☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔
B-M-U
soal antrian ke 188
👳🏻♂️ Nama : Muhammad muslimin andika
Alamat : Pasuruan Jawa timur
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib
✍🏻 DESKRIPSI :
Pada dasarnya ada seorang wanita yang mengamalkan yang namanya da’imul wudhu/mengekali wudhu.
Yang menjadikan iya bermasalah, tentang acara resepsi pernikahan, yang mana nanti ada istilah mushofahah/bersalam-salaman dengan suami.
Seharus nya/Secara langsung si wanita wudhu setelah salaman dengan suami, sedangkan dia di tengah para undangan, dan dia memakai make-up (tidak memungkinkan berwudhu langsung, setelah batal).
Dan juga ada permas'alahan bagi wanita di saat haidh.
🌴 PERTANYAAN :
1.) Apa kah si perempuan tersebut sudah putus dari yang namanya da’imul wudhu' ⁉️
🍏 JAWABAN :
Sudah putus dari da'imul wudhu', setelah wudhu'nya batal.
Walaupun sulit untuk berwudhu' kembali.
💧 R E F E R E N S I :
[فتح القريب المجيب، ص ٣٩-٤٠]📗
• نواقض الوضوء {فصل} في نواقض الوضوء، المُسماة أيضا بأسباب الحدث. (والذي يُنقِض) أي يُبطِل (الوضوءَ سِتَّةُ أشياء):
أحدها (ما خرجَ من) أحد (السبيلين)، أي القُبل والدُبر، من متوضئ حيٍّ واضح، معتادا كان الخارج كبول وغائط أو نادرا كدم وحصا، نجسًا كهذه الأمثلة أو طاهرا كدود، إلا المني الخارجَ باحتلام من متوضئ ممكن مقعده من الأرض فلا ينقض؛ والمشكل إنما ينتقض وضوؤه بالخارج من فرجيه جميعا.
(و) الثاني (النوم على غير هيئة المتمكن) - وفي بعض نسخ المتن زيادة «من الأرض» - بمقعده. والأرض ليست بقيد. وخرج بـ «المتمكن» ما لو نام قاعدا غير متمكن أو نام قائما أو على قفاه ولو متمكنا.
(و) الثالث (زوال العقل) أي الغلبة عليه (بسُكَر أو مرض) أو جُنون أو إغماء أو غير ذلك.
(و) الرابع (لمس الرجلِ المرأةَ الأجنبيةَ) غيرَ المَحْرَم ولو ميتة. والمراد بالرجل والمرأة ذكر وأنثى بلغا حدَّ الشهوة عرفا؛ والمراد بالمَحْرَم مَن حَرُم نكاحُها لأجل نسب أو رضاع أو مصاهرة. وقوله: (مِن غير حائل) يُخرِج ما لو كان هناك حائل فلا نقض حينئذ.
(و) الخامس، وهو آخر النواقض (مس فرج الآدمي بباطن الكف) من نفسه وغيره، ذكرا أو أنثى، صغيرا أو كبيرا، حيا أو ميتا. ولفظ الآدمي ساقط في بعض نسخ المتن، وكذا قوله: (ومس حلقة دبره) أي الآدمي ينقض (على) القول (الجديد). وعلى القديم لا ينقض مس الحلقة. والمراد بها ملتقى المنفذ؛ وبباطن الكف الراحة مع بطون الأصابع. وخرج بباطن الكف ظاهره وحِرفه ورؤوس الأصابع وما بينها، فلا نقض بذلك أي بعد التحامل اليسير.
Fashal Segala yang Membatalkan Wudhu (ada 6 Pembatal wudhu atau penyebab hadas kecil ada 6. Dengan terjadinya salah satu yang 6 ini, maka wudhu seseorang menjadi batal, dan dia tidak bisa melakukan ibadah yang mewajibkan suci dari hadats kecil, kecuali setelah berwudhu lagi).
“{Ini satu Fashal} menjelaskan perkara-perkara yang membatalkan wudhu’ yang disebut juga dengan “sebab-sebab hadats”. Perkara yang merusak, maksudnya yang membatalkan wudlu’ ada 6 perkara ;
1.) Sesuatu Yang Keluar dari Dua Jalan :
Salah satunya adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan yaitu qubul dan dubur-nya orang yang memiliki wudhu, yang hidup dan jelas -jenis kelaminnya-.
Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar seperti kencing dan tahi, atau jarang keluar seperti darah dan kerikil. Baik yang najis seperti contoh-contoh ini, atau suci seperti ulat (kermi).
Kecuali sperma yang keluar sebab mimpi yang dialami oleh orang yang memiliki wudhu’ yang tidur dengan menetapkan pantatnya di lantai, maka sperma tersebut tidak membatalkan wudhu’.
Orang khuntsa musykil/kelamin ganda, wudhu’nya hanya bisa batal, sebab ada sesuatu yang keluar dari kedua kemaluan nya secara keseluruhan.
2.) Batal Sebab Tidur :
Dan yang kedua adalah tidur dengan keadaan tidak menetapkan pantat. Dalam sebagian redaksi matan ada tambahan kata-kata “dari tanah dengan tempat duduknya”. Tanah bukanlah menjadi qayyid/batasan.
Dengan bahasa “menetapkan pantat”, maka terkecuali kalau dia tidur dalam keadaan duduk yang tidak menetapkan pantat, tidur dalam keadaan berdiri atau tidur terlentang, walaupun menetapkan pantatnya.
3.) Sebab Hilangnya Aqal :
Dan yang ketiga adalah hilangnya aqal, maksudnya aqalnya terkalahkan sebab mabuk, sakit, gila, epilepsi (pingsan) atau selainnya.
4.) Sebab Bersentuhan Kulit :
Yang ke empat adalah persentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan lain, yang bukan mahram, walaupun yang sudah meninggal dunia.
Yang dikehendaki dengan laki-laki dan perempuan, adalah laki-laki dan perempuan yang telah mencapai batas syahwat [sudah mencapai usia yang biasanya sudah disukai oleh lawan jenis] secara ‘urf/kebiasaan.
Yang dikehendaki dengan mahram, adalah wanita yang haram dinikahi, karena ikatan nasab, radha’ (tunggal susu/sesusuan) atau ikatan mushaharah (pernikahan).
Perkataan mushannif, “tanpa ada penghalang -di antara keduanya-” mengecualikan seandainya terdapat penghalang di antara keduanya, maka kalau demikian,maka tidak batal.
5.) Sebab Memegang Kemaluan :
Yang kelima, yaitu hal-hal yang membatalkan wudhu’ yang terakhir, adalah menyentuh kemaluan anak Adam/manusia, dengan bagian dalam/bathin telapak tangan, baik kemaluannya sendiri atau orang lain, laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, masih hidup ataupun sudah meninggal dunia.
Lafazh “anak Adam” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi / matan. Begitu juga tidak tercantum di sebagian redaksi adalah ungkapan mushannif, dan Tambahan ke :
6.) Menyentuh lingkaran dubur anak Adam itu bisa membatalkan menurut pendapat qaul Jadid.
Menurut qaul Qadim, menyentuh lingkaran dubur anak Adam tidak membatalkan wudhu’.
Yang dikehendaki dengan halqah adalah tempat bertemunya lubang keluarnya kotoran. Dan yang dikehendaki dengan bagian dalam tangan, adalah telapak tangan beserta bagian dalam jari-jari tangan.
Dikecualikan dari bagian dalam tangan, yaitu bagian luar dan pinggir tangan, ujung jemari dan bagian di antara jemari. Maka tidak sampai membatalkan wudhu’ sebab menyentuh dengan bagian-bagian tersebut, maksudnya setelah menekan sedikit”.
[كفاية الأتقياء ومنهاج الأصفياء، ص ٩٥]📗
لا بأس إن ضاجعت زوج كلم تصر # في غفلة وتلامس مسترسلا
يعني إذا كانت لك زوجة أيها المريد ونمت معها في فراش واحد وانتقض وضوءك بسبب ذلك فلا بأس به ولا يفوت عليك فائدة النوم على الطهارة ما لم تكن مسترسلا في غفلة وتلامس أي منبسطا ومستأنسا ذلك حتى أورثتك لذة ذلك الغفلة عن مولاك
[قواعد الأحكام في مصالح الأنام، ج ١ ص ٢٢٥]📗
وَأَمَّا قَوْلُهُ - عَلَيْهِ السَّلَامُ -: «نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ» ، فَفِيهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا أَنَّ أَجْرَ النِّيَّةِ الْمُجَرَّدَةِ عَنْ الْعَمَلِ خَيْرٌ مِنْ الْعَمَلِ الْمُجَرَّدِ عَنْ النِّيَّةِ. الْوَجْهُ الثَّانِي: مَا رُوِيَ «أَنَّهُ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - وَعَدَ عَلَى حَفْرِ بِئْرٍ بِأَجْرٍ فَنَوَى عُثْمَانُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنْ يَحْفِرَهَا فَسَبَقَهُ إلَى حَفْرِهَا يَهُودِيٌّ فَقَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ» ، أَيْ نِيَّةُ عُثْمَانَ خَيْرٌ مِنْ حَفْرِ الْيَهُودِيِّ الْبِئْرَ، فَإِنَّ عُثْمَانَ يُؤْجَرُ عَلَى نِيَّةِ الْحَفْرِ وَإِنْ لَمْ يَحْفِرْ، وَلَا أَجْرَ لِلْيَهُودِيِّ بِحَفْرِهِ لِإِحْبَاطِهِ بِيَهُودِيَّتِهِ.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
2.) Bagaimana hukumnya berwudhu saat haidh ⁉️
🍏 JAWABAN :
√ Wanita saat haidh berwudhu', Wudhu nya tidak Sah, dan Haram ( berdosa ), apabila berniat menghilangkan hadats atau niat ibadah, kecuali niat untuk tabarrud (menyejukkan diri) atau nazhafah (kebersihan).
√ Tetapi apabila darah haidh nya sudah berhenti dan juga bagi orang junub, disunnahkan wudhu', apabila hendak tidur/makan dan/minum.
💧 R E F E R E N S I :
[المجموع شرح المهذب، ج ٢ ص٣٥٣]📗
(فَرْعٌ) مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ مِنْ السَّلَفِ وَالْخَلْفِ أَنَّهُ لَيْسَ عَلَى الْحَائِضِ وُضُوءٌ وَلَا تَسْبِيحٌ وَلَا ذِكْرٌ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ وَلَا فِي غَيْرِهَا وَمِمَّنْ قَالَ بِهَذَا الْأَوْزَاعِيُّ وَمَالِكٌ وَالثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَأَبُو ثَوْرٍ حَكَاهُ عَنْهُمْ ابْنُ جَرِيرٍ وَعَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ قَالَ تَطْهُرُ وَتُسَبِّحُ وَعَنْ أَبِي جَعْفَرٍ، قَالَ لَنَا (مُرْ نِسَاءَ الْحَيْضِ أَنْ يَتَوَضَّأْنَ فِي وَقْتِ الصَّلَاةِ وَيَجْلِسْنَ وَيَذْكُرْنَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيُسَبِّحْنَ) وَهَذَا الَّذِي قَالَاهُ مَحْمُولٌ عَلَى الاستحباب عندهما فاما استحباب التسبيح فلا يأمر بِهِ وَإِنْ كَانَ لَا أَصْلَ لَهُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ الْمَخْصُوصِ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَلَا يَصِحُّ عِنْدَنَا وَعِنْدَ الْجُمْهُورِ بَلْ تَأْثَمُ بِهِ إنْ قصدت العبادة كما سَبَقَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
“(Cabang) Madzhab kita dan madzhab mayoritas ulama (baik salaf atau kholaf) berpendapat, bahwa wanita haidh tidak diperbolehkan berwudhu, membaca tasbih, dan berdzikir, baik di waktu sholat atau bukan di waktu sholat. Dan termasuk yang berpendapat begini adalah Imam Al-Auza'i, Imam Malik, Imam Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah juga ashabnya, juga Imam Abu Tsaur. Yang menceritakan riwayat ini adalah Imam Ibnu Jarir. Dan diriwayatkan dari Imam Hasan Al-Bashry, bahwa beliau berpendapat 'wanita haidh boleh bersuci dan bertasbih'.
Dan diriwayatkan dari Imam Abu Ja'far, 'perintahkanlah wanita haidh agar berwudhu pada saat waktu sholat, dan duduk berdzikir pada Allah dan bertasbih (pada waktu sholat)'. Hadits ini yang diriwayatkan oleh Imam Abu Tsaur dan Abu Ja'far, oleh beliau berdua diarahkan pada kesunnahan hal tersebut bagi wanita haidh. Adapun perihal kesunnahan tasbih, maka ia tidak dianjurkan (menurut kami), adapun wudhu, maka menurut kami dan menurut mayoritas ulama, hal itu tidak sah, bahkan berdosa jika wanita haidh melakukan itu, dengan tujuan ibadah. Seperti yang telah dijelaskan di depan”.
[فقه العبادات على مذهب الشافعي، ج ١ ص ٢٠٠]📗
تَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ اَلطَّهَارَةُ بِنِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ أَوْ نِيَّةِ الْعِبَادَةِ كَغُسْلِ الْجُمُعَةِ أَمَّا الطَّهَارَةُ الْمَسْنُوْنَةُ لِلنَّظَافَةِ كَالْغُسْلِ لِلْإٍحْرَامِ وَغُسْلِ الْعِيْدِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأَغْسَالِ الْمَشْرُوْعة ِاَلَّتِيْ لَا تَفْتَقِرُ إٍلَى طَهَارَةٍ فَلَا تَحْرُمُ
“Haram atas wanita hadih dan wanita nifas, bersuci dengan niat menghilangkan hadats atau niat beribadah, seperti mandi Jum'at.. Adapun bersuci yang disunnahkan untuk kebersihan, seperti mandi untuk ihram, mandi shalat ied dan sebagainya, dari mandi-mandi yang di syari'atkan,’ yang tidak membutuhkan bersuci, maka tidak haram”.
[الإقناع، ج ١ ص ٣٦]📗
وَلَهُ شُرُوطٌ وَفُرُوضٌ وَسُنَنٌ (القَوْل فِي شُرُوط الْوضُوء وَالْغسْل)فَشُرُوطُهُ وَكَذَا الْغُسْلُ: مَاءٌ مُطْلَقٌ، وَمَعْرِفَةٌ أَنَّهُ مُطْلَقٌ وَلَوْ ظَنًّا، وَعَدَمُ الْحَائِلِ، وَجَرْيُ الْمَاءِ عَلَى الْعُضْوِ وَعَدَمُ الْمُنَافِي مِنْ نَحْوِ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ فِي غَيْرِ أَغْسَالِ الْحَجِّ وَنَحْوِهَا
Dan dalam wudhu ada syarat, fardhu/rukun, juga sunah-sunnahnya (kali ini akan masuk pada pembahasan syarat wudhu dan mandi). Syaratnya (baik wudhu dan mandi) adalah :
1: menggunakan air muthlaq
2: mengetahui bahwa air tersebut adalah air muthlaq (meski hanya praduga)
3: tidak ada hal yang menghalangi air menyentuh kulit di tubuh
4: mengalirkan air pada anggota tubuh (yang wajib dibasuh. jika mandi wajib, maka seluruh tubuh)
5: tidak ada hal yang mencegah diperbolehkannya wudhu/mandi, seperti haidh dan nifas (ini jika bukan dalam permasalahan mandi sunnah saat hajji, atau semacamnya)”.
[فتح المعين، ص ٦٩]📗
فرع يسن لجنب وحائض ونفساء بعد انقطاع دمهما غسل فرج ووضوء لنوم وأكل وشرب ويكره فعل شيء من ذلك بلا وضوء
“Cabang, di sunnahkan bagi orang junub, haidh, nifas, sesudah berhenti nya darah (Haidh dan Nifas), membasuh kemaluan dan berwudhu, ketika ingin tidur, makan, minum, dan Makruh memperbuat sesuatu dalam keadaan seperti itu, dengan tanpa berwudhu terlebih dahulu”.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
3.) Apakah ada qoul yang memperbolehkan wanita yang sedang haidh, untuk berdiam diri di dalam masjid ⁉️
🍏 JAWABAN :
Ada, namun di luar madzhab Syafi'i diantaranya :
~> Imam ibnu hazam, beliau adalah pengikut madzhab Daud adzdzohiri, di luar madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali).
~> Begitu juga sebagian madzhab Hanbali, membolehkan wanita haidh masuk mesjid, dan berdiam diri di mesjid, dengan syarat :
a.) Harus berwudhu' terlebih dahulu.
b.) Darah telah berhenti.
~> Jika darahnya belum berhenti dan dalam keadaan terpaksa, maka di perkenankan untuk berdiam di masjid, dengan ikut pendapat imam al-Muzaniy.
💧 R E F E R E N S I :
[المحلى بالأثار لابن حزم، ج ١ ص ٤٠٠ دار الكتب العلمية]📗
مسألة:وجائز للحائض والنفساء ان يتزوجا وان يدخلا المسجد وكذلك الجنب،لانه لم يأتى نهي عن شيئ من ذلك.
“(sebuah pembahasan) : Dan boleh bagi wanita haidh dan nifas untuk menikah, juga masuk ke masjid, begitu juga orang junub. Sebab tidak ada dalil shorih yang melarang hal tersebut”.
[الإنصاف، ج ١ ص ٣٤٧ لمذهب الحنابلة]📗
قوله(واللبث فى المسجد)تمنع الحائض من اللبث مطلقا على الصحيح من المذهب وعليه جمهور الاصحاب وقيل لا تمنع إذا توضأت وامنت التلويث وهو ظاهر كلام المصنف فى باب الغسل حيث قال"ومن لزمه الغسل حرم عليه قراءة آية ويجوز له العبور فى المسجد ويحرم عليه اللبث فيه إلا أن يتوضأ"،فظاهره دخول الحائض فى هذه العبارة لكن نقول عموم ذلك اللفظ مخصوص بما هنا.
“Perkataan pengarang (dan berdiam diri di masjid), pendapat shohih di madzhab kita (Hanabilah) yang di ikuti oleh jumhur ashhab kita menerangkan, bahwa wanita haidh dicegah dari berdiam diri dalam masjid secara muthlaq. Dan ada qil bahwa tidak dicegah, apabila dia sudah berwudhu dan tidak khawatir darahnya mengotori masjid. Dan ini adalah dzahir dari apa yang disampaikan mushonnif, pada bab 'mandi' yang berbunyi, 'dan barang siapa yang wajib mandi, maka haram baginya membaca ayat Al Quran. Dan boleh baginya untuk lewat di masjid, dan haram untuk berdiam di dalamnya, kecuali setelah dia berwudhu'. Maka secara dzahir, wanita haidh juga termasuk dalam apa yang disampaikan mushonnif tersebut. Tetapi kami memperjelas keumuman ucapan beliau tersebut, dengan yang kami jelaskan di sini”.
[كشاف القناع، ج ١ ص ٤١٣ لمذهب الحنابلة]📗
ويحرم على جنب وحائض ونفساء انقطع دمها اللبث فيه)اي المسجد لقوله تعالى ولا جنبا الا غابري سبيل حتى تغتسلوا ولقوله صلى الله تعالى عليه وسلم لا احل المسجد لحائض ولا جنب رواه ابو داود(ولا مصلى عيد لانه مسجد)لقوله صلى الله عليه وسلم وليعتزل الحيض المصلى(لا مصلى الجنائز)فليس مسجدا لان صلاة الجنائز ليست ذات ركوع وسجود بخلاف صلاة العيد(الا ان يتوضؤا)اي الجنب والحائض والنفساء إذا انقطع دمهما فيجوز لهما اللبث فى المسجد لما روى سعيد بن منصور والاثرم عن عطاء بن يسار قال رايت رجالا من اصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يجلسون فى المسجد وهم مجنبون إذا توضئوا وضوء الصلاة قال فى المبدع اسناده صحيح ولان الوضوء يخفف حدثه فيزول بعض مايمنعه اهـ .
“[Dan berdiam diri dalam masjid hukumnya haram bagi orang junub, haidh dan nifas yang darahnya telah berhenti.] sebab Allah berfirman, '(dan janganlah hampiri masjid) dalam keadaan junub, kecuali sekedar melewati jalan saja, sampai kalian mandi (mandi wajib)' . Juga sebab hadits Baginda Nabi, 'masjid tidak dihalalkan bagi orang haidh dan junub' (HR Abu Dawud).
[Juga tidak boleh berdiam di tempat sholat id, sebab ia adalah masjid], disebabkan adanya Hadits Baginda, 'dan menjauhlah wanita haidh dari tempat sholat'. [tetapi tidak dari tempat sholat janazah], sebab ia bukan masjid. Karena sholat janazah tidak ada ruku' dan sujud, berbeda dengan sholat id. [kecuali jika mereka berwudhu], maksudnya adalah orang junub, wanita haidh dan nifas yang telah berhenti darahnya. Maka boleh bagi keduanya untuk berdiam diri dalam masjid, sebab ada hadits yang diriwayatkan oleh Sa'id ibn Manshur dan Al Hafidz Al Atsram dari 'Atha' bin Yasar, berkata, 'Aku melihat beberapa lelaki dari sahabat Nabi ﷺ sedang duduk di masjid, sedangkan mereka dalam keadaan junub. (hal itu mereka lakukan) setelah berwudhu' seperti wudhu'nya sholat'. Imam ibnu Muflih berkata dalam kitab Al-Mubdi'nya, 'isnadnya shohih. (Dan itu bisa dibenarkan,) sebab wudhu dapat meringankan hadatsnya junub. (jika orang junub berwudhu) maka hilanglah sebagian hadats, yang mencegahnya untuk masuk masjid”.
[بحر المذهب في فروع الفقه الشافعي، ج ١٠ ص ٣٣٩]📗
قال المزني: إذا جعل المشركة أن يحضره في المسجد وعسى بها مع شركها أن تكون حائضًا كانت المسلمة بذلك أولى وهذا مذهبه أن الحائض لا تمنع من المسجد كالمشركة والجواب، قال بعض أصحابنا: أن عرفنا حيضها وخيانتها هل يجوز لها حضور المسجد؟ وجهان؛ أحدهما: لا يجوز. والثاني: يجوز لها ذلك. وهذا لا يصح لأن النص للشافعي فرق بينهما والمعنى ما ذكرنا في كتاب الصلاة أن المشركة لم تعتقد تعظيم المساجد حتى نطالبها بقضية الاعتقاد بخلاف المسألة فحيل بينها وبين المسجد ما دامت حائضًا.
“Imam Al-Muzani berkata : 'jika Imam Syafi'i memperbolehkan wanita musyrikah hadir ke masjid (dalam masalah li'an), dan barangkali dia dengan kemusyrikannya bisa saja sedang haidh, maka wanita muslimah lebih utama untuk diperbolehkan hadir ke masjid. Dan ini adalah pendapatnya Imam Muzani, bahwa wanita haidh tidak dicegah dari masjid, sebagaimana wanita musyrik.
Adapun jawaban atas pendapat imam Muzani ini, maka seperti yang dijelaskan oleh Ashhab, yaitu, 'jika kita tahu bahwa wanita musyrik sedang haidh, dan dia akan khianat, apakah wanita musyrik tadi masih akan diperbolehkan masuk masjid ? Ada dua pendapat. 1: tidak boleh, 2: boleh”.
“Dan pendapat kedua ini tidaklah shohih, sebab Nash Imam Syafi'i malah memberi pembedaan bagi keduanya (wanita haidh dan wanita musyrik). Dan penjelasannya telah kami sebutkan di bab sholat, bahwa wanita musyrik tidak memiliki keyakinan akan kemuliaan masjid, sehingga kita hanya memberi hukum padanya sesuai dengan keyakinannya, berbeda dengan permasalahan wanita haidh ini. Maka wanita akan dipisah dari masjid selama dia haidh”.
✍️ NB :
Tidak boleh bagi seseorang mengikuti pendapat diluar madzhab yang empat, karena pendapat selain di empat madzhab, masih diragukan kevalidan nya.
💧 R E F E R E N S I :
[بغية المسترشدين، ص ١٤ دار الكتب الاسلامية]📗
مسألة:ش)نقل ابن الصلاح الاجماع على انه لا يجوز تقليد غير الائمة الاربعة اي حتى العمل لنفسه فضلا على القضاء والفتوى لعدم الثقة بنسبتها لاربابها باسانيد تمنع التحريف والتبديل كمذهب الزيدية المنسوبين الى الامام زيد بن على بن الحسين السبط رضوان الله عليهم وان كان هو اماما من ائمة الدين وعلما وصالحا للمسترشدين غير ان اصحابه نسبوه الى التساهل فى كثير لعدم اعتنائهم بتحرير مذهبه بخلاف المذاهب الاربعة فان ائمتها جزاهم الله خيرا بذلوا نفوسهم فى تحرير اقوالها وبيان ما ثبت عن قائلها وما لم يثبت فأمن اهلها التحريف وعلموا الصحيح من الضعيف.
[مجموعة سبعة كتب مفيدة، ص ١٠٤]📗
ومع ذلك قد صرح جمع من ائمتنا بانه لا يجوز تقليد غير الائمة الاربعة،وعللوا ذلك بعدم الثقة بنسبتها الى اربابها لعدم الاسانيد المانعة من التحريف والتبديل،بخلاف المذاهب الاربعة فان ائمتها بذلوا انفسهم فى تحرير الاقوال وبيان ما ثبت عن قائله ومالم يثبت فأمن اهلها من كل تعيير وتحريف وعلموا الصحيح من الضعيف.
Boleh taqlid kepada madzhab Hanbali, Namun mesti harus memenuhi syarat taqlid yang 6, yaitu :
[تنوير القلوب، ص ٣٩٦ - ٣٩٩ الحرمين]📗
١.معرفۃ المقلد مااعتبره مقلده فی المسألۃ التي يريد التقليد فيها من شروط وواجبات
1.) Harus tahu syarat syarat dan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh imam mujtahid yang di ikuti.
٢.ان لا يكون التقليد بعد الوقوع
2.) Taqlid tidak dilakukan setelah ada kejadian (ba'dal wuqu').
٣.ان لا يتتبع الرخص بحيث يخرجه عن عقدۃ التكليف
3.) Tidak mencari yang ringan ringan saja, sehingga berakibat terhindar dari beban / taklif.
٤.ان يكون مقلده مجتهدا
4.) Pendapat yang di ikuti adalah pendapat seorang mujtahid.
٥.عدم التلفيق بان يلفق فی قضيۃ واحدۃ
5.) Tidak mengumpulkan dua pendapat, dalam satu rangkaian hukum, yang keberadaan nya tidak diakui oleh masing-masing dari pemilik pendapat yang bersangkutan.
٦.ان لا يكون الحكم المقلد فيه مما ينقض فيه قضاء القاض
6.) Hukum yang di ikuti bukan kategori hukum yang tidak sah dipakai ketetapan hakim, yaitu hukum-hukum yang bertolak belakang dengan nash, ijma', Dan sumber-sumber hukum lain nya.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
✍️ KETERANGAN TAMBAHAN :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا {النسآء -٤٣}
“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian melakukan shalat dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan; (jangan pula kalian menghampiri masjid) dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlewat saja, sehingga kalian mandi. Jika kalian sakit atau sedang dalam perjalanan, atau datang dari tempat buang air, atau telah menyentuh perempuan, kemudian kalian tidak mendapatkan air, maka tayammum dengan debu yang baik (suci). Sapulah muka dan tangan kalian. Sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.
أُمِرنَا - وفي رواية أمَرَنا ؛ تعني النبي صلى الله عليه وسلم - أن نخرج في العيدين العواتق وذوات الخدور ، وأمر الحيض أن يعتزلن مصلى المسلمين (رواه البخاري ٩٣/١ ومسلم (٨٩٠) ، وفي رواية أخرى) أمرنا أن نخرج ونخرج العواتق وذوات الخدور.
“{Dalam kitab Ash-Shahihain dan lainnya dari Ummu Athiyyah Radhiallahu Anha, dia berkata } : -Kami diperintahkan –dalam redaksi lain memerintahkan kepada kami – yaitu Rasulullah ﷺ untuk mengajak keluar pada dua hari raya, ke para wanita baligh dan para perawan. Beliau juga memerintahkan, agar wanita haidh dipisahkan dari tempat shalat qaum muslimin, (H.R. Bukhari, 1/93. Dan Muslim, 890. Dalam redaksi lain), Kami diperintahkan untuk keluar dan mengeluarkan para wanita baligh dan para perawan”.
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُخرج الأبكار والعواتق وذوات الخدور والحيض في العيدين ، فأما الحيض فيعتزلن المصلى ويشهدن دعوة المسلمين، قالت إحداهن : يا رسول الله ، إن لم يكن لها جلباب ، قال : فلتعرها أختها من جلابيبها (متفق عليه)
“{Dalam redaksi Tirmidzi} Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dahulu mengeluarkan para perawan, para wanita baligh, wanita pingitan dan orang haidh (menghadiri shalat) dua hari raya. Sementara wanita haidh dipisahkan dari tempat shalat. Agar mereka menyaksikan doa' umat islam. Salah seorang diantara kami mengatakan, "Wahai Rasulullah, bagaimana kalau ada yang tidak mempunyai jilbab ?" Beliau menjawab, "Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbabnya, (Muttafaq alaihi)”.
💧💧💧💧
A.) Wanita yang sedang haidh tidak disunnatkan berwudhu sebelum tidur, kecuali jika darah haidh nya sudah berhenti.
B.) Wudhu setelah berhentinya darah adalah sunnah karena fungsinya TAQLIIL AL-HADATS (meringankan dan mengecilkan hadats) agar membuat semangat untuk mandi.
C.) Bila wudhunya untuk menghilangkan hadats atau untuk ibadah maka haram, karena akan menimbulkan TANAAQUD (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats) dan menimbulkan TALAA'UB (mempermainkan ibadah, sebab dia tahu wudhunya tidak bisa menghilangkan hadats berupa haidh nya).
D.) Bila wudhunya tidak untuk menghilangkan hadats/ibadah melainkan wudhu yang tujuannya untuk 'AADAH / kebiasaan seperti Tabarrud (menyejukkan dirinya) dan nazhafah (kebersihan) maka boleh, karena fungsi wudhu berupa menghilangkan hadats, atau taqliil al-hadats (meringankan/mengecilkan hadats tidak terjad dalam wudhu semacam ini, dan tidak menimbulkan tanaaqud (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats.
💧 R E F E R E N S I :
[حاشية الجمل على شرح المنهج، ج ١ ص ١٦٦]📗
وَيُنْدَبُ لِلْجُنُبِ رَجُلًا كَانَ أَوْ امْرَأَةً وَلِلْحَائِضِ بَعْدَ انْقِطَاعِ حَيْضِهَا الْوُضُوءُ لِنَوْمٍ أَوْ أَكْلٍ أَوْ شُرْبٍ أَوْ جِمَاعٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ تَقْلِيلًا لِلْحَدَثِ
“Dan Disunnahkan bagi orang junub, laki-laki atau perempuan, dan bagi wanita haidh setelah berhenti haidh nya berwudhu karena mau tidur, makan, minum, jima’ dan seumpama nya, sebagai meringankan hadats”.
[شرح النووي على مسلم، ج ٣ ص ٢١٨]📗
وَأَمَّا أَصْحَابُنَا فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ الْوُضُوءُ لِلْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ لِأَنَّ الْوُضُوءَ لَا يُؤَثِّرُ فِي حَدَثِهِمَا فَإِنْ كَانَتِ الْحَائِضُ قَدِ انْقَطَعَتْ حَيْضَتُهَا صَارَتْ كَالْجُنُبِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Dan Adapun para shahabat kami, mereka sepaqat bahwasanya tidak disunnahkan berwudhu bagi wanita haidh dan wanita nifas. Karena sesungguhnya berwudhu tidak berpengaruh pada hadats kedua nya, Jika wanita haidh sudah berhenti darah haidh nya, maka dia seperti orang junub. Wallaahu A’lam”.
[الغرر البهية وحاشية الشربيني، ج ١ ص ١٦٧]📗
وَيُنْدَبُ) لَهُ أَيْضًا (الْوُضُوءُ لِلطَّعَامِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَالْمَنَامِ)___ (قَوْلُهُ: الْوُضُوءُ لِلطَّعَامِ إلَخْ) قَالَ النَّوَوِيُّ فِي الْمَجْمُوعِ؛ لِأَنَّهُ يُؤَثِّرُ فِي حَدَثِ الْجُنُبِ بِخِلَافِ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ؛ لِأَنَّ حَدَثَهُمَا مُسْتَمِرٌّ وَلَا تَصِحُّ الطَّهَارَةُ مَعَ اسْتِمْرَارِهِ وَهَذَا مَا دَامَتْ حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ فَإِذَا انْقَطَعَ الدَّمُ صَارَا كَالْجُنُبِ يُسْتَحَبُّ لَهُمَا الْوُضُوءُ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ
“Dan bagi orang junub disunnahkan wudhu untuk makan, minum, bersenggama dan tidur. --- Ucapan Mushannif (Imam Ibnul Wardi) : (disunnahkan) Wudhu untuk makan. Imam Nawawi berkata dalam kitab al Majmu’ : Karena sesungguhnya berwudhu bisa berpengaruh pada hadatsnya orang junub. Berbeda dengan hadatsnya wanita haidh dan nifas, karena hadats keduanya tetap. Tidak sah bersuci dengan tetapnya hadats tersebut, Dan Ini selagi wanita tersebut dalam keadaan haidh atau nifas. Jika darahnya sudah berhenti, maka keduanya menjadi seperti orang junub, keduanya disunnahkan wudhu disaat-saat tersebut diatas”.
(شرح المحلى، ج ١ ص ١١٤ الحرمين]📗
(وَيَحْرُمُ بِهِ) أَيْ بِالْحَيْضِ (مَا حَرُمَ بِالْجَنَابَةِ) مِنْ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا (وَعَبُورُ الْمَسْجِدِ إنْ خَافَتْ تَلْوِيثَهُ) بِالْمُثَلَّثَةِ بِالدَّمِ لِغَلَبَتِهِ أَوْ عَدَمِ إحْكَامِهَا الشَّدَّ، فَإِنْ أَمِنَتْ جَازَ لَهَا الْعُبُورُ كَالْجُنُبِ
“( Dan haram dengannya ) dengan orang berhaidh ( oleh sesuatu yang haram dengan orang berjunub ) daripada shalat dan selainnya ( dan melewati mesjid jika ditakutkan akan mengotori mesjid ) daripada darah, karena banyaknya darah atau tidak dihukumi nya dengan bersengatan ( tidak dianggap banyak ) maka jika dia aman ( tidak takut akan mengotori mesjid ) maka dia boleh melintasi mesjid, sama ( hukum nya ) seperti orang junub”.
💧💧💧💧
Hukum perempuan haidh masuk mesjid, hukumnya di perinci :
~> Jika masuk mesjid untuk berdiam diri (menetap) atau mondar-mandir, maka hukumnya Haram.
~> Jika masuk mesjid hanya lewat saja, maka di perinci :
a.) Apabila tidak aman atau dikhawatirkan bisa mengotori mesjid, maka hukumnya Haram.
b.) Apabila aman dari tidak mengotori, maka hukumnya boleh dan tidak makruh, jika ada hajat, namun jika tidak ada hajat, maka hukum nya Makruh menurut imam romli.
💧 R E F E R E N S I :
[المجموع شرح المهذب، ج ٢ ص ٣٥٨]📗
[الشَّرْحُ] يَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ وَكُلُّ هَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عِنْدَنَا وَتَقَدَّمَتْ أَدِلَّتُهُ وَفُرُوعُهُ الْكَثِيرَةُ مَبْسُوطَةً فِي بَابِ مَا يُوجِبُ الْغُسْلَ وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَا مِنْ رِوَايَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَإِسْنَادُهُ غَيْرُ قَوِيٍّ وَسَبَقَ بَيَانُهُ هُنَاكَ
“[Penjelasan] Bagi orang Haidh dan Nifas, haram hukumnya menyentuh dan membawa mush-haf Al-Qur'an, dan berdiam di masjid. Semua itu telah di sepaqati di kalangan kami (madzhab Syafi’i). Dalilnya sudah dijelaskan. Banyak cabang masalah ini di uraikan agak panjang, pada bab Hal-hal yang menyebabkan mandi wajib. Hadits perihal ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan perawi lainnya dari A‘isyah Radhiyallaahu Anha, dengan sanad yang tidak kuat. Penjelasannya sudah lewat di sana”.
[التقريرات السديدة، ص ١٧٤ دار العلوم الاسلامية]📗
الذي يحرم بالجنابة والحيض معا،اثنان:
١.اللبث فى المسجد،ومثل اللبث التردد،ويجوز المرور للجنب،وكذلك للحائض إذا لم تخف تلويث المسجد.
٢.قراءة القرآن بقصد القراءة،اي:بقصد التلاوة(الدراسة)
[بشرى الكريم، ص ١٢٨ دار الكتب الاسلامية]📗
ويحرم به)اي الحيض(ما يحرم بالجنابة)لانه اغلظ،بل يزيد بأنه يحرم به الطهر بنية التعبد في غير نحو نسك و عيد،(ومرور المسجد)اي فيه(إن خافت تلويثه)ولو احتمالا احتياطا له،ومثلها كل ذي خبث يخشى من تلويثه،فان أمنته كره لغلظ حدثها،وبه فارقت الجنب وذا الخبث.قال (م ر):ومحل كراهة عبورها إذا لم تكن لها حاجة الى العبور.
[حاشية الباجوري، ج ١ ص ٢٢١-٢٢٢ دار الكتب الاسلامية]📗
(وقوله الخمس دخول المسجد)ولو بمجرد العبور لغلط حدثها وبهذا فارقت الجنب حيث لم يحرم فى حقه مجرد العبور وأما المكث فحرام عليهما ومثله التردد لقوله صلى الله عليه وسلم لا أحل المسجد لحائض ولا لجنب رواه أبو داود عن عائشة ومن المسجد سطحه ورحبته وروشنه وخرج به غيره كالربط والمدارس والخانقاه وهي معبد الصوفية فلا يحرم دخولها إلا إن نجستها بالفعل وأما ملك الغير فيجوز تنجيسه بما جرت به العادة كتربية دجاج ونحوه بخلاف تنجيسه بما لم تجر به العادة (قوله للحائض)إلا حاجة اليه لأن الكلام فى الحائض لكنه صرح به للإيضاح وليشعر بمخالفتها للخنب فى مجرد الدخول كما علمت (قوله إن خافت تلويثه) بالمثلثة لا بالنون لأنها متى خافت التلويث حرم عليه الدخول وإن لم يوجد التلويث لقلة الدم والمراد بالخوف ما يشمل التوهم فإن لم تخف تلويثه بل أمنته لم يحرم بل يكره لها حينئذ وهو خلاف الأولى للجنب إلا لعذر فيهما فتنتفي الكراهة لها وكونها خلاف الأولى للجنب للعذر ومثلها كل ذي نجاسة فإن خاف التلويث المسجد حرم وإلا كره إلا لحاجة.
[المجموع شرح المهذب، ج ٣ ص ٢٨٣ دار الكتب العلمية]📗
ويحرم اللبث فى المسجد لقوله صلى الله عليه وسلم لا احل المسجد لجنب ولا لحائض،واما عبورها فى المسجد بغير لبث فقال الشافعي رضي الله عنه فى المختصر:اكره ممر الحائض في المسجد.
[كفاية الاخيار، ص ٧٧ الحرمين]📗
ويحرم بالحيض والنفاس ثمانية اشياء الصلاة والصوم)(وقراءة القرآن ومسح المصحف وحمله)(ودخول المسجد):ودخولها المسجد ان حصل معه جلوس او لبث ولو قائمة او تردد حرم عليها ذلك،لان الجنب يحرم عليه ذلك،ولا شك ان حدثها اشد من الجنابة،وان دخلت مارة فالصحيح الجواز كالجنب،ومحل الخلاف إذا أمنت تلويث المسجد،بأن تلجمت واستثفرت،فان خافت التلويث حرم بلا خلاف.
[مغنى المحتاج، ج ١ ص ١٦٥ دار الكتب العلمية]📗
ثم شرع فى احكام الحيض فقال:(ويحرم به)اي بالحيض(ما يحرم بالجنابة)من صلاة وغيرها لانه اغلظ،ويدل على انه اغلظ منها انه يحرم به ما يحرم بها،(و)اشياء اخر. احدها:عبور المسجد ان خافت تلويثه)صيانة للمسجد عن النجاسة،فان أمنته جاز لها العبور كالجنب لكن مع الكراهة كما فى المجموع.
[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٤ ص ٦٥]📗
وَذَهَبَ الْمُزَنِيّ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَزَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ إِلَى جَوَازِ مُكْثِ الْجُنُبِ فِي الْمَسْجِدِ مُطْلَقًا. مُسْتَدِلِّينَ بِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الْمُسْلِمُ لاَ يَنْجُسُ وَبِأَنَّ الْمُشْرِكَ يَمْكُثُ فِي الْمَسْجِدِ، فَالْمُسْلِمُ الْجُنُبُ أَوْلَى، وَبِأَنَّ الأَْصْل عَدَمُ التَّحْرِيمِ وَلَيْسَ لِمَنْ حَرَّمَ دَلِيلٌ صَحِيحٌ صَرِيحٌ
[المنهاج القويم، ص ٤٩]📗
ومحل حرمة المكث والتردد إذا كانا "لغير العذر" فإن كانا لعذر كأن احتلم فأغلق عليه باب المسجد أو خاف من الخروج على تلف نحو مال جاز له المكث للضرورة ويجب عليه التيمم ويحرم بتراب المسجد وهو الداخل في وقفه، أما الكافر فلا يمنع من المكث فيه لأنه لا يعتقد حرمته.
[القواعد الفقهية وتطبيقاتها في المذاهب الأربعة]📗
[ج ١ ص ٢٨٩] القاعدة: [٣٦]
٥ - الحاجة تُنزَّل منزلة الضرورة، عامة كانت أو خاصة ---إلى أن قال--- ومعنى كونها خاصة: أن يكون الاحتياج لطائفة منهم، كأهل بلد، أو حرفة، وليس المراد من كونها خاصة أن تكون فردية إلا نادراً.
[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٨ ص ٣٢٢]📗
اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى حُرْمَةِ اللُّبْثِ فِي الْمَسْجِدِ لِلْحَائِضِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ أُحِل الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ وَيَنْدَرِجُ فِيهِ الاِعْتِكَافُ كَمَا صَرَّحَ الْفُقَهَاءُ بِذَلِكَ. وَاتَّفَقُوا عَلَى جَوَازِ عُبُورِهَا لِلْمَسْجِدِ دُونَ لُبْثٍ فِي حَالَةِ الضَّرُورَةِ وَالْعُذْرِ، كَالْخَوْفِ مِنَ السَّبُعِ قِيَاسًا عَلَى الْجُنُبِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ} وَاللِّصِّ وَالْبَرْدِ وَالْعَطَشِ، وَلأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ عَائِشَةَ أَنْ تُنَاوِلَهُ الْخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ فَقَالَتْ إِنَّهَا حَائِضٌ فَقَال حَيْضَتُك لَيْسَتْ بِيَدِكِ، وَزَادَ الْحَنَفِيَّةُ أَنَّ الأَْوْلَى لَهَا عِنْدَ الضَّرُورَةِ أَنْ تَتَيَمَّمَ ثُمَّ تَدْخُل.
[التاج والاكليل، ج ١ ص ٤٦٣]📗
وَأَجَازَ ابْنُ مَسْلَمَةَ دُخُولَهُ مُطْلَقًا فَأَلْزَمَهُ اللَّخْمِيِّ الْحَائِضَ مُسْتَثْفِرَةً.
“Ibnu Maslamah membolehkan orang junub masuk ke dalam masjid secara muthlaq. Kemudian Al-Lakhmi menetapkan hukum tersebut, bagi orang haidh dengan kondisi mustatsfirah (benar-benar menjaga darahnya tidak menetes atau mengotori masjid)”.
[نهاية الزين، صفحة ٣٤]📗
وَمذهب الإِمَام أَحْمد جَوَاز الْمكْث فِي الْمَسْجِد للْجنب بِالْوضُوءِ لغير ضَرُورَة فَيجوز تَقْلِيده
“Madzhab Imam Ahmad/Hanbali, membolehkan orang junub berdiam di masjid, hanya dengan berwudhu, tanpa dharurat sekalipun. Pendapat ini boleh di ikuti”.
[حاشية الشرقاوي، ج ١ ص ١٨٢]📗
وأما النبي ﷺ فيحل مكثه بالمسجد جنبا، وهو من خصائصه صلى الله عليه وسلم لأن احتياجه للمسجد يكثر لنشر السنة، فجوز له ذلك لكنه لم يقع منه، ولأن ذاته أعظم من ذات المسجد
“Dan Adapun untuk Nabi Muhammad ﷺ, berdiam di masjid dalam kondisi junub diperbolehkan baginya. Ini termasuk hukum khusus untuk Beliau, karena kepentingannya terhadap masjid, lebih banyak untuk mengajarkan sunnahnya. Karenanya Rasulullah ﷺ boleh berdiam di masjid dalam keadaan junub, sekalipun hal ini belum pernah terjadi. Alasan lainnya, diri Rasulullah ﷺ lebih mulia dibanding masjid itu sendiri.”
[مواهب الجليل، ج ١ ص ٣٧٤]📗
وَقَالَ اللَّخْمِيُّ: اُخْتُلِفَ فِي دُخُولِ الْحَائِضِ وَالْجُنُبِ الْمَسْجِدَ فَمَنَعَهُ مَالِكٌ وَأَجَازَهُ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ إذَا كَانَ عَابِرَ سَبِيلٍ وَأَجَازَهُ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ جُمْلَةً وَقَالَ: لَا يَنْبَغِي لِلْحَائِضِ أَنْ تَدْخُلَ الْمَسْجِدَ؛ لِأَنَّهَا لَا تَأْمَنُ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ الْحَيْضَةِ مَا يُنَزَّهُ عَنْهُ الْمَسْجِدُ وَيَدْخُلُهُ الْجُنُبُ؛ لِأَنَّهُ يَأْمَنُ ذَلِكَ قَالَ: وَهُمَا فِي أَنْفُسِهِمَا طَاهِرَانِ سَوَاءٌ وَعَلَى هَذَا يَجُوزُ كَوْنُهُمَا فِيهِ إذَا اسْتَثْفَرَتْ. انْتَهَى
“Dan Al-Lakhmi berkata : berkaitan dengan masuknya wanita haidh dan orang junub ke dalam masjid, hukumnya diperselisihkan. Imam Malik mencegahnya. Sedangkan Imam Zaid bin Aslam membolehkan nya ketika hanya berjalan lewat. Muhammad bin Maslamah membolehkannya secara umum. Dan ia berkata : Wanita haidh sepantas nya tidak masuk ke dalam masjid, karena sesungguhnya tidak ada jaminan/aman dari keluar haidh nya, yang semestinya masjid terbersihkan darinya, (keluar darah nya/sehingga mengotori). Sedangkan orang junub boleh memasukinya, karena terhindar dari kemungkinan seperti itu, Al-Lakhmi berkata : Wanita haidh dan orang junub itu sama-sama suci kedua nya, Berdasarkan hal ini, mereka berdua sama-sama boleh berada di dalam masjid, yaitu ketika wanita haidh tersebut benar-benar menjaga darahnya tidak menetes atau mengotori masjid (semitsal dengan pembalut yang berkualitas)”.
💧💧💧💧
Keterangan batasan muktsu/menetap adalah yang melebihi qadar/ukuran waktu thuma'ninah atau minimal waktu yang bisa menghasilkan thuma'ninah, batasan yang kedua ini lebih aqrob (batasan yang lebih mendekati kebenaran)
💧 R E F E R E N S I :
[حاشية البجيرمي على شرح المنهج، ج ١ ص ٩٢]📗
(قَوْلُهُ: وَمُكْثُ) أَيْ وَلَوْ حُكْمًا بِدَلِيلِ قَوْلِهِ وَلَوْ مُتَرَدِّدًا قَالَ حَجّ وَهَلْ ضَابِطُهُ كَمَا فِي الِاعْتِكَافِ بِالزِّيَادَةِ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ أَوْ مَا هُنَا بِأَدْنَى طُمَأْنِينَةٍ لِأَنَّهُ أَغْلَظُ كُلٌّ مُحْتَمَلٌ وَالثَّانِي أَقْرَبُ اهـ.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
❤ KETUA / PIMPINAN UMUM / PENASHIHAT :
🖍️ Abuya Al-Habib Seqqaf bin Hasan bin Ahmad Baharun_Pasuruan_Jawa Timur.
🖍️ Al-Habib Ahmad Al-Haddar_Bogor_Jawa Barat.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Guru Naufal_Martapura_Kalimantan Selatan.
🖍️ Ustadz Wakid Yusuf_Sumenep_Jawa Timur.
🖍️ Ustadz Hasyim_Sumatera Utara.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ WAKIL :
🖍️ Al-Habib Hisyam Al-Habsyi_Bogor_Jawa Barat.
🖍️ As-Sayyid Abdullah Al-Khayrid_Jakarta.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Ustadz Ahmad Saifuddin_Cimahi_Jawa Barat.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MUHARRIR :
🖍️ Kiai Mahmulul Huda_Jember_Jawa timur.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ TERJEMAH / PENJELASAN IBARAH :
🖍️ Ustadz Handoyo_Tangerang.
🖍️ Ustadz Jefri_Sampang Madura.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MODERATOR/KORDINATOR SOAL/PENDIRI GRUP :
🖍️ Khalilurrahman_Kalimantan Selatan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ SECARA UMUM = MUJAWWIB / MUSHAHHIH & SEBAGAI NYA (SESUAI KEMAMPUAN NYA) :
🖍️ Tidak Di Tentukan, Siapa Saja Di Perkenankan, (Kepada Semua Anggota Grup), Sesuai Dengan Kemampuan nya, Untuk Menambahkan Jawaban, Mempertegas, Meluruskan, Mengoreksikan, Maupun Membantu Merumuskan, Mudah-mudahan Menjadi Amal Jariyah Kebaikan Di Alam Yang Kekal Kelak, Yang Di Ridhai Allah dan Rasulullah ﷺ, Aamiin Ya Allah Ya Mujibas-Sa’iliin.
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والله أعلم بالصواب