Jumat, 27 November 2020

PUNGUTAN LIAR (PUNGLI) APA HUKUM NYA ?

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 186
👳🏻‍♂️ Nama : Muhammad Khairil
Alamat : Serdang Bedagai Medan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Saya bekerja di sebuah instansi pemerintahan melayani masyarakat, posisi saya sebagai operator / pramubakti (Non-PNS / Honorer). saya sudah memiliki SK kerja yang resmi dari pemerintah.
Di dalam pelaksanaan kerja, saya sering temui instansi ini selalu meminta upah kepada masyarakat / membebani biaya, dengan dalih uang administrasi, padahal didalam aturan itu tidak ada. semua yang bekerja di instansi ini adalah PNS yang di gaji pemerintahan.

Uang administrasi yang di bebankan kepada masyarakat, itu instansi kumpulkan untuk keperluan kantor dan dibagi-bagi kepada seluruh staff kantor.
Ketika hari besar islam saya diberi uang oleh atasan, dengan bahasa kias  "uang bumbu atau jajan" seolah-olah THR (Tunjangan Hari Raya).

Sedangkan dari pemerintahan pusat uang itu tidak ada !! itu kebijakan atasan saya, Dan saya tau itu bukan uang dia pribadi, melainkan uang yang terkumpul dari biaya administrasi yang mereka bebankan kepada masyarakat.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Apa hukum merekayasa biaya administrasi tersebut ⁉️

🍏 JAWABAN :

Hukum nya Haram, karena merupakan Maksu, yaitu pungutan-pungutan di luar apa yang di tetapkan pemerintah dan tidak sesuai dengan syari'at.

💧 R E F E R E N S I :

[إسعاد الرفيق، ج ٢ ص ٥٧]📗
{المكس} وهو ماترتبه الظلمة من السلاطين فى أموال الناس بقوانين ابتدعوها، ---إلى أن قال--- والمكاس بسائر أنواعه من جابى المكس وكاتبه وشاهده ووازنه وكائله وغيرها، من أكبر أنواع الظلمة بل هو منهم فلهم يأخذون ما لا يستحقون ويدفعونه لغير مستحقه

“(Al-Maksu adalah suatu aturan yang ditentukan oleh penguasa-penguasa secara zhalim, berkaitan dengan harta-harta manusia, (aturan ini) diatur dengan undang-undang yang sengaja dibuat / diada-adakan), ---sampai kepada perkata'an--- (Para pelaku pungli/pungutan liar dengan berbagai macamnya terdiri dari pihak pemungut, pencatat, pihak yang menyaksikan, pihak yang menimbang, pihak yang menakar dan lain-lain nya, yang terlibat dalam kezhaliman besar ini, bahkan masing-masing pihak dianggap sama saja, sebab mereka telah mengambil/memungut sesuatu yang bukan haq mereka, dan memberikan nya kepada selain orang yang tak berhaq”.


[الزواجر عن اقتراف الكبائر، ج ١ ص ٢٩٨-٢٩٩]📗
[الْكَبِيرَةُ الْحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ بَعْدَ الْمِائَةِ جِبَايَةُ الْمُكُوسِ]
(جِبَايَةُ الْمُكُوسِ، وَالدُّخُولُ فِي شَيْءٍ مِنْ تَوَابِعِهَا كَالْكِتَابَةِ عَلَيْهَا لَا بِقَصْدِ حِفْظِ حُقُوقِ النَّاسِ إلَى أَنْ تُرَدَّ إلَيْهِمْ إنْ تَيَسَّرَ) وَهُوَ دَاخِلٌ فِي قَوْله تَعَالَى: {إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [الشورى: ٤٢].
وَالْمِكَاسُ بِسَائِرِ أَنْوَاعِهِ: مِنْ جَابِي الْمَكْسِ وَكَاتِبِهِ وَشَاهِدِهِ وَوَازِنِهِ وَكَائِلِهِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَكْبَرِ أَعْوَانِ الظَّلَمَةِ بَلْ هُمْ مِنْ الظَّلَمَةِ بِأَنْفُسِهِمْ، فَإِنَّهُمْ يَأْخُذُونَ مَا لَا يَسْتَحِقُّونَهُ وَيَدْفَعُونَهُ لِمَنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ، وَلِهَذَا لَا يَدْخُلُ صَاحِبُ مَكْسٍ الْجَنَّةَ لِأَنَّ لَحْمَهُ يَنْبُتُ مِنْ حَرَامٍ كَمَا يَأْتِي.
وَأَيْضًا فَلِأَنَّهُمْ تَقَلَّدُوا بِمَظَالِمِ الْعِبَادِ، وَمِنْ أَيْنَ لِلْمَكَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُؤَدِّيَ النَّاسَ مَا أَخَذَ مِنْهُمْ إنَّمَا يَأْخُذُونَ مِنْ حَسَنَاتِهِ إنْ كَانَ لَهُ حَسَنَاتٌ، وَهُوَ دَاخِلٌ فِي قَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ: «أَتَدْرُونَ مَنْ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، قَالَ: إنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَزَكَاةٍ وَصِيَامٍ وَقَدْ شَتَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا وَأَخَذَ مَالَ هَذَا فَيَأْخُذُ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِهِمْ فَطُرِحَ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ» . ---إلى أن قال---
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ» . قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ يَعْنِي الْعَشَّارَ، وَقَالَ الْبَغَوِيّ: يُرِيدُ بِصَاحِبِ الْمَكْسِ الَّذِي يَأْخُذُ مِنْ التُّجَّارِ إذَا مَرُّوا عَلَيْهِ مَكْسًا بِاسْمِ الْعُشْرِ أَيْ الزَّكَاةِ. قَالَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ: أَمَّا الْآنَ فَإِنَّهُمْ يَأْخُذُونَ مَكْسًا بِاسْمِ الْعُشْرِ وَمَكْسًا آخَرَ لَيْسَ لَهُ اسْمٌ بَلْ شَيْءٌ يَأْخُذُونَهُ حَرَامًا وَسُحْتًا وَيَأْكُلُونَهُ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا، حُجَّتُهُمْ فِيهِ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ.

“[Dosa besar ke-130] adalah memungut maks dan berperan serta di dalamnya dengan menjadi juru tulis, bukan dengan tujuan menjaga hak manusia, sehingga bisa dikembalikan kepada pemilik harta ketika sudah memungkinkan. Dosa ini termasuk dalam firman Allah, yang artinya : "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas, di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih" [asy Syura:42].

“Para pemungut pajak dengan berbagai tugasnya, baik pemungut pajak secara langsung, juru tulisnya, saksi, petugas yang bertugas menimbang, ataupun menakar barang yang akan dibebani pajak dan lainnya, adalah pembantu penting para penguasa yang zhalim. Bahkan mereka adalah orang-orang yang zhalim, karena merekalah yang mengambil harta yang bukan haq mereka, dan menyerahkannya kepada orang yang tidak berhak. Oleh karena itu, pemungut pajak itu tidak akan masuk surga, karena dagingnya tumbuh dari harta yang haram”.

“Dan pula Sebab yang kedua, adalah karena mereka bertugas untuk menzhalimi manusia. Dari mana para pemungut zakat tersebut pada hari Kiamat bisa mengembalikan hak orang lain yang telah mereka ambil ?  Orang-orang yang dikenai pajak itu akan mengambil kebaikannya, jika pemungut pajak tersebut masih memiliki kebaikan. Pemungut pajak itu termasuk dalam hadits yang shahih. Nabi ﷺ bertanya kepada para shahabat, "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu ?" Jawaban para shahabat, “Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya dan tidak punya harta”. Sabda Nabi ﷺ , “Ummatku yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari Qiamat dengan membawa pahala shalat, zakat dan puasa. Namun dia telah mencaci maki si A, memukul si B dan mengambil harta si C. Si A akan mengambil amal kebaikannya. Demikian pula si B. Jika amal kebajikannya sudah habis, sebelum kewajibannya selesai, maka amal kejelekan orang-orang yang di zhalimi, akan diberikan kepadanya, kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka ---sampai kepada perkata'an---”.

“Dari Uqbah bin Amir, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga. Berkata yazid bin Harun Yang di maksud yaitu tukang tipu yang berkedok, Al Baghawi mengatakan : bahwa yang dimaksud dengan pemungut maks adalah orang yang meminta uang dari para pedagang, jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘usyur (yaitu zakat). Al-Hafizh al-Mundziri mengatakan : Sedangkan sekarang para pemungut pajak, mereka memungut pajak dengan kedok zakat dan pajak yang lain tanpa kedok apapun. Itulah uang yang mereka ambil dengan jalan yang haram. Mereka masukkan ke dalam perut mereka api neraka. Alasan mereka di hadapan Allah adalah alasan yang rapuh. Untuk mereka murka Allah dan siksa yang berat”.


[شرح النووي على مسلم، ج ١١ ص ٢٠٣]📗
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ) فِيهِ أَنَّ الْمَكْسَ مِنْ أَقْبَحِ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ الْمُوبِقَاتِ وَذَلِكَ لِكَثْرَةِ مُطَالَبَاتِ النَّاسِ لَهُ وظلاماتهم عِنْدَهُ وَتَكَرُّرِ ذَلِكَ مِنْهُ وَانْتِهَاكِهِ لِلنَّاسِ وَأَخْذِ أَمْوَالِهِمْ بِغَيْرِ حَقِّهَا وَصَرْفِهَا فِي غَيْرِ وَجْهِهَا

“Beliau ﷺ bersabda (Perempuan al-Ghamidiyah tersebut sungguh telah bertaubat, dengan suatu taubat, yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu, tentu dia akan diampuni, Di dalam Hadits ini menunjukkan, bahwa memungut bea cukai itu termasuk kema'shiatan yang paling buruk dan termasuk dosa yang membinasakan (dosa besar). Hal ini disebabkan banyaknya tuntutan manusia kepadanya (pada hari Qiamat) dan banyaknya tindakan kezhaliman, yang dilakukan oleh pemungut bea cukai, mengingat pungutan ini dilakukan berulang kali. Dengan memungut bea cukai berarti melanggar hak orang lain, dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan, serta membelanjakannya tidak pada sasaran yang tepat”.


[نيل الأوطار، ج ٧ ص ١٣٢]📗
قَوْلُهُ: (صَاحِبُ مَكْسٍ) بِفَتْحِ الْمِيمِ وَسُكُونِ الْكَافِ بَعْدَهَا مُهْمَلَةٌ: هُوَ مَنْ يَتَوَلَّى الضَّرَائِبَ الَّتِي تُؤْخَذُ مِنْ النَّاسِ بِغَيْرِ حَقٍّ. قَالَ فِي الْقَامُوسِ: مَكَسَ فِي الْبَيْعِ يَمْكِسُ إذَا جَبَى مَالًا وَالْمَكْسُ: النَّقْصُ وَالظُّلْمُ، وَدَرَاهِمُ كَانَتْ تُؤْخَذُ مِنْ بَائِعِي السِّلَعِ فِي الْأَسْوَاقِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَوْ دِرْهَمٌ كَانَ يَأْخُذُهُ الْمُصَدِّقُ بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ الصَّدَقَةِ انْتَهَى.

“Pemungut maks adalah orang yang mengambil pajak dari masyarakat, tanpa adanya alasan yang bisa dibenarkan”.
“Dalam al-Qamus (al-Muhith) disebutkan bahwa arti asal dari maks adalah memungut di dalam mu'amalah yang terus menerus mengambil mengumpulkan harta, dan mengurangi atau menzhalimi. Maks adalah uang yang diambil dari para pedagang di pasar-pasar, pada masa jahiliyyah atau uang yang diambil oleh amil zakat (untuk dirinya) setelah dia selesai mengambil zakat, selesai”.


[كشاف القناع، ج ٣ ص ١٥٨]📗
(ويحرم تعشير أموال المسلمين، والكُلَف التي ضربها الملوك على الناس بغير طريق شرعي إجماعا . قال القاضي : لا يسوغ فيها اجتهاد )

“Dan di haramkan mengambil sepersepuluh dari total harta-harta orang-orang islam. (Demikian juga diharamkan memungut pajak). Pajak adalah pungutan penguasa dari rakyatnya, tanpa cara yang dibenarkan oleh syari'at. Diharamkannya hal ini adalah ijma ulama. Al-Qadhi Abu ya'la mengatakan bahwa tidak ada ijtihad dalam masalah ini”.


[الأشباه والنظائر للسيوطي، ص ١٥٠]📗
[الْقَاعِدَةُ السَّابِعَة وَالْعِشْرُونَ: مَا حُرِّمَ أَخْذُهُ حُرِّمَ إعْطَاؤُهُ]
ُ "كَالرِّبَا وَمَهْرِ الْبَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ وَالرِّشْوَةِ، وَأُجْرَةِ النَّائِحَةِ وَالزَّامِرِ.
وَيُسْتَثْنَى صُوَرٌ: مِنْهَا: الرِّشْوَةُ لِلْحَاكِمِ، لِيَصِلَ إلَى حَقِّهِ، وَفَكُّ الْأَسِيرِ وَإِعْطَاءُ شَيْءٍ لِمَنْ يَخَافُ هَجْوُهُ، وَلَوْ خَافَ الْوَصِيُّ أَنْ يَسْتَوْلِيَ غَاصِبٌ عَلَى الْمَالِ فَلَهُ أَنْ يُؤَدِّيَ شَيْئًا لِيُخَلِّصَهُ وَلِلْقَاضِي بَذْلُ الْمَالِ عَلَى التَّوْلِيَةِ، وَيُحَرَّمُ عَلَى السُّلْطَانِ أَخْذُهُ.

“[Qaidah yang ke-27: sesuatu yang haram untuk diambil/dimiliki, maka haram untuk diberikan].

(adapun contoh dari qaidah tadi) seperti harta hasil riba, uang yang dibayar pada pelacur, bayaran kepada dukun, harta risywah/sogokan, bayaran kepada orang yang meratapi mayat, gajih peniup seruling dan lainnya (maka harta tersebut haram diberikan kepada orang lain, seperti sedekah atau dibuat membayar, atau lainnya).

Dan ada beberapa permasalahan yang dikecualikan dari qaidah tadi, seperti : seperti uang sogokan kepada hakim agar pemerintah memenuhi hak seseorang, atau membebaskan seseorang yang tak bersalah, atau memberikan sesuatu agar seseorang tidak difitnah.

jika seseorang yang diwasiati/dititipi khawatir harta titipannya dikuasai oleh orang lain (ghasib), maka dia boleh memberikan sesuatu kepada ghasib tersebut, agar dia tidak mengganggu orang tadi. Dan begitu juga, diperbolehkan bagi seseorang yang ingin menjadi Qadhi (dan memenuhi syarat) maka dia boleh membayar kepada pemerintah agar dia bisa dilantik menjadi Qadhi. Akan tetapi, pemerintah haram untuk menerimanya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) (Di luar uang gaji) wajibkah saya bertanya dari mana asal-usul uang yang diberikan kepada saya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Wajib, sebagai pekerja bertanya untuk mengetahui upah dari pekerjaan apa, karena sudah mendapatkan upah. Tetapi ketika sudah jelas, bahwa itu diberikan dari hasil pungutan liar (pungli) sebagaimana deskripsi, maka Haram mengambilnya, karena uang tersebut Haram.

💧 R E F E R E N S I :

Sebagaimana pada nomor 1, DAN :

[إحياء علوم الدين، ج ٢ ص ١٥٥]📗
فإن كان جاهه بولاية تولاها من قضاء أو عمل أو ولاية صدقة أو جباية مال أو غيره من الأعمال السلطانية حتى ولاية الأوقاف مثلاً وكان لولا تلك الولاية لكان لا يهدي إليه فهذه رشوة عرضت في معرض الهدية

“Dan ketika orang yang diberi hadiah tadi adalah orang yang memiliki jabatan, Yang mana jabatannya adalah jabatan kepemerintahan, seperti juru putus (hakim), atau koordinator, atau pejabat yang mengurus masalah pajak,  atau pejabat-pejabat pemerintah yang lain (meskipun itu adalah pejabat waqaf), dan seandainya kalau bukan karena jabatan tadi, maka dia tidak diberi hadiah oleh si pemberi, maka praktek pemberian ini, masuk dalam kategori risywah atau menyogok, yang dibungkus dengan tampilan 'memberi hadiah”.


[الزواجر عن اقتراف الكبائر، ج ٢ ص ٣١٤]📗
وَالْأَحَادِيثُ الَّتِي ذَكَرْتهَا صَرِيحَةٌ فِي أَكْثَرِ ذَلِكَ لِمَا فِيهَا مِنْ الْوَعِيدِ الشَّدِيدِ وَاللَّعْنَةِ لِلرَّاشِي وَلِلْمُرْتَشِي وَلِلسَّفِيرِ بَيْنَهُمَا، وَإِنَّمَا قُلْتُ فِي الثَّانِيَةِ بَاطِلٌ لِقَوْلِهِمْ قَدْ يَجُوزُ الْإِعْطَاءُ وَيَحْرُمُ الْأَخْذُ كَمَا فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، وَكَمَا يُعْطَاهُ الشَّاعِرُ خَوْفًا مِنْ هَجْوِهِ فَالْإِعْطَاءُ جَائِزٌ لِلضَّرُورَةِ، وَالْأَخْذُ حَرَامٌ؛ لِأَنَّهُ بِغَيْرِ حَقٍّ؛ وَلِأَنَّ الْمُعْطِيَ كَالْمُكْرَهِ عَلَى إعْطَائِهِ فَمَنْ أَعْطَى قَاضِيًا أَوْ حَاكِمًا رِشْوَةً أَوْ أَهْدَى إلَيْهِ هَدِيَّةً فَإِنْ كَانَ لِيَحْكُمَ لَهُ بِبَاطِلٍ أَوْ لِيَتَوَصَّلَ بِهَا إلَى نَيْلِ مَا لَا يَسْتَحِقُّ أَوْ إلَى أَذِيَّةِ مُسْلِمٍ فُسِّقَ الرَّاشِي وَالْمُهْدِي بِالْإِعْطَاءِ وَالْمُرْتَشِي وَالْمُهْدَى إلَيْهِ بِالْأَخْذِ وَالرَّائِشُ بِالسَّعْيِ، وَإِنْ لَمْ يَقَعْ حُكْمٌ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ، أَوْ لِيَحْكُمَ لَهُ بِحَقٍّ أَوْ لِدَفْعِ ظُلْمٍ عَنْهُ أَوْ لِيَنَالَ مَا يَسْتَحِقُّهُ فُسِّقَ الْآخِذُ فَقَطْ وَلَمْ يَأْثَمْ الْمُعْطِي لِاضْطِرَارِهِ إلَى التَّوَصُّلِ إلَى حَقِّهِ بِأَيِّ طَرِيقٍ كَانَ.

"Dan hadits-hadits yang telah kami sebutkan tadi sudah sangat jelas sekali, yang mana ia berisi ancaman yang sangat keras, juga la'nat dari Allah kepada mereka yang melakukan praktik sogok-menyogok, dan orang yang menjadi perantara di antara keduanya. Adapun di bagian kedua kami menyebutkan kata "bathil", Itu sebab menurut para ulama ada gambaran, di mana seseorang diperbolehkan menyogok, tetapi haram diterima oleh orang yang disogok.

Sebagaimana dalam permasalahan ini. Juga sebagaimana dalam gambaran, ketika ada seseorang yang memberikan harta kepada orang lain, agar orang lain tadi tidak memfitnah sang pemberi tadi, maka pemberiannya dihukumi boleh, sedangkan menerimanya dihukumi haram. Sebab jika ia menerima, maka ia termasuk dalam kategori "mengambil harta orang tanpa hak". juga sebab orang yang memberikan tadi, dianggap seperti orang yang memberikan karena terpaksa, oleh karena itu menerimanya hukumnya haram.

Dan barangsiapa yang menyogok Hakim atau memberinya hadiah, yang mana tujuannya adalah agar Hakim tadi pembuat keputusan yang menguntungkan sang pemberi tadi (dengan keputusan yang tidak benar), atau tujuannya agar Hakim tadi membantu sang pemberi tadi untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya, atau Untuk membantunya dalam menyakiti ummat Islam, maka orang yang memberi tadi (penyogok) dan orang/hakim yang menerima pemberiannya (sogokannya) dianggap fasik. Meskipun setelah menerimanya, Hakim tadi tidak memenuhi apa yang di inginkan oleh si pemberi / penyogok.

Atau jika tujuan si pemberi tadi agar Hakim membantunya untuk mendapatkan haknya, atau membela diri dari Orang dzalim, maka si pemberi tidak dihukumi fasik (tidak berdosa), tetapi yang menerima sogokan tadi mendapat dosa dan menjadi fasiq. Adapun yang memberikan, maka dia tidak berdosa. Sebab hal itu adalah jalan baginya untuk mendapatkan kembali haknya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Bolehkah kita meminta upah atas pekerjaan yang kita lakukan, sedangkan kita sudah digaji untuk melakukan pekerjaan tersebut ⁉️

🍏 JAWABAN :

Boleh, apabila upah dari pekerjaan yang dilaksanakan diluar jam tugas, seperti lemburan dan lain-lain.

Pendapatan di luar gaji pokok dalam konsep fiqih :

1.) Risywah, apabila pendapatan yang diterima untuk membatalkan sesuatu yang haq dan membenarkan yang bathil.
2.) Korupsi, apabila pendapatannya dihasilkan dari penyalahgunaan amanah.
3.) Ujratul Ijarah, apabila didapat dari suatu pekerjaan di luar jam dinas, yang ditentukan seperti lembur.
4.) Hadiah, apabila didapat dari hasil penghargaan suatu pekerjaan.
5.) Shadaqah, apabila didapat dari pemberi yang bertujuan semata-mata untuk akhirat.
6.) Ju’alah, apabila didapat dari hasil suatu pekerjaan mubah, sebagai imbalan yang dijanjikan oleh pemberi.
7.) Hibah, apabila didapat dari seseorang yang mengharapkan balasan.

💧 R E F E R E N S I :

[تعليقة التنبيه فى الفقه الشافعي، ص ٣٩٩]📗
٣- الرشوة : والهدية متقاربتان قال القاضى أبو القاسم ابن كج : الفرق بينهما أن الرشوة عطية بشرط أن يحكم له لغير الحق أو يمتنع من الحكم عليه بحق، والهدية عطية مطلقة. وقال الغزالى فى الاحياء : المال إن بذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة، وإن بذل لعاجل فإن كان لغرض مال فى مقابلته فهي هبة بثواب مشروط أو متوقع، وإن كان الغرض عمل محرم أو واجب متعين فهو رشوة، وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة، وإن كان للتقرب والتودد للمبذول له، فإن كان لمجرد نفسه فهدية، وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد، فإن كان جاهه  بعلم أو نسب أو صلاح فهدية، وإن كان بالقضاء والعمل بولاية فهو رشوة، ---إلى أن قال--- والرشوة حرام على القاضى وغيره من العمال وأما دفعها فإن توصل بها الى تحصيل حق لم يحرم عليه الدفع، وإن توصل إلى تحصيل باطل أو إبطال حق فحرم عليه، وأما المتوسط بينهما فهو تابع لموكله منهما له حكمه فى التحريم والتحليل، فإن توكل لهما جميعا حرم عليه لأنه وكيل الأخذ وهو حرام عليه

“Yang ketiga, adalah Risywah/sogokan. Yang mana sogokan dan hadiah itu mirip sekali.

Qadhi Abu al Qashim berkata : perbedaan antara menyogok dan memberi hadiah adalah, yaitu risywah/sogokan merupakan sebuah pemberian, yang mana tujuannya agar si pemberi tadi dapat diberi keputusan, yang menguntungkan bagi dirinya (yang mana dia tidak berhak mendapatkannya), atau agar dia selamat dari hukuman (yang mana ia wajib/pantas mendapatkan hukuman tersebut). Sedangkan hadiah, adalah pemberian yang tanpa didasari tujuan apapun.

Dan Imam Ghazali berkata dalam Ihya'nya : ' harta yang diberikan sebab tujuan akhirat, maka termasuk ibadah juga sedekah. Tetapi jika diberikan karena tujuan duniawi, maka dilihat dulu, jika tujuan duniawi yang dimaksud adalah agar dia mendapat balasan harta, maka ia adalah pemberian biasa. Adapun jika tujuan dari pemberian tadi adalah perbuatan yang diharamkan, atau agar si pemberi tadi mendapat pekerjaan yang mana ia tidak pantas mendapatkannya, maka ia adalah risywah/menyogok. Adapun jika tujuan dari pemberiannya adalah sesuatu yang diperbolehkan agama, maka ia bisa saja dianggap ijaroh atau ju'alah.  Adapun jika tujuanya adalah agar dia bisa dekat dan disukai oleh orang yang menerimanya, maka ia adalah hadiah. Adapun si penerima adalah orang sholeh, atau orang yang bagus nasabnya, atau orang berilmu, maka ia termasuk hadiah. Adapun jika si penerima adalah hakim, atau pemerintah, dan tujuannya adalah agar hakim dan pemerintah tadi membantu si pemberi, maka ia termasuk risywah/sogokan /suap. ---إلى أن قال--- ..... Dan Risywah/suap/sogokan adalah perbuatan haram bagi hakim atau pejabat pemerintah.

Adapun menyogok sebab ingin mendapatkan haknya (yang dibenarkan agama) maka itu diperbolehkan. Tetapi jika menyogok untuk melakukan sesuatu yang dilarang, atau membantah kebenaran, maka ia haram hukumnya. Adapun orang-orang yang menjadi perantara dari praktek tersebut, maka hukumnya sama dengan orang yang melakukan sogok. Jika praktek sogoknya diperbolehkan agama, maka menjadi perantaranya juga boleh. Dan jika sebaliknya, maka sebaliknya/tidak boleh”.


[المحلي، فى حاشيتا القليوبى وعميرة، ج ٣ ص ١١٢]📗
كِتَابُ الْهِبَةِ هِيَ شَامِلَةٌ لِلصَّدَقَةِ وَالْهَدِيَّةِ كَمَا سَيَأْتِي. (التَّمْلِيكُ بِلَا عِوَضٍ هِبَةٌ) ذَاتُ أَنْوَاعٍ. (فَإِنْ مَلَّكَ مُحْتَاجًا لِثَوَابِ الْآخِرَةِ) أَيْ لِأَجْلِهِ شَيْئًا. (فَصَدَقَةٌ فَإِنْ نَقَلَهُ إلَى مَكَانِ الْمَوْهُوبِ لَهُ إكْرَامًا لَهُ فَهَدِيَّةٌ) فَكُلٌّ مِنْ الصَّدَقَةِ، وَالْهَدِيَّةِ هِبَةٌ، وَلَا عَكْسَ وَغَيْرُهُمَا اقْتَصَرَ عَلَى اسْمِ الْهِبَةِ، وَانْصَرَفَ الِاسْمُ عَنْ الْإِطْلَاقِ إلَيْهِ، وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ. (وَشَرْطُ الْهِبَةِ) أَيْ لِتَتَحَقَّقَ (إيجَابٌ وَقَبُولٌ لَفْظًا) نَحْوُ وَهَبْت لَك هَذَا فَيَقُولُ قَبِلْت. (وَلَا يَشْتَرِطَانِ فِي الْهَدِيَّةِ عَلَى الصَّحِيحِ بَلْ يَكْفِي الْبَعْثُ مِنْ هَذَا وَالْقَبْضُ مِنْ ذَاكَ) كَمَا جَرَى عَلَيْهِ النَّاسُ فِي الْأَعْصَارِ وَالْمُشْتَرَطُ قَاسَهَا عَلَى الْهِبَةِ وَحَمَلَ مَا جَرَى عَلَيْهِ النَّاسُ عَلَى الْإِبَاحَةِ، وَرَدَّ بِتَصَرُّفِهِمْ فِي الْمَبْعُوثِ تَصَرُّفَ الْمُلَّاكِ وَفِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا الصَّدَقَةُ كَالْهَدِيَّةِ بِلَا فَرْقٍ


“Kitab menerangkan tentang pemberian (mencakup shodaqoh dan hadiah, sebagaimana yang akan dijelaskan)

Hibah adalah memberikan sesuatu dengan tanpa imbalan (bayaran). Dan hal itu ada beberapa macam. Pertama, jika pemberian tersebut didasari oleh keinginan untuk mendapat pahala, maka ia adalah shodaqoh. Kedua, jika pemberian tersebut sebab ingin menghormati dan memuliakan orang yang menerimanya, maka ia adalah Hadiah.

Adapun shodaqoh dan hadiah, maka ia termasuk dalam kategori Hibah, tetapi Hibah belum tentu shodaqoh atau juga hadiah. Adapun pemberian yang mana ia tidak masuk dalam kategori shodaqoh dan hadiah, maka ia dikatakan Hibah. Dan ketika ada seseorang yang mengatakan 'Hibah/pemberian' (tanpa embel-embel), maka pengertian nya diarahkan pada arti Hibah secara umum, bukan shodaqoh dan bukan hadiah.

Syarat - syarat Hibah (agar jadi jelas) adalah mengucapkan ijab dan qobul, seperti 'Aku memberi ini padamu' lalu penerima menjawab, 'Iya, aku menerimanya'.

Adapun dalam Hadiah, maka tidak diisyaratkan adanya ijab dan qobul menurut pendapat yang shohih, melainkan cukup seseorang memberikan hadiahnya dan si penerima pun menerimanya (sebagaimana yang sering dilakukan orang-orang saat ini [Red: maksudnya adalah saat Imam Mahalli menulis kitab ini].

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa dalam hadiah juga disyaratkan adanya ijab dan qobul, itu sebab mereka menganalogikan/menyamakan permasalahan ini dengan permasalahan hibah (sebab hadiah juga termasuk Hibah). Dan tentang kebiasaan orang-orang saat itu yang memberikan hadiah tanpa adanya ijab qobul, mereka berpendapat bahwa itu bukan hadiah, melainkan ibahah. Dan pendapat ini tertolak, sebab jika itu bukan hadiah, melainkan ibahah, maka seharusnya orang yang menerimanya tidak boleh memanfaatkan pemberian tersebut, sebagaimana tashorrufnya seorang pemilik kepada barang miliknya. Dan penjelasan dalam kitab Roudhotuth-Tholibin sama seperti kitab asalnya (Yaitu Al Aziz Syarh Wajiz milik imam Ar Rafi'i) bahwa pembahasan shodaqoh itu sama seperti hadiah, tidak ada bedanya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

❤ KETUA / PIMPINAN UMUM / PENASHIHAT :
🖍️ Abuya Al-Habib Seqqaf bin Hasan bin Ahmad Baharun_Pasuruan_Jawa Timur.
🖍️ Al-Habib Ahmad Al-Haddar_Bogor_Jawa Barat.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Guru Naufal_Martapura_Kalimantan Selatan.
🖍️ Ustadz Wakid Yusuf_Sumenep_Jawa Timur.
🖍️ Ustadz Hasyim_Sumatera Utara.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ WAKIL :
🖍️ Al-Habib Hisyam Al-Habsyi_Bogor_Jawa Barat.
🖍️ As-Sayyid Abdullah Al-Khayrid_Jakarta.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Ustadz Ahmad Saifuddin_Cimahi_Jawa Barat.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MUHARRIR :
🖍️ Kiai Mahmulul Huda_Jember_Jawa timur.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ TERJEMAH / PENJELASAN IBARAH :
🖍️ Ustadz Handoyo_Tangerang.
🖍️ Ustadz Jefri_Sampang Madura.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MODERATOR/KORDINATOR SOAL/PENDIRI GRUP :
🖍️ Khalilurrahman_Kalimantan Selatan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ SECARA UMUM = MUJAWWIB / MUSHAHHIH & SEBAGAI NYA (SESUAI KEMAMPUAN NYA) :
🖍️ Tidak Di Tentukan, Siapa Saja Di Perkenankan, (Kepada Semua Anggota Grup), Sesuai Dengan Kemampuan nya, Untuk Menambahkan Jawaban, Mempertegas, Meluruskan, Mengoreksikan, Maupun Membantu Merumuskan, Mudah-mudahan Menjadi Amal Jariyah Kebaikan Di Alam Yang Kekal Kelak, Yang Di Ridhai Allah dan Rasulullah ﷺ, Aamiin Ya Allah Ya Mujibas-Sa’iliin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم


والله أعلم بالصواب

Rabu, 25 November 2020

HUKUM SAMAK ~ BULU HEWAN YANG MASIH TERSISA

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 185
👳🏻‍♂️ Nama : Ari Azhari
Alamat : Bireun - Aceh

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Didalam kitab Syarah al-Mahalli. Pada redaksi Hasyiah al-Qalyubi Halaman 83, cetakan haramain. Ada dua pendapat (pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan imam Ramli) berkaitan dengan bulu yang masih tersisa pada kulit bangkai yang di samak (Dibag) -Pertama : Bulu tersebut najis, tetapi dima'fu apabila sedikit. -Kedua menurut ibnu Hajar Al-Haitami bahwa bulu tersebut dianggap suci, mengikuti kesucian kulit yang disamak.

قَوْلُهُ: (وَقَالَ الْبَغَوِيّ) تَقَدَّمَ مَا يُعْلَمُ مِنْهُ أَنَّهُ الْمُعْتَمَدُ.
قَوْلُهُ: (وَإِلَّا جِلْدٌ) لَا غَيْرُهُ مِنْ الْأَجْزَاءِ كَلَحْمٍ وَشَعْرٍ. نَعَمْ يُعْفَى عَنْ قَلِيلِ شَعْرٍ اتَّصَلَ بِالْجِلْدِ.
وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ: إنَّهُ يَطْهُرُ تَبَعًا.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Dari dua pendapat sebagaimana dalam deskripsi diatas, manakah pendapat yang lebih unggul ? posisi pendapatnya, Shahih atau Ashah ⁦⁉️⁩

🍏 JAWABAN :

Tentunya dari dua pendapat ada yang lebih unggul, dan untuk mengunggulkan tentunya bagi orang yang ahli men-Tarjih. Tetapi bagi yang tidak memiliki derajat itu, maka kedua pendapat dapat di amalkan. Kalau melihat ibarat yang dipilih Imam As-Subki dan segolongan Ashhabus Syafi'i, maka yang di unggulkan adalah pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami. Karena beliau berpendapat : "sucinya bulu tersebut walaupun banyak".

💧 R E F E R E N S I :

[إعانة الطالبين، ج ١ ص ١٩، مكتبة إمارة الله]📗
فهل كتبهم معتمدة أو لا، وهل يجوز الأخذ بقول كل من المذكورين إذا اختلفوا أو لا؟ وإذا اختلفت كتب ابن حجر فما الذي يقدم منها؟ وهل يجوز العلم بالقول الضعيف والإفتاء به، والعمل بالقول المرجوح، أو خلاف الأصح، أو خلاف الأوجه، أو خلاف المتجه، أو لا؟ الجواب - كما يؤخذ من أجوبة العلامة الشيخ سعيد بن محمد سنبل المكي، والعمدة عليه -: كل هذه الكتب معتمدة ومعول عليها، لكن مع مراعاة تقديم بعضها على بعض، والأخذ في العمل للنفس يجوز بالكل. وأما الإفتاء فيقدم منها عند الاختلاف التحفة والنهاية، فإن اختلفا فيخير المفتي بينهما إن لم يكن أهلا للترجيح، فإن كان أهلا له ففتى بالراجح.
ثم بعد ذلك شيخ الإسلام في شرحه الصغير على البهجة، ثم شرح المنهج له، لكن فيه مسائل ضعيفة. اه.

[I'anatuth Thalibin, Juz 1, hal 19]
“Apakah kitab-kitab mereka mu'tamad atau tidak, dan apakah boleh mengambil setiap yang disebut jika berselisih atau tidak? Jika berselisih kitab-kitab ibn hajar, maka yang mana yang didahulukan? dan apakah boleh mengetahui pendapat yang dhaif dan berfatwa dengannya, beramal dengan pendapat yang marjuh, atau khilaful ashah atau khilaful awjah, atau khilaful muttajih, atau tidak boleh ? jawabannya : sebagaimana diambil dari jawaban-jawaban al-allamah as-syeikh Sa'id bin Muhammad sunbuli al-makky, dan berpegang padanya : setiap kitab-kitab ini mu'tamad dan dapat dipercaya, tapi dengan menjaga kehormatan mengedepankan sebagiannya dari sebagian yang lain, dan mengambilnya dalam beramal untuk diri sendiri boleh pada setiap kitab, adapun berfatwa, kemudian mendahulukannya ketika terjadi ikhtilaf, antara tuhfah dan nihayah, bila kedua-keduanya berselisih, maka boleh bagi mufti untuk memilih salah satunya, meskipun tidak ada menerima tarjih. Maka jika menerima tarjih, maka berfatwa dengannya. Kemudian setelah hal tersebut, syeikh islam dalam syarah kecilnya atas kitab al-bahjah, kemudia syarah alminhaj, meskipun didalamnya ada beberapa mas'alah-mas'alah yang dhaif”.


[حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ١ ص ١٠٠]📗
أَمَّا الْكَثِيرُ فَلَا يُعْفَى عَنْهُ أَصْلًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَاخْتَارَ السُّبْكِيُّ تَبَعًا لِلنَّصِّ وَجَمْعٍ مِنْ الْأَصْحَابِ طَهَارَةَ الشَّعْرِ وَإِنْ كَثُرَ. وَقَالَ: هَذَا لَا شَكَّ فِيهِ عِنْدِي وَهَذَا الَّذِي أَعْتَقِدُهُ وَأُفْتِي بِهِ. اهـ. سم. وَبِهِ قَالَ الْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ اهـ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Bulu binatang seperti apa yang dianggap suci yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar ? Apakah bulu binatang yang sudah mati atau bulu binatang yang masih hidup yang dianggap suci ⁉️

🍏 JAWABAN :

Bulu binatang yang di anggap suci yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami, didalam ibarat yang ada dalam deskripsi, adalah bulu binatang sedikit, yang masih menempel pada kulit binatang yang sudah di sama'.

💧 R E F E R E N S I :

[حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ١ ص ١٠٠]📗
قَوْلُهُ: (وَخَرَجَ بِالْجِلْدِ الشَّعْرُ) عِبَارَةُ شَرْحِ م ر. وَخَرَجَ بِالْجِلْدِ الشَّعْرُ فَلَا يَطْهُرُ بِهِ وَإِنْ أُلْقِيَ فِي الْمَدْبَغَةِ وَعَمَّهُ الدَّابِغُ لِأَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ فِيهِ، لَكِنْ يُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ وَإِنْ قَالَ الشَّيْخُ إنَّهُ يَطْهُرُ تَبَعًا وَإِنْ لَمْ يَتَأَثَّرْ بِالدَّبْغِ.
قَوْلُهُ: (وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ) فَهُوَ نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ خِلَافًا لِمَنْ قَالَ طَاهِرٌ تَبَعًا لِلْجِلْدِ كَدَنِّ الْخَمْرِ لِلْفَرْقِ، فَإِنَّ الْقَوْلَ بِطَهَارَةِ دَنِّ الْخَمْرَةِ لِلضَّرُورَةِ إذْ لَوْلَا الْحُكْمُ بِطَهَارَتِهِ لَمْ يُوجَدْ طَهَارَةُ خَلٍّ أَصْلًا عَنْ خَمْرٍ، وَلَا ضَرُورَةَ إلَى طَهَارَةِ الشَّعْرِ لِإِمْكَانِ إزَالَتِهِ، وَلِأَنَّهُ يُنْتَفَعُ بِالْجِلْدِ لَا مِنْ جِهَةِ الشَّعْرِ، أَمَّا الْكَثِيرُ فَلَا يُعْفَى عَنْهُ أَصْلًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَاخْتَارَ السُّبْكِيُّ تَبَعًا لِلنَّصِّ وَجَمْعٍ مِنْ الْأَصْحَابِ طَهَارَةَ الشَّعْرِ وَإِنْ كَثُرَ. وَقَالَ: هَذَا لَا شَكَّ فِيهِ عِنْدِي وَهَذَا الَّذِي أَعْتَقِدُهُ وَأُفْتِي بِهِ. اهـ. سم. وَبِهِ قَالَ الْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ اهـ


[تحفة المحتاج وحاشية الشرواني، ج ١ ص ٣٠٨]📗
وَلَا يَطْهُرُ شَعْرُهُ إذْ لَا يَتَأَثَّرُ بِالدِّبَاغِ لَكِنْ يُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ عُرْفًا فَيَطْهُرُ حَقِيقَةً تَبَعًا كَدَنِّ الْخَمْرِ وَاخْتَارَ كَثِيرُونَ طَهَارَةَ جَمِيعِهِ ___وَعِبَارَةُ الرَّشِيدِيِّ قَوْلُهُ م ر لِخُرُوجِ حَيَوَانِهِ إلَخْ خَرَجَ بِهِ جَلْدُ الْمُذَكَّى وَإِنْ كَانَ مَدْبُوغًا فَإِنَّهُ يَجُوزُ أَكْلُهُ اهـ. (قَوْلُهُ فَيَطْهُرُ إلَخْ) وِفَاقًا لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ، وَقَالَ النِّهَايَةُ وَالْمُغْنِي أَنَّهُ نَجِسٌ يُعْفَى عَنْهُ اهـ. (قَوْلُهُ تَبَعًا إلَخْ) أَيْ لِلْمَشَقَّةِ زِيَادِيٌّ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Sucikah karpet yang terbuat dari bulu binatang yang tidak bisa dimakan ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tidak suci karpet yang terbuat dari bulu binatang, yang tidak bisa dimakan. Karena bulu yang terpisah darinya seperti hukum bangkainya.

💧 R E F E R E N S I :

[فتح القريب وحاشية البيجوري]📗
{ج ٢ ص ٢٩٠، مكتبة إمارة الله}
(وما قطع من) حيوان (حي فهو ميت إلا الشعر) اى المقطوع من حيوان مأكول وفى بعض النسخ الا الشعور المنتفع بها فى المفارش والملابس وغيرها ___ (قوله وما قطع من حيوان حي) اشار الشارح الى ان قول المصنف حي صفة لموصوف محذوف وقوله فهو ميت لخبر ما قطع من حي فهو ميت رواه الحاكم وصححه والمراد انه كميتته طهارة ونجاسة فما قطع من السمك الجراد والادمى والجن طاهر وما قطع من نحو الحمار والشاة نجس، (قوله الا الشعر) ومثله الصوف والوبر والريش وان كان ملقى على المزابل ونحوها نظرا للاصل والغالب انه من مذكى قال تعالى ومن اوصوافها واوبارها واشعارها اثاثا ومتاعا الى حين، (قوله المقطوع من حيوان مأكول) اى كالمعز مالم يكن على قطعة لحم تقصد او على عضو ابين من حيوان مأكول والا فهو نجس تبعا لذلك وخرج بالمأكول غيره كالحمار والهرة فشعره نجس لكن يعفى عن قليله بل وعن كثيره فى حق من ابتلى به كالقصاصين

[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٢٦ ص ١١١]📗
أَمَّا شَعْرُ الْحَيَوَانِ غَيْرِ مَأْكُول اللَّحْمِ الْمُتَّصِل بِهِ فَاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى طَهَارَتِهِ، وَاسْتَثْنَى الْحَنَفِيَّةُ الْخِنْزِيرَ وَاسْتَثْنَى الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ الْخِنْزِيرَ وَالْكَلْبَ لأَِنَّ عَيْنَهُمَا نَجِسَةٌ. أَمَّا الْمَالِكِيَّةُ فَذَهَبُوا إِلَى طَهَارَةِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ لأَِنَّ الأَْصْل عِنْدَهُمْ أَنَّ كُل حَيٍّ طَاهِرٌ.
أَمَّا شَعْرُ الْمُنْفَصِل عَنْهُ، فَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ هُوَ طَاهِرٌ بِنَاءً عَلَى مَا تَقَدَّمَ مِنْ أَنَّ مَا أُبِينَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ

“Adapun Rambut/Bulu hewan yang tidak bisa di makan dagingnya hukumnya suci, menurut kesepakatan para Fuqaha, Dan Hanafiyyah mengecualikan Kecuali Bulunya Anjing, Adapun Syafi'iyyah dan Hanabilah mengecualikan Anjing dan babi, karena sesungguhnya Ain/benda keduanya hukumnya Najis. Adapun Malikiyyah keluar/berlainan dari semua pendapat pada sucinya (mereka menganggap suci) anjing dan babi, karena sesungguhnya Asal hukum semua hewan yang hidup itu adalah suci. Adapun Bulu yang terpisah menurut Hanafiyyah Malikiyyah, hukumnya adalah Suci”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

4.) Bagaimana dengan bulu hewan yang bisa dimakan, apakah sama hukumnya dengan bulu binatang yang gak bisa dimakan, dalam masalah pembuatan karpet  ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tidak sama, hukum bulu yang terpisah dari hewan yang bisa dimakan, baik terpisah dengan sendiri atau dicabut saat hidupnya, atau diambil saat matinya hewan yang disembelih, maka itu adalah suci. Sedangkan bulu dari bangkai hewan yang dapat di makan, adalah najis.

💧 R E F E R E N S I :

[الإقناع، ج ١ ص ٢٩]📗
(القَوْل فِي مَا قطع من حَيّ) والجزء الْمُنْفَصِل من الْحَيّ كميتة ذَلِك الْحَيّ إِن كَانَ طَاهِرا فطاهر وَإِن كَانَ نجسا فنجس لخَبر مَا قطع من حَيّ فَهُوَ كميتته رَوَاهُ الْحَاكِم وَصَححهُ على شَرط الشَّيْخَيْنِ فالمنفصل من الْآدَمِيّ أَو السّمك أَو الْجَرَاد طَاهِر وَمن غَيرهَا نجس، (إِلَّا شعر) أَو صوف أَو ريش أَو وبر الْمَأْكُول فطاهر بِالْإِجْمَاع وَلَو نتف مِنْهَا أَو انتتفت، قَالَ الله تَعَالَى {وَمن أصوافها وأوبارها وَأَشْعَارهَا أثاثا ومتاعا إِلَى حِين}

“(Perkata'an sesuatu yang terputus dari yang hidup), dan Bagian yang terpisah dari hewan yang masih hidup, maka di hukumi seperti bangkai hewan tersebut. Jika bangkainya suci, maka dihukumi suci. Sementara jika najis, maka dihukumi najis. Hal ini berdasarkan hadits, ‘Sesuatu yang dipotong dari yang hidup, maka ia dihukumi sebagaimana bangkainya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dan ia menshahihkannya, berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim. Maka bagian yang terpisah dari manusia, ikan atau belalang adalah suci, dan dari lainnya adalah najis. Kecuali bulunya, baik bulu domba, bulu unta atau bulu hewan yang bisa dimakan, maka dihukumi suci berdasarkan kesepakatan para ulama, meskipun di cabut atau tercabut sendiri. Allah berfirman, ‘Dan dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, sebagai alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)”.


[فتح القريب وحاشية البيجوري]📗
{ج ٢ ص ٢٩٠، مكتبة إمارة الله}
(وما قطع من) حيوان (حي فهو ميت إلا الشعر) اى المقطوع من حيوان مأكول وفى بعض النسخ الا الشعور المنتفع بها فى المفارش والملابس وغيرها ___(قوله المقطوع من حيوان مأكول) اى كالمعز مالم يكن على قطعة لحم تقصد او على عضو ابين من حيوان مأكول والا فهو نجس تبعا لذلك
وخرج بالمأكول غيره كالحمار والهرة فشعره نجس لكن يعفى عن قليله بل وعن كثيره فى حق من ابتلى به كالقصاصين

“Dan Sesuatu yang terputus dari hewan yang hidup, maka dihukumi sebagai bangkai, kecuali rambut/bulu yang terputus dari hewan yang halal dimakan. Dalam sebagian kitab lainnya tertulis ‘kecuali rambut yang diolah/di manfa'atkan menjadi permadani, pakaian, dan lainnya.’ ---Rambut yang terputus dari hewan yang halal dimakan ini seperti bulu pada kambing. Kesucian rambut ini selama tidak berada pada potongan daging yang sengaja dipotong, atau berada pada anggota tubuh yang terpotong dari hewan yang halal dimakan. Jika rambut berada dalam dua keadaan tersebut maka dihukumi najis, sebab mengikut pada status anggota tubuh yang terpotong itu. (Dikecualikan dengan redaksi ‘hewan yang halal dimakan’, yaitu rambut atau bulu hewan yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan kucing. Maka bulu dari hewan tersebut dihukumi najis. Namun najis ini dihukumi ma’fu, ketika dalam jumlah sedikit, bahkan dalam jumlah banyak bagi orang yang sering dibuat kesulitan dengan bulu tersebut, seperti bagi para tukang pemotong bulu”.


[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٥ ص ٢٥٥]📗
وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ - فِي الصَّحِيحِ - إِلَى أَنَّ شَعْرَ مَيْتَةِ الْحَيَوَانِ الطَّاهِرِ حَال حَيَاتِهِ غَيْرَ الآْدَمِيِّ يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ، لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى: {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمِ الْمَيْتَةُ} وَهُوَ عَامٌّ لِلشَّعْرِ وَغَيْرِهِ. وَالصَّحِيحُ عِنْدَهُمْ أَنَّ الشَّعْرَ لاَ يَطْهُرُ بِدِبَاغِ الْجِلْدِ الَّذِي عَلَيْهِ الشَّعْرُ 

“Berpendapat Kalangan Syafi'iyyah, dalam pendapat shahih - hingga bahwa sungguh bulu bangkai hewan yang suci pada ketika kehidupannya, selain anak adam/manusia itu bernajis, dengan sebab ia telah mati, karena Allah berfirman { diharamkan atasmu bangkai }, dan ayat tersebut adalah umum, baik bagi bulu maupun lainnya. Dan menurut pendapat shahih disisi mereka para ulama, bahwa bulu bangkai tidaklah suci, dengan sebab menyamak kulit yang pada kulit tersebut ada bulunya”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

5.) Apakah tanduk, gading dan tulang hewan yang gak bisa bisa dimakan, bisa disucikan ? Kalau bisa bagaimana cara menyucikannya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Tidak bisa disucikan, Karena yang bisa disucikan dengan disama' adalah hanya kulit bangkai, bukan seperti tanduk, gading dan tulang.

💧 R E F E R E N S I :

[الحاوي الكبير، ج ١٥ ص ١٦٢]📗
قال الشافعي: " وَلَا يَحِلُّ مِنَ الْمَيْتَةِ إِلَّا إِهَابُهَا بِالدِّبَاغِ وَيُبَاعُ ".
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا مَاتَ الْحَيَوَانُ صَارَ جَمِيعُهُ بِالْمَوْتِ نَجِسًا

“Imam Syafii berkata : tidak halal (Haram) apapun bagian bangkai, kecuali kulit ketika disamak dan hewan tersebut boleh dijual. Berkata al-Mawardy : dan ini sangat benar, apabila Hewan mati, maka keseluruhan nya adalah Najjis”.


[المجموع شرح المهذب، ج ٩ ص ٢٣٠]📗
(فَرْعٌ) مَذْهَبُنَا الْمَشْهُورُ أَنَّ عَظْمَ الْفِيلِ نَجِسٌ سَوَاءٌ أُخِذَ مِنْهُ بَعْدَ ذكاته أو بعد مَوْتِهِ وَلَنَا وَجْهٌ شَاذٌّ أَنَّ عِظَامَ الْمَيْتَةِ طَاهِرَةٌ وَسَبَقَ بَيَانُهُ فِي بَابِ الْآنِيَةِ وَسَبَقَ فِي بَابِ الْأَطْعِمَةِ وَجْهٌ شَاذٌّ أَنَّ الْفِيلَ يُؤْكَلُ لَحْمُهُ فَعَلَى هَذَا إذَا ذُكِّيَ كَانَ عَظْمُهُ طَاهِرًا وَالْمَذْهَبُ نَجَاسَتُهُ مُطْلَقًا وَلَا يَجُوزُ بيعه ولا يحل ثمنه وبهذا قال طاووس وَعَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَرَخَّصَ فيه عروة بن الزبير وابن سريج قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ مَذْهَبُ مَنْ حَرَّمَ هُوَ الْأَصَحُّ

“(Cabang) Mayoritas Ulama’ kalangan Madzhab Syafi’i menyatakan, bahwa sesungguhnya tulang gajah adalah najis, baik diambil setelah melalui proses penyembelihan atau tidak. Imam Nawawi juga menyebutkan, bahwa terdapat qaul yang menyatakan bahwa tulang bangkai adalah suci, dan juga terdapat qaul yang menyatakan bahwa gajah adalah hewan yang halal dikonsumsi. Jika gajah mati melalui proses penyembelihan secara syar’i, maka tulangnya adalah suci. Namun pendapat ini merupakan pendapat yang menyimpang (Syadz). Pendapat yang kuat mengatakan hukumnya najis”.


[الأم للشافعي، ج ١ ص ٩]📗
( ﻗﺎﻝ ‏) ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺸْﺮَﺏُ ﻓﻲ ﻋَﻈْﻢِ ﻣَﻴْﺘَﺔٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﻈْﻢِ ﺫَﻛِﻲٍّ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻛَﻞُ ﻟَﺤْﻤُﻪُ ﻣِﺜْﻞِ ﻋَﻈْﻢِ ﺍﻟْﻔِﻴﻞِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺳَﺪِ ﻭﻣﺎ ﺃَﺷْﺒَﻬَﻪُ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﺪِّﺑَﺎﻍَ ﻭَﺍﻟْﻐُﺴْﻞَ ﻟَﺎ ﻳُﻄَﻬِّﺮَﺍﻥِ ﺍﻟْﻌَﻈْﻢَ ﺭَﻭَﻯ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑﻦ ﺩِﻳﻨَﺎﺭٍ ﺃَﻧَّﻪُ ﺳﻤﻊ ﺑﻦ ﻋُﻤَﺮَ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﺪَﻫَّﻦَ ﻓﻲ ﻣُﺪْﻫُﻦٍ ﻣﻦ ﻋِﻈَﺎﻡِ ﺍﻟْﻔِﻴﻞِ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻣَﻴْﺘَﺔٌ

“Tidak diperkenankan berwudhu’ dan minum dengan menggunakan tulang bangkai, dan tulang hewan yang disembelih, yaitu hewan yang haram dikonsumsi dagingnya seperti tulang gajah, harimau dan sejenisnya. Sebab tulang hewan tidak dapat disucikan dengan dibasuh atau dengan proses penyamakan, meriwayatkan Abdullah bin Dinar, bahwasanya ia mendengar dari ibnu Umar, di makruhkan membasahi/meminyaki/menyamak tulang gajah, Karena sesungguhnya ia adalah bangkai”.


[المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٢٤٢-٢٤٣]📗
(فرع) العاج المتخذ من عظم الفيل نَجِسٌ عِنْدَنَا كَنَجَاسَةِ غَيْرِهِ مِنْ الْعِظَامِ، لَا يجوز استعماله في شئ رَطْبٍ فَإِنْ اُسْتُعْمِلَ فِيهِ نَجَّسَهُ: قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُكْرَهُ اسْتِعْمَالُهُ فِي الْأَشْيَاءِ الْيَابِسَةِ لِمُبَاشَرَةِ النَّجَاسَةِ وَلَا يَحْرُمُ لِأَنَّهُ لَا يَتَنَجَّسُ بِهِ وَلَوْ اتَّخَذَ مُشْطًا مِنْ عَظْمِ الْفِيلِ فَاسْتَعْمَلَهُ فِي رَأْسِهِ أَوْ لِحْيَتِهِ فَإِنْ كَانَتْ رُطُوبَةً مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ تَنَجَّسَ شَعْرُهُ وَإِلَّا فَلَا: وَلَكِنَّهُ يُكْرَهُ وَلَا يَحْرُمُ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ لِلْأَصْحَابِ وَرَأَيْت فِي نُسْخَةٍ مِنْ تَعْلِيقِ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ أَنَّهُ قَالَ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرُمَ وَهَذَا غَرِيبٌ ضَعِيفٌ

“(Cabang-sub bahasan) : Al-‘Aaj (sesuatu yang diambil atau terbuat dari tulang gajah) itu najis menurut kita, sebagaimana najisnya tulang-tulang yang lain. Tidak diperbolehkan menggunakannya dalam perkara yang basah. Apabila digunakan pada perkara yang basah maka akan menajiskannya. Para Ashhab kita berkata : Makruh menggunakannya pada perkara yang kering, karena bersentuhan dengan perkara yang najis, dan hal itu tidaklah Haram, karena benda yang kering tidak menajiskan. Dan ketika seseorang membuat sisir dari tulang gajah, dan digunakan untuk (menyisir rambut) kepala atau jenggotnya, maka apabila salah satunya basah, maka rambut / bulu itu menjadi najis, dan jika tidak demikian maka tidak menajiskan. Namun demikian itu (ketika dua-duanya kering) Makruh, dan tidak Haram. Pernyataan ini yang Masyhur dikalangan Ashhab As Syafi’i. Dan saya melihat dalam satu naskah/Catatan, dari catatan kaki Syaikh Abi Hamid (Al-Isfirayini) menyatakan, bahwa sebaiknya hal tersebut diharamkan. Hal ini adalah pendapat yang asing dan lemah”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

6.) Bagaimanakah hukumnya mengoleksi tulang belulang, di dalam rumah, baik dari tulang binatang yang bisa dimakan ataupun yang tidak ⁉️

🍏 JAWABAN :

Makruh mengoleksi tulang belulang di dalam rumah.

💧 R E F E R E N S I :

[المجموع شرح المهذب، ج ٩ ص ٢٣٤]📗
(الثَّانِيَةُ) يُكْرَهُ اقْتِنَاءُ الْعَذِرَةِ وَالْمَيْتَةِ وَقَالَ المصنف ومن بايعه لَا يَجُوزُ وَظَاهِرُهُ التَّحْرِيمُ وَلَيْسَ هُوَ عَلَى ظَاهِرِهِ بَلْ هُوَ مَحْمُولٌ عَلَى كَرَاهَةِ التَّنْزِيهِ

“(Kedua) di Makruhkan mengawetkan bangkai. Mushannif berkata (Imam Syairazi); ‘Siapa yang menjualnya, maka tidak boleh.’ Bentuk zhahir teks ini mengindikasikan keharaman, namun teks ini bukan di fahami secara zhahirnya, akan tetapi dimaksudkan sebagai makruh tanzih (makruh yang mendekati haram)”.


[الإقناع وحاشية البجيرمي، ج ١ ص ١١٨]📗
وَبِالطَّاهِرِ النَّجِسُ كَالْمُتَّخَذِ مِنْ مَيْتَةٍ فَيَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهُ فِيمَا يَنْجَسُ بِهِ كَمَاءٍ قَلِيلٍ وَمَائِعٍ لَا فِيمَا لَا يَنْجَسُ بِهِ كَمَاءٍ كَثِيرٍ أَوْ غَيْرِهِ مَعَ الْجَفَافِ ___قَوْلُهُ: (مَعَ الْجَفَافِ) وَيَكُونُ الِاسْتِعْمَالُ مَكْرُوهًا.

“(Keluar dari wadah) yang suci adalah wadah yang najis, seperti wadah yang terbuat dari bangkai, maka haram menggunakan nya, untuk menyimpan sesuatu yang bisa najis, seperti air sedikit dan barang cair. Adapun sesuatu yang tidak bisa najis, seperti air banyak dan lainnya, serta bangkainya kering, maka menggunakan wadah bangkai adalah makruh”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

✍️ KETERANGAN TAMBAHAN :

[فتح القريب المجيب، ص ٢٨]📗
{فصل} في ذكر شيء من الأعيان المتنجسة وما يطهر منها بالدباغ وما لا يطهر.
(وجلود الميتة) كلها (تطهُر بالدباغ) سواء في ذلك ميتة مأكول اللحم وغيره. وكيفية الدبغ أن ينزع فضول الجلد مما يُعَفِّنه من دم ونحوه، بشيء حِرِّيف كعفص، ولو كان الحريف نجسًا كذرق حمام كفى في الدبغ (إلا جلدَ الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما) مع حيوان طاهر، فلا يطهر بالدباغ.
(وعظمُ الميتةِ وشعرُها نجسٌ) وكذا الميتة أيضا نجسة. وأريد بها الزائلة الحياة بغير ذكاة شرعية؛ فلا يستثنى حينئذ جنين المُذَكَّاة إذا خرج من بطن أمه ميتًا، لأن ذكاته في ذكاة أمه، وكذا غيره من المستثنيات المذكورة في المبسوطات. ثم استثنى من شعر الميتة قوله: (إلا الآدمي) أي فإن شعره طاهر كمَيتَتِه.

“{Fashal} menjelaskan tentang barang-barang najis, yang bisa suci dengan cara di-samak dan yang tidak bisa suci (dengan cara di-samak).

Kulit bangkai semuanya bisa suci dengan cara di-samak. Dalam hal itu baik bangkai binatang yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan.

Tata cara menyamak adalah menghilangkan fudhulul (hal-hal yang melekat) pada kulit, yang bisa membuat busuk yaitu berupa darah dan sesamanya, dengan menggunakan barang yang asam / pahit seperti tanaman afshin [Sejenis tanaman yang berbau wangi dan rasanya pahit]. Jika barang pahit yang digunakan itu najis, seperti kotoran burung dara, maka sudah dianggap cukup dalam penyamakan.

Benda yang Tidak Bisa Suci Walau Disamak, Kecuali kulit bangkai anjing, babi, keturunan keduanya, atau keturunan salah satu dari keduanya, hasil perkawinan dengan binatang yang suci. Maka kulit binatang-binatang ini tidak bisa suci dengan cara di-samak.

Tulang dan bulu bangkai hukumnya adalah najis. Begitu juga bangkainya itu sendiri hukumnya juga najis. Yang kuinginkan adalah binatang yang mati, sebab selain sembelihan secara syar’i.

Maka ini tidaklah mengecualikan janin binatang yang disembelih (secara syar’i) yang keluar dari perut induknya dalam keadaan mati, karena sembelihannya mengikuti sembelihan induknya. Begitu juga bentuk-bentuk pengecualian lain, yang dijelaskan di dalam kitab-kitab yang luas keterangannya.

Kemudian mushannif mengecuali-kan, dari bulu bangkai yaitu ungkapan beliau yang berbunyi, "kecuali anak Adam". Maksudnya, maka sesungguhnya rambut dan bulu anak Adam/manusia, hukumnya suci sebagaimana mayatnya”.


[كفاية الاخيار، ص ٥٢١]📗
قَالَ (وَمَا قطع من حَيّ فَهُوَ ميت إِلَّا الشُّعُور المنتفع بهَا فِي المفارش والملابس وَغَيرهمَا) الأَصْل فِي ذَلِك حَدِيث أبي سعيد الْخُدْرِيّ رَضِي الله عَنهُ أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم سُئِلَ عَن جباب أسنمة الْإِبِل وأليات الْغنم فَقَالَ مَا قطع من حَيّ فَهُوَ ميت وَفِي رِوَايَة مَا قطع من بَهِيمَة وَهِي حَيَّة فَهُوَ ميت ويستثى من عُمُوم ذَلِك شعر الْمَأْكُول وريشه وصوفه ووبره إِذا انْفَصل فِي حَيَاته بِقطع أَو قصّ فَإِنَّهُ طَاهِر وَكَذَا مَا تناثر أَو نتف فِي الْأَصَح

"Sesuatu yang dipotong dari hewan yang masih hidup maka hukumnya mati (najis) kecuali rambut yang bisa dimanfaatkan untuk tikar, pakaian dan lain sebagainya berdasarkan hadits Nabi riwayat Abi Sa'id al-khudri, saat Nabi ditanya tentang Jubbah yang terbuat dari punuk unta dan pantat kambing, Nabi menjawab : "Sesuatu yang dipotong dari barang hidup hukumnya mayat", di riwayat lain "Sesuatu yang dipotong dari binatang yang hidup hukumnya mayat", Dikecualikan dari keumuman hadits ini rambut dari binatang yang halal (dimakan dagingnya) adalah bulu-bulunya, bila diambil saat hewan masih hidup, baik dengan memotong atau mencukur maka menurut kesepakatan ulama' bulu / rambut tersebut dihukumi suci, sedangkan jika bulu tersebut dicabut, maka menurut pendapat yang shahih juga dianggap suci”.


[نهاية الزين، ص ٤٢]📗
وَأما نفس قشرة البرغوث أَو القملة أَو البقة أَو نَحْوهَا فنجسة غير مَعْفُو عَنْهَا فَلَو صلى بِشَيْء من ذَلِك وَإِن لم يعلم بِهِ فَصلَاته بَاطِلَة وَبَعْضهمْ قَالَ بِالْعَفو إِن لم يعلم بِهِ وَكَانَ مِمَّن ابتلى بذلك   

“Dan adapun Hukum sayap nyamuk, kutu kupu-kupu atau lainnya yang terputus adalah tidak di ma'fu. Maka jika ada orang yang shalat dengan membawa sedikit dari sayap di atas, maka shalatnya batal. Namun sebagian ulama' mengatakan di ma'fu, jika ; 1). Tidak diketahui dan, 2). Sulit untuk menghindarinya”.


📗[Attaqriratus Sadidah] :

“Pengertian Menyamak adalah salah satu cara mensucikan benda dari najis, yaitu benda najis yang berupa kulit bangkai, baik kulit bangkai hewan yang halal dagingnya atau tidak, kecuali kulit anjing dan babi serta peranakannya. Cara mensucikan dengan menyamak termasuk mensucikan dengan cara perubahan bentuk (istihâlah), mirip sucinya arak ketika telah berubah bentuk, menjadi cuka dan sucinya bangkai setelah menjadi belatung”.


[المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٢١٤]📗
(كُلُّ حَيَوَانٍ نَجِسَ بِالْمَوْتِ طَهُرَ جِلْدُهُ بِالدِّبَاغِ وَهُوَ مَا عَدَا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [أَيُّمَا إهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ] وَلِأَنَّ الدِّبَاغَ يَحْفَظُ الصِّحَّةُ عَلَى الْجِلْدِ وَيَصْلُحُهُ لِلِانْتِفَاعِ بِهِ كَالْحَيَاةِ ثُمَّ الْحَيَاةُ تَدْفَعُ النَّجَاسَةَ عَنْ الْجِلْدِ فَكَذَلِكَ الدِّبَاغُ: وَأَمَّا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا فَلَا يَطْهُرُ جِلْدُهُمَا بِالدِّبَاغِ لِأَنَّ الدِّبَاغَ كَالْحَيَاةِ ثُمَّ الْحَيَاةُ لَا تَدْفَعُ النَّجَاسَةَ عَنْ الْكَلْبِ والخنزير فكذلك الدباغ) ---إلى أن قال--- قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَمَّا رِوَايَةُ مُسْلِمٍ وَأَبِي دَاوُد وَآخَرِينَ فَفِيهَا [إذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ] ---إلى أن قال--- أَمَّا حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَكُلُّ الْجُلُودِ النَّجِسَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ إلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ وَالْمُتَوَلَّدَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عِنْدَنَا.

“Hukum menyamak adalah mubâh (diperbolehkan), karena  menyamak merupakan media untuk menghilangkan kotoran dan kuman, yang terdapat dalam kulit hewan, supaya menjadi suci, sehingga kulit tersebut bisa dimanfaatkan. Diantara dalil yang menjadi pedoman madzhab Syafi'i dalam hal ini ialah dua Hadits shahih : -[Kulit hewan apapun yang telah disamak, maka benar-benat telah suci], -[Ketika kulit bangkai disamak, maka akan menjadi suci]”.
Kedua Hadits ini, disamping menunjukkan hukum mubâh, menyamak juga menjelaskan, bahwa semua kulit bangkai dapat disamak dan dapat disucikan. Disamping itu, kulit hewan selain anjing dan babi serta peranakannya, ketika masih hidup dihukumi suci, dan kulit tersebut berubah menjadi najis, hanya karena hewan tersebut telah menjadi bangkai, sehingga kulit tersebut semestinya dapat disucikan, tak ubahnya seperti kulit hewan sembelihan yang terkena najis dapat disucikan kembali.

Binatang yang dihukumi najis ketika hidupnya, seperti anjing dan babi serta peranakannya, dikecualikan dari keumuman redaksi Hadits di atas, sehingga tidak dapat disucikan dengan disamak :

[المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٢١٧]📗
قَوْلُ الله تعالى (حرمت عليكم الميتة) وَهُوَ عَامٌّ فِي الْجِلْدِ وَغَيْرِهِ وَبِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُكَيْمٍ قَالَ أَتَانَا كِتَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ مَوْتِهِ بشهر [أن لا تَنْتَفِعُوا مِنْ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ]

“Dari ‘Abdullah bin ‘Ukaim al-Juhany, Beliau Berkata ; Telah sampai kepada kita surat dari Nabi, (di waktu kami masih berada di daerah Juhainah dan saya masih muda), yang isinya ialah : [Janganlah kalian semua memanfaatkan kulit dan otot bangkai”.


[المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٢٢٢]📗
(الشَّرْحُ) هَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ الْإِمَامَانِ الحافظان أبو الحسن علي بن عمر الدارقطني وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنُ عَلِيٍّ الْبَيْهَقِيُّ فِي سُنَنِهِمَا مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَيْتَةٍ فَقَالَ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِإِهَابِهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّهَا ميتة قال انما حرام كلها أَوَ لَيْسَ فِي الْمَاءِ وَالْقَرَظِ مَا يُطَهِّرُهَا وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيِّ فِي سُنَنِهِمَا بِمَعْنَاهُ عَنْ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالٌ يَجُرُّونَ. شَاةً لَهُمْ مِثْلَ الْحِمَارِ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَخَذْتُمْ إهَابَهَا قَالُوا إنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطَهِّرُهَا الْمَاءَ وَالْقَرَظَ هَكَذَا جَاءَتْ روايات الحديث يطهرها بِالتَّأْنِيثِ وَوَقَعَ فِي الْمُهَذَّبِ يُطَهِّرُهُ وَهُوَ تَحْرِيفٌ وَإِنْ كَانَ مَعْنَاهُ صَحِيحًا وَالْقَرَظُ بِالظَّاءِ لَا بِالضَّادِ وَهَذَا وَإِنْ كَانَ وَاضِحًا فَلَا يَضُرُّ التَّنْبِيهُ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُوجَدُ فِي كَثِيرٍ مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ مُصَحَّفًا وَالْقَرَظُ وَرَقُ شَجَرِ السَّلَمِ بِفَتْحِ السِّينِ وَاللَّامِ وَمِنْهُ أَدِيمٌ مَقْرُوظٌ أَيْ مَدْبُوغٌ بِالْقَرَظِ قَالُوا وَالْقَرَظُ يَنْبُتُ بِنَوَاحِي تِهَامَةَ

“Proses penyamakan harus menggunakan benda-benda yang mempunyai rasa pahit dan sepat (Rasa kelat dan kesat di lidah), baik berupa benda suci atau najjis, seperti kotoran burung, daun salam dan lain sebagainya. Rasulillah ﷺ bersabda tentang bangkai kambing, milik seorang shahabat wanita, yaitu Maimunah : "Ambillah kulitnya". Para sahabat berkata ; "Sesungguhnya kambing itu telah menjadi bangkai". Beliau bersabda ; "Kulitnya dapat disucikan dengan air dan kulit kayu qarzh".
Teks Hadits di atas memberi kesimpulan, bahwa dalam proses menyamak harus dengan menggunakan benda-benda yang mempunyai rasa sepat. Penyebutan daun akasia atau daun salam dalam Hadits di atas hanyalah sebagai contoh, sehingga sesuatu yang mempunyai kesamaan dengannya, juga dapat digunakan sebagai alat menyamak.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

a.} STANDAR BAHAN YANG BISA UNTUK MENYAMAK.
Dalam literatur fiqh diterangkan bahwa cara menyamak kulit bangkai selain anjing dan babi adalah menghilangkan kotoran-kotoran yang masih terdapat pada kulit bangkai. Disamping itu, cara menghilangkannya dengan menggunakan الْحِرِّيْفُ. Sebatasmana yang dinamakan  الْحِرِّيْفُ ? : Hirrîf adalah setiap sesuatu yang mempunyai rasa pahit dan sepat baik dari benda suci atau najis, seperti kotoran burung, daun salam atau daun akasia.

[تحفة المحتاج، ج ١ ص ٣٠٩]📗
(بِحِرِّيفٍ) وَهُوَ مَا يَلْذَعُ اللِّسَانَ بِحَرَافَتِهِ كَقَرَظٍ وَشَبٍّ بِالْمُوَحَّدَةِ وَشَثٍّ بِالْمُثَلَّثَةِ وَذَرْقِ طَيْرٍ لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ يُطَهِّرُهَا أَيْ الْمَيْتَةَ الْمَاءُ وَالْقَرَظُ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

b.} MENYAMAK DENGAN TERIK MATAHARI.
Karena permintaan tas kulit macan tutul dari konsumen begitu membengkak, para perajin tas berinisiatif menyamak kulit tutul, dengan cara dikeringkan di bawah terik matahari. Dengan tujuan supaya bisa memasok tas sebanyak-banyaknya. Apakah dianggap cukup menyamak dengan praktek di atas ? : Belum cukup, karena terik matahari tidak mampu menghilangkan kotoran yang menempel pada kulit. Namun menurut Imam Abu Hanîfah mengeringkan kulit dengan matahari dianggap cukup.

[الإقناع، ج ١ ص ٢٩]📗
وَلَا يَكْفِي التَّجْمِيدُ بِالتُّرَابِ وَلَا بِالشَّمْسِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا لَا يَنْزِعُ الْفُضُولَ، وَإِنْ جَفَّ الْجِلْدُ وَطَابَتْ رَائِحَتُهُ لِأَنَّ الْفَضَلَاتِ لَمْ تَزَلْ، وَإِنَّمَا جَمَدَتْ بِدَلِيلِ أَنَّهُ لَوْ نُقِعَ فِي الْمَاءِ عَادَتْ إلَيْهِ الْعُفُونَةُ (القَوْل فِي حكم الْجلد بعد الدبغ) وَيَصِيرُ الْمَدْبُوغُ كَثَوْبٍ مُتَنَجِّسٍ لِمُلَاقَاتِهِ لِلْأَدْوِيَةِ النَّجِسَةِ

[ترشيح المستفيدين، ص ٣٩]📗
وَلَيْسَ لِلنَّارِ وَالشَّمْسِ فِي إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ تَأْثِيْرًا إِلاَّ عِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ حَتَّى أَنَّ جِلْدَ الْمَيِّتَةِ إِذَا جِفَّ فِي الشَّمْسِ طَهُرَ عِنْدَهُ بِلاَ دَبْغٍِ اهـ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

c.} PIPA ROKOK DARI GADING GAJAH.
Bagi orang yang berduit, segala sesuatu yang sulit akan menjadi mudah, apapun yang di inginkan semuanya akan bisa ia dapatkan. Bahkan, kekuatan dan pengaruh dari uang dapat menyulap gading gajah menjadi pipa roko’. Bagaimana hukum menggunakan pipa rokok yang terbuat dari gading gajah? : Hukum nya makruh, jika tulang tersebut dalam keadaan kering. Namun bila basah, maka haram. Menurut Abu Hanîfah tulang atau gading gajah hukumnya suci.

[المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٢٢٨]📗
وَسَيَأْتِي كَلَامُ الْأَصْحَابِ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى فِي عَظْمِ الْفِيلِ أَنَّهُ يُكْرَهُ اسْتِعْمَالُهُ فِي الْيَابِسِ وَلَا يَحْرُمُ: وَمِمَّنْ صَرَّحَ فِي عَظْمِ الْفِيلِ بِكَرَاهَةِ اسْتِعْمَالِهِ فِي الْيَابِسِ وَتَحْرِيمِهِ فِي الرَّطْبِ الشَّيْخُ نَصْرٌ فَدَلَّ أَنَّ مُرَادَهُ هُنَا اسْتِعْمَالُهُ فِي الرَّطْبِ: وَأَمَّا قَوْلُ الْعَبْدَرِيِّ لَا يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ قَبْلَ الدِّبَاغِ فِي الْيَابِسَاتِ عِنْدَنَا وَعِنْدَ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ فَغَلَطٌ مِنْهُ: وَصَوَابُهُ أَنْ يَقُولَ فِي الرَّطَبَاتِ

[الإقناع وحاشية البجيرمي، ج ١ ص ١٠٠]📗
(وَ) كَذَا (مَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا) مَعَ حَيَوَانٍ طَاهِرٍ لِمَا ذُكِرَ، (وَعَظْمُ) الْحَيَوَانَاتِ (الْمَيِّتَةِ وَشَعْرُهَا) وَقَرْنُهَا وَظُفْرُهَا وَظِلْفُهَا (نَجِسٌ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ} [المائدة: ٣] ___قَوْلُهُ: (وَقَرْنُهَا) وَكَذَا سِنُّهَا وَحَافِرُهَا، وَقَدْ يَشْمَلُ جَمِيعَ ذَلِكَ الْعَظْمُ، وَحِينَئِذٍ فَيَكُونُ مِنْ عَطْفِ الْجُزْءِ عَلَى كُلِّهِ، وَكَذَا لَبَنُهَا وَبَيْضُهَا إنْ لَمْ يَتَصَلَّبْ وَمِسْكُهَا إنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ لِلْوُقُوعِ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ: بِطَهَارَةِ الشَّعْرِ وَالصُّوفِ وَالْوَبَرِ. زَادَ أَبُو حَنِيفَةَ فَقَالَ بِطَهَارَةِ الْقَرْنِ وَالسِّنِّ وَالْعَظْمِ وَالرِّيشِ إذْ لَا رُوحَ فِيهِ. وَقَالَ مَالِكٌ: بِطَهَارَةِ الشَّعْرِ وَالصُّوفِ وَالْوَبَرِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ كَانَ يُؤْكَلُ لَحْمُهُ كَالنَّعَمِ أَوْ لَا يُؤْكَلُ كَالْكَلْبِ وَالْحِمَارِ. اهـ. شَعْرَانِيٌّ فِي الْمِيزَانِ.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

d.} MENGKONSUMSI KULIT YANG DISAMAK.
Menyamak adalah salah satu cara yang ditawarkan syari'at untuk mensucikan kulit bangkai, baik kulit bangkai hewan yang halal dagingnya, ataupun yang tidak, kecuali kulit anjing dan babi serta peranakannya. Apakah diperbolehkan mengkonsumsi kulit yang sudah disamak ? : Ada tiga pendapat ulama' dalam hal ini :
√ Pertama, pendapat yang kuat ( الأصح ), haram mengkonsumsinya.
√ Kedua, muthlaq boleh memakannya.
√ Ketiga, diperinci ; jika hewan tersebut berasal dari hewan yang halal dimakan, maka boleh mengkonsumsinya. Jika bukan, maka haram.

[المجموع شرح المهذب، ج ٩ ص ٣٨]📗
(الثَّالِثُ) جِلْدُ الْمَيْتَةِ الْمَدْبُوغُ فِي أَكْلِهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ أَوْ أَوْجُهٍ سَبَقَتْ فِي بَابِ الْآنِيَةِ (أَصَحُّهَا) أَنَّهُ حَرَامٌ (وَالثَّانِي) حَلَالٌ (وَالثَّالِثُ) إنْ كَانَ جِلْدَ حَيَوَانٍ مَأْكُولٍ فَحَلَالٌ وَإِلَّا فَلَا. وَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ تُرَدُّ عَلَى الْمُصَنِّفِ حَيْثُ لَمْ يَسْتَثْنِهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ

[المجموع شرح المهذب، ج ١ ص ٢٢٩]📗
قال المصنف رحمه الله (وهل يجوز أكله ينظر فان كان من حيوان يؤكل ففيه قولان قال في القديم لا يؤكل لقوله صلى الله عليه وسلم انما حرم من الميتة أكلها وقال في الجديد. يؤكل لانه جلد طاهر من حيوان مأكول فأشبه جلد المذكي: وان كان من حيوان لا يؤكل لم يحل أكله لان الدباغ ليس بأقوى من الذكاة والذكاة لا تبيح ما لا يؤكل لحمه فلان لا يبيحه الدباغ أولى وحكى شيخنا أبو حاتم القزويني عن القاضى أبي القاسم بن كج أنه حكي وجها آخر أنه يحل لان الدباغ عمل في تطهيره كما عمل في تطهير ما يؤكل فعمل في اباحته بخلاف الذكاة)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

e.} KULIT YANG TERKELUPAS DARI HEWAN HIDUP.
Dalam dunia peternakan hewan liar, sering kali terjadi perkelaihan antara hewan satu dengan yang lain. Sehinggga terkadang menyebabkan terkelupasnya kulit, bahkan fatalnya sampai titik kematian. Apakah kulit hewan yang terpisah dari hewan yang masih hidup bisa disamak seperti halnya kulit bangkai ? : Ya, bisa di samak.

[حاشية البجيرمي على الخطيب، ج ١ ص ٩٩]📗
قَوْلُهُ: (الْمَيِّتَةِ) أَيْ وَكَذَا جُلُودُ الْحَيِّ الَّذِي يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ، وَإِنَّمَا قَيَّدَ بِالْمَيِّتَةِ لِلْغَالِبِ فَلَوْ سُلِخَ جِلْدُهُ مَعَ حَيَاتِهِ طَهُرَ أَيْضًا بِالدِّبَاغِ. اهـ. م د.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

f.} HUKUM BULU YANG TERSISA SETELAH DISAMAK.
Para perajin, umumnya bervariasi dalam menyamak kulit hewan, agar menghasilkan motif dan corak yang menarik konsumen. Salah satunya dengan cara menyamak kulit yang bulu-bulunya masih utuh, tanpa dihilangkan supaya terkesan hidup. Bagaimana status bulu-bulu yang tersisa di kulit yang sudah disamak ? : Hukumnya di-ma’fû jika bulu yang tersisa tersebut sedikit. Namun bila masih banyak maka hukumnya najis. Menurut Imam Subki hukumnya suci, walaupun bulunya banyak.

[الإقناع وحاشية البجيرمي، ج ١ ص ١٠٠]📗
وَخَرَجَ بِالْجِلْدِ الشَّعْرُ لِعَدَمِ تَأَثُّرِهِ بِالدَّبْغِ. قَالَ النَّوَوِيُّ: وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ. ___قَوْلُهُ: (وَخَرَجَ بِالْجِلْدِ الشَّعْرُ) عِبَارَةُ شَرْحِ م ر. وَخَرَجَ بِالْجِلْدِ الشَّعْرُ فَلَا يَطْهُرُ بِهِ وَإِنْ أُلْقِيَ فِي الْمَدْبَغَةِ وَعَمَّهُ الدَّابِغُ لِأَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ فِيهِ، لَكِنْ يُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ وَإِنْ قَالَ الشَّيْخُ إنَّهُ يَطْهُرُ تَبَعًا وَإِنْ لَمْ يَتَأَثَّرْ بِالدَّبْغِ. قَوْلُهُ: (وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ) فَهُوَ نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ خِلَافًا لِمَنْ قَالَ طَاهِرٌ تَبَعًا لِلْجِلْدِ كَدَنِّ الْخَمْرِ لِلْفَرْقِ، فَإِنَّ الْقَوْلَ بِطَهَارَةِ دَنِّ الْخَمْرَةِ لِلضَّرُورَةِ إذْ لَوْلَا الْحُكْمُ بِطَهَارَتِهِ لَمْ يُوجَدْ طَهَارَةُ خَلٍّ أَصْلًا عَنْ خَمْرٍ، وَلَا ضَرُورَةَ إلَى طَهَارَةِ الشَّعْرِ لِإِمْكَانِ إزَالَتِهِ، وَلِأَنَّهُ يُنْتَفَعُ بِالْجِلْدِ لَا مِنْ جِهَةِ الشَّعْرِ، أَمَّا الْكَثِيرُ فَلَا يُعْفَى عَنْهُ أَصْلًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَاخْتَارَ السُّبْكِيُّ تَبَعًا لِلنَّصِّ وَجَمْعٍ مِنْ الْأَصْحَابِ طَهَارَةَ الشَّعْرِ وَإِنْ كَثُرَ. وَقَالَ: هَذَا لَا شَكَّ فِيهِ عِنْدِي وَهَذَا الَّذِي أَعْتَقِدُهُ وَأُفْتِي بِهِ. اهـ. سم. وَبِهِ قَالَ الْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ اهـ.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

❤ KETUA / PIMPINAN UMUM / PENASHIHAT :
🖍️ Abuya Al-Habib Seqqaf bin Hasan bin Ahmad Baharun_Pasuruan_Jawa Timur.
🖍️ Al-Habib Ahmad Al-Haddar_Bogor_Jawa Barat.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Guru Naufal_Martapura_Kalimantan Selatan.
🖍️ Ustadz Wakid Yusuf_Sumenep_Jawa Timur.
🖍️ Ustadz Hasyim_Sumatera Utara.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ WAKIL :
🖍️ Al-Habib Hisyam Al-Habsyi_Bogor_Jawa Barat.
🖍️ As-Sayyid Abdullah Al-Khayrid_Jakarta.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Ustadz Ahmad Saifuddin_Cimahi_Jawa Barat.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MUHARRIR :
🖍️ Kiai Mahmulul Huda_Jember_Jawa timur.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ TERJEMAH / PENJELASAN IBARAH :
🖍️ Ustadz Handoyo_Tangerang.
🖍️ Ustadz Jefri_Sampang Madura.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MODERATOR/KORDINATOR SOAL/PENDIRI GRUP :
🖍️ Khalilurrahman_Kalimantan Selatan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ SECARA UMUM = MUJAWWIB / MUSHAHHIH & SEBAGAI NYA (SESUAI KEMAMPUAN NYA) :
🖍️ Tidak Di Tentukan, Siapa Saja Di Perkenankan, (Kepada Semua Anggota Grup), Sesuai Dengan Kemampuan nya, Untuk Menambahkan Jawaban, Mempertegas, Meluruskan, Mengoreksikan, Maupun Membantu Merumuskan, Mudah-mudahan Menjadi Amal Jariyah Kebaikan Di Alam Yang Kekal Kelak, Yang Di Ridhai Allah dan Rasulullah ﷺ, Aamiin Ya Allah Ya Mujibas-Sa’iliin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم


والله أعلم بالصواب

Selasa, 24 November 2020

DALIL NAQLI & PENDAPAT ULAMA TENTANG AZIMAT DAN SEJENISNYA

☔BAHTSU۞۩MASA’ILIL۩UMMAH☔

B-M-U

soal antrian ke 184
👳🏻‍♂️ Nama : Habib Abu Bakar Al-Habsyi
Alamat : Sulawesi Selatan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para ustadz Ustadzah mujawwib

✍🏻 DESKRIPSI :

Di daerah kita masih banyak yang mempersoalkan azimat, wafaq/wifiq, rajah dan sebagai nya, sehingga ada yang bilang syirik, bahkan ada beberapa kejadian, seseorang yang berani datang ke rumah-rumah warga untuk membakar azimat tersebut.

🌴 PERTANYAAN :

1.) Apakah ada dalil naqli tentang azimat, wifiq, rajah-rajah dan sebagainya ? dan apa hukum memakai nya ⁉️

🍏 JAWABAN :

Ada Hadits dan sekaligus pendapat ulama yang menjelaskan tentang ruqyah, azimat dan sejenisnya.
Hukum memakainya Boleh, apabila menggunakan nama-nama Allah atau ayat al-Qur'an. Dan tidak berkeyakinan bahwa azimat tersebut punya pengaruh dengan sendirinya. Dan niat tabarrukan dengan Nama Allah atau ayat Al-Qur'an, dan hanya Allah lah yang dapat menghilangkan mudharat dan memberi manfa'at.

💧 R E F E R E N S I :

[مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، ج ٤ ص ١٧١٦]📗
٢٤٧٧ - (وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: إِذَا فَزِعَ) بِكَسْرِ الزَّايِ أَيْ: خَافَ (أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ) أَيْ: فِي حَالِ النَّوْمِ أَوْ عِنْدَ إِرَادَتِهِ (فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ) أَيِ: الْكَامِلَةِ الشَّامِلَةِ الْفَاضِلَةِ وَهِيَ أَسْمَاؤُهُ وَصِفَاتُهُ وَآيَاتُ كُتُبِهِ (مِنْ غَضَبِهِ) أَيْ: مِنْ آثَارِهِ (وَعِقَابِهِ) أَيْ: عَذَابِهِ وَحِجَابِهِ (وَشَرِّ عِبَادِهِ) مِنَ الظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ وَنَحْوِهِمَا (وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ) أَيْ: خَطَرَاتِهِمْ وَوَسَاوِسِهِمْ وَإِلْقَائِهِمِ الْفِتْنَةَ وَالْعَقَائِدَ الْفَاسِدَةَ فِي الْقَلْبِ وَهُوَ تَخْصِيصٌ بَعْدَ تَعْمِيمٍ أَوْ إِيمَاءٌ إِلَى أَنَّهُمْ لَيْسُوا بِعِبَادِهِ الْمَخْصُوصِينَ أَوْ عَلَى الْإِطْلَاقِ مُبَالَغَةً لِلتَّنْفِيرِ عَنْ جِنْسِهِمْ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ} [فاطر: ٦] (وَأَنْ يَحْضُرُونَ) بِحَذْفِ الْيَاءِ وَإِبْقَاءِ الْكَسْرَةِ دَلِيلًا عَلَيْهَا أَيْ: وَمِنْ أَنْ يَحْضُرُونِي فِي صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي وَذِكْرِي وَدَعْوَتِي وَمَوْتِي (فَإِنَّهَا) أَيِ: الْهَمَزَاتِ (لَنْ تَضُرَّهُ) أَيْ: ظَاهِرًا وَبَاطِنًا إِذَا دَعَا بِهَذَا الدُّعَاءِ وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْفَزَعَ إِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ (وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو) بِالْوَاوِ (يُعَلِّمُهَا) أَيِ: الْكَلِمَاتِ (مَنْ بَلَغَ مِنْ وَلَدِهِ) أَيْ: لِيَتَعَوَّذَ بِهِ (وَمَنْ لَمْ يَبْلُغْ مِنْهُمْ كَتَبَهَا فِي صَكٍّ) أَيْ: كِتَابٍ عَلَى مَا فِي النِّهَايَةِ وَالْقَامُوسِ، وَأَغْرَبَ ابْنُ حَجَرٍ لُغَةً وَعُرْفًا فِي تَفْسِيرِ الصَّكِّ بِكَتِفٍ مِنْ عَظْمٍ (ثُمَّ عَلَّقَهَا) أَيْ: عَلَّقَ كِتَابَهَا الَّذِي هِيَ فِيهِ (فِي عُنُقِهِ) أَيْ: فِي رَقَبَةِ وَلَدِهِ وَهَذَا أَصْلٌ فِي تَعْلِيقِ التَّعْوِيذَاتِ الَّتِي فِيهَا أَسْمَاءُ اللَّهِ تَعَالَى (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ

[Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Juz 4, hal. 1716]
“2477 - (dari Amr ibn Syuaib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - bersabda: Jika panik) dengan dikasrahkan huruf zay artinya : takut (salah satu dari kalian ketika tidur) Yaitu : dalam keadaan tidur atau ketika hendak tidur (Maka hendaklah dia mengucapkan, aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna) yaitu : yang sempurna yang menyeluruh dan yang utama yaitu asma'Nya, sifatNya dan ayat-ayat dalam kitab-kitabNya (dan dari kemarahanNya) yaitu : dari bekas bekasnya (dan hukumanNya) yaitu dari adzab dan hijabNya (dan keburukan hamba-hambaNya) dari kezhaliman, ma'shiat dan sejenisnya (dan dari godaan syetan-syetan), yaitu: bahaya-bahaya mereka, godaan godaan mereka, berjumpa mereka sebagai ujian, dan aqidah-aqidah merusak dalam  hati. Dan ia itu adalah mengkhususkan setelah keumuman atau isyarat, bahwa mereka bukanlah hamba-hamba yang dikhususkan, atau secara muthlaq, sebagai hiperbola untuk memerinci jenis-jenis mereka, sebagaimana firman Allah Ta'ala : Sesungguhnya iblis adalah musuh bagi kalian} [al-Fathir: 6] (dan agar mereka hadir) dengan menghapus huruf ya dan membiarkan kasrah sebagai dalil atasnya, maksudnya adalah dan dari kehadiran mereka padaku dalam shalatku, dalam bacaanku, dalam dzikirku dan dalam kematianku (maka sesungguhnya ia ), yaitu: godaan-godaan (tidak akan mencelakainya) yaitu : zhahir dan bathin, jika ia berdoa dengan doa ini. dan didalamnya ada dalil bahwa ketakutan termasuk dari pada syetan (dan ada Abdullah bin Amr) dengan huruf wawu (mengajarkannya) yaitu  : dengan kata-kata (orang yang menyampaikan dari anaknya), yaitu : untuk berlindung dengannya (dan orang yang tidak sampai yang terdiri dari orang-orang yang menulisnya pada catatan), yaitu: kitab sebagaimana yang ada dalam kitab an-nihayah dan al-qamus, dan Imam Ibnu Hajar menyendiri secara bahasa dan kebiasaan dalam menafsirkan kata الصَّكِّ dengan tulang belikat (kemudian menggantungnya), yaitu: menggantung bukunya yang di dalamnya terdapat tulisan tersebut (di lehernya) yaitu: di leher anaknya, dan ini adalah dasar dalam menggantungkan perlindungan-perlindungan yang di dalamnya ada asma' Allah ta'ala (diriwayatkan oleh Imam ahmad, imam Abu daud dan imam attirmidzy)”.


[المستدرك على الصحيحين للحاكم،  ج ٤ ص ٢١٧]📗
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الزَّاهِدُ الْأَصْبَهَانِيُّ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مِهْرَانَ، ثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، ثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ مَيْسَرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ قَيْسِ بْنِ السَّكَنِ الْأَسَدِيِّ، قَالَ: دَخَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى امْرَأَةٍ فَرَأَى عَلَيْهَا حِرْزًا مِنَ الْحُمْرَةِ فَقَطَعَهُ قَطْعًا عَنِيفًا ثُمَّ قَالَ: إِنَّ آلَ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ الشِّرْكِ أَغْنِيَاءُ وَقَالَ: كَانَ مِمَّا حَفِظْنَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوْلِيَةَ مِنَ الشِّرْكِ» " هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ "

“Abdullah bin Mas’ud Radhiyallaahu Anhu masuk menemui seorang wanita (dari keluarga beliau), lalu dia melihat wanita itu memakai penangkal penyakit bengkak merah. Maka beliau memutus tangkal tadi dengan kerasnya, lalu beliau berkata : Sesungguhnya keluarga Abdullah tidak memerlukan kesyirikan. Dan beliau berkata : Termasuk yang kami hafal dari Rasulillah ﷺ adalah : Sesungguhnya mantera-mantera, tangkal-tangkal/jimat, dan pengasihan adalah termasuk dari syirik, sanad hadits Shahih”.


[المجموع شرح المهذب، ج ٩ ص ٦٦]📗
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ التولة - بكسر التاء - هُوَ الَّذِي يُحَبِّبُ الْمَرْأَةَ إلَى زَوْجِهَا وَهُوَ من السحر قال وذلك لا يجوز (وأما) الرِّقَاءُ وَالتَّمَائِمُ قَالَ فَالْمُرَادُ بِالنَّهْيِ مَا كَانَ بِغَيْرِ لِسَانِ الْعَرَبِيَّةِ بِمَا لَا يُدْرَى مَا هُوَ * قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَيُقَالُ إنَّ التَّمِيمَةَ خَرَزَةٌ كَانُوا يُعَلِّقُونَهَا يَرَوْنَ أَنَّهَا تَدْفَعُ عَنْهُمْ الْآفَاتِ وَيُقَالُ قِلَادَةٌ يُعَلَّقُ فِيهَا الْعُودُ وَعَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ (سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ عَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ) رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَقَالَ هُوَ أَيْضًا رَاجِعٌ إلَى مَعْنَى مَا قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ قَالَ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ وما اشبه مِنْ النَّهْيِ وَالْكَرَاهَةِ فِيمَنْ يُعَلِّقُهَا وَهُوَ يَرَى تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَزَوَالَ الْعِلَّةِ بِهَا عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَاهِلِيَّةُ وَأَمَّا مَنْ يُعَلِّقُهَا مُتَبَرِّكًا بِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى فِيهَا وَهُوَ يَعْلَمُ أَنْ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا اللَّهُ وَلَا دَافِعَ عَنْهُ سِوَاهُ فَلَا بَأْسَ بِهَا إنْ شَاءَ الله تعالى

“Berkata abu Ubaid - At Tiwalah - dengan dibaca kasrah pada huruf Ta’- adalah jimat yang dipergunakan untuk menjadikan perempuan mencintai suaminya, dan hal ini adalah termasuk bagian dari sihir. Abu Ubaid berkata : Yang demikian itu tidak boleh.
Adapun Ruqyah dan Tamimah, maka yang dimaksud dengan larangan dalam hal tersebut, adalah yang tidak menggunakan bahasa arab/bahasa yang tidak dapat dimengerti maksudnya.
Al Baihaqi berkata : Dan dikatakan bahwa -Tamimah- adalah manik-manik yang dikalungkan, dan mereka beranggapan, bahwa kalung tersebut dapat menolak bahaya. (Sedang dalam pendapat lain) dikatakan bahwa : Tamimah adalah kalung yang padanya di ikatkan kayu. Dari ‘Utbah Ibn Amir, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : Barangsiapa mengalungkan Tamimah, maka Allah tidak menyempurnakan baginya, dan barangsiapa mengalungkan Wada'ah (manik-manik), maka Allah tidak menitipkan titipan padanya .” (H.R. Al-Bayhaqi).
Al Baihaqi berkata : Pengertian hadits tersebut juga dikembalikan pada pernyataan Abu ‘Ubaidah, ia berkata : Hadits tersebut dan hadits-hadits senada yang bermuatan larangan atau kemakruhan, diperuntukkan bagi orang yang mengalungkan Tamimah, sedang ia menganggap bahwa keselamatan dan hilangnya penyakit disebabkan “Tamimah” tersebut, sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah. Adapun seseorang yang mengalungkan “Tamimah” dengan maksud Tabarruk, dengan penyebutan Asma Allah Ta’aala yang ada didalamnya, dan ia meyakini bahwa tiada yang dapat membuka jalan baginya juga tiada yang menolak keburukan darinya kecuali Allah, maka hal tersebut tidak mengapa, Insya Allah -”.



[فيض القدير، ج ٣ ص ٣٤١]📗
٢٠٠٢ - (إن الرقى) أي التي لا يفهم معناها إلا التعوذ بالقرآن ونحوه فإنه محمود ممدوح/ (والتمائم) جمع تميمة وأصلها خرزات تعلقها العرب على رأس الولد لدفع العين توسعوا فيها فسموا بها كل عوذة (والتولة) بكسر التاء وفتح الواو كعنبة ما يحبب المرأة إلى الرجل من السحر (شرك) أي من الشرك سماها شركا لأن المتعارف منها في عهده ما كان معهودا في الجاهلية وكان مشتملا على ما يتضمن الشرك أو لأن اتخاذها يدل على اعتقاد تأثيرها ويفضي إلى الشرك ذكره القاضي. وقال الطيبي رحمه الله: المراد بالشرك اعتقاد أن ذلك سبب قوي وله تأثير وذلك ينافي التوكل والانخراط في زمرة الذين لا يسترقون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون لأن العرب كانت تعتقد تأثيرها وتقصد بها دفع المقادير المكتوبة عليهم فطلبوا دفع الأذى من غير الله تعالى وهكذا كان اعتقاد الجاهلية فلا يدخل في ذلك ما كان بأسماء الله [ص: ٣٤٣] وكلامه ولا من علقها بذكر تبركا الله عالما أنه لا كاشف إلا الله فلا بأس به

“Bahwasannya Ruqyah atau jampi-jampi/Jimat, yang didalamnya tidak mengandung pengertian, kecuali berlindung dengan Al-Qur'an atau sejenisnya, maka hal tersebut adalah perkara yang terpuji. Adapun Tamimah yang ashalnya adalah manik-manik yang oleh orang Arab dikalungkan dikepala seorang anak, untuk menolak penyakit ‘Ain, dan seterusnya --- sampai pada penjelasan beliau : Tidak termasuk dalam masalah ini (yang musyrik dan dilarang), Jimat yang didalamnya terdapat Asma Allah, dan firman-Nya, dan juga orang yang mengalungkannya dengan tujuan mengambil berkah, dengan disebutnya Asma Allah didalamnya, dan ia meyakini bahwa tiada yang dapat memberi jalan keluar kecuali Allah, maka yang demikian tidak mengapa/boleh”.


[الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي، ص ٢]📗
وسُئل فسح الله فِي مدَّته: مَا حكم علم الأوفاق؟ فَأجَاب نفع الله بِعُلُومِهِ: بِأَن علم الأوفاق يرجع إِلَى مناسبات الْأَعْدَاد وَجعلهَا على شكل مَخْصُوص، وَهَذَا كَأَن يكون بشكل من تسع بيُوت مبلغ الْعدَد من كل جِهَة خَمْسَة عشر، وَهُوَ ينفع للحوائج وَإِخْرَاج المسجون وَوضع الْجَنِين وكل مَا هُوَ من هَذَا الْمَعْنى وضابطه بطد زهج واح، وَكَانَ الْغَزالِيّ رَحمَه الله يعتني بِهِ كثيرا حَتَّى نسب إِلَيْهِ وَلَا مَحْذُور فِيهِ إِن اسْتعْمل لمباح بِخِلَاف مَا إِذا استعين بِهِ على حرَام، وَعَلِيهِ يحمل جعل الْقَرَافِيّ الأوفاق من السحر.

“Dan ia ditanya, Semoga Allah melapangkan kehidupannya : Apakah hukum ilmu wafaq ? Maka ia menjawab, Semoga Allah memberikan manfa'at ilmu-ilmunya : ilmu wafaq itu mendasarkan kepada persesuaian bilangan-bilangan dan dibuat dalam bentuk yang khusus. Ini misalnya berupa bentuk sembilan kotak, yang jumlahnya dari setiap sudutnya berjumlah lima belas. ilmu wafaq ini bermanfa'at untuk tercapainya berbagai hajat, melepaskan dari tawanan (penjara) dan mempermudah proses melahirkan anak, dan maksud-maksud yang serupa...
Imam Al-Ghazali (w. 505 H) sering mendorong saya menggunakan ilmu wafaq, sehingga ilmu wafaq dinisbatkan (dihubungkan) kepadanya. ilmu wafaq tidak dilarang, apabila digunakan untuk sesuatu yang Boleh, berbeda bila dipergunakan untuk sesuatu yang Haram. Dalam hal ini, Al-Qarafî mema'nai wafaq yang digunakan untuk sesuatu yang Haram, adalah sebagai ilmu sihir”.


[نهاية الزين، ص ٣٢]📗
إِذا كتب عَلَيْهَا شَيْء من الْقُرْآن فَيحل مس ذَلِك وَحمله مَعَ الْحَدث وَكَذَا التميمة كورقة يكْتب فِيهَا شَيْء من الْقُرْآن وَتعلق على الرَّأْس مثلا للتبرك فَيجوز مَسهَا وَحملهَا مَعَ الْحَدث وَلَو أكبر

[Nihayatuzzein, hal. 32]
“Jika ada sesuatu dari Al-Qur'an yang tertulis di atasnya, maka halal untuk disentuh dan dibawa dalam keadaan berhadats dan begitu juga jimat seperti kertas yang ditulis di dalamnya sesuatu dari Al-Qur'an dan digantung di atas kepala sebagai tabarruk (meminta berkah), maka boleh memegangnya dan membawanya dalam keadaan hadats, walaupun hadats besar”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

2.) Boleh kah azimat dan lain-lain nya itu di bawa ke dalam WC ⁉️

🍏 JAWABAN :

Boleh, dengan catatan azimat tersebut sudah dibungkus kain. Kalau  bacaan dzikir tampak, sunnat ia bikin bacaannya itu menjadi tidak tampak, dengan seumpama digenggamnya dalam tangannya.

💧 R E F E R E N S I :

[تحفة المحتاج، ج ١ ص ١٥٩-١٦١]📗
(وَلَا يَحْمِلُ) دَاخِلَهُ أَيْ الْوَاصِلُ لِمَحَلِّ قَضَاءِ الْحَاجَةِ (ذِكْرَ اللَّهِ) أَيْ مَكْتُوبَ ذِكْرِهِ كَكُلِّ مُعَظَّمٍ مِنْ قُرْآنٍ وَاسْمِ نَبِيٍّ وَمَلَكٍ مُخْتَصٍّ أَوْ مُشْتَرَكٍ وَقَصَدَ بِهِ الْمُعَظَّمَ أَوْ قَامَتْ قَرِينَةٌ قَوِيَّةٌ عَلَى أَنَّهُ الْمُرَادُ بِهِ، وَيَظْهَرُ أَنَّ الْعِبْرَةَ بِقَصْدِ كَاتِبِهِ لِنَفْسِهِ وَإِلَّا فَالْمَكْتُوبُ لَهُ نَظِيرُ مَا مَرَّ فَيُكْرَهُ حَمْلُ مَا كُتِبَ فِيهِ شَيْءٌ مِمَّا ذُكِرَ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يَنْزِعُ خَاتَمَهُ إذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ» وَكَانَ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ مُحَمَّدٌ سَطْرٌ وَرَسُولُ سَطْرٌ وَاَللَّهِ سَطْرٌ وَلَمْ يَصِحَّ فِي كَيْفِيَّةِ وَضْعِ ذَلِكَ شَيْءٌ وَلَوْ دَخَلَ بِهِ وَلَوْ عَمْدًا غَيَّبَهُ نَدْبًا بِنَحْوِ ضَمِّ كَفِّهِ عَلَيْهِ، وَيَجِبُ عَلَى مَنْ بِيَسَارِهِ خَاتَمٌ عَلَيْهِ مُعَظَّمٌ نَزْعُهُ عِنْدَ اسْتِنْجَاءٍ يُنَجِّسُهُ وَمَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَغَيْرُهُ إلَى الْوَجْهِ الْمُحَرَّمِ لِإِدْخَالِ الْمُصْحَفِ الْخَلَاءَ بِلَا ضَرُورَةٍ، وَهُوَ قَوِيُّ الْمَدْرَكِ

[Tuhfat al-Muhtaj, Juz 1, hlm. 159-161]
“(Dan tidak membawa) didalamnya , maksudnya benda perantaranya ke dalam tempat membuang hajat (menyebut Allah) yaitu yang tertulis penyebutannya, seperti setiap yang diagungkan dari Al-Qur'an dan nama nabi dan malaikat yang dikhususkan, atau secara umum dan dimaksudkan sebagai pengagungan dengannya, atau membuat pembatas yang kuat atas apa yang dimaksudkan dengannya. dan tampak bahwa pelajaran dengan maksud penulisnya bagi dirinya, dan jika tidak maka yang tertulis baginya adalah pengawas atas apa yang lewat, maka dimakruhkan membawa apa yang ditulis di dalamnya sesuatu tersebut. sebagaimana disebutkan dalam khabar shahih «bahwasanya Nabi - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menanggalkan cincinnya, ketika memasuki kamar mandi » dan pada cincin tersebut terukir مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ Muhammad satu baris, rasul satu baris, Allah satu baris. Dan tidak benar dalam tata caranya meletakkan sesuatu padanya. meskipun masuk dengannya, walaupun sengaja maka menghilangkannya adalah sunnah seperti menggenggamnya dalam telapak tangannya, dan diwajibkan pada orang yang pada tangan kirinya terdapat cincin, yang padanya ada hal yang diagungkan, untuk menanggalkannya ketika beristinja yang bisa menajiskannya. Imam al-adzro'iy dan lainnya cenderung kepada pendapat yang mengharamkan, untuk memasukkan mush-haf kedalam kamar mandi, tanpa keadaan dharurat, yaitu pendapat terkuat”.

[شرح المحلى وحاشية القليوبي، ج ١ ص ٤٣]📗
(يُقَدِّمُ دَاخِلُ الْخَلَاءِ يَسَارَهُ وَالْخَارِجُ يَمِينَهُ) لِمُنَاسِبَةِ الْيَسَارِ لِلْمُسْتَقْذَرِ وَالْيَمِينِ لِغَيْرِهِ، وَالْخَلَاءُ بِالْمَدِّ الْمَكَانُ الْخَالِي نُقِلَ إلَى الْبِنَاءِ الْمُعَدِّ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ عُرْفًا (وَلَا يَحْمِلُ) فِي الْخَلَاءِ (ذِكْرَ اللَّهِ تَعَالَى) أَيْ مَكْتُوبَ ذِكْرٍ مِنْ قُرْآنٍ أَوْ غَيْرِهِ تَعْظِيمًا لَهُ وَحَمْلُهُ. قَالَ فِي الرَّوْضَةِ: مَكْرُوهٌ لَا حَرَامٌ
_______
قَوْلُهُ: (أَوْ غَيْرِهِ) كَمَنْسُوخِ تِلَاوَةٍ وَتَوْرَاةٍ لَمْ تُبَدَّلْ وَأَسْمَاءِ اللَّهِ الْخَاصَّةِ بِهِ أَوْ الْمُشْتَرَكَةِ بِقَصْدِهِ بِمَا فِي التَّمَائِمِ وَأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ وَلَوْ عَوَامَّهُمْ.


[Syarhu Al-Mahally wa Hasyiyah Al-Qalyuby, Juz 1, hal. 43]
“(Mendahulukan kaki kirinya ketika masuk kamar mandi, dan kaki kanannya ketika keluar) bertepatan bagian kiri untuk hal yang kotor dan kanan untuk selainnya, dan الخلاء karena terbentangnya tempat yang kosong, dinuqil kepada bangunan yang disiapkan, untuk menunaikan hajat secara adat (dan tidak membawa) ke dalam wc (Ayat-ayat Penyebutan/mengandung dzikir kepada Allah ta'ala) yaitu tertulis dzikir dari Al-Qur'an, atau selainnya sebagai penghormatan baginya, atau membawa. Berkata dalam arraudhah : makruh tidak Haram”.
_______
“Perkataannya : (atau selainnya) seperti tertulis bacaan atau tersembunyi tidaklah tergantikan, dan nama-nama Allah yang khusus dengannya, atau bersama-sama yang lainnya, yang dimaksudkan dengannya, sebagaimana pada mantra-mantra dan nama-nama para nabi dan malaikat secara umum”.


[الفتاوى الفقهية الكبرى، ج ١ ص ٢٦٤]📗
وَيَكُونُ فِي الْيَسَارِ بِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ الِاسْتِنْجَاءُ بِالْخَاتَمِ مَعَ أَنَّ أَكْثَرَ الْخَوَاتِيمِ فِيهَا نَقْشُ الْقُرْآنِ وَالْأَذْكَارِ وَهُوَ اعْتِرَاضٌ وَاهٍ لِأَنَّهُ بِسَبِيلٍ سَهْلٍ مِنْ أَنْ يَقْلَعَهُ مِنْ يَسَارِهِ عِنْدَ الِاسْتِنْجَاءِ حَتَّى فِي الْخَلَاءِ وَيَجْعَلَهُ فِي فَمِهِ، وَحُجَّةُ مَالِكٍ فِي كَرَاهِيَةِ جَعْلِهِ فِي الْيَمِينِ أَنَّهُ عِنْدَهُ لَيْسَ مِنْ التَّكْرِيمِ وَإِنَّمَا يُجْعَلُ فِي الْيَدِ لِلْخَتْمِ بِهِ لِمَا فِي الْحَدِيثِ «أَنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ لَا يَقْبَلُونَ إلَّا كِتَابًا مَطْبُوعًا فَاتَّخَذَ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - خَاتَمًا وَنَقَشَ عَلَيْهِ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ» فَإِذَا كَانَ مَوْضُوعًا فِي الْيَدِ فَيَتَنَاوَلُ لِلْخَتْمِ بِهِ فَالتَّنَاوُلُ إنَّمَا يُسَنُّ بِالْيَمِينِ وَحِينَئِذٍ فَيَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ بِالْيَسَارِ.

[Alfatawa alfiqhiyyah Al-kubra, juz 1, hal. 264]
“Dan ada pada bagian kiri, karena ia dilazimkan untuk istinja' atasnya dengan cincin, yang biasanya kebanyakan cincin didalamnya ukiran Al-Qur'an, dan dzikir-dzikir, yaitu disebabkan lemahnya, karena ia dibuat mudah untuk ditanggalkan dari tangan kirinya, ketika istinja sampai di dalam wc dan menjadikannya di awwalnya. Dan hujjah imam malik dalam kemakruhan menaruhnya di kanan, karena pada sisinya bukanlah bagian dari memuliakan, tapi lebih pada menaruhnya pada tangan yang diperuntukkan untuk cincin dengannya, sebagaimana pada hadits 《 sesungguhnya kekaisaran dan kaisar tidak menerima, kecuali tulisan yang dicap, karena itu nabi عليه الصلاه والسلام, membuat cincin yang diukir padanya محمد رسول الله》 dan jika diletakan di tangan, maka ia meletakkan cincin dengan nya, adapun makan disunnatkan dengan tangan kanan, dan sejak itu dilazimkan cincin nya ada di tangan kiri”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

3.) Sampai mana batasan yang di katakan syirik nya/bisa beraqibat syirik ⁉️

🍏 JAWABAN :

Batasan atau hal yang bisa beraqibat syirik adalah :
Jika hati berkeyaqinan (menuhankan) bahwa jimat dan Selain nya itu, dengan sendirinya dapat memberikan pengaruh, baik mendatangkan manfa'at dan melenyapkan mudharat, karena selain daripada Allah (makhluq) tidak ada sedikit pun Yang dapat memberi bekas (semua itu hanyalah suatu sebab).

💧 R E F E R E N S I :

هَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الأنعام - ١٥٥}

“Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian dirahmati”.


[الزواجر عن اقتراف الكبائر، ج ١ ص ٢٧٤]📗
نَعَمْ يَتَعَيَّنُ حَمْلُهُ عَلَى مَا كَانُوا يَفْعَلُونَهُ مِنْ تَعْلِيقِ خَرَزَةٍ - يُسَمُّونَهَا تَمِيمَةً - أَوْ نَحْوِهَا يَرَوْنَ أَنَّهَا تَدْفَعُ عَنْهُمْ الْآفَاتِ، وَلَا شَكَّ أَنَّ اعْتِقَادَ هَذَا جَهْلٌ وَضَلَالٌ وَأَنَّهُ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ لِأَنَّهُ إنْ لَمْ يَكُنْ شِرْكًا فَهُوَ يُؤَدِّي إلَيْهِ إذْ لَا يَنْفَعُ وَيَضُرُّ وَيَمْنَعُ وَيَدْفَعُ إلَّا اللَّهُ - تَعَالَى -

[Azzawaajir 'an iqtiraf alkabair, juz 1, hal. 274]
“Ya, ditetapkan membawanya selama melakukannya untuk mengantung pelindung diri - dinamakan azimat - atau sejenisnya, mereka berpendapat bahwa ia menolak kecelakaan dari mereka, dan tiada keraguan bahwa keyakinan ini bodoh dan sesat. Dan bahwasanya ia termasuk dosa terbesar, dari dosa-dosa besar, karena ia bila bukan syirik, maka ia menganggap kepadanya, padahal  tidak memberi manfa'at dan tidak mencelakai dan tidak mencegah, kecuali Allah ta'ala”.


[فتاوى دار الإفتاء المصرية، ج ٦ ص ١٩٧]📗
ولأن عقيدة المسلمين أن الضار والنافع هو الله سبحانه وتعالى

“Dan sesungguhnya keyaqinan orang-orang islam, adalah bahwa yang bisa mendatangkan mudharat dan manfa'at, pada haqiqatnya hanya lah Allah Subhanahu wa ta'ala”.


[كشاف القناع، ج ٢ ص ٨٩]📗
وقال القاضي : يجوز حمل الأخبار على اختلاف حالين، فنهى إذا كان يعتقد أنـها النافعة له والدافعة عنه، وهذا لا يجوز؛ لأن النافع هو الله. والموضع الذي أجازه إذا اعتقد أن الله هو النافع والدافع. ولعل هذا خرج على عادة الجاهلية، كما تعتقد أن الدهر يغيرهم فكانوا يسبونه

“Berkata Al-Qadhi Abu Ya'la (Kalangan Hanafi) : Boleh hukumnya membawa jimat, ini ada dua keadaan ; -pertama- dilarang jika meyaqini jimat itu yang membawa manfa'at dan menolak bahaya, ini tidak boleh, karena yang memberi manfa'at adalah Allah. Dan batasan / tempat diperbolehkannya jimat, adalah jika meyakini bahwa Allah lah yang memberi manfa'at dan menolak bahaya. Hal ini keluar/tidak termasuk dari kebiasaan jahiliyyah, sebagaimana qaum jahiliyyah meyaqini, bahwa tahun bisa merubah nasib baik mereka, sehingga mereka mencacinya”.


[تفسير القرطبي، ج ١٠ ص ٣١٩-٣٢٠]📗
قَالَ مَالِكٌ: لَا بَأْسَ بِتَعْلِيقِ الْكُتُبِ الَّتِي فِيهَا أَسْمَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى أَعْنَاقِ الْمَرْضَى عَلَى وَجْهِ التَّبَرُّكِ بِهَا ---إلى أن قال--- فَمَنْ عَلَّقَ الْقُرْآنَ يَنْبَغِي أَنْ يَتَوَلَّاهُ اللَّهُ وَلَا يَكِلَهُ إِلَى غَيْرِهِ، لِأَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْمَرْغُوبُ إِلَيْهِ وَالْمُتَوَكَّلُ عليه في الاستشفاء بالقرآن.

“Berkata imam Malik : Tidaklah mengapa menggantungkan tulisan yang berisi asma Allah Ta’ala di leher-leher orang yang sakit atas dasar tabarruk (Mengambil berkah)”.
“Maka barangsiapa yang menggantungkan al-Quran (memakai jimat dari ayat Al-Qur'an), sepantas nya ia menjadikan Allah sebagai pegangan nya dan tidak bersandar kepada selain-Nya, karena Allah Ta’ala lah yang menjadi harapan dan tempat sandaran di dalam berobat dengan al-Qur'an”.


[فتح الباري لابن حجر، ج ٦ ص ١٤٢]📗
هَذَا كُلُّهُ فِي تَعْلِيقِ التَّمَائِمِ وَغَيْرِهَا مِمَّا لَيْسَ فِيهِ قُرْآنٌ وَنَحْوُهُ فَأَمَّا مَا فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ فَلَا نَهْيَ فِيهِ فَإِنَّهُ إِنَّمَا يُجْعَلُ لِلتَّبَرُّكِ بِهِ وَالتَّعَوُّذِ بِأَسْمَائِهِ وَذِكْرِهِ

“Semua ini (larangan) dalam hal menggantungkan jimat dan selainnya, yang tidak berisi ayat al-Quran dan semisalnya. Adapun yang berisi dzikir kepada Allah, maka tidaklah terlarang. Karena sesungguhnya hal itu hanyalah dijadikan untuk mengambil berkah saja, dan berta’awwudz/berlindung dengan asma Allah dan dzikir kepada-Nya”.


[كفاية الطالب الرباني، ج ٢ ص ٤٩٢]📗
«(ولا بأس بالمُعاذة) وهي التمائم -والتمائم الحروز- التي (تعلق) في العنق (وفيها القرآن) وسواء في ذلك المريض، والصحيح، والجنب، والحائض، والنفساء، والبهائم بعد جعلها فيما يكنها»، ففُهم من ذلك أن ما كان من القرآن جائز إذا جُعل في شيء يحفظه.

“«Tidaklah mengapa dengan jimat/penjagaan yang digantungkan di leher dan di dalamnya berisi ayat al-Quran, sama ada diperuntukkan untuk yang sakit, sehat, junub, haidh, nifas, ataupun binatang, setelah dibungkus sebagai pengamannya», dapat di fahami bahwa apabila dari ayat Alqur'an di jadikan untuk penjagaan, adalah di perbolehkan”.


[حاشية الجمل، ج ١ ص ٧٦]📗
(قَوْلُهُ: كَالتَّمَائِمِ) جَمْعُ تَمِيمَةٍ وَهِيَ وَرَقَةٌ يُكْتَبُ عَلَيْهَا شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَتُعَلَّقُ عَلَى الرَّأْسِ مَثَلًا لِلتَّبَرُّكِ وَيُكْرَهُ كِتَابَتُهَا وَتَعْلِيقُهَا إلَّا إذَا جُعِلَ عَلَيْهَا شَمْعٌ، أَوْ نَحْوُهُ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا وَلَا حَمْلُهَا مَا لَمْ يُطْلَقْ عَلَيْهَا مُصْحَفٌ عُرْفًا عِنْدَ الْعَلَّامَةِ الرَّمْلِيِّ وَعِنْدَ الْعَلَّامَةِ الْخَطِيبِ، وَإِنْ أُطْلِقَ عَلَيْهَا مُصْحَفٌ عُرْفًا قَالَ شَيْخُنَا وَدَخَلَ فِي التَّمِيمَةِ مَا لَوْ كُتِبَتْ لِكَافِرٍ وَهُوَ ظَاهِرٌ وَمَنَعَهَا بَعْضُهُمْ لَهُ، وَالْعِبْرَةُ بِقَصْدِ الْكَاتِبِ لِنَفْسِهِ، أَوْ لِغَيْرِهِ بِلَا أُجْرَةٍ وَلَا أَمْرٍ، وَإِلَّا فَبِقَصْدِ الْمَكْتُوبِ لَهُ وَيَتَغَيَّرُ الْحُكْمُ بِتَغَيُّرِ الْقَصْدِ مِنْ التَّمِيمَةِ إلَى الدِّرَاسَةِ وَعَكْسُهُ اهـ بِرْمَاوِيٌّ.

[Hasyiyah al jamal, juz 1 hal. 76]
“(Dan perkataannya : seperti jimat) bentuk jama' dari تميمة، yaitu kertas yang ditulis di atasnya sesuatu dari Al-Qur'an, dan digantung diatas kepala, misalnya untuk tabarrukan, dan dimakruhkan penulisannya dan menggantungnya, kecuali jika dijadikan atasnya lilin atau sejenisnya. Maka tidak diharamkan memegangnya dan membawanya selama tidak muthlaq sebagai mush-haf secara adat, menurut al-allamah ar-ramly. Dan menurut al allamah alkhothib, dan jika muthlaq berupa mush-haf secara adat, berkata guru kami, masuk kepada azimat sesuatu yang jika kau tulis bagi orang kafir dan ia itu suci, terlarang sebagian dari mereka padanya. Dan ibarot ini tergantung tujuan penulis sendiri, atau karena yang lainnya, dengan tanpa upah atau perintah, dan jika tidak, maka karena tujuan yang ditulis baginya, dan hukumnya berubah sesuai berubahnya maksud dari azimat itu, untuk belajar atau sebaliknya. Selesai. Barmawy”.


[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٤ ص ٣٠]📗
لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي عَدَمِ جَوَازِ التَّمِيمَةِ إِذَا كَانَ فِيهَا اسْمٌ لاَ يُعْرَفُ مَعْنَاهُ؛ لأَِنَّ مَا لاَ يُفْهَمُ لاَ يُؤْمَنُ أَنْ يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الشِّرْكِ، وَلأَِنَّهُ لاَ دَافِعَ إِلاَّ اللَّهُ، وَلاَ يُطْلَبُ دَفْعُ الْمُؤْذِيَاتِ إِلاَّ بِاَللَّهِ وَبِأَسْمَائِهِ، أَمَّا إِذَا كَانَتِ التَّمِيمَةُ لاَ تَشْتَمِل إِلاَّ عَلَى شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ وَأَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ، فَقَدِ اخْتَلَفَتِ الآْرَاءُ فِيهَا عَلَى النَّحْوِ التَّالِي: ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَأَحْمَدُ فِي رِوَايَةٍ إِلَى جَوَازِ ذَلِكَ، وَهُوَ ظَاهِرُ مَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَة، وَهُوَ قَوْل عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ

[Mausuah al fiqh al Kuwaitiyah , juz 14, hal. 30]
“Dan tidak ada perbedaan pendapat diantara para fuqaha 'tentang tiadanya kebolehan azimat, jika di dalamnya ada nama yang tidak diketahui pengartian nya ; karena sesuatu yang tidak dipahami ma'nanya, dan tidak di imani akan adanya sesuatu, maka didalamnya termasuk syirik. Dan karena bahwasanya tiada yang bisa menolak kecuali Allah. Dan tidaklah ia meminta penolakan terhadap hal-hal yang mencelakai, kecuali kepada Allah dan dengan asma'Nya. Adapun jika ada jimat yang berisi sesuatu dari Al-Qur'an, dan asma' Allah ta'ala dan sifat-sifatNya, maka telah berselisih pendapat didalamnya, sebagaimana berikut ini : Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'iyah, dan imam Ahmad, berdasarkan riwayat pada bolehnya hal tersebut, yang tampak dari apa yang diriwayatkan Aisyah, yaitu perkataan abdullah bin amr bin ash”.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

✍️ KETERANGAN TAMBAHAN :

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيراً وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ {يوسف - ٩٣}

[Khasiat dan kequatan yang tidak terlihat, yang di titipkan Allah ke suatu benda mati, itu memang ada, salah satu contoh nya ; Benda bertuah berupa baju gamis milik Nabi Yusuf, ALLAH berfirman] : “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah baju gamisku ke wajah ayahku (Ya'qub) nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.


[فتح القدير للشوكاني، ج ٣ ص ٥٨٨]📗
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ نَقُولَهُنَّ عِنْدَ النَّوْمِ مِنَ الْفَزَعِ: بِسْمِ اللَّهِ، أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونَ» قَالَ: فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو يُعَلِّمُهَا مَنْ بَلَغَ مِنْ وَلَدَهُ أَنْ يَقُولَهَا عِنْدَ نَوْمِهِ، وَمَنْ كَانَ مِنْهُمْ صَغِيرًا لَا يَعْقِلُ أَنْ يَحْفَظَهَا كَتَبَهَا لَهُ فَعَلَّقَهَا فِي عُنُقِهِ.

“Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayah nya, dari kakek nya, Berkata ia : «bahwa Rasulillah ﷺ mengajarkan kami akan bacaan, yang kami baca di waktu bangun tidur : yaitu (bacaan yang artinya) dengan nama Allah, Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Subhanahu wa ta'ala yang sempurna, dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan-godaan syaithan serta dari kedatangannya padaku». (Maka syaithan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut). berkata ia : Abdullah bin 'Amr mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­ nya yang baligh, bahwa membaca nya ketika hendak tidur. Sedangkan yang masih kecil/belum baligh/tidak beraqal, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian di kalung kan di lehernya”.


[تفسير القرطبي، ج ١٠ ص ٣١٦]📗
{الإسراء : ٨٢} وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّ خَساراً ---إلى أن قال--- الثَّانِيَةُ- اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي كَوْنِهِ شِفَاءً عَلَى قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ شِفَاءٌ لِلْقُلُوبِ بِزَوَالِ الْجَهْلِ عَنْهَا وَإِزَالَةِ الرَّيْبِ، وَلِكَشْفِ غِطَاءِ الْقَلْبِ مِنْ مَرَضِ الْجَهْلِ لِفَهْمِ الْمُعْجِزَاتِ وَالْأُمُورِ الدَّالَّةِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى. الثَّانِي: شِفَاءٌ مِنَ الْأَمْرَاضِ الظَّاهِرَةِ بِالرُّقَى وَالتَّعَوُّذِ وَنَحْوِهِ.

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan tidak Allah tambahkan (rahmat, iman, keuntungan) bagi orang-orang yang zhalim Kecuali kerugian ---sampai kepada perkata'an---”.
“Yang kedua : Para ulama berbeda pendapat tentang Al-Qur'an sebagai obat, menjadi dua pendapat ; -Pertama- Al-Qur'an adalah obat bagi hati, dengan hilangnya kebodohan dan keraguan, terbukanya penutup hati dari penyakit bodoh, sebab kefahaman mu’jizat dan perkara-perkara yang menunjukkan atas Allah Ta’ala. -Kedua- Al-Qur'an adalah obat dari segala penyakit zhahir dengan cara ruqyah, ta’awwudz (dijadikan suatu perlindungan) dan semisalnya”.


[روضة الطالبين، ج ١ ص ٨٠]📗
وَيُكْرَهُ كِتَابَتُهُ عَلَى الْحِيطَانِ، سَوَاءٌ الْمَسْجِدُ وَغَيْرُهُ، وَعَلَى الثِّيَابِ، وَيَحْرُمُ كِتَابَتُهُ بِشَيْءٍ نَجِسٍ

“Di makruhkan menulis al-Qur’an diatas tembok. Sama saja apakah dimasjid atau selainnya, begitupun diatas pakaian, dan haram menuliskan ayat Alqur'an dengan sesuatu yang Najjis”.


[التبيان في آداب حملة القرآن، ص ١٧٢]📗
حكم كتبه على الأواني [فصل] اختلف العلماء في كتابة القرآن في إناء ثم يغسل ويسقى المريض
* فقال الحسن ومجاهد وأبو قلابة والأوزاعي لا بأس به وكرهه النخعي * قال القاضي حسين والبغوي وغيرهما من أصحابنا ولو كتب القرآن على الحلوى وغيرها من الأطعمة فلا بأس باكلها قال القاضي ولو كان خشبة كره إحراقها

“Hukum Menuliskan Al-Qur'an diatas wadah, [Fashal] para ulama berbeda pendapat dalam menuliskan al-Qur’an dalam wadah kemudian dicuci, lalu diminumkan kepada orang sakit.
* Maka Berkata al Hasan, Mujahid, Abu Qilabah, dan al Awza’i tidak mengapa/boleh, dan Imam an Nakha’i memakruhkannya. * Berkata al Qadhi Husain dan al Baghawi serta selain keduanya, dari kalangan ashhab kami, seandainya Al-Qur'an ditulis diatas al-Halwa (sejenis makanan/manisan) dan makanan lainnya, maka tidak mengapa memakannya. Berkata al-Qadhi seandainya diatas kayu maka makruh dibakar”.


حكم كتابة الحروي [فصل] مذهبنا أنه يكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن وبأسماء الله تعالى قال عطاء لا بأس بكتب القرآن في قبلة المسجد وأما كتابة الحروف من القرآن فقال مالك لا بأس به إذا كان في قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا إذا كتب في الخرز قرآنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل في حال الحدث وإذا كتب يصان بما قاله الامام مالك رحمه الله وبهذا أفتى الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله

“[Fashal] madzhab kami (Syafi'i) makruh mengukir tembok dan pakaian dengan al Quran dan nama-nama Allah. Berkata ‘Atha tidak mengapa menulis Al-Qur'an di qiblat masjid, adapun menulis Huruf-huruf al-Quran, maka Imam Malik berkata tidak mengapa/boleh, apabila di buluh/botol, atau kulit lalu diikatkan (di taruh dalam bungkusan kulit). Berkata sebagian ashab kami : apabila al Quran ditulis didalam jimat, bersama'an dengan selain Al-Qur'an, maka tidak haram, tetapi lebih utama ditinggalkan, karena bisa terbawa ketika hadats. Apabila al-Qur'an ditulis (pada sesuatu) harus dijaga/jangan di sia-siakan, sebagaimana perkataan imam Malik –  رحمه الله تعالى – dan dengan ini Abu ‘Amr bin as-Shalah berfatwa”.

√ Kesimpulannya :
Hal ini ditunjukan dengan fakta kebalikannya, ulama justru membolehkan menuliskan Al-Qur'an atau nama-nama Allah, diatas sesuatu jika memang ada hajat, seperti untuk membuat mushhaf Al-Qur'an, untuk kebutuhan ruqyah, untuk kebutuhan mengajar, dan sebagainya.
Hukum asal menuliskan Al-Qur'an atau nama-nama Allah diatas sesuatu adalah mubah, karena tidak ada dalil yang mengharamkannya. Hanya saja menjadi makruh bahkan haram, apabila bisa menghantarkan kepada pelecehan dan penghinaan terhadap Al-Qur'an atau nama-nama Allah.


[حاشية الشرواني، ج ١ ص ١٤٩]📗
وَفِي الْبُجَيْرِمِيِّّ مَا نَصُّهُ قَالَ شَيْخُنَا الْجَوْهَرِيُّ نَقْلًا عَنْ مَشَايِخِهِ يُشْتَرَطُ فِي كَاتِبِ التَّمِيمَةِ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَهَارَةٍ وَأَنْ يَكُونَ فِي مَكَان طَاهِرٍ وَأَنْ لَا يَكُونَ عِنْدَهُ تَرَدُّدٌ فِي صِحَّتِهَا وَأَنْ لَا يَقْصِدَ بِكِتَابَتِهَا تَجْرِبَتَهَا وَأَنْ لَا يَتَلَفَّظَ بِمَا يَكْتُبُ وَأَنْ يَحْفَظَهَا عَنْ الْأَبْصَارِ بَلْ وَعَنْ بَصَرِهِ بَعْدَ الْكِتَابَةِ وَبَصَرِ مَا لَا يَعْقِلُ وَأَنْ يَحْفَظَهَا عَنْ الشَّمْسِ وَأَنْ يَكُونَ قَاصِدًا وَجْهَ اللَّهِ فِي كِتَابَتِهَا وَأَنْ لَا يُشَكِّلَهَا وَأَنْ لَا يَطْمِسَ حُرُوفَهَا وَأَنْ لَا يَنْقُطَهَا وَأَنْ لَا يُتَرِّبَهَا وَأَنْ لَا يَمَسَّهَا بِحَدِيدٍ وَزَادَ بَعْضُهُمْ شَرْطًا لِلصِّحَّةِ، وَهُوَ أَنْ لَا يَكْتُبَهَا بَعْدَ الْعَصْرِ وَشَرْطًا لِلْجُودَةِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ صَائِمًا اهـ.

“Pada kitab Bujairimi dalil nya, berkata Syaikh kami, Syaikhuna aljauhari mengutip riwayat dari guru-guru nya, beliau mengatakan seseorang penulis azimat harus memenuhi beberapa syarat diantaranya :

1.) Dalam keadaan suci.

2.) Di tempat yang suci.

3.) Jangan sampai meragukan keshohihannya/khasiatnya, alias harus mantap.

4.) Jangan ada tujuan sekedar mencoba.

5.) Jangan melafazhkan pada Huruf-huruf yang tertulis.

6.) Harus dijaga, jangan sampai terlihat orang lain, atau terlihat binatang tak berakal, atau bahkan terlihat oleh penulis sendiri, setelah azimat tersebut selesai ditulis.

7.) Harus dijaga jangan sampai terkena sinar matahari.

8.) Ketika menulis diniati hanya mencari ridha ALLAH semata.

9.) Jangan di harokati.

10.) Huruf-huruf nya jangan sampai ada yang terhapus.

11.) Jangan diberi titik pada huruf-huruf nya.

12.) Jangan sampai terkena debu.

13.) Jangan sampai tersentuh barang-barang dari besi, dan sebagian ulama' menambahkan satu syarat lagi, untuk keshohihan/keampuhan azimat, yaitu jangan ditulis setelah ashar, dan ada satu syarat lagi untuk menambah daya magic/energi kekuatan nya, yaitu penulis harus dalam keadaan berpuasa”.


[مصنف ابن أبي شيبة، ج ٥ ص ٤٣-٤٤]📗
أن سعيد بن المسيب سئل عن التعويذ فقال: "لا بأس إذا كان في أديم"، وعن عطاء قال: "لا بأس أن يعلق القرآن"، وكان مجاهد يكتب للناس التعويذ فيعلقه عليهم، وعن الضحاك أنه لم يكن يرى بأسًا أن يعلق الرجل الشيء من كتاب الله إذا وضعه عند الغسل وعند الغائط، ورخَّص أبو جعفر محمد بن علي في التعويذ بأن يُعلق على الصبيان، وكان ابن سيرين لا يرى بأسًا بالشيء من القرآن.

“Bahwasanya Sa'id bin Musayyib ditanya tentang ta’widz (sesuatu yang dijadikan perlindungan), maka beliau menjawab ; "tidak mengapa jika (ditulis) pada kulit". Dari Atha’ ia berkata : "tidak mengapa menggantungkan (jimat) yang terdiri dari ayat Al-Qur'an". Dahulu Mujahid menulis ta’widz untuk orang-orang, lalu menjadikannya gantungan leher pada mereka, Dari Ad-Dhahhak ia berpendapat : bahwasanya tidaklah mengapa sesorang membuat jimat gantungan dari kitab Allah apabila diletakkan ketika hendak mandi atau buang air besar. Abu Ja'far Muhammad bin Ali membolehkan jimat gantungan pada anak kecil. Ibnu Sirin juga bependapat tidaklah mengapa membuat jimat dengan Al-Qur'an”.


[تفسير القرطبي، ج ١٦ ص ٢٢٢]📗
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وَلَدُهَا تَكْتُبُ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ وَالْكَلِمَتَيْنِ فِي صَحِيفَةٍ ثُمَّ تُغَسَّلُ وَتُسْقَى مِنْهَا، وَهِيَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ" كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَها لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحاها" [النازعات: ٤٦]." كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ" صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ. وَعَنْ قتادة: لا يهلك الله» إلا هالك مشرك. وَقِيلَ: هَذِهِ أَقْوَى آيَةٍ فِي الرَّجَاءِ. وَاللَّهُ أعلم.

“Jika seorang wanita kesulitan ketika melahirkan, maka Anda tulis dua ayat berikut secara lengkap di lembaran, kemudian masukkan ke dalam air dan kucurkan/minumkan kepada dia, yaitu kalimat : "Bismillahirrahmanirrahim, Laa ilaha illallah al-azhim Al-Halimul Karim, Subhanallahi Rabbis samawaati, wa rabbul ardhi, wa rabbul 'Arsyil 'azhiim, Ka'annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha (dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, tiada tuhan kecuali Allah yang maha besar, Maha Pengasihan, lagi Maha mulia, Maha suci Allah yang memelihara langit, bumi, dan 'Arsy yang Agung, Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi), [An Nazi’at ayat 46].

Kemudian ayat yang kedua "Ka'annahum yauma yarauna maa yu'aduna lam yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh, fahal yuhlaku illal qaumul fasiqun". (Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka, mereka merasa seolah-olah tidak tinggal di dunia melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup ---)”.


[الأذكار للنووي، ص ١٨١ مع ٢١٦]📗
- روينا في سنن أبي داود والترمذي وابن السني وغيرها، عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جدّه؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعلمهم من الفزع كلمات: "أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبهِ وَشَرِّ عِبادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّياطِينِ وأنْ يَحْضُرُونِ" قال: وكان عبد الله بن عمرو يعلمهنّ مَنْ عقل من بنيه، ومَنْ لم يعقل كتبه فعلقه عليه. قال الترمذي: حديث حسن. وفي رواية ابن السني: جاء رجلٌ إلى النبيّ صلى الله عليه وسلم فشكا أنه يفزعُ في منامه، فقالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: "إذَا أوَيْتَ إلى فِرَاشِكَ فَقُلْ: أَعُوذُ بِكَلِماتِ الله التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَمنْ شَرّ عِبادِهِ، وَمِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ وأنْ يَحْضرُونِ" فقالها، فذهب عنه.
- وروينا في سنن أبي داود والترمذي، عن عمرو بن شُعيب عن أبيه عن جده؛
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعلِّمهم من الفزع كلماتٍ: "أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِن غَضَبِهِ وَشَرّ عِبادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وأنْ يَحْضُرُونِ" وكان عبد الله بن عمرو يعلِّمهنّ من عَقَل من بنيه، ومن لم يعقلْ كتبه فعلَّقه عليه. قال الترمذي: حديث حسن.

“Sebuah hadits diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud dan At-Turmudzi dari Amr bin Syu‘aib, dari bapaknya, dari kakeknya bahwa mengajarkan mereka sejumlah kalimat ketika rasa takut mencekam. 'Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan syaithan. Aku pun berlindung kepada-Nya dari kepungan syaithan itu.’ Abdullah bin Amr mengajarkan kalimat ini kepada anak-anaknya, yang sudah bisa mengerti pelajaran. Kepada anak-anak balitanya yang belum bisa menangkap pelajaran, Abdullah menulis kalimat (yang diajarkan Rasulullah ﷺ) itu, lalu menggantungkannya/mengalungkan di tubuh mereka. Imam At-Turmudzi mengatakan, hadits ini hasan”.


[الأجوبة الغالية فى عقيدة الفرقة الناجية]📗
الاستشفاء بالقرآن والأسماء الإلهية
س: ما حكم الرقي للأمراض ؟
ج: أجمع العلماء على جواز الرقي عند اجتماع ثلاثة شروط: أن يكون بكلام الله تعالى أو بأسمائه وصفاته، و أن يكون باللسان العربي أو بما يعرف معناه من غيره، وأن يعتقد أن الرقيا لا تأثير لها بذاتها بل بتقدير الله تعالى.
س: ما الدليل على جواز الرقي بما ذكر ؟
ج: الدليل على جواز ما رواه مسلم من حديث عوف بن مالك قال: (( كما ترقي في الجاهلية، فقلنا: يا رسول الله، كيف ترى في ذلك ؟ فقال: اعرضوا على رقاكم، لا بأس بالرقي إذا لم يكن فيه شرك )) .
س: ما هو الرقي المنهي عنه ؟
ج: المنهي عنه من الرقي ما كان غير مفهوم المعنى أو بغير لسان العرب لجواز أن يكون فيه سحر أو شرك، وأما ما كان من كلام الله وذكره وأسمائه فهو جائز بل مستحب فإن الله لم ينزل من السماء شفاء قط أنفع من القرآن فهو للداء شفاء ولصدأ القلوب جلاء، قال تعالى: { ونزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين }، وقال صلى الله عليه وسلم: (( من لم يتشف بالقرآن فلا شفاه الله )).
س: ما حكم كتابة التمائم وتعليقها ؟
ج: يجوز كتابة التمائم والعزائم وتعليقها على الآدميين والدواب إذا لم يكن فيها شيء من الأسماء التي لا يعرف معناها، فقد ثبت في الصحيح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعلمهم من الفزع: (( أعوذ بكلمات الله التامة من غضبه وعقابه وشر عباده ومن همزات الشياطين وأن يحضرون ))؛ فكان عبدالله بن عمر رضي الله عنها يعلمهن من عقل من بنيه، ومن لم يعقل كتبه وعلقه عليه.

التبرك بآثار الصالحين
س: هل يجوز التبرك بآثار الصالحين ؟
ج: نعم، يجوز ذلك
س: ما الدليل على ذلك ؟
ج: لذلك أدلة كثيرة من جملتها ما ثبت من تبرك الصحابة رضي الله عنهم واستشفاعهم بأثار النبي صلى الله عليه وسلم، في حياته وبعد مماته وفي ذلك أحاديث وآثار كثيرة نورد بعضها مع الاختصار : أخرج البخاري ومسلم عن سهل بن سعد رضي الله عنه في البردة التي استوهبها من النبي صلى الله عليه وسلم فلامه أصحابه على طلبها منه صلى الله عليه وسلم وكان لابسها، فقال: (( إنما سألته إياها لتكون كفني ))، وفي رواية: (( رجوت بركتها حين لبسها النبي صلى الله عليه وسلم، لعلي أكفن فيها )). وأخرج مسلم في صحيحه: أن أسماء بنت أبي بكر الصديق في حديث قالت فيه: (( هذه جبة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأخرجت إلي جبة طياليسية کسروانية، قالت: هذه كانت عند عائشة فلما قبضت قبضتها فنحن نغسلها للمرضى فنستشفي بها )). إلخ

As-Sayyid Al-'Allamah adda'i ilalllah Al-Habib Zainal ‘Abidin Al-’alawi berkata : bab Berobat dengan Al Qur’an dan Nama-nama ALLAH :
“Boleh menulis tangkal dan azimat dan menggantungkannya pada manusia dan binatang, jika tidak ada di dalamnya kalimat yang tidak diketahui artinya. Maka sungguh telah tetap, bahwa Rasulillah ﷺ mengajarkan kepada mereka (para sahabat) dari ketakutan : Aku berlindung dengan kalimat-kalimat ALLAH yang sempurna dari marah-Nya dan siksa-Nya, dan kejahatan hamba-hambaNya, dan dari godaan syaithan dan kehadhiran mereka. Maka adalah Abdullah bin Umar mengajarkannya kepada anaknya yang sudah ‘aqil (dewasa) dan menulisnya dan menggantungkannya kepada anaknya yang belum ‘aqil (dewasa)”.

Jubah Nabi ﷺ, Asma binti Abi Bakr berkata : "Jubah ini pernah dipakai Nabi ﷺ lalu kami membasuhnya untuk orang sakit, agar bisa sembuh dengan (sebab) jubah tersebut”.


[شرح النووي على مسلم، ج ١٤ ص ١٦٨]📗
(إن جبرائيل رَقَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَذَكَرَ الْأَحَادِيثَ بَعْدَهُ فِي الرُّقَى وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ فِي الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَدْ يظن مخالفا لهذه الأحاديث ولامخالفة بَلِ الْمَدْحُ فِي تَرْكِ الرُّقَى الْمُرَادُ بِهَا الرُّقَى الَّتِي هِيَ مِنْ كَلَامِ الْكُفَّارِ وَالرُّقَى المجهولة والتى بغير العربية ومالا يُعْرَفُ مَعْنَاهَا فَهَذِهِ مَذْمُومَةٌ لِاحْتِمَالِ أَنَّ مَعْنَاهَا كُفْرٌ أَوْ قَرِيبٌ مِنْهُ أَوْ مَكْرُوهٌ وَأَمَّا الرقى بآيات القرآن وبالأذكار المعروفة فلانهى فِيهِ بَلْ هُوَ سُنَّةٌ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْحَدِيثَيْنِ إِنَّ الْمَدْحَ فِي ترك الرقى للأفضيلة وَبَيَانِ التَّوَكُّلِ وَالَّذِي فَعَلَ الرُّقَى وَأَذِنَ فِيهَا لِبَيَانِ الْجَوَازِ مَعَ أَنَّ تَرْكَهَا أَفْضَلُ وَبِهَذَا قال بن عَبْدِ الْبَرِّ وَحَكَاهُ عَمَّنْ حَكَاهُ وَالْمُخْتَارُ الْأَوَّلُ وَقَدْ نَقَلُوا بِالْإِجْمَاعِ عَلَى جَوَازِ الرُّقَى بِالْآيَاتِ وَأَذْكَارِ اللَّهِ تَعَالَى قَالَ الْمَازِرِيُّ جَمِيعُ الرُّقَى جَائِزَةٌ إِذَا كَانَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ أَوْ بِذِكْرِهِ وَمَنْهِيٌّ عَنْهَا إِذَا كَانَتْ بِاللُّغَةِ الْعَجَمِيَّةِ أَوْ بما لايدرى مَعْنَاهُ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ فِيهِ كُفْرٌ قَالَ وَاخْتَلَفُوا فِي رُقْيَةِ أَهْلِ الْكِتَابِ فَجَوَّزَهَا أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَرِهَهَا مَالِكٌ خَوْفًا أَنْ يَكُونَ مِمَّا بَدَّلُوهُ وَمَنْ جَوَّزَهَا قَالَ الظَّاهِرُ أَنَّهُمْ لَمْ يُبَدِّلُوا الرُّقَى فَإِنَّهُمْ لَهُمْ غَرَضٌ فِي ذَلِكَ بِخِلَافِ غَيْرِهَا مِمَّا بَدَّلُوهُ وَقَدْ ذَكَرَ مُسْلِمٌ بَعْدَ هَذَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اعْرِضُوا على رقاكم لابأس بالرقى مالم يَكُنْ فِيهَا شَيْءٌ وَأَمَّا قَوْلُهُ فِي الرِّوَايَةِ الأخرى يارسول اللَّهِ إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى فَأَجَابَ الْعُلَمَاءُ عنه بأجوبة أحدها كان نهى أولاثم نَسَخَ ذَلِكَ وَأَذِنَ فِيهَا وَفَعَلَهَا وَاسْتَقَرَّ الشَّرْعُ عَلَى الْإِذْنِ وَالثَّانِي أَنَّ النَّهْيَ عَنِ الرُّقَى الْمَجْهُولَةِ كَمَا سَبَقَ وَالثَّالِثُ أَنَّ النَّهْيَ لِقَوْمٍ كَانُوا يَعْتَقِدُونَ مَنْفَعَتَهَا وَتَأْثِيرَهَا بِطَبْعِهَا كَمَا كَانَتِ الْجَاهِلِيَّةُ تَزْعُمُهُ فِي أَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ

[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ١٣ ص ٢٤]📗
جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى: أَنَّهُ يَجِبُ اجْتِنَابُهُ بِلاَ خِلاَفٍ. لِمَا صَحَّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّهُ دَخَل عَلَى امْرَأَتِهِ، وَفِي عُنُقِهَا شَيْءٌ تَتَعَوَّذُ بِهِ، فَجَبَذَهُ، فَقَطَعَهُ، ثُمَّ قَال: لَقَدْ أَصْبَحَ آل عَبْدِ اللَّهِ أَغْنِيَاءَ عَنْ أَنْ يُشْرِكُوا بِاَللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّل بِهِ سُلْطَانًا. ثُمَّ قَال: سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول: إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتُّوَلَةَ شِرْكٌ، قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَذِهِ الرُّقَى وَالتَّمَائِمُ قَدْ عَرَفْنَاهَا، فَمَا التُّوَلَةُ، قَال: شَيْءٌ يَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إِلَى أَزْوَاجِهِنَّ.
فَيَتَعَيَّنُ حَمْل الْوَعِيدِ عَلَى مَا كَانُوا يَفْعَلُونَهُ مِنْ تَعْلِيقِ خَرَزَةٍ يُسَمُّونَهَا تَمِيمَةً أَوْ نَحْوَهَا، يَرَوْنَ أَنَّهَا تَدْفَعُ عَنْهُمُ الآْفَاتِ. وَلاَ شَكَّ أَنَّ اعْتِمَادَ هَذَا جَهْلٌ وَضَلاَلٌ، وَأَنَّهُ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ، لأَِنَّهُ إِنْ لَمْ يَكُنْ شِرْكًا فَهُوَ يُؤَدِّي إِلَيْهِ، إِذْ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَضُرُّ وَلاَ يَمْنَعُ وَلاَ يَدْفَعُ إِلاَّ اللَّهُ تَعَالَى وَكَذَلِكَ الرُّقَى وَالتَّعَاوِيذُ مَحْمُولَةٌ أَيْضًا عَلَى ذَلِكَ، أَوْ عَلَى مَا إِذَا كَانَتْ بِغَيْرِ لِسَانِ الْعَرَبِ وَلاَ يُدْرَى مَا هِيَ، وَلَعَلَّهُ يَدْخُلُهَا سِحْرٌ أَوْ كُفْرٌ أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ مِمَّا لاَ يُعْرَفُ مَعْنَاهُ، فَإِنَّهَا حِينَئِذٍ حَرَامٌ، صَرَّحَ بِهِ الْخَطَّابِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ وَابْنُ رُشْدٍ وَالْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَئِمَّةِ الشَّافِعِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ، إلخ

[فتاوي الخليلي، ج ١ ص ٣٦]📗
مطلب: فيمن كتب آية أو حديثا وعلقه على شجرة أو غيرها.
(سئل) فيما إذا كتب إنسان آية من كتاب الله العزيز أو حديثا من أحاديث رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وعلق ذلك على شجرة لأجل التبرك بالقرآن والسنة والتيمن ورجاء أن يبارك الله تعالى في ثمر تلك الشجرة، فهل ذلك جائز بلا كراهة، ويكون ملحقا بالتميمة التي تعلق على الرأس تيمنا وتبركا بالقرآن، ورجاء الشفاء ببركة القرآن أو محرم أو مكروه ككتابة القرآن على الأحجار والحيطان وهل إذا اعترض معترض على ذلك وقال: هذا محرم؛ لأنه صلب للقرآن، يسلم له هذا الاعتراض؟
(أجاب) اعلم أن القرآن لا يكون قرآنا إلا بالقصد، قال ابن حجر: العبرة في قصده الدراسة والتبرك حال الكتابة دون ما بعدها وبالكاتب لنفسه أو غيره التبرك وإلا فآمره أو مستأجره، وظاهر عطف هذا على المصحف أن ما يسمى مصحفا عرفا لا عبرة بقصد دراسة ولا تبرك، وأن هذا إنما لا يعتبر فيما لا يسماه، فإن قصد به دراسة حرم أو تبرك لم يحرم. انتهى.

قال الشيخ على الحلبي: لأنه لا يسمى قرآنا إلا بالقصد، فهو قابل للصرف، ولهذا لو حمله في متاع وقصد المتاع لم يحرم، وهكذا لو قرأ القرآن وهو جنب لا يقصد القرآن لم يحرم، وأنت ترى جميع الأئمة مصرحين بجواز كتابة بعض القرآن تمائم تعليقا تبركا وشربا، كذلك لا فرق في ذلك على الأشجار التي تظهر من الآي عليها الأنوار والأسرار كما علمت من قبول القرآن للصرف وغيره كالدرس وللشرب تبركا كما يتلى عليك من النقول، منها ما أخرجه ابن أبي حاتم عن صفي بن ميسرة قال: رأيت على باب وهب بن منبه مكتوبا: ما شاء الله لا قوة إلا بالله، وذلك قول الله: {ولولا إذ دخلت جنتك قلت ما شاء الله}. خرجه الجلال السيوطي في الدر المنثور.

ومنها ما نص عليه الفقهاء والعبارة للعباب أن المكتوب لغير دراسة كحرز وثوب ودرهم لا يحرم مسه ومنها ما ذكره الإمام اليافعي، وناهيك به جلالة في خواص بسم الله الرحمن الرحيم. قال: وإذا كتبت في ورقة خمسا وثلاثين ووضعت في البيت لم يقربه شيطان ولا جان وكثرت فيه البركة، وإذا علقت تلك الورقة في دكان كثر زبونه وزاد ربحه، ثم قال: وإذا كتبت في ورقة مائة مرة ودخلت في الزرع خصب ذلك الزرع وحفظ من الآفات وحصلت فيه البركة. انتهى. فالحمد لله، فالورقة لم تدفن، وإنما توضع فوق الرءوس لتمر بها الرياح، فتنال من خيرها وبركتها، وكذا لو مررت بها على إنسان ناله خيرها، أو شجر ناله بركتها، أو على زرع نما وزكا، أو على أرض حصل لها الشرف والرفعة، فاتق الله ولا تكن من الغافلين المحجوبين عن الأنوار والأسرار، ثم ذكر اليافعي أن هذه الآية وهي قوله تعالى: {قل إن الفضل بيدي الله يؤتيه من يشاء والله ذو الفضل العظيم} خاصية هذه الآية الشريفة لسعة الرزق، ومن يريد خطبة النساء يكتبها يوم الخميس في ورقة ويعلقها على باب حانوته أو مع بيعه أو شرائه، فإنه يرزق خيرا كثيرا، ويدر عليه الرزق، ثم ذكر من خواص قوله تعالى: {محمد رسول الله} إلى آخر الصورة أنها لا توضع في مكان إلا عمت فيه البركة، ولا في حانوت إلا كثر زبونه، ولا في حمام إلا ودخل عليه الداخلون، ولا حملها في سفر في بر أو بحر إلا حفظ ببركتها ولم ير ما يكرهه أبدا، ويكون سفرا مباركا، وتقضي جميع حوائجه. انتهى. ومثل هذا مما لا يخفى، ففي المعترض إما بضاعته مزجاة أو عقيدته غير معفاة، أو أنه ممن قلد العقل مع عمى البصيرة أو لم يحضره النقل مع سوء السريرة. وعين الرضى عن كل عيب كليلة ... كما أن عين السخط تبدي المساويا، والله أعلم.


[الفتاوى الحديثية، ص ٨]📗
وسُئل رَضِي الله عَنهُ: مَا حكم علم الأوْفاق؟ فَأجَاب فسح الله فِي مدَّته: علم الأوفاق لَا مَحْذُور فِيهِ إِن اسْتعْمل لمباح، فقد نقل عَن الْغَزالِيّ وَغَيره الاعتناء بِهِ، وَكَذَلِكَ حكى لي عَن شَيخنَا شيخ الْإِسْلَام زَكَرِيَّا الْأنْصَارِيّ سقى الله عَهده أَنه كَانَ يُحسنه وَأَن لَهُ فِيهِ مؤلفاً نفيساً أما إِذا استعين بِهِ على حرَام فَإِنَّهُ يكون حَرَامًا إِذْ للوسائل حكم الْمَقَاصِد؛ وَالله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أعلم بِالصَّوَابِ.

[الموسوعة الفقهية الكويتية، ج ٣١ ص ٢٢]📗
التَّمِيمَةُ فِي اللُّغَةِ: خَيْطٌ أَوْ خَرَزَاتٌ كَانَ الْعَرَبُ يُعَلِّقُونَهَا عَلَى أَوْلاَدِهِمْ، يَمْنَعُونَ بِهَا الْعَيْنَ فِي زَعْمِهِمْ، فَأَبْطَلَهَا الإِْسْلاَمُ. قَال الْخَلِيل بْنُ أَحْمَدَ: التَّمِيمَةُ قِلاَدَةٌ فِيهَا عُوَذٌ. وَمَعْنَاهَا عِنْدَ أَهْل الْعِلْمِ: مَا عُلِّقَ فِي الأَْعْنَاقِ مِنَ الْقَلاَئِدِ خَشْيَةَ الْعَيْنِ أَوْ غَيْرِهَا. وَفِي الْحَدِيثِ: مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ أَيْ: فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ صِحَّتَهُ وَعَافِيَتَهُ وَهِيَ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ: الْعُوذَةُ الَّتِي تُعَلَّقُ عَلَى الْمَرِيضِ وَالصِّبْيَانِ، وَقَدْ يَكُونُ فِيهَا الْقُرْآنُ وَذِكْرُ اللَّهِ إِذَا خُرِزَ عَلَيْهَا جِلْدٌ . فَالتَّمِيمَةُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ أَيْضًا: نَوْعٌ مِنَ التَّعْوِيذِ وَالْفَرْقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الرُّقْيَةِ: أَنَّ الأُْولَى هِيَ تَعْوِيذٌ يُعَلَّقُ عَلَى الْمَرِيضِ وَنَحْوِهِ، وَالثَّانِيَةُ تَعْوِيذٌ يُقْرَأُ عَلَيْهِ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

❤ KETUA / PIMPINAN UMUM / PENASHIHAT :
🖍️ Abuya Al-Habib Seqqaf bin Hasan bin Ahmad Baharun_Pasuruan_Jawa Timur.
🖍️ Al-Habib Ahmad Al-Haddar_Bogor_Jawa Barat.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Guru Naufal_Martapura_Kalimantan Selatan.
🖍️ Ustadz Wakid Yusuf_Sumenep_Jawa Timur.
🖍️ Ustadz Hasyim_Sumatera Utara.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ WAKIL :
🖍️ Al-Habib Hisyam Al-Habsyi_Bogor_Jawa Barat.
🖍️ As-Sayyid Abdullah Al-Khayrid_Jakarta.
Dan Para Habaib lain nya.
🖍️ Ustadz Ahmad Saifuddin_Cimahi_Jawa Barat.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MUHARRIR :
🖍️ Kiai Mahmulul Huda_Jember_Jawa timur.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ TERJEMAH / PENJELASAN IBARAH :
🖍️ Ustadz Handoyo_Tangerang.
🖍️ Ustadz Jefri_Sampang Madura.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ MODERATOR/KORDINATOR SOAL/PENDIRI GRUP :
🖍️ Khalilurrahman_Kalimantan Selatan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
❤ SECARA UMUM = MUJAWWIB / MUSHAHHIH & SEBAGAI NYA (SESUAI KEMAMPUAN NYA) :
🖍️ Tidak Di Tentukan, Siapa Saja Di Perkenankan, (Kepada Semua Anggota Grup), Sesuai Dengan Kemampuan nya, Untuk Menambahkan Jawaban, Mempertegas, Meluruskan, Mengoreksikan, Maupun Membantu Merumuskan, Mudah-mudahan Menjadi Amal Jariyah Kebaikan Di Alam Yang Kekal Kelak, Yang Di Ridhai Allah dan Rasulullah ﷺ, Aamiin Ya Allah Ya Mujibas-Sa’iliin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

والله أعلم بالصواب