas adalah setelah 60 hari. Sebab darah yang keluar sebelum itu, masih di mungkinkan darah nifas dan belum pasti istihadhah.
- Menurut pendapat yang Masyhur (Kuat) bahwa, perempuan seperti kasus di atas adalah tergolong متحيرة  wajib dia ihtiyath (berhati-hati/perhatian), yaitu dia tidak memiliki masa haidh, sehingga wajib mandi dan wudhu setiap waktu sholat.
- Sedangkan pendapat kedua (Lemah) masa haidh nya 1 hari semalam atau 6 sampai dengan 7 hari.

- Adapun untuk menentukan permulaan haidh ada dua pendapat ;
• Pertama : Di tentukan setelah hari ke 54, darah nya di anggap istihadhah selama 29 hari, dan setelah itu 1 hari adalah darah haidh, dan begitu seterus nya.
• Kedua : Haidh nya 1 hari, di mulai pada awwal bulan hilaliyah, atau tanggal 1 sampai dengan 29 (Bulan Hijriyyah).

✍️ NB :
Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang Masyhur (Kuat) yang lebih patut untuk di ikuti / di amalkan.

💧 R E F E R E N S I :

[أسنى المطالب، ج ١ ص ١١٤]📗
(فَإِذَا تَعَوَّدَتْ النِّفَاسَ) بِأَنْ سَبَقَ لَهَا فِيهِ عَادَةٌ (دُونَ الْحَيْضِ) بِأَنْ كَانَتْ مُبْتَدَأَةً فِيهِ *(جَعَلْنَا طُهْرَهَا بَعْدَ عَادَةِ النِّفَاسِ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ يَوْمًا وَحَيَّضْنَاهَا) بَعْدَهُ (يَوْمًا وَلَيْلَةً وَاسْتَمَرَّتْ* وَهَكَذَا مُبْتَدَأَةٌ فِيهِمَا) أَيْ فِي النِّفَاسِ وَالْحَيْضِ (إلَّا أَنَّ هَذِهِ) أَيْ الْمُبْتَدَأَةَ فِيهِمَا (نِفَاسُهَا لَحْظَةٌ) وَهُوَ الْأَقَلُّ لِأَنَّهُ الْمُتَيَقَّنُ

[Asna Al-Mathalib, Juz 1, hal. 114]
“(Jika telah kembali nifas) karena telah lewat baginya di dalamnya berulang lagi (tanpa haidh) yang menjadi mubtda’ah/pemula di dalamnya (Kami menjadi kan sucinya setelah biasanya nifas dua puluh sembilan hari dan kemudian kami anggap haidh) setelahnya (1 hari dan 1 malam dan berlanjut dan yang demikian mubtada’ah/permulaan pada keduanya) yaitu nifas dan haidh (kecuali bila ini) yaitu mubtada’ah/permulaan pada keduanya (nifasnya sebentar) dan itu adalah yang paling sedikit, karena ia mutayaqqon/dapat dipastikan keyakinannya”.


[المهذب فى فقه الامام الشافعي، ج ١ ص ٨٢]📗
فإن كانت ناسية للوقت والعدد وهي المتحيرة ففيها قولان: أحدهما أنها كالمبتدأة التي لا تمييز لها نص عليه في العدد فيكون حيضها من أول كل هلال يوماً وليلة في أحد القولين أو ستاً أو سبعاً في الآخر

[Al-Muhadzzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi'i, Juz 1, hal. 82]
“Jika dia lupa tentang waktu dan jumlah serta dia bingung, maka ada dua pendapat : yang pertama adalah dia seperti permulaan/mubtada’ah yang tidak dibedakan atasnya dalam jumlah, maka haidh nya akan dimulai dari awwal setiap bulan baru 1 hari dan 1 malam, dan pada salah satu pendapat atau enam atau tujuh hari, menurut pendapat yang lain”.


[روضة الطالبين، ج ١ ص ١٥٣]📗
الْأَوَّلُ: أَنْ تَنْسَى عَادَتَهَا قَدْرًا وَوَقْتًا، لِغَفْلَةٍ، أَوْ عِلَّةٍ، أَوْ جُنُونٍ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَتُسَمَّى: الْمُتَحَيِّرَةُ وَالْمُحَيَّرَةُ، وَفِي حُكْمِهَا طَرِيقَانِ. جَحْدُهُمَا: أَنَّهَا مَأْمُورَةٌ بِالِاحْتِيَاطِ.
وَالثَّانِي: عَلَى قَوْلَيْنِ. الْمَشْهُورُ: الِاحْتِيَاطُ. وَالثَّانِي: أَنَّهَا كَالْمُبْتَدَأَةِ، فَيَكُونُ فِيمَا تَرُدُّ إِلَيْهَا الْقَوْلَانِ إِلَى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ.
وَالثَّانِي: سِتٌّ، أَوْ سَبْعٌ. وَقِيلَ: تَرُدُّ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ إِلَى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ قَطْعًا. وَعَلَى هَذَا الْقَوْلِ ابْتِدَاءُ حَيْضِهَا أَوَّلَ الْهِلَالِ، حَتَّى لَوْ أَفَاقَتِ الْمَجْنُونَةُ فِي أَثْنَاءِ الشَّهْرِ الْهِلَالِيِّ، كَانَ بَاقِي الشَّهْرِ اسْتِحَاضَةً.

[Raudhatut Thalibin, Juz 1, hlm. 153]
“Yang pertama : Melupakan kebiasaan secara kadar dan waktu, karena lalai, atau illat, atau gila, dan sebagainya, dan itu disebut : mutahayyirah dan muhayyarah. dan menghukuminya ada dua cara, menyangkal keduanya, karena itu diperintahkan untuk ber-ihthiyath.
Dan yang kedua : berdasarkan dua pendapat. Qaul masyhur : Ber-ihthiyath. Dan yang kedua : sesungguh nya ia seperti mubtada’ah/permulaan, Maka hal tersebut dikembalikan kepadanya oleh kedua pendapat tersebut kepada sehari semalam.
Dan yang kedua : enam, atau tujuh. Dan dikatakan : pendapat ini menolak secara pasti pendapat sehari semalam. Dan menurut pendapat ini awwal haidh adalah saat awwal bulan baru, sehingga jika orang yang sedang haidh menjadi gila di pertengahan bulan, maka sisanya dianggap istihadhah”.


[الفقه الإسلامي وأدلته، ج ١ ص ٦٤٦]📗
المتحيرة: وهي التي تحيرت في حيضها بجهل العادة، وعدم التمييز، ولها أحوال ثلاثة:
أـ الناسية لوقت عادتها وعددها: يكون حيضها في كل شهر ستة أيام أو سبعة بحسب اجتهادها ورأيها فيما يغلب على ظنها أنه أقرب إلى عادتها أو عادة نسائها، أو ما يكون أشبه بكونه حيضاً، ثم تغتسل، وتعتبر فيما بعد ذلك مستحاضة، تصوم وتصلي وتطوف، عملاً بحديث حمنة بن جحش: «فتحيَّضي ستة أو سبعة أيام في علم الله، ثم اغتسلي»إلخ

[al-Fiqh al-Islamy wa adillatuhu, Juz 1, hal. 646]
“al-Mutahayyirah : ia adalah yang dibingungkan kehaidhan nya, karena di luar kebiasaan dan tidak bisa dibedakan. Dan baginya 3 kondisi :
a. lupa waktu biasa nya dan jumlahnya, biasanya haidh itu enam atau tujuh hari pada tiap bulannya, berdasarkan ijtihad dan pendapat mengenainya, apa yang biasanya menurut perkiraan paling dekat dengan kebiasaannya atau istrinya, atau yang keadaannya lebih seperti haidh, kemudian mandi, dan setelah itu dianggap istihadhah, lalu puasa, shalat dan berthawaf. Berdasarkan hadits Hamnah bin Jahsy : «Maka kamu haidh selama enam atau tujuh hari menurut ilmu Allah, lalu mandilah» Dan seterusnya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Darah yang keluar setelah suci 3 hari hukumnya apa, Apa dia masih termasuk kategori mutahayyiroh, karena setelah 3 hari tersebut darah keluar lagi ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tetap tergolong darah mutahayyiroh, sehingga tetap wajib ihtiyath. Sebab dengan mampet 3 hari, status darah yang keluar setelah nya belum bisa di pastikan hukum nya. Namun demikian, pada saat mampet 3 hari tersebut tidak wajib mandi dan wudhu' setiap shalat, karena tidak ada kemungkinan إنقطاع dan juga tidak hadats.
Dan menurut qoul laqthi masa 3 hari tersebut di anggap suci, sehingga boleh melakukan jima' dan melakukan perkara yang boleh di lakukan oleh orang yang suci.

💧 R E F E R E N S I :

[المجموع شرح المهذب، ج ٢ ص ٥١٠-٥١١]📗
[الْحَالُ الرَّابِعُ] النَّاسِيَةُ وَهِيَ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا مَنْ نَسِيَتْ قَدْرَ عَادَتِهَا وَوَقْتِهَا وَهِيَ الْمُتَحَيِّرَةُ وَفِيهَا الْقَوْلَانِ أَحَدُهُمَا أَنَّهَا كَالْمُبْتَدَأَةِ وَقَدْ سَبَقَ حُكْمُهَا وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ يَلْزَمُهَا الِاحْتِيَاطُ فَعَلَى هَذَا فَإِنْ قُلْنَا بِالسَّحْبِ احْتَاطَتْ فِي أَزْمِنَةِ الدَّمِ بِالْأُمُورِ السَّابِقَةِ فِي حَالِ إطْبَاقِ الدَّمِ بِلَا فَرْقٍ لِاحْتِمَالِ الطُّهْرِ وَالْحَيْضِ والانقطاع ونحتاط في ازمة النَّقَاءِ أَيْضًا إذْ مَا زَمَانٌ إلَّا وَيُحْتَمَلُ أن يكون حيضا لكن لا يلزمها بغسل فِي وَقْتٍ لِأَنَّ الْغُسْلَ إنَّمَا تُؤْمَرُ بِهِ الْمُتَحَيِّرَةُ الْمُطَبِّقَةُ لِاحْتِمَالِ انْقِطَاعِ الدَّمِ وَهَذَا غَيْرُ مُحْتَمَلٍ هُنَا وَلَا يَلْزَمُهَا تَجْدِيدُ الْوُضُوءِ أَيْضًا لِكُلِّ فَرِيضَةٍ لِأَنَّ ذَلِكَ إنَّمَا يَجِبُ لِتَجَدُّدِ خُرُوجِ الْحَدَثِ وَلَا تَجَدُّدَ فِي النَّقَاءِ فَيَكْفِيهَا لزمان النَّقَاءِ الْغُسْلُ عِنْدَ انْقِضَاءِ كُلِّ نَوْبَةٍ مِنْ نُوَبِ الدِّمَاءِ وَأَمَّا إذَا قُلْنَا بِاللَّقْطِ فَعَلَيْهَا الِاحْتِيَاطُ فِي جَمِيعِ أَزْمِنَةِ الدَّمِ وَعِنْدَ كُلِّ انْقِطَاعٍ وَأَمَّا أَزْمِنَةُ النَّقَاءِ فَهِيَ فِيهَا طَاهِرَةٌ في الوطئ وَجَمِيعِ الْأَحْكَامِ

[al-Majmu Syarhu al-Muhadzzab, Juz 2, hal. 510-511]
“[Kondisi Ke empat] Orang yang lupa ada dua jenis : salah satunya yang lupa kadar kebiasaannya dan waktunya maka ia adalah mutahayyirah. Dan padanya ada dua pendapat, salah satunya bahwasanya ia seperti mubtada’ah, dan telah lalu hukumnya. Dan yang shahih bahwasanya ia mengharuskan untuk ber-ihtiyath, oleh karena itu bila kita mengatakan dengan secara langsung agar ia ber-ihtiyath dalam waktu darah itu dengan hal-hal yang telah lampau, dalam hal menetapkan dara tanpa membedakan kecenderungan untuk suci dan haidh serta inqitho'/waktu terputusnya. dan kita ber-ihtiyath pada waktu jelang suci, juga membutuhkan waktu juga, kecuali ada kecenderungan bahwa akan haidh, tetapi tidak mengharuskan mandi saat itu juga, karena mandi sesungguhnya diperintahkan kepada orang yang muhayyarah muthabbaqah karena kecenderungan berhentinya darah dan ini bukan kecenderungan di sini. Juga tidak mengharuskan memperbaharui wudhu pada setiap hal yang fardhu disebabkan hal tersebut. Karena kewajiban untuk memperbaharui karena keluarnya hadats dan tidak ada memperbaharui ketika suci. Maka mandi cukup baginya pada waktu suci, ketika habis setiap periode dari periode darah. Adapun jika kita katakan dengan melihat, maka ia wajib untuk berihtiyath pada setiap waktu darah dan ketika setiap berhentinya. Dan adapun waktu suci, maka ia itu suci di dalamnya untuk berwathi' dan seluruh hukum lainnya”.


[روضة الطالبين، ج ١ ص ١٧٣]📗
وَإِنْ قُلْنَا: هِيَ كَالْمُبْتَدَأَةِ، فَحُكْمُهَا مَا تَقَدَّمَ فِي الْمُبْتَدَأَةِ. وَإِنْ قُلْنَا بِالْمَشْهُورِ: إِنَّهَا تَحْتَاطُ، بَنَيْنَا أَمْرَهَا عَلَى قَوْلِي التَّلْفِيقِ. فَإِنْ سَحْبَنَا احْتَاطَتْ فِي أَزْمِنَةِ الدَّمِ، مِنَ الْوُجُوهِ الْمَذْكُورَةِ فِي حَالَةِ الْإِطْبَاقِ بِلَا فَرْقٍ.
وَتَحْتَاطُ فِي زَمَنِ النَّقَاءِ أَيْضًا؛ لِأَنَّ كُلَّ زَمَنٍ مِنْهُ يَحْتَمِلُ الْحَيْضَ. لَكِنْ لَا تُؤْمَرُ بِالْغُسْلِ زَمَنَ النَّقَاءِ، وَلَا تُؤْمَرُ أَيْضًا فِيهِ بِتَجْدِيدِ الْوُضُوءِ، بَلْ يَكْفِيهَا لِكُلِّ نَقَاءٍ الْغُسْلُ فِي أَوَّلِهِ.
وَإِنْ لَفَّقْنَا، فَعَلَيْهَا أَنْ تَحْتَاطَ فِي أَيَّامِ الدَّمِ، وَعِنْدَ كُلِّ انْقِطَاعٍ. *وَأَمَّا أَزْمِنَةَ النَّقَاءِ فَهِيَ طَاهِرٌ فِيهَا فِي الْجِمَاعِ وَسَائِرِ الْأَحْكَامِ*

[Raudhah at-Thalibin, Juz 1, hal. 173]
“Dan jika kita berpendapat bahwa ini seperti mubtada’ah, maka hukumnya adalah seperti yang telah lalu tentang mubtada’ah. Dan jika kita berpendapat dengan pendapat yang masyhur : Sesungguhnya ia ber-ihtiyath. Dan kita membangun perkaranya di atas pendapatku mengenai talfiq/bercampur. karena guru kami berihtiyath dalam hal jangka waktu darah. Dari pendapat-pendapat yang disebutkan tentang kondisi menetapkan tanpa membedakan. Dan ia ber-ihtiyath pada waktu suci juga, karena setiap waktu darinya berpeluang untuk haidh. Tetapi tidak diperintahkan untuk mandi ketika sedang suci, dan tidak diperintahkan juga didalamnya untuk memperbaharui wudhu, bahkan cukup setiap suci itu mandi pada awwalnya. Dan jika kita temukan, maka wajib baginya untuk ber-ihtiyath pada hari-hari darah, dan ketika setiap terputus. dan adapun ketika suci, maka ia suci di dalamnya untuk berjima' dan untuk seluruh hukum”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

4.) Bagi mutahayyiroh muthlaqah, yang seluruh masa keluar darah nya, hukumnya harus ihtiyath ;
Kapan dia bisa keluar dari hukum mutahayyiroh nya dia ⁉️

🍏 JAWABAN :

Wanita mutahayyiroh bisa lepas dari "tahayyur" jika sudah ada darah yang bisa di jadikan haidh dan suci secara meyakinkan. Dalam hal ini bisa dengan beberapa hal ;
√ ingat terhadap kebiasaan haidh dan suci sebelum nya.
√ setelah mengalami mutahayyiroh, kemudian di pisah suci minimal 15 hari, kemudian haidh dan suci secara normal, untuk kemudian di jadikan kebiasaan baru.
√ terjadi tamyizud dam (perbeda'an warna darah) pada suatu bulan.

💧 R E F E R E N S I :

[المجموع شرح المهذب، ج ٢ ص ٤٣٧]📗
قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِنَّمَا أُمِرَتْ بِالِاحْتِيَاطِ *لِأَنَّهُ اخْتَلَطَ حَيْضُهَا بِغَيْرِهِ وَتَعَذَّرَ التَّمْيِيزُ بِصِفَةٍ أَوْ عَادَةٍ أَوْ مَرَدٍّ كَمَرَدِّ الْمُبْتَدَأَةِ وَلَا يُمْكِنُ جعلها طاهرا ابدا في كل شئ ولا حائضا أبدا في كل شئ فَتَعَيَّنَ الِاحْتِيَاطُ* وَمِنْ الِاحْتِيَاطِ تَحْرِيمُ وَطْئِهَا أَبَدًا وَوُجُوبُ الْعِبَادَاتِ كَالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ وَالْغُسْلِ لِكُلِّ فَرِيضَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا سَنُوضِحُهُ إنْ شَاءَ اللَّهُ: قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَهَذَا الَّذِي نَأْمُرُهَا بِهِ مِنْ الِاحْتِيَاطِ لَيْسَ هُوَ لِلتَّشْدِيدِ وَالتَّغْلِيظِ فَإِنَّهَا غير مَنْسُوبَةٌ إلَى مَا يَقْتَضِي التَّغْلِيظَ وَإِنَّمَا نَأْمُرُهَا بِهِ لِلضَّرُورَةِ فَإِنَّا لَوْ جَعَلْنَاهَا حَائِضًا أَبَدًا أَسْقَطْنَا الصَّوْمَ وَالصَّلَاةَ وَبَقِيَتْ دَهْرَهَا لَا تُصَلِّي وَلَا تَصُومُ وَهَذَا لَا قَائِلَ بِهِ مِنْ الْأُمَّةِ وَإِنْ بَعَّضْنَا الْأَيَّامَ وَنَحْنُ لَا نَعْرِفُ أَوَّلَ الْحَيْضِ وَآخِرَهُ لَمْ يَكُنْ إلَيْهِ سَبِيلٌ قَالَ وَيَنْضَمُّ إلَى هَذَا أَنَّ الِاسْتِحَاضَةَ نَادِرَةٌ وَالْمُتَحَيِّرَةُ أَشَدُّ نُدُورًا وَقَدْ يَنْقَرِضُ دُهُورٌ وَلَا تُوجَدُ مُتَحَيِّرَةٌ

[al-Majmu syarhu al-Muhadzzab, Juz 2, hal 437]
“Berpendapat Shahabat kami, Sesungguhnya diperintahkan untuk ber-ihtiyath, karena bercampurnya haidh dengan yang lainnya dan sulit untuk dibedakan dari shifat, kebiasan dan waktu keluarnya, seperti waktu keluarnya mubtada’ah dan tidak mungkin untuk menjadikannya suci selamanya dalam segala hal. Dan tidak mungkin juga ditetapkan sebagai haidh selamanya dalam segala hal, Maka ditentukan untuk berihtiyath. Dan termasuk berihtiyath, haramnya bersetubuh dengannya dan wajibnya beribadah seperti puasa, sholat, thawaf dan mandi pada setiap ibadah fardhu atau lainnya yang termasuk hal-hal yang akan kami jelaskan, insyaa Allah. Berpendapat al-Imam al-Haramain dan ini yang diperintahkan untuk berihtiyath dengan hal tersebut, bukan untuk menyusahkan dan memberatkan, karena sesungguhnya hal tersebut disandarkan kepada perkara-perkara yang perlu untuk diberatkan. Dan kami memerintahkannya dengannya karena dharurat. Karena sesungguhnya jika kami menetapkannya sebagai haidh selamanya, maka kami meniadakan puasa dan shalat dan seluruh waktu yang tersisa, menjadi tetap tidak sholat dan tidak puasa, dan ini tidak ada orang yang berpendapat tentang ini dari ummat ini. Dan jika kami bagi hari-harinya dan kami tidak tahu awwal haidh nya atau akhirnya itu juga bukanlah jalan keluar. Ia Berkata dan digabungkan kedalam hal ini bahwa sesungguhnya isthadhah yang tampak dan mutahayyrah lebih tampak, dan terkadang menghabiskan banyak waktu dan tidak ditemukan mutahayyirah”.



MUHARRIR : Kiai Mahmulul Huda Jember

MUJAWWIB : @⁨Kiai M.Huda_Jember⁩ @⁨Ibnu Agy⁩ / para member grup

TERJEMAH IBARAH : Ustadz Handoyo Tangerang


والله أعلم بالصواب